Surat untuk Perempuan Desa

Karya , . Dikliping tanggal 1 April 2019 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Ziarah

hilir kenangan telanjur mengada, menenun
cahaya di tengah debar petang dan apa pun
ada getar yang enggan menyatu, lantas
kabur dalam lebur
dan yang kubasuh luka-luka lampau dari lusa.
ke depan, rumah yang kuceritakan teduhnya
kala kemarau yang selalu
angin kecil yang kupetik di bawah terik matahari
mengigilkan pinggul
sedang masa lalu telah pulas di rambutku
senyum itu terus menembus dahan perdu
dan tangis ini kugelar tanpa ampun
sebentar saja, Sri Ayu, di sini!
di tanah yang masih kuat menyimpan kecut kesambi
tempat esok kubakar sakit yang tak dinamai
sambil menyalakan lagi arang dari pohon api
kita rentang kabut di tengah sunyi
paling hakiki.
Gapura, 2019

Rumah Terakhir

setelah suara suara di musala menyebut nama
aku tiarap, di bawah leret-leret kokoh kamboja
isak anak memecah sunyi beranda
zikir gegas, menembus kepala
tanpa aba-aba
ini jalan yang kupahat, penuh batu-batu
rumput goyah tak seperti biasa
ada doa yang baru kutahu
dan perutku memulaskan bunga
gerutu menembus batas hujan
yang diam-diam membasahi sajakku
juga nisan
di kepala dan kakiku
sulur harapan memanjang
sampai tepian pematang
ini jalan gamang
menuju pulang.
Gapura, 2019

Surat untuk Perempuan Desa

– Sri Ayuningrum
kita sama-sama mencuci permukaan hati, Sri Ayu
tepat di titik paling nyeri, kelopak rukam perlahan tumbuh
rindu yang dahulu berderai-derai, kurangkum rapi di
tangan kiri
ada darah yang selalu basah,
menjadi lelaki tidak cukup mencicipi pekat kopi seduhan-
mu.
ini jalan yang barangkali kita pahat sambil terpejam
menuju puncak-puncak tubir antardakian.
sebab serapah yang dikekalkan, enggan
mundur selangkah ke belakang.
adalah percakapan orang kampung yang kini merendah
yang dahulu bergeming setelah perjamuan dosa
sayup-sayup kucium aroma jerami dari tubuhmu
aku benar-benar tergoda
pada mata yang mengundang sengketa
lalu mengajakku berlari ke belantara.
Gapura, 2019

Mimbar Penyair

sambil menghitung degup bunga matahari, aku menulis
desing embun kini hanya tinggal remang
adalah luka yang lunas menjadi masa lalu
ada puisi puisi hendak menolak hadir
selain dari sunyi dan nyeri
dan kutatap, doa-doa seputih kuntum lili
terpaksa diterbangkan ke sudut langit
;aku tertawa lepas tak sadar batas
di tengah gerimis yang kian mengeras.
engkau menulis,
sambil menjahit berpotong-potong kenangan
tanpa peduli dengan apa pun
sedang gelisah bendentum, gelisah
di tempatnya
tak ada apa pun di mari
hanya debar lampu pijar menhantam gelap.
Gapura, 2019
Rofqil Junior adalah sapaan akrab dari Moh Rofqil Bazikh, kelahiran Pulau Giliyang di ujung timur Madura. Kini ia hampir menyelesaikan studi di kelas akhir Madrasah Aliyah Nasyíatul Mutaíallimin. Berdomisili di  Pesantren Nasyíatul Mutaíallimin, bergiat di Anak Sastra Pesantren (Asap) dan Kelas Puisi Bekasi. Puisinya tersebar di berbagai surat kabar dan antologi bersama.

[1] Disalin dari karya Moh Rofqil Bazikh [2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 31 Maret 2019.