Tabir Temu

Karya . Dikliping tanggal 26 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
AKU menatap teduh langit. Kelabat bayang masa lalu menari bersama burung di ketinggian yang entah. Aku tak mampu menakar jaraknya. Namun, ada rasa godaan untuk mengulang kejadian –apalagi keputusan– hingga aku terdampar di negeri yang tak sebenarnya diharap. Aku tak menyesal, sungguh!
Mungkin jalan hidup menakdirkan begitu. Waktu itu, aku tak ragu melangkah menuju kota yang sebenarnya dirindu, Palembang. Dari sekian tahun dilalui, aku sering mendengar cerita tentangnya, melihat letaknya di lembar peta, pun memelajarinya dalam kekhusyukan yang nyata. Ya, aku ingin melihat simbol bumi Sriwijaya, Jembatan Ampera. Simbol yang dirindu setiap orang bila pernah mendengar ceritaya. Di bawahnya mengalir sungai Musi yang konon sebagai sungai terpanjang di Sumatera. Bentangan Sungai Musi dari Kepahiang-Bengkulu hingga mengujung di Selat Bangka. Lagi, di sekitarnya terdapat bingkai pemandangan indah lain yang patut didatangi dan diketahui sejarahnya. Benteng Kuto Besak, Museum Sultan Mahmud  Badaruddin II, Monumen Pancasila, Masjid Agung, dan Pulau Kemaro menunggu disaksi.
Waktu itu, tanpa diduga dan di luar logika, aku berhasil merebut juara pertama di salah satu cabang olimpiade sains tingkat Kabupaten. Ah beruntungnya! Rasa girang tentu tak terelakkan dari kehidupanku. Bahkan kaki sempat menjulang tinggi ke sebagian awang di antara langit dan bumi sebagai penanda luapan gembira. 
Seanggun pelangi wajahku kala itu. Warna-warni rasa saat berada tepat di jantung kota metropolitan terkaya kelima Indnesia itu. Alamak, begitu megahnya. Menjulang tinggi gedung-gedung pencakar langit. Merias kota dengan kerlap-kerlipnya bila malam mendatang. Ah, selalu beruntungya aku. Kerapkali aku menangkap ruang baru nan megah yang sewajarnya belum didapat seperti kebanyakan teman di pedalaman darah tempat kubelajar melukis kisah. Tapi begitulah aku, kekakuan tak selalu menyelimuti kegelapan, kadang pula terbingkai karunia berlimpah yang patut disyukuri.
Menjelang Magrib pertama di Kota Palembang, kurayapkan pandangan ke setiap jengkal sudut yang dipunyai hotel mewah tempat kubermanja. Tepat dari lantai tertinggi hotel itu, aku menukikkan pandangan ke lantai terbawah.
Andai dapat kuhitung jarak antara lantai terbawa dan lantai tempatku berdiri dalam kejap waktu, tentu itulah langkah awalku untuk menghitung depa jarak antara langit dan bui, lirihku.
Masih ada waktu yang hampir sama, dari balik pintu kaca kutangkap kontingen –yang kuketahui sesudahnya–berasal dari Kota Lubuklinggau. Entah tak jelas sebabnya, salah seorang di antara kontingen itu terpisah. Sesosok gadis berlesung pipit dengan rambut terurai melampaui tiang punggungnya dan menggendong tas berwarna putih sebagian berbintik-bintik hitam berjalan sendu. Dari pembacaan wajah, sepetinya kesepian tengah menyeliputinya. Seperti beban segunung tengah menggelayut di pundaknya. Atau di lingkup keluarganya ada masalah yang mengharuskan ia berada dalam pilihan yang sulit. Ah, entahlah! Di sisi lain, aku mendapatkan keramahan dan keanggunan alami dari balik pendar wajahnya.
***
MINGGU pagi, seperti biasa aku mendermakan sebagaian uang tabungan untuk membeli koran lokal. Bermacam pernak-pernik menarik dihadirkan khusus edisi akhir pekan. Termasuk bacaan sastra dan kilas cerita pemuda berprestasi di bumi Silampari: Lubuklinggau dan Musi Rawas.
Langit hatiku berdesir. Serupa wajah yang pernah kutemui hadir di rubrik anak muda di koran itu. Ulasan kisah perjalanan hidup dirangkai sedemikian menarik. Aku terpana akan predikat kebanggaan yang diraih. Lalu, kusalin ke ponsel nomor telepon yang tertera atas namanya. Aku begitu gelisah. Tak cukup kejap waktu untuk mengolah nostalgia temu. Namun, candu merayap ke pori-pori hidup untuk mengetahui kebenaran jumpa yang dirasa pernah dilalu. 
“Ah… benar! Gadis berlesung pipit dan peramu rasa rindu, dulu. Ah, teramat sayang waktu itu aku masih terlalu lugu. Belum lagi, memang tak pernah temu setelah detik itu,” cetusku di malam ketiga membayangkan sebuah jumpa.
Suatu hari, aku menghela napas dalam di pagi balita.Sebuah pesan singkat terjaring di ponsel butut yang kubeli tidak berwajah baru. Isi pesan yang menggugahku untuk turut serta belajar dan mengajari diri untuk tetap bertahan dalam sebuah pertempuran pengetahuan.
“Aku harus mengikuti try out ini.” ucapku sembari melirik jam dinding yang enggan berputar ke barat.
“O, iya… sekalian kucoba menghubungi gadis itu. Semoga tumpukan prestasi tak membuatnya enggan membalas sapaanku.”
***
“SILAKAN datang saja ke alamat yang kukirim kemarin,” ujarnya di tengah percakapan melalui telepon.
“Diusahakan.”
“Sekalian akan kupinjamkan buku untuk mengenal jenis soal try out.
“Baiklah!”
Berbekal titah kehadiran yang didapat, pada kesempatannya maka kudatangi alamat rumah gadis pengisi rubrik koran waktu itu. Langit seolah enggan bermetamorfosis. Tiada perubahan warna sepanjang laju waktu. Aku direstui untuk membuka tabir temu.
“Rumah ketiga dari lorong itu,” seorang ibu menunjuk sebuah lorong. Ia menjadi orang keempat yang kutanya. Banyak lorong cukup menarik memutarbalikkan arah tujuan yang diberikan.
Benar! Tabir temu telah terbuka. Kujumpai wajah serupa dari dua edisi yang berbeda; di sebuah hotel kontingen perlombaan dan sebuah media cetak. Memang, keramahan yang terpancar dari kejauhan dapat pula kurasa dari dekat. Jubah kebesaran dari olah pikir selama di bangku sekolah bukanlah hal yang membuatnya harus bersombong diri. Sebaliknya, ia malah membagi kisah perihal cara menjadi pribadi terbaik.
Langit tak berubah. Perkiraan ramah tak jengah singgah. Aku berdiam dan ratapi kediaman teduh yang bersemayam dari sesosok di depan muka.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wahyu Wibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 25 Oktober 2015