Suta dan Naya

Karya . Dikliping tanggal 18 Maret 2019 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Suta dan Naya

*
yang memandang ke dalam jendela
rintik mata Suta
ketika dingin menyatu dengan tubuhnya
membentuk rinai yang membasahi atap rumah Naya
di balik jendela
ruang menghangatkan tatapan Naya
apa Naya tahu, Suta sedang menatapnya
lewat embun hujan yang menempel di kaca jendela
ingin rasanya Suta menyelinap
melewati fentilasi dan celah jendela
kemudian merasuk membaluri tubuh Naya
lalu mereka duduk menjadi satu
menyantap hawa dingin yang terhidang di ceruk piring
Suta hanya berangan
Suta hanya bebayang
ia tahu, dirinya hanya hujan di luar jendela
“Biarlah aku tetap menjadi hujan, karena aku tak mau kau
kedinginan,” bisik Suta
*
yang memandang keluar jendela
sayu mata Naya
ketika hujan menjulur bagai melumurkan mantranya
hawa dingin meremah-remah kekosongan yang ada
menjadi seraup hidangan di piring kaca
mendingin di atas meja
Naya tak pernah menyentuhnya
ia hanya selalu memandang keluar jendela
embun di kaca berkedip-kedip
serupa bayangan mata Suta
Naya mengingatnya
dengan rindu yang terlampau bingar
seperti rasa lapar di musim dingin
begitu pendiam
begitu pendendam
separuh umur sudah Naya berdiri di depan jendela
membatik ornamen kepedihan yang purba
Suta takkan tandang
Suta takkan datang
Suta telah mejadi hujan di balik jendela
“Kalau begitu jangan biarkan hujan ini reda,” kata Naya
 
Malang, November 2012
 

Sari Pati Tanah

 
sari
                         pati
                                                          tanah
yang megalir di saraf-saraf tanah
berdegupan di jantung tanah
jemarinya remah
merabai muka-muka tanah
bibirnya rekah
mengecupi kening-kening tanah
sari
                        pati
                                                       tanah
yang mencintai benih-benih
meniduri akar-akar sampai ke batas nalar
menafkahinya sampai ke lahir batang
menghidupinya sampai ke batin getah
menyatu dalam hijau darah
berkawin sepanjang sejarah
hingga mekarlah kelopak-kelopak
berzikirlah lebah-lebah
mengandunglah putik-putik
lahirlah buah-buah
sari
pati
tanah
yang belasnya paling sari
yang asihnya paling tanah
yang dekapnya paling pati
yang cintanya paling tanah
sari
pati
tanah
 
Madiun, Oktober 2012
 

Meja Hidang Bundar

 
di depan kita meja budar selalu berputar
menawarkan menu-menu yang rawan
sementara rasa laparmu telah terkantuk-kantuk
menciptakan kesunyian yang paling mula
 
hidangan pembuka, hidangan telah mendingin
menjadi memorabilia yang berlendir di otak kita
 
hidangan utama, hidangan utama pun membeku
menjelma hawa dingin yang membuat kita hendak saling
berpeluk
 
hidangan penutup, hidangan penutup hanya masa lalu
yang membuat kita terkantuk-kantuk demi mengingatnya
 
lama, kita menggeliat dan kemudian terbangun
yang ada di sekeliling kita hanya mimpi dari tidur yang tak lelap
 
perlahan ingatan kita semakin memudar
serupa baut yang tercerabut dari nalar
 
sementara meja bundar di hadapan kita terus saja berputar
menawarkan menu-menu yang rawan
 
Malang, November 2012

Mashdar Zainal , lahir di Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya ter-
percik di beberapa media. Novel terbarunya, Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran . Kini bermukim di Malang| “Suara Merdeka
Beri Nilai-Bintang!

Keterangan

[1] "Suta dan Naya" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Puisi, Suara Merdeka ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 17 Maret 2019.