Surat Terakhir

Karya . Dikliping tanggal 26 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
SANY, masih ingatkah kamu tentang Oro-Oro Ombo di tanah Mahameru lima tahun lalu? Bulan ini bunga yang banyak disebut orang sebagai lavender itu sedang berbunga. Aku masih ingat saat kamu berteriak dan memelukku ketika kita sampai di padang itu. Saat wajahmu berubah bak anak kecil yang mendapatkan sebuah lolipop, saat itu kamu terlihat bahagia sekali saat melihat Oro-Oro Ombo. Kamu di mana San? Dua tahun aku kehilangan jejakmu.

Aku merindukanmu Sany.

AKU menutup laptop bututku usai mengirim email kepada orang yang sangat kurindukan: Sany, sahabatku. Perlahan kurebahkan tubuh di atas kasur keras bermotif bunga matahari yang menguning. Aku melirik sebuah bingkai foto yang kugantung di samping tempat tidurku. Tampak di foto itu aku dan Sany sedang berpose dengan latar belakang Danau Ranukumbolo. Foto itu diambil di Ranukumbolo, lima tahun lalu saat aku dan Sany mendaki Semeru.
“Sany kamu di mana? Apakah kamu lupa denganku?” tanyaku dalam hati.
Aku memutar kembali memori otakku. Aku dan Sany sudah lama bersahabat. Dari kecil kami tumbuh bersama menjadi dua gadis kecil yang manis. Bahkan aku dan Sany sama-sama mempunyai hobi mendaki gunung. Tapi entah kenapa keluarga Sany pindah ke Bandung. Yang tadinya rumah kami kini berjauhan beribu kilometer.
Waktu itu Sany berjanji kepadaku akan selalu memberikan kabar dan akan selalu menghubungiku lewat SMS. Dia memang menghubungiku saat itu tapi tidak lama hanya sekitar lima bulan. Waktu itu Sany bilang telah diterima di salah satu universitas ternama di Bandung. Setelah itu dia menghilang bak ditelan bumi. Tak ada lagi kabar tentang Sany, bahkan nomor teleponnya pun tidak bisa dihubungi. Aku hanya memiliki alamat email Sany yang kudapatkan di sebuah buku yang tertinggal di rumahku. Aku selalu mengirim email untuknya, tapi tak pernah ada jawaban. Rasa sakit dan sesal menyelimutiku saat itu hingga sekarang. Di amna dia sebenarnya? Akankah Sany melupakan persahabatan yang manis itu? Aku menangis, hingga tertidur.
***
MALAM-malam aku terbangun dan melirik arloji di tanganku yang masih menunjukkan pukul 01.00. Aku beranjak dari tempat tidur dan berniat bangun, tenggorokanku terasa kering sekali. Aku berjalan terhuyung-huyung menuju dapur. Sebelum sampai dapur aku mendengar sebuah tangisan dari ruang tamu. Penasaran, aku mendatanginya. Ibu menangis tersedu-sedu dengan membawa sepucuk kertas dan sebuah bunga matahari yang sedang mekar.
“Bu, ada apa Bu? Kenapa Ibu menangis?” kataku dengan mataku yang mulai ikut berkaca-kaca.
“Ma…. Mayang…. Kamu yang sabar ya nak. Aku tahu kamu pasti akan kuat,” kata ibu sambil memelukku erat sekali.
“Apa yang sebenarnya terjadi Bu? Kenapa Ibu bilang seperti itu?” tanyaku sambil melepas pelukan ibu.
“Sany meninggal dunia, Mayang.”
“Ti… tidak…. Tidak mungkin Bu. Ibu bohong,” kataku sambil mengambil sepucuk kertas di tangan ibu yang ternyata sebuah surat.
Kubuka amplop putih beroerangko itu, kuambil kertas merah muda di dalamnya.
Singapura. 1 Juni 2010

Untuk yang tercinta Mayang Puspa Indah, Hai Mayang bagaimana kabarmu? Aku berharap kamu selalu diberi kesehatan di manapun kamu berada. Amin. Mayang maaf selama ini aku tak memberimu kabar karena keadaanku yang tidak memungkinkan. Maaf juga aku tidak memberitahumu soal ini karena aku tidak ingin kamu bersedih. Aku sudah setahun ini ada di Singapura. Tapi bukan untuk berlibur seperti yang biasa kita lakukan, tapi untuk berobat. Aku kena HIV, Mayang. Maaf jika aku tak bercerita soal penyakitku ini. Penyakit yang diderita Ibuku ternyata menurun terhadapku, Yang.

Aku terbang ke Singapura karena di Indonesia belum ada obatnya, hehehe….
Mayang entah ini surat akan menjadi surat terakhir atau tidak, tapi aku merasa tubuhku ini sudah tidak mampu lagi untuk bertahan lebih lama. Kamu jangan pernah bersedih ya Mayang, tetaplah menjadi Mayang yang bahagia.
Terimakasih juga Mayang kamu mau menjadi sahabat terbaikku. Oh iya, bunga matahari ini asli dari Singapura lho. Aku tahu kalo kamu sangat menyukai bunga matahari, makanya aku memberikannya untukmu. Jaga dan rawat dengan baik ya Mayang. 

Yang mencintaimu
Sany Yahya

***
AKU terdiam di makam Sany. Aku tak pernah menyangka dengan kejadian ini. Aku menarik nafas panjang dan memandang ke langit.
“Sany kalaupun kamu bilang kepadaku tentang penyakitmu aku tak akan pernah emninggalkanmu. Aku akan tetap menjadi sahabat terbaikmu, walaupun aku tahu penyakitmu emmang berbahaya, tapi aku tidak akan takut. Bagiku persahabatan adalah tentang menerima dan pengertian. Tapi ya sudahlah nasi sudah menjadi bubur dan kini tinggal ditambah garam dan sedikit ayam agar lebih enak. Yang terjadi biarlah terjadi, tinggal kita petik hikmah dibalik sebuah kejadian. Semoga kamu tenang di sana ya, Sany. Aku akan tetap menjadi sahabatmu walau kita berada di dunia yang berbeda,” ucapku dalam hati.
Kris Mheilda Setiawati Sulangkidul Patalan Jetis Bantul
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kris Mheilda Setiawati 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 26 Juli 2015