Susi Alur, Susi Patut – Susi Empat, Susi Bilangan – Susi Kata, Susi Tari – Susi, Malam Itu

Karya . Dikliping tanggal 9 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Susi Alur, Susi Patut

Pun tak pernah Ibu menyebut tentang alur, tentang patut. Saat cahaya mulai memberat, Susi hanya merasa: gemigil tulang-temulang, gerinih urat-temurat. Ibu lalu bilang, “Terpaut makanan lantak, tergaris makanan pahat. Tiba di perut tidak dikempiskan, tiba di mata tidak dipicingkan.” Susi tahu, telungkup sudah sama tampak, telentang sudah sama terlihat. Pun Susi ingat, di kilat kata bayang, di alamat kata sampai.
Susi diam, pun Ibu diam, menaruh ingat pada kenang. Susi mengenang alur ibarat gula, Ibu mengenang patut ibarat kelapa. Tak putih pertanda manis, tak sepah pertanda santan. Tak tukang membuang kayu, tak cerdik membuang kawan. Susi membatin, Ibu bergumam, “Penakik pisau siraut, ambil galah batang lintabung. Setetes jadikan laut, sekepal jadikan gunung.” Susi terbayang, di langit mengalir sungai di angkasa mengambang laut, samudera merumbul melayang-layang.
Pun pada pagar, pun pada jalan, alur dan patut lembut menepuk, “Memintas sebelum hanyut, melantai sebelum lapuk.” Susi ingat, lelorong menjalar lelorong menjalin, ciluk-ba kapas ciluk-ba benang di dalam kain. Jejalan meregang jejalan mengembang, ciluk-ba urat-urat ciluk-ba tulang-tulang, ciluk-ba badan dengan rumah gadang. Susi membatin, Ibu bergumam, “Tak air talang dipancung, tak kayu jenjang dikeping. Terendam pastilah basah, terjemur tentulah kering.” Susi terkenang, berkata merendah- rendah, menyauk di hilir-hilir.
Susi diam, pun Ibu diam, menaruh ingat pada mamang: pepat di luar runcing di dalam. Susi menimang alur, Ibu menimang patut, kelam dan terang sama berpaut. Susi membatin, Ibu bergumam, “Sekali air besar, sekali tepian berubah, yang air ke hilir juga. Sekali kuasa berlegar, sekali aturan berubah, yang adat begitu juga.” Pun begitulah pagar, pun begitulah jalan, mengayun Susi pada tali, yang kalau tegang berjela-jela, yang bila kendor berdenting- denting. Yang kalau dikumpar selebar kuku, yang bila dikembang selebar alam.
2012

Susi Empat, Susi Bilangan

Saat pertama cahaya itu datang, Susi tenggelam dalam membilang. Berapa pagi berapa siang, berapa malam berapa petang. Orang-orang mulai meragai, riuh-rendah di halaman, antah dan beras mereka pisahkan. Ibu naik ke anjung, mulai menari, Susi tumbuh Susi berganti. Kuda- kuda meringkik, kerbau-kerbau melenguh, melapur-lapur ayam di kandang. Susi merintih, kadang mengerang, meracau-racau Susi membilang, “Tarik tiga mengadu tujuh, tarik tujuh mengadu empat. Getar di buluh siapa menaruh, ditaruh tujuh tiga menempat.”
Ah, kata yang empat. Kata dahulu, kata kemudian, kata pusaka, kata mufakat.
Buluh tak tumbuh pada ruas, tunas tak tumbuh pada pokok. Tak batang Susi bersandar, tak dahan Susi bergantung. Bersila Susi pada akar, di serat buluh Susi bernaung. Menari. Mulai menari. Membilang. Terus membilang. Berapa bulan berapa bumi, berapa bintang berapa matahari. Berapa kiri berapa kanan, berapa belakang berapa depan. Kata Ibu, “Tak bertinggi tak berendah, segala terbaring dalam empat. Di atas selesai di bawah sudah, hanya di garis makan pahat.” Susi bergetar, menari terus menari. Susi meracau, membilang terus membilang:
Empat. Pagi siang malam petang. Empat. Kiri kanan depan belakang. Empat.
Bumi bulan matahari bintang. Empat. Air tanah angin api. E-m-p-a-t. Susi bergetar, menari terus menari. Susi meracau, membilang terus membilang. Ingat kalimat Ibu, Bulat menggolong pipih melayang, sendiri bersempit- sempit bersama berlapang-lapang. Ingat dulu saat Oryana datang, Epsilon-theta-delta-alpha, terbaring semua cakra. Dan kini, Susi tahu, saling hubung tak mengikat, saling bentur tak melenyap. Menari, terus menari. Membilang, terus membilang. Umbut Susi runtih Susi, Susi nibung ke seberang. Turut Susi cari Susi, Susi berlindung pada yang terang.
2012

Susi Kata, Susi Tari

Susi bernyanyi di kata awal, Susi menari di kata akhir. Kata yang empat ke morontial, kata yang tujuh ke lengang tabir. Susi bernyanyi, Susi bernyanyi menari-nari. Ibu berdendang, Ibu berdendang mengulang-ulang, “Kait- berkait rotan saga, terkait di akar baha. Dari langit terberita, tiba di bumi jadi kaba.” Lenguh kembali ke Binuang, ringkik pulang ke Gumarang, Kinantan terbang ke pangkuan hilang.
Kata yang dekat, lebih dekat dari leher Susi,* mengambil bunyi dari nyanyi. Kata yang jauh, lebih jauh dari langit Susi, mencucup gerak dari tari. Hijau kembali ke nabati, merah pulang ke hewani, Susi telentang pada janji. Janji pertama tangis pertama. Sebelum kata berkurenah sebelum kata dilekat tuah. Kata Ibu, “Mumbang jatuh kelapa jatuh, habis diri karena badan. Rumah tumbuh halaman tumbuh, lenyap pagar dari jalan.”
Susi bernyanyi rumah, Susi bernyanyi halaman, menari Susi di jalan tali. Jalan tali getar-bergetar, jela-berjela berdenting-denting, senyap hilang ke serat Susi. Susi bernyanyi atap, Susi bernyanyi lanjar, menari Susi di lenyap pagar. Lenyap pagar menyeru akal, memukul-mukul dada membusung nalar, rebah bersimpuh di pangkuan Susi. Kata Ibu, “Kata iya kata berturut, kata dua kata meragu. Kuat ikat tak berpaut, kirab sila berurak debu.”
Tari Susi, debu Susi, kata tumbuh kata berganti. Kata menurun, kata mendaki, selesai merendah habis meninggi. Susi bernyanyi, masih bernyanyi, tapi bukan lagi bernyanyi. Susi menari, masih menari, tapi bukan lagi menari. Selesai bunyi dari nyanyi, sudah gerak dari tari. Susi meluas. Susi meluas, meluas melebar bagai memanjang. Seperti halaman. Susi meluas, meluas melebar terus memanjang. Memanjang, memanjang memanjang terus memanjang, merangkum, menampung angkasa dan bintang-bintang.
2012
* Dari QS 50:16.

Susi, Malam Itu

Malam itu, tiba waktunya tukang kayu itu mengetuk pintu,
mengucapkan salam, berbasa-basi menanyakan keadaanmu
sebelum menagih kayu yang kaujanjikan ribuan tahun lalu.
Malam yang sama, tukang batu itu juga datang, dan sama
seperti Si Tukang Kayu, Si Tukang Batu juga menagih batu
yang pernah kaujanjikan, pernah kaumau, ribuan tahun lalu.
Saat itulah kau ingat Susi, Susi yang dulu memasukkan kayu
dan batu itu ke tubuhmu, dan hanya Susi pulalah yang mampu
mengeluarkan kayu dan batu itu kembali, agar kayu dan batu itu
bisa diukir dan dipahat jadi ukiran dan pahatan yang dulu pernah
kalian impikan, agar habis semua kelahi, agar sudah semua seteru.
2012

Susi, Cangkang

Kau berpikir tentang telur, tentang cangkang, heran
kenapa anak ayam tahu harus meretakkan cangkang agar
menetas; heran kenapa anak ayam tahu ada dunia di luar
dunia telur, dan si anak ayam mematuk, terus mematuk
berjuang memecahkan cangkang. Sementara, di luar
sana, sudah sejak lama, Susi juga berjuang, terus berjuang,
memberitahu ada juga cangkang yang harus kaurerak; harus
kaukapak, bukan di luar, melainkan di dalam, jauh, jauh di
dalam dirimu. Tapi, tapi sampai kini, kau tak pernah tahu.
2013
Gus tf lahir dan menetap di Payakumbuh, Sumatera Barat. Ia sedang menyiapkan buku puisinya yang terbaru, Susi: Sajak-sajak 2008-2013.
















Rujukan:

[1] Disalin dari karya Gus tf’ Sakai
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” 10 Mei 2015