Szerelam

Karya . Dikliping tanggal 18 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
KAMU bisa saja menyimpan kenangan, tapi kamu tak pernah bisa memiliki masa lalu kembali. Begitu kata pamanku suatu sore, ketika aku berpamitan pergi ke tanah lapang. Dia baru saja selesai mengisi bak mandi. Kukira dia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Aku percaya perkataan itu tidak akan keluar dari hati seseorang yang masih menyimpan puluhan piringan hitam lawasnya. 
Szerelam, begitu aku menyebut tanah lapang itu, dikepung gedung-gedung dan dikelilingi jalan sempit. Beberapa pohon yang berjajar di pinggirnya sudah ditebas, termasuk yang ada ayunannya. Sisanya yang masih tegak ditembak cahaya matahari yang mengapung 12° di atas horison, menjatuhkan bayangan ke tengah. Ada keheningan yang hangat. Terdengar suara kendaraan yang melintas sesekali.
Ketika aku datang, pria itu sedang duduk bersila, mempersiapkan kamera. Beberapa puntung rokok memenuhi asbak yang terbuat dari lipatan kertas dan tisu yang dibasahi. Di sebelahnya gelas plastik berisi kopi.
Senyumnya mengembang
“Boleh duduk di sini?” tanyaku. Ia menyilakan. Aku pun duduk. Masih sore. Belum banyak orang berdatangan.
Kuletakkan koran dan segelas kopi panas yang kubeli dari pedagang di pinggir tanah lapang di  atas tikar.
“Kok masih sepi, ya?” suara orang di sampingku membuatku  menoleh. Ia tersenyum. Sinar matahari sore menyapu dagunya yang tampak kasar belum bercukur. Aku seperti pernah melihat wajahnya tapi lupa di mana dan kapan. Ia menyipitkan mata menghindari sinar matahari. Dua helai daun jatuh di atas tikar, di dekat bukunya.
“Suka membaca?” tanyaku. Aku menunjuk bukunya.
Ia menggeleng. “Tidak terlalu. Buku itu dimasukkan pacarku ke dalam tas sejak lama. Katanya suatu saat aku pasti membutuhkannya.”
Aku mengangguk-angguk.
“Kamu tidak mengajak pacarmu?” Ia bertanya balik.
“Pacar?”
“Aku dulu sering melihatmu bersama seorang dosen. Kalian sepertinya berpacaran.” Ah, rupanya ia temanku satu kampus dulu. Hanya saja aku benar-benar lupa padanya. Aku menggeleng menanggapi  ucapannya.
“Oh maaf, sudah tidak bersama yang itu?”
“Masih, tapi bagaimana ya? Kami bukan pasangan.”
“Oh begitu.”
Aku melihat beberapa orang mulai berdatangan. Meskipun begitu, aku tidak merasa tempat itu akan ramai.
“Semakin sedikit orang datang ke sini. Seharusnya itu membuatku sedih, tapi aku justru merasa senang. Aku jadi bisa menikmati semua ini dengan khusyuk, tanpa terganggu,” kataku kemudian. Aku menoleh padanya sekilas. 
“Kamu akan memotretnya?” Tanyaku menunjuk kamera besar di samping ransel.
Ia mengangkat bahu. “Aku tidak yakin. Aku tadi cuma kebetulan lewat daerah sini. Mungkin hanya akan memotret orang-orang yang datang ke sini. Tapi, kadang, dibanding memotret, aku lebih suka mengobrol.”

Aku menahan senyum. “Mengobrol,” aku mengulang perkataannya. “Mengobrol tentang apa? Cuaca?”

Ia tertawa
“Kamu sendiri? Mengapa tidak mengajak pacarmu?” tanyaku kemudian.
Ia mengangkat bahu kanannya. “Pacarku sedang mengerjakan hal lain, yang menurutnya lebih penting,” jawabnya ragu.
“Tentu saja. Begitu banyak hal penting lain yang harus dikerjakan selain ini.” Aku tertawa. Ia ikut tertawa. “Mungkin dia benar, kita yang kurang kerjaan.”
Ia mengangguk mengiyakan. “Jadi mengapa tidak berpacaran saja dengannya?”
“Aduh,” aku menepuk dahiku sendiri, agak tidak menyangka ia akan menanyakan hal itu.
“Kurasa tidak.”
“Mengapa tidak?”
“Aku tidak siap.”
“Tidak siap berkomitmen?” tanyanya dengan sedikit tersenyum.
Aku menatap lurus ke wajahnya. “Tidak siap mengatakan padanya tentang perasaanku, dan mendengar kenyataan bahwa dia juga mempunyai perasaan pada orang lain. Meskipun itu sudah pasti. Bagaimana mengatakannya ya? Aku datang belakangan,” kataku ragu-ragu.
“Datang belakangan. Ah. Kurasa aku mengerti. Cinta segitiga memang rumit. Maaf,” ucapnya kemudian.
“Tidak apa-apa. Memang agak rumit.”
“Tapi menyimpan perasaan tanpa mengatakan pada orangnya terdengar egois sekali bukan?”
Aku menatap ke depan. Bayangan pohon-pohon  di tanah lapang mulai menghilang. “Egois,” aku mengulang perkataannya lagi. “Menurutmu begitu?”
“Ya. Karena kamu seperti mengambil sesuatu, meski tak berwujud, darinya untuk dirimu sendiri tanpa dia tahu.”
Aku menyeruput kopiku. “Tapi bukankah mengatakan cinta adalah sesuatu yang mempunyai konsekuensi,” aku mengatakan itu seperti berbicara pada diriku sendiri. “Tidak hanya untukku tapi juga untuknya.”
“Apakah kamu merasa dia akan lebih bahagia jika bersamamu?”
Aku menghela napas. “Tentu saja tidak.” Sejurus kuedarkan pandangan  ke sekeliling, baru saja angin menerbangkan daun-daun. Aku mendongak ke atas. Langit masih tampak biru meski malam perlahan merayap dari sebelah timur.
“Di tanah lapang ini akan dibangun hotel,” ucapnya pelan.
“Sepertinya begitu. Tidak ada yang disisakan lagi.” Aku terdiam sebentar. “Dulu di sebelah sana ada ayunan.” Aku menunjuk salah satu titik. “Aku selalu diajak pamanku ke sana sepulang dari sekolah. Pamanku dulu sering main sepak bola di sini. Dia penyerang hebat pada masanya, terkenal di seluruh kota. Tidak ada satu pun kiper yang bisa menahan bola yang melesat dari tendangannya.” Aku melihat sekeliling. “Di sini juga sering diadakan pemutaran film. Kamu tahu? Seperti di Cinema Paradiso. Orang-orang  berkumpul menonton bersama , anak-anak kecil cekikikan ketika ada adegan mesra di layar,” aku terdiam lagi. “Tanah lapang ini bukan milikku. Tapi aku memiliki kenangan bersamanya.”
“Kenangan.” Ia mengulang perkataanku. “Masa depan tidak dibangun dari kenangan.”
Aku teringat perkataan pamanku. “Siapa bilang? Masa depan dibangun dari kenangan, jauh sebelum kamu bahkan menyadari kamu memiliki kenangan itu.”
Orang di sebelahku menatapku. Aku sebenarnya tidak terlalu berharap obrolanku dengannya mengarah ke sana.
“Aku memasang kata kunci yang seharusnya kuingat untuk membuka sistem di ponselku ini.” Aku menimang ponselku lalu tersenyum tipis. Tampaknya ia menungguku melanjutkan cerita. “Tapi entahlah, mungkin aku sedang mabuk atau apa, aku tidak bisa mengingatnya. Sepuluh kesempatan memasukkan kata kunci yang diberikan kepadaku hangus. Kemudian aku memencet tombol “Lupa Kata Kunci” dan diberi satu pertanyaan, pertanyaan yang kubuat sendiri, yang seharusnya kutahu jawabannya. Aku mempunyai sepuluh kesempatan lagi untuk mencoba. Seharusnya, aku membuat kalimat pertanyaan yang mudah kujawab sendiri, misalnya apa buku favoritku, atau semudah tahun berapa aku lahir. Tapi aku membuat pertanyaan yang menjengkelkan.”
“Oh ya? Kamu membuat pertanyaan apa?”
Aku menghela napas sebentar sebelum akhirnya tersenyum tertahan. “Siapa yang kamu cintai.”
“Pertanyaan yang sulit.”
“Pertanyaan yang gampang.  Jawabannya yang sulit. Aku memasukkan satu nama yang aku kira adalah orang yang pernah paling kucintai. Dan aku kaget sekali, ternyata jawabanku tidak benar. Aku lalu memasukkan nama lain, dan tetap tidak benar. Lalu aku mencoba lagi, sampai lima kali, dan semua nama yang kumasukkan tidak benar. Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku tidak tahu siapa yang aku cintai? Aku memasukkan nama almarhum ibuku, nama almarhum ayahku, tetap tidak masuk. Terakhir aku memasukkan namaku sendiri. Konyol bukan?”
Dia tertawa. “Apakah berhasil?”
“Tidak.”
“Wah.”
“Itulah. Aku heran pada diriku sendiri.”
“Lalu apa yang kamu lakukan?”
“Aku me-reset sistemnya dan harus kehilangan semua data dalam ponselku.”
“Wow.”
Kami berdua rebah di atas tikar, menatap langit. Malam datang. Seperti dugaanku, tanah lapang itu tidak terlalu ramai. Beberapa orang, sebagian besar berpasangan, mulai menempati tikar masing-masing.
Kabarnya malam itu meteor akan melewati langit kota. Aku sengaja pulang bekerja lebih cepat untuk memberitahu seseorang, yang tadi dikiranya sebagai pacarku, supaya kami bisa melihatnya berdua. Ternyata dia tidak di rumah. Aku hampir memutuskan untuk mengirimkan pesan melalui ponsel supaya dia menyusulku, tapi dalam perjalanan aku merasa lebih baik aku pergi sendiri.
Sayup kudengar sebuah lagu. Suaranya seperti berasal dari suatu tempat yang jauh, padahal suara itu dari ponsel salah seorang di tanah lapang itu. Aku mengenal melodinya dengan baik tapi hanya beberapa lirik yang berhasil aku ingat dari lagu tersebut. Kurasa itu lagu tentang patah hati. Lagu aslinya dibawakan oleh Bob Marley, kemudian muncul dalam beberapa versi.
“Kamu pernah patah hati?” tanyaku.
“Kurasa pernah,” jawabnya setelah tertawa kecil.
“Seperti apa rasanya?”
“Kurasa terlalu memalukan membicarakan hal ini.”
“Ayolah. Ceritakan padaku!”
“Oke, tapi mungkin saat seorang laki-laki bercerita tentang kisah patah hati, perempuan akan dengan mudah merasa simpati kemudian ingin lebih dekat dengannya. Jadi aku peringatkan kamu dari awal.”
“Oh baiklah.”
Ia membetulkan letak kepalanya sebelum mulai bicara. “Setiap malam aku memikirkannya. Tapi aku menahan keinginanku untuk mengungkapkan perasaan karena aku tidak tahu apakah dia juga memikirkan aku. Aku masih bisa merasa senang karena harapanku belum terbukti sebaliknya, tentu saja. Sampai suatu saat, dalam sebuah percakapan aku mendengar sesuatu yang membuatku urung mengungkapkan perasaan. Dia mencintai orang lain. Tak lagi penting apakah dia kerap memikirkanku atau tidak. Aku tetap tersenyum. Tapi pada saat perjalanan pulang, berkali-kali aku salah belok arah karena otakku seperti tak lagi di tempatnya.”
Aku menatapnya dari samping. Hidungnya tampak mancung. Kualihkan lagi pandanganku ke langit luas. Meteor tak juga melintas. Angin malam begitu dingin, dan nyamuk mulai menggigiti tangannya sendiri, dan kadang menepuk tanganku.
“Kurasa aku tidak ingin mengatakan padanya,” kataku kemudian.
“Kamu tidak siap patah hati?”
“Dia tidak layak membuatku patah hati. Kurasa aku tidak rela menjadikannya seseorang yang membuat otakku terasa tidak berada di tempatnya.”
“Kurasa aku mengerti,” jawabnya sambil tertawa.
“Kamu sering merasa begitu?”
Ia terkekeh. “Kurasa jarang.”
“Apakah kamu mencintai pacarmu yang sekarang?” tanyaku tiba-tiba.
“Tentu saja. Mengapa?”
“Mengapa kamu tidak bersamanya saat ini?”
Meteor melintas tepat saat aku selesai melontarkan pertanyaan. Kami berdua tidak bisa berkata-kata. Benda itu bergerak begitu anggun dari atas, dengan kerlap yang memukau. Senyap dan bersahaja. Entah akan jatuh di belahan bumi sebelah mana.
“Make a wish!” Kudengar beberapa orang berseru.
“Kamu sempat berharap sesuatu tadi?” bisikku.
“Tidak. Tidak sempat.”
Tiba-tiba sebuah meteor melintas lagi. Aku benar-benar terkesima.
“Wow! Sejujurnya aku belum pernah melihat yang seperti ini,” kataku sambil memiringkan kepalaku.

Baca juga:  Tato Kucing

“Aku selalu datang ke sini jika ada kabar meteor akan melintas, tapi selalu ketiduran. Baru kali ini aku benar-benar melihatnya!”

Orang di sampingku tidak menyahut. Aku menoleh ke samping. Mataku lagi-lagi tertuju ke hidungnya.
“Barusan aku berharap sesuatu,” katanya
“Berharap apa?”
“Tidak ada lagi kekerasan dan penderitaan di dunia ini. Paling tidak berkurang.”
“Mulia sekali. Andaikan aku punya kesempatan untuk berharap, katakanlah aku percaya pada hal-hal semacam itu, aku pasti lebih banyak berharap untuk diiriku sendiri.”
Ia tertawa.
“Benar. Itu yang terlintas di pikiranku. Misalnya aku berharap akan bahagia atau mendapatkan orang yang kuinginkan. Atau tanah lapang ini tetap seperti ini sampai aku mati,” ucapku. Aku membuang tatapanku ke atas. Langit tak terbatas. Jika harapan berwujud, pasti banyak sekali kilatan-kilatan cahaya terbang ke angkasa saat itu.
“Ada berapa orang yang sedang berharap sekarang ini ya?” tanyaku. “Jika ada dua orang berharap hal yang sama, bagaimana cara semesta mengabulkannya? Misalnya aku berharap aku mendapatkan cinta dari seseorang, tapi ada orang lain yang berharap sama, mana yang akan terkabul?”
“Katakan saja padanya kalau kamu mencintainya.”
“Maksudmu?”
“Tidak penting bagaimana dia menanggapi perasaanmu. Yang penting kamu merasa lega. Tidak seperti aku, patah hati dua kali. Pertama karena mendengar dia mencintai orang lain. Kedua karena perasaanku tidak sampai padanya, tertahan di sini,” Ia menunjuk dadanya. “Perasaan itu lenyap pelahan. Itu terasa lebih menyebalkan.” Ia menghela napas. “Kamu pernah menonton Almost Famous? Ada tokoh yang meminta temannya memilih: korek di tangan kiri, atau tangan kanan yang menggenggam. Dia bilang, kita pasti memilih tangan kanan karena selalu menginginkan lebih. Tapi menurutku, apa salahnya jika tidak menginginkan korek kita berharap mendapat yang belum ketahuan wujudnya. Ungkapkan saja. Meskipun harus patah hati. Kalau terasa terlalu berat, kita janjian saja ke sini. Kita akan berciuman untuk menyembuhkan patah hatimu.” 
Aku terpekur menatap hidungnya dari samping. Ia menoleh. Aku lalu terbahak sendiri. “Kamu bercanda kan?”
Orang di sebelahku tidak menjawab . Kemudian, satu meteor, yang terkhir malam itu, melintas.
Perlahan sekali ia mencium bibirku. Dan entah mengapa aku membiarkannya.
***
“HEY!”

“Hey!”
“Ingat aku? Aku sudah menonton Almost Famous!”

“Hahaha!”
“Mau ke mana?”
“Aku baru saja mengantarkan pacarku.”
“Pacar? Oh, yang memasukkan buku ke dalam tasmu?”
“Ah, bukan. Aku putus dengannya.”
“Ah, sayang seklai.”
“Jadi kamu sudah mengungkapkan perasaanmu padanya?”
Aku terdiam sebentar. “Ya!”
“Wow!”
“Haha!”
“Hey kamu mau ke tanah lapang?”
Aku melihat angka di pergelangan tanganku.
Kami duduk di sebuah bangku yang hampir ambruk.
“Wos, situasinya kacau sekali di sini,” katanya sambil mengeluarkan kamera. Kamera yang pernah dibawanya ketika kami melihat meteor setahun yang lalu. Ia kemudian memotret beberapa objek. Rumput di tanah lapang itu kering dan rusak terinjak-injak. Beberapa kali terjadi demonstrasi dalam setahun terakhir. Rupanya banyak orang tidak menginginkan tempat penuh kenangan tersebut dijadikan hotel.
“Besok ada pemutaran film di sini. Aku dan teman-temanku yang membuat acaranya.”
“Menarik. Kalian akan memutar film apa?”
“Film dokumenter tentang pembangunan hotel dari sudut pandang orang-orang seperti kami.”
Ia menatapku. “Orang-orang seperti kami,” Ia mengulang perkataanku. “Kamu harus berhati-hati,” tambahnya.
Aku mengangkat bahu. “Kurasa cinta terlalu egois jika hanya dipendam. Tapi menyatakan cinta memiliki konsekuensi.
Ia menatapku. Dagunya bersih. Lalu perlahan-lahan aku mengingat di mana dan kapan pernah melihat wajahnya. Ia selalu berada di perpustakaan dan asyik dengan buku sketsanya.
“Mengapa kamu putus dengan pacar-bukumu?” tanyaku kemudian.
“Dia memutuskanku,” katanya datar.
“Alasannya apa?”
“Seminggu setelah kita berciuman, aku bercerita padanya.”
“Apa? Mengapa kamu bercerita pada pacarmu. Tentu saja perempuan marah kalau pacarnya mencium gadis lain! Kamu ini bodoh atau apa?”
“Kurasa aku harus jujur. Dan sudah menjadi konsekuensi kalau dia memutuskan aku.”
“Ah! Kurasa kamu hanya menggunakan ciuman itu sebagai alasan. Kamu sebenarnya sudah ingin putus dengannya.”
“Kamu berpikir begitu? Aku memang tidak pernah menjalin hubungan lebih dari setahun.”
Aku tidak menanggapi ucapannya.
“Kamu suka perubahan?” tanyanya.
Aku tidak langsung menjawab. Perubahan, aku mengulang kata itu dalam hati. “Jika perubahan adalah hilangnya ayunan di pinggir tanah lapang ini karena akan dibangun taman bermain yang lebih baik, maka aku akan merelakan kenangan. Jika perubahan adalah melihat pamanku memanggul ember penuh air dari sumber yang jauh karena sumur di rumah kami kering, jangan harap aku akan tinggal diam.”
“Aku ingin kamu berhati-hati.”
“Aku selalu berhati-hati.”
Ia menciumku. Dan aku membiarkannya.
“Sebenarnya buat apa kamu menciumku?”
“Entahlah.”
“Kamu sudah bosan lagi sama pacarmu yang sekarang? Mengapa kamu tidak pernah menghargai hubunganmu sendiri?”
“Kamu sendiri? Kamu orang yang hadir belakangan dalam hubungan orang lain.”
“Siapa bilang? Aku sadar aku tidak mencintainya. Jadi aku meninggalkannya.” Aku melihat angka di pergelangan tanganku. “Aku harus pergi.”
Ia pun melihat jam tangannya. “Aku juga. Sukses buat acaramu besok.”
“Terima kasih. Hey, kamu ingat soal pertanyaan rahasia yang aku buat waktu aku lupa kata kunci untuk membuka ponselku sendiri?”
“Haha. Tentu saja. Kamu sudah ingat?”
“Ya. Aku tahu siapa yang aku cintai. Bukan siapa, lebih tepatnya apa.”
Dia tersenyum. “Oh, ya?”
“Ya. Tempat ini.”
Ia nampak terpana menatapku, kemudian mengangguk-angguk. Mungkin dalam hati ia mengulang perkataanku.
“Hey, omong-omong kamu fotografer ya?” tanyaku sebelum pergi.
Ia terdiam sebentar sebelum menjawab. “Aku arsitek.”
Musim kemarau sudah seharusnya pergi tapi rupanya dia ingin tinggal lebih lama. Pancang-pancang telah ditancapkan. Daun-daun diterbangkan angin. Matahari meleleh di ufuk barat. *
Wihambuko Tiaswening Maharsi tinggal di Yogyakarta
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wihambuko Tiaswening Maharsi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Minggu 16 Agustus 2015