Tabir Monalisa

Karya . Dikliping tanggal 29 November 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
SEBENARNYA ia tak pandai berbasa-basi,
apalagi menyemir sepatu.
Tapi demi bisa masuk ke ruangan
Tuan Maranggir, ia mempelajari
dua hal itu dengan semangat dan hasrat
yang menggetarkan. Di pagi yang cerah
itu, ia tiba lebih awal di areal pabrik. 
“Selamat pagi, Tuan. Cerah sekali
hari ini, seperti wajah Tuan.” ujarnya
ketika Tuan Maranggir turun dari mobil.
Sapaan itu terdengar penuh percaya diri,
tapi hatinya sebenarnya rontok dan ia
menanggungkan rasa malu. 
Tuan Maranggir tersenyum dan
menyerahkan tasnya kepada pria
kecil berkulit legam itu. Ia gembira.
Ditangkapnya tas itu dengan sikap hormat,
lalu mengikuti langkah Tuan Maranggir.
Hatinya riang, harapannya akan terkabul
masuk ke ruangan Tuan Maranggir. 
Setiba di depan pintu, jantungnya
berdegup, terlebih saat Tuan Maranggir
merogoh anak kunci dari saku celana,
memasukkannya ke lubang kunci. Klek.
Pintu terbuka, terdengar sedikit bunyi
riut. Tapi tiba-tiba Tuan Maranggir
membalikkan badan dan mengambil
tasnya dari tangan Ultop. 
“Selamat bekerja, Ultop,” ujar Tuan
Maranggir. 
Secepat kilat Ultop merogoh dan
mengeluarkan plastik dari saku celana,
dan menunjukkan isinya: minyak semir
dan kuas. 
“Sudah saya siapkan, Tuan. Saya akan
membersihkan sepatu Tuan, saya bikin
semengkilat mungkin.” 
Saat mengatakan itu, matanya mencuri
pandang ke ruangan. Ia tidak lagi melihat
lukisan itu. Yang terpampang di dinding
justru poster pemain bola terkenal: Luiz
Figo. 
“Hebat. Tapi sepatu saya bersih,” ujar
Tuan Maranggir. 
Lelaki ceking itu kaget, dan pada waktu
bersamaan, pintu ditutup. 
“Drama pagi ini agak keji,” gumamnya
dalam hati, sambil berjalan merindukan
hujan. 
Peristiwa berhujan itu belum genap
sebulan, saat Tuan Maranggir pulang
dari suatu acara di kantor kecamatan.
Hari itu sopirnya tak bekerja karena
istrinya melahirkan anak keenam. Jadilah
Tuan Maranggir menyetir sendiri. Ultop
yang saat itu duduk-duduk di areal
parkir menunggu hujan reda, seperti
mendapat durian runtuh ketika Tuan
Maranggir memanggil dan mengajaknya
ke ruangannya. Tapi takdir tetaplah takdir.
Tuan Maranggir ternyata menyuruh
Ultop membersihkan sepatunya. Hanya
ada sedikit butiran pasir dan lelehan air
bercampur tanah di sekeliling sol sepatu
itu. Begitupun, Ultop merasa bangga
bisa masuk ke kantor Tuan Maranggir,
orang kaya di kota kecamatan itu, pemilik
beberapa pabrik penggilingan padi. Tapi
ia jarang mengunjungi pabrik yang lain,
ia lebih betah berkantor di pabrik satu ini.
Konon, pabrik inilah mata pencaharian
mendiang ayahnya. Sepeninggal ayahnya,
di tangan Tuan Maranggir, pabrik warisan
itu beranak-pinak. 
Tak ada percakapan selama Ultop
membersihkan sepatu. Barulah setelah
selesai, Tuan Maranggir memintanya
duduk di sofa, sementara Tuan Maranggir
duduk di kursinya sambil bersandar. Ultop
gugup. Tangannya dilipat dan diletakkan
di antara kedua pahanya. Sikap tubuhnya
selalu membungkuk. Tak sulit baginya
menerapkan tata krama semacam ini,
sebab sudah terbiasa jadi orang kecil,
bahkan menggelandang. 
“Sudah berapa lama kamu jadi tukang
potong rumput?” tanya Tuan Maranggir. 
“Delapan tahun, Bapak. Sejak saya
menikah. Anak saya dua. Saya harus
belanjai mereka dengan penuh tanggung
jawab,” ujarnya. 
“Istrimu tidak bekerja?” tanya Tuan
Maranggir. 
“Sesekali, Bapak, kalau ada permintaan,
mencuci pakaian di rumah orang-orang
berada.” 
“Oh, begitu.” 
“Iya, Bapak.” 
“Jangan panggil Bapak. Panggil Tuan
saja. Ha ha.” 
“Iya, Tuan.” 
“Baik, hujan sepertinya sudah reda.
Terima kasih, ya,” ujar Tuan Maranggir. 
Ultop paham dan langsung bangkit.
Ketika beranjak dari sofa menuju pintu,
saat itulah matanya terjebak pada gambar
yang menempel di dinding ruangan.
Gambar perempuan cantik. Ultop terpaku
pada gambar itu dan sesuatu menjalar keji
di jantungnya. Mata wanita itu menancap
ke matanya, seolah tersenyum, seolah
mengabarkan sesuatu. 
“Itu lukisan Monalisa,” ujar Tuan
Maranggir. Ultop kembali sadar. Dan
benar, ia membaca di bagian bawah
lukisan itu, ada tulisan kecil: Monalisa. 
“Maaf, Tuan, saya terkesima, gambarnya
bagus. Permisi, Tuan,” ujar Ultop. 
“Eh, tunggu,” ujar Tuan Maranggir
menghampirinya, dan memasukkan
amplop ke saku bajunya. 
“Aduh, terima kasih banyak, Tuan.
Terima kasih,” katanya. 
Ketika melangkah dari ruangan itu, ia
hanya memikirkan gambar wanita ajaib
itu. 
Kini, saat melangkah meninggalkan
ruangan itu, ia merasa kecewa tak bertemu wanita pujaannya. Ia berjalan
gontai menuju kedai kopi dekat pabrik.
Ketika kopi terhidang, ia menyeruputnya,
lalu menyalakan rokok. Saat itulah ia
sadar, bahwa dengan cara halus, Tuan
Maranggir telah menolaknya masuk ke
ruangan itu. Dan kesadaran itu bercabang
lagi, apakah Tuan Maranggir berpikir
bahwa ia datang demi uang? Hatinya
kacau. Ia ingat, isi amplop yang diberikan
Tuan Maranggir cukup untuk belanja dua
minggu. Istrinya berkata seperti tokoh
agama: Tuhan selalu punya cara unik
membantu umatnya. 
Tapi kini, Ultop panas hati. Jiwanya
terbakar. Ia seruput lagi kopinya. Sekilas
ditatapnya dua anak muda bermain
catur dengan tangan menopang wajah,
diam membisu, seperti pecatur ulung.
Dan pikirannya terus melayang pada
gambar wanita cantik yang telah tiada di
ruangan Tuan Maranggir, dan ia merasa
harga dirinya ambruk. Amarahnya kian
berkobar. 
Lukisan wanita itu memang telah
merusak ketenangan hidupnya. Malam
setelah peristiwa itu, dia tidak bisa tidur.
Wajah wanita itu lama-lama seperti
ia kenal, seperti pernah ditemuinya di
suatu tempat, di suatu waktu. Malam
berikutnya, ia mulai yakin bahwa wanita
itu memang ia kenal, meski hati tetap
bertanya, siapa Monalisa? Kenapa Tuan
Maranggir menggantinya dengan gambar
pemain bola? 
Puncaknya, suatu malam, saat istri dan
anak-anaknya sudah pulas, ia dudukduduk
di teras rumahnya. Tiba-tiba
perempuan mirip Monalisa datang, duduk
di sampingnya. Ia melirik kalau-kalau
istrinya terbangun, tapi suasana senyap
belaka. Lalu perempuan mirip Monalisa
itu mencoba memeluknya. Ia melompat
dihentak rasa takut. Ia lihat wanita itu
seperti ibunya. “Astaga,” katanya sambil
bangkit, menjauh dari ibunya. Tapi tiada
siapa-siapa di teras itu. 
Malam itu ia menyusun siasat agar
bisa masuk ke ruangan Tuan Maranggir,
melihat lagi gambar wanita itu, yang
membuat hidupnya remuk dalam bayangbayang
mistik. Mendadak ia benci kepada
pria itu. Ia berkhayal menampar orang
kaya itu. 
“Bangsat. Curang kau. Kau yang curang,
kurang ajar.” 
Khayalannya terganggu oleh keributan.
Dua anak muda pecatur ulung tadi nyaris
adu jotos dan ia melihat papan catur dan
buah-buahnya sudah berserak. Pemilik
kedai mengusir mereka. Ia juga beranjak
dari kedai. Ia ingin pulang, menghapus
bayang-bayang buruk yang mengacau
jiwanya. 
Tapi entah bagaimana, langkah kakinya
tidak menuju rumah. Ia justru berada
di depan ruangan Tuan Maranggir. Ia
mengetuk pintu, tak ada sahutan. Ia
ulangi. Dua kali. Tiga kali. Dan pada
ketukan kelima, pintu dibuka. Tuan
Maranggir terkejut. Dan kian terkejut
ketika Ultop memberondongnya dengan
pertanyaan tajam. 
“Kau sembunyikan di mana ibuku?” 
“Ibumu? Saya tidak paham kata kau.
Tinggalkan tempat ini, atau kuseret kau ke
Pengadilan!” 
“Tak perlu, aku yang akan mengantar
diriku ke Pengadilan,” ujarnya. 
Sigap tangannya mengambil parang
dari tas kerja, lalu mengayunnya berkalikali secara membabi-buta. Setelah itu, ia
tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya ingat
darah muncrat kemana-mana. 
*** 
Ketika aku mengunjungi Ultop di
penjara, ia menyebarkan ancaman yang
sama. “Untuk apa kau bertanya-tanya,
mau kupenggal kepalamu?” katanya. 
“Aku ada di pihakmu,” sahutku. 
“Tak perlu,” katanya. 
Pelayan kantin penjara datang
membawa kopi dan tiga bungkus rokok.
Aku bernegoisasi agak lama dengan
kepala Lapas untuk meluluskan urusan
ini. Hingga pelayan berlalu, kami masih
saling diam. Kusorong satu gelas kopi dan
dua bungkus rokok itu ke arahnya. Satu
gelas lain untukku. Kuseruput kopi, dan
menyalakan rokok. Ia melakukan hal
yang sama. Dan tiba-tiba, dengan mata
basah, ia bicara. “Tak ada lagi yang perlu
kuceritakan, semua sudah kalian tulis,”
katanya. 
Ia diam dan mengisap rokoknya. “Apa
lagi yang kau inginkan? Kau wartawan,
tentu mudah bagimu meramu cerita di
luar sana. Aku sudah damai di sini.” 
“Aku ingin tahu tentang ibumu.” 
Ultop bangkit dan berdiri berkacak
pinggang. Tubuhnya gemetar. Giginya
gemeretak, menudingku. “Kau!!!” katanya
dengan suara menggeram. 
Aku diam, mencoba tenang. Tak lama
kemudian, ia menangis, lalu duduk lagi
dengan napas tersengal. Aku membiarkan
situasi itu mengalir apa adanya. Kutatap
matanya. Pedih. 
Dari warga, aku tahu pria ini tak
memiliki ayah. Ibunya pulang dari
Malaysia dan membawanya dalam usia
dua tahun. Saat ia duduk di kelas dua
sekolah dasar, ibunya bunuh diri. Sejak
itu, ia hilang ingatan dan keluyuran di
sekolah kampung. Lalu seperti dongeng,
suatu hari Ultop bertemu dengan Irna
ketika keluyuran di pasar. Konon, ketika
melihat Irna, ia tiba-tiba waras dan
kembali normal. Dan ajaibnya, Irna
bersedia jadi istrinya. 
Kulihat Ultop masih sesunggukan. Maka
kuputuskan mengakhiri wawancara. Aku
bangkit dan pamit padanya. “Maafkan
aku,” kataku. 
“Tak ada yang perlu dimaafkan,”
katanya terbata, “Gambar wanita di
ruangan itu membangkitkan kenanganku.
Ia memperkosa ibuku, ibuku yang cantik
dan bunuh diri.” 
Dadaku sesak. Entah bagaimana, aku
memeluknya. Dia memelukku. Kami samasama
menangis.
*** 
2016 

Panda MT Siallagan,
menulis puisi dan prosa. Kini tinggal
dan bekerja di Kota Pematangsiantar,
Sumatra Utara.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Panda MT Siallagan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 27 November 2016