Symphony of Lifes

Karya . Dikliping tanggal 17 November 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
SAAT off di Hari Minggu, Marni biasanya sarapan di Mc Cafe yang terletak dua blok dari Hotel Regal. Namun, kali ini, dari gerai makanan cepat saji itu, ia keluar menenteng brown-bag berisi Mc Muffin dan caramel latte. Ia berencana akan menyantapnya di Victoria Park, aula terbuka para “pahlawan devisa”.

Hari ini, walaupun memasuki winter, cuaca sangat menantang untuk dinikmati. Cerah, sedikit berawan dengan suhu sesejuk ruangan berpendingin. Angin pun hanya membias dengan embusan lembut.
Seminggu lagi, pada hari ulang tahun ke-28, yang jatuh pada tanggal 12 November, Marni akan genap enam tahun bekerja di Hongkong. Di Kota Naga ini ia merasa jauh lebih nyaman dibanding saat ia bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia, atau di Riyadh, Arab Saudi.
Yang ia sukai, bukan di sini gajinya lebih tinggi, tetapi karena hak-haknya sebagai seorang wanita pekerja sangat dihargai. Apalagi setelah karirnya meningkat, bukan lagi sebagai pembantu rumah tangga. Ia kini bekerja sebagai karyawan agen pemasok TKI. Tugasnya mengatur kedatangan dan penempatan para pekerja asal Indonesia serta mengurus pernik-pernik yang melengkapi. Sebagai syarat, ia harus menguasai bahasa Inggris, dan ia kini diandalkan karena sedikit mengerti bahasa Koi (1)
Ceracah burung gereja yang beterbangan menaburi taman berlokasi di Causeway Bay mengingatkan Marni akan desai kelahirannya; Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Rasanya bila ia tak terbebani menyekolahkan anaknya semata wayang, yang ditinggal minggat bapaknya, ia ingin tetap berada di Indonesia merawat kampungnya. 
Ia bersyukur, sekarang penghasilannya bukan hanya cukup untuk membesarkan anaknya, tetapi telah membuahkan kepemilikian lima hektare sawah, yang kemudian digarap paklik(2)-nya. 
Ketika asyik menyeruput cream berselimut latte, Marni merasakan endusan anjing. Membuatnya jijik ketika binatang itu melangkah mendekati dirinya. Seketika, Marni mengangkat kaki, berusaha menghindar dari sentuhan si mulut najis. Ia baru merasa sedikit tenteram ketika pemiliknya menarik tali pengendali anjing itu. 
Sang pemilik anjing kemudian melepas ikatan tali di leher dan menghardiknya agar menjauh. Sementara, ia menggeser pantat agar posisi duduknya lebih mendekat ke Marni.
“Anda bekerja di sini?” tanyanya kepada Marni.
“Ya, Tuan!” jawab Marni lugas, juga dalam bahasa Inggris.
“Dari Indonesia, ya?”
“Ya, Tuan.”
“Namaku John Sim. Aku sedang mencari pembantu untuk merawat rumah dan terutama anjing ini…”
Marni bergidik.
***
Akhirnya lama mereka berbincang tentang pengetahuan apa saja yang dapat dipertukarkan. Namun John Sim belum akan menceritakan alasan kepergian istrinya, yang masih tetap ingin dirahasiakannya. Yang diceritakan hanya, sekarang ini dia tinggal sendirian.
Bayangan masa-masa bahagia hidup bersama istrinya tiba-tiba singgah di benak. 
Symphony of Lifes
Sebagai gadis yang dipungut dari Quilin, sebuah desa di pedalaman Tiongkok, istrinya merasa sangat bahagia. Dua puluh tahun terpaut umur tak menjadikannya canggung mendampingi suami yang sering bersosialisasi. Bila dia masih ada, umurnya hanya dua tahun lebih tua dari Marni.
Sayang, Yue Xiu, begitulah John Sim memanggil istrinya, terseret ke kegemaran teman-temannya satu kampung, yang umumnya bekerja sebagai PSK (3).
Ketika John Sim bertugas ke mancanegara, Yue Xiu terbujuk. Berombongan kemudian mereka sering mengunjungi Macau yang hanya 45 menit ditempuh menggunakannya ferry. Di sana, berjudi menjadi kebiasaan yang tak terhindarkan. Judi adalah budaya, menu kegiatan sehari-hari. Judi, menurut mereka adalah “cara halal” mengambil uang dari kantong orang lain. Mengundi nasib dirasakan bukanlah sebuah dosa karena tidak menyengsarakan orang lain. Kalau toh mitranya merugi itu adalah sebuah konsekuensi yang disadari dalam upaya memperoleh keuntungan; sebagai bagian dari hidup, bagian dari sebuah permainan.
Dan, bagi para pedagang, judi dianggap sebagai tradisi olah-rasa untuk mempertajam intuisi spekulasi, selain untuk meningkatkan kesabaran dalam upaya meraih keuntungan dan melatih ketabahan saat mengalami kerugian. Bagi sebagian yang lain, judi dilakukan untuk membuang sial. 
Ternyata, nasib sial inilah yang dinikmati Yue Xiu yang bukan seorang pedagang atau pejudi, melainkan hanya seorang perempuan lugu. Mungkin iblis yang membujuknya hingga harta titipan suaminya amblas di meja roulette dan baccarat… 12 juta dolar Amerika!
Yue Xiu tak tahan menghadapi tekanan selama interogasi yang dilakukan body guard sewaan. Mungkin juga karena merasa berdosa kepada suaminya, akhirnya ia memilih menghilangkan nyawa. Atau mungkin ia terinspirasi istri seorang penguasa Jepang yang karena terjerat utang kepada rentenir kemudian dipaksa menjadi wanita penghibur. Lalu dia didapati melakukan hara kiri saat dipesan oleh suaminya sendiri.   
Menerawang, genangan di pelupuk bawah mata John Sim bergulir satu per satu. Marni yang merasa iba kemudian menyuguhkan tisu untuk menepis cairan yang masih membasahi pipi. 
Kini, John Sim memilih pensiun dini, tak lagi bekerja. Uang yang tersisa dia investasikan untuk membeli beberapa waralaba, gerai swalayan mini Circle K. John Sim masih beruntung diperbolehkan memiliki sebagian uang. Sementara harta lainnya yang ada, semuanya disita untuk mengembalikan dana yang dihabiskan istrinya, yang sejatinya milik para pejabat birokrat China. 
Sebagai coal trader (4), John Sim dipercaya untuk mengatur kickback, yang disebut factory bonus, dengan pihak penjual. Dari setiap transaksi yang dijalankan, dia wajib menyimpan 2 dolar per metric ton bagi mereka yang mewakili pihak pembeli, yaitu kelompok badan usaha milik pemerintah China. 
Agar tak terlacak pegawai pajak dan aparat penegak hukum, sementara, dana yang dikumpulkan kemudian disimpan atas nama istrinya di sebuah bank di Macau.
Karena itu, dengan terungkapnya praktik-praktik korupsi di China, kematian Yue Xiu dia anggap sebuah blessing in disguise; sebagai hikmah yang juga perlu dijadikan peringatan, bagaimana Tuhan melenyapkan uang haram melalui cara-cara yang diharamkan.
Tahun lalu Asia Weekly mengabarkan, Ling Gu, pemuda berumur 23 tahun, putra kepala Politbiro Partai Komunis China, tewas saat mengendarai Ferrari. Dicurigai, ketika melaju dengan kecepatan tinggi, pacarnya melakukan hal seperti yang dilakukan Monica Lewinsky terhadap Bill Clinton saat berada di ruang oval. Itu membuat sang pengemudi kehilangan konsentrasi. 
Musibah itu menguak indikasi korupsi. Mengakibatkan terjadi pembersihan di tubuh partai dan pemerintah. Beberapa pejabat yang dulu merupakan mitranya, sekarang menjalani proses penyidikan.
Kepolisian mensinyalir ada kemungkinan pembelian batubara oleh badan usaha milik pemerintah China merupakan rekayasa agar mark up dapat diciptakan. Padahal, seharusnya China tak perlu lagi mengimpor karena mampu memenuhi kebutuhan batubaranya dari produksi dalam negeri. 
John Sim mengkhawatirkan mereka akan menghadapi tuntutan hukuman mati. Dan, bila didapati dia pernah menyerahkan uang, yang akan dianggap sogokan, John Sim akan sulit menghindar dari jerat hukum sebagai bagian dari organized crime. 
Sekarang bukti-bukti kepemilikan uang telah lenyap bersama istrinya yang kini berada di alam gaib menjadi “bidadari”. 
***
Tak terasa sang mentari sudah bertengger di puncak lengkung peredaran. Membuat Marni tersadarkan untuk menjalankan salat.
“Saya tidak dapat menerima tawaran Tuan. Saya tidak lagi bekerja sebagai pembantu rumah tangga,” sebelum pergi ke Marni yang menegaskan. 
“Aku tidak akan mempekerjakan kamu sebagai pembantu, tetapi sebagai perawat rumah dan binatang piaraan. 
Tolong kamu pikirkan!” John Sim berharap.
“Nanti gajimu akan kunaikkan bila supermarketku mendatangkan penghasilan seperti yang direncakan,” John Sim memberikan keyakinan dan kemudian bertanya, “Boleh aku tahu nomor HP-mu?” Marni pun tak berkeberatan memberikan. 
***
Marni akhirnya menyerah oleh desakan John Sim untuk bekerja merawat rumah dan binatang piaraannya, seekor anjing bulldog dan burung kakatua.
Sebenarnya itu merupakan penghasilan tambahan dan sekaligus penghematan bagi Marni. Sebab, ia boleh tinggal serumah dan tetap diizinkan menggeluti pekerjaan yang selama ini dijalani. Ia tidak berkewajiban menyiapkan makanan karena selain hobi memasak John Sim lebih sering makan di luar. 
Karena itu mereka kadang berdua berada di dapur. Pada saat itu John Sim sering mengejek dalam suasana canda tentang kebiasaan Marni menjalani syariat agama, terutama tentang makanan yang diharamkan.
“Tuhan kami itu tidak logis, masak babi yang dagingnya lezat, mudah diternakkan dan dijaga kebersihannya, malah diharamkan?”
Marni hanya tersenyum menanggapi.
Menyaksikan Marni bergeming dan khusyuk dalam salatnya, John Sim menjadi penasaran, agama seperti apa yang dijalani Marni sesungguhnya. Dia kemudian membeli Alquran yang dilengkapi tafsir berbahasa Inggris.
Marni pernah bertanya kepada John Sim, “Agama Tuan, apa sih?”
“Agamaku ya Coal Trader!”
“Itu kan pekerjaan Tuan, kok menjadi agama?”
“Buat orang China umumnya agama itu adalah keyakinan yang merupakan panggilan, yang mengarahkan hidup manusia untuk berbuat yang terbaik bagi dirinya, masyarakat, dan negara. Seorang dokter, misalnya, agamanya ya ilmu kedokteran.
“Tak ada yang lebih agung dan mulia yang dapat kita persembahkan bagi hidup ini selain menjalani profesi dengan sebaik-baiknya. Itulah yang harus dipertuhankan.”
“Jadi Tuan tidak mengenal Tuhan?” Marni curiga.
“Orang China hanya mengenal kekuatan mahabesar yang ada pada dirinya, yang melahirkan semangat dan energi saat menjalankan profesi. Seuatu yang dirasakan tetapi tak terjamah.”
“Kekuatan itu yang membuat setiap manusia harus memikirkan apa yang harus diperbuat dalam menjalani kehidupan. Meliputi hal-hal tentang kebajikan dan budi pekerti.”
Marni pun terdiam, sembari merenungkan.
Kini Marni mengerti alasan yang melatari mengapa hak-haknya harus diperhatikan di sini, dengan aturan yang dirasakan benar-benar memanusiakan seseorang yang hanya berstatus sebagai pelayan. Padahal majikannya hidup di negara yang tidak dinaungi agama.
***
Suatu sore Marni oleh ajakan John Sim untuk menyaksikan Symphony of Lights, sebuah permainan cahaya yang memesona yang memancar dari gedung-gedung pencakar langit. Musik menggairahkan dihadirkan mengiringi pertunjukan untuk lebih menyemarakkan suasana. Ia pernah menyaksikannya ketika baru tiba dan masih tinggal di kawasan Kowloon. Tempat yang paling strategis untuk menikmati adalah di pelataran sepanjang pantai kawasan Tsim Sha Tsui.
Menanti pergelaran dimulai, saat berjalan bedua menapaki Avenue of Stars (5), Marni hampir menarik tanganbya, ketika John Sim merapatkan telapak tangan ke telapak miliknya. 
Marni kemudian menoleh, serius menyimak, saat John Sim mengutarakan, “Marni, aku telah membaca seluruh halaman menghadirkan cara untuk meluapkan kerinduan insan kepada Sang Khalik. Menghadirkan medium untuk melakukan kontak batiniah antara manusia dengan penciptanya.
“Makin kubaca, semakin aku tersentuh, kemudian terasa seperti ribuan buluh menjamah lembut seluruh tubuh. Aku merasakan sebuah kenikmatan batiniah yang tak pernah kurasakan. Sebuah pengalaman spiritual yang menyadarkan. Bahwa imanensi yang selama ini kujalani ternyata belum lengkap. Kehadiran kekuatan dalam diriku belum sempurna menjadi manusia yang takwa; mengabdi dan menghamba kepada Yang Maha Kuasa.

“Transendensi, menjangkau Tuhan di realm keberadaan-Nya, di luar batas kemampuan manusia dan alam semesta, ternyata sangat diperlukan agar manusia tercerahkan, membuatnya sadar dalam kodratnya sebagai manusia.”
John Sim merenung dalam. Terpikir, andaikan dulu Alquran dibacakan kepada Yue Xiu, pasti kesadarannya selalu terjaga dan musibah akibat mengundi nasib mungkin tak akan terjadi. Namun, barangkali itulah qada dan qadar Tuhan yang tertulis dalam kitab-Nya yang nyata terpelihara; Lauh Mahfuz.”
John Sim kemudian berharap, mudah-mudahan dalam kitab Tuhan teragung dan termulia itu, tercatat Symphony of Lifes; perpaduan getaran dan cahaya dalam dirinya dengan getaran dan cahaya dalam diri seorang yang telah meluluhkan hatinya, yang kini tangannya erat digenggam dan tak ingin dia lepaskan. ***
Guangzhou, 12 November 2014
Catatan:
1. Berasal dari kata “Guo Yu”; bahasa negara atau bahasa nasional (China)
2. Bahasa Jawa; paman
3. Pekerja Seks Komersial
4. Pedagang batubara
5. Jalan setapak, penghormatan kepada para bintang film Hongkong terkenal
6. Catatan Tuhan yang berada di alam gaib; induk segala Al-kitab

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nugroho Suksmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” pada 16 November 2014