Tahta Petruk

Karya . Dikliping tanggal 9 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Suara Merdeka
MENATAP gedung yang sepi penonton, hati Petruk getir. Ditahannya. Disembunyikannya. Dia melawak di atas panggung, masih dengan kelucuan segar yang membangkitkan tawa. Meski gerakan tubuhnya telah lamban lantaran menua, kulit dagingnya mengendor, lawakannya masih sanggup mengguncang kegelian. Dari deretan kursi depan yang diduduki penonton, mengambang tawa. Tak meledak. Tapi mulut-mulut yang menganga menghamburkan gelak keriangan itu, menghibur  diri Petruk. Dan lawakannya kian lucu. 
Petruk benar-benar menjadi bintang di tengah-tengah kesepian penonton. Panggung tua itu tak sampai menggelepar. Tapi, Petruk di balik tebal bedak dan riasannya, menghidupkan suasana mati. Turun dari panggung, penonton masih merindukannya.
Lebih baik turun panggung saat penonton masih mengharap leluconnya. Besok malam, Petruk berharap penonton memadati gedung. Jemari tangan Petruk, saat mengusapi pipinya,tersusut pula butiran air mata. Terperanjat, Petruk buru-buru menyudut ke ruang rias. Menghapus bedak yang menebal di wajahnya. Dipandanginya keriput pipi dan bibirnya,
“Wah, leluconmu bikin kangen, Kang Petruk!” ujar Limbuk, sambil memandangi tubuh Petruk.
Seketika Petruk menekuk lehernya. Dia mesti menyembunyikan tetesan air mata yang tak terduga.
“Kebetulan saja saya bisa membanyol.”
“Iya. Padahal gedung ini mau dibeli penguasa. Dijadikan hotel!” kata Limbuk, mendekat ke kaca rias, parau. 
“Kamu tak lagi bisa membanyol, Kang.”
“Kalau soal membanyol, itu mudah. Bisa saja saya membanyol sepanjang lorong, memasuki gang, minta kepingan uang.
“Ngamen?”
“Apa salahnya? Yang penting, saya masih bisa membuat orang tertawa.”
“Huh, kamu akan dicaci orang!”
“Apa Petruk benar-benar pernah mulia?”
“Apa kamu lupa lakon Petruk dapat tahta?” Limbuk, perempuan gemuk abdi seorang puteri, merapat ke kaca. Mengamati keriput di bawah mata, keriput pada lehernya. Diliriknya, kedua mata Petruk memerah, meski bibirnya memendam senyum.
“Wah, itu cuma lakon yang dibuat untuk menyadarkan kalau Petruk tak becus ngurus kekuasaan. Petruk ya hidup jadi abdi,” ujar lelaki tua itu, pedih. “Petruk tak boleh menentukan nasib. Hidup mati Petruk sudah ditentukan.”
“Kalau gedung ini mesti dijual, ya harus direlakan?”
“Apa kamu bisa menghentikannya?” Petruk menatap Limbuk. Sepasang matanya merah, berkedip-kedip, bibirnya memendam senyum menusuk. Limbuk lekas berpaling.
“Gedung ini boleh roboh. Tapi, saya takkan pernah berhenti menjadi Petruk,” ujar lelaki keriput, jangkung, dan ubanan itu. Limbuk masih berpaling, tak berani menatapi Petruk.
Di kamar rias itu tinggal mereka berdua. “Anak wayang dan penabuh gamelan sudah meninggalkan gedung. Tampak panggung telah kosong dan merapuh. Limbuk buru-buru meninggalkan Petruk. Tak ingin dia terhanyut kenestapaan rekannya. Dia masih sempat memandangi gedug tua, sekilas, dan menunduk. 
Melangkah sambil membenamkan tatapan pada ujung-ujug kakinya. Bergegas dia mengayunkan kaki, merasakan dingin embun pendek malam dan keterasingan. Orang tak lagi menyapa. Mungkin tak mengenalnya. Kalaupun kenal, untuk apa bertegur sapa?
Sekali. Limbuk sempat menoleh ke gedung tua itu. Dilihatnya Petruk masih berdiri termangu di depan gedung. Limbuk terus melangkah, merasakan dingin angin malam, kesunyian, dan kesendirian yang menggigilkan. Di dalam hatinya telah menggemuruh suara gedung wayang orang runtuh, lalu berdiri megah sebuah hotel.
Limbuk bertanya-tanya, di mana aku memerankan lakon? Dalam kehidupannya sehari-hari, di luar panggung, dia telah mengabdikan diri dalam sebuah keluarga yang kaya. Keluarga itu berkenan melepas Limbuk untuk naik panggung malam hari. Tapi, tak pernah membiarkan menembang, atau memeragakan kelucuannya dalam keseharian.
***
Duduk bersila menanti naik panggung, bagi Petruk, menikamkan rasa penasaran. Tak sabar. Dia mesti lewat puncak malam. Terlintas lagi tubuh Limbuk, besar tambun, tergolek sakit. Nafas perempuan itu tersengal-sengal. Cuma matanya yang menyala dan menghibur. Telapak tangan Limbuk, saat digenggam, terasa dingin.
Limbuk memaksakan diri untuk tersneyum. Tanpa bisa berkata-kata. Tubuhnya lumpuh separuh. Terjatuh saat di kamar mandi. Untuk ketiga kalinya Limbuk pingsan dengan cara ini. Kini yang terparah. 
Petruk merasa tak bisa membahagiakan Limbuk. Dia tahu pasti, Limbuk sangat ingin hidup bersamana, dulu, untuk membangun rumah tangga. Mana mungkin? Petruk sama sekali tak merasakan keinginan dalam dirinya sendiri untuk menikahi Limbuk – perempuan gemuk berlemak, yang kocak itu.
Cuma mengangguk-angguk saja Limbuk, saat Petruk berpamitan bakal naik panggung bersama dalang kondang wayang kulit. Petruk biasa dibawa melawak adegan goro-goro, untuk menghidupkan suasana. Tapi, saat Petruk mau naik ke atas pentas, dia dibelit kegelisahan akan nasib Limbuk. Dia memilih hidup tak bersuami. Siapa bakal merawatnya?
Tiba giliran Petruk naik pentas, penonton merapat ke panggung. Petruk menemukan gairahnya. Dia membanyol. Disambut tawa. Dia menari. Disambut tawa. Dia menembang. Disambut tawa. Panggung seperti berderak-derak, dan sergapan mata penonton ke arah Petruk.
Semua orang tertawa kegelian menatap Petruk. Kelucuannya telah menggairahkan penonton, untuk lebih segar menikmati wayang. 
Lelah sekali Petruk begitu turun panggung. Keringat mengucuri tubuhnya. Lemas. Tersengal-sengal. Dia merasa baru saja dinaungi sebuah kekuatan gaib, yang menyusup ke dalam ruhnya. Kini dia merasa bagai seonggok daging, yang merapuh, menunggu saat membusuk.
“Luar biasa lawakanmu, Kang!” seru ki dalang, usai pergelaran.
“Ah, ini lantaran kau membawaku ke panggung.”
“Kau seperti masih muda ya, Kang?” 
Derai tawa Petruk menguncang bahunya.
“Saya sudah tak memiliki kesempatan naik panggung. Gedung pergelaran sudah roboh jadi hotel. Lha, kalau kesempatan ini saya sia-siakan, lalu siapa mau menolong saya?”
“Seniman besar macam kau, tak pernah tersingkir, Kang!”
“Siapa bilang? Saya terlunta-lunta! Kalau ki dalang tak membawa saya kemari, saya bisa ambruk seperti Limbuk!”
“Tak akan! Kau tak akan seperti itu!” balas ki dalang. “Limbuk jatuh sakit, lantaran kaubiarkan dia tak kawin!”
Masih di atas panggung, ki dalang, penabuh gamelan, dan sinden yang mendengar seloroh itu, tertawa. Terbahak-bahak. Tersipu-sipu, Petruk mengumpat. Dia merasa sudah terlalu tua untuk memikirkan Limbuk.
***
Gerimis halus turun di atas gundukan makam. Iringan jenazah ke liang lahat memberat. Langkah pengusung keranda di jalan setapak, terbebani tubuh tambun Limbuk yang terbujur di atas keranda. Untaian bunga melati bergoyangan, tercecer sepanjang jalan. Terinjak-injak kaki pelayat. Terdengar dengus pengusung jenazah, disertai tetes keringat yang menderas dari tubuh mereka.
Orang-orang yang berduka di belakang usungan jenazah. Orang-orang tua, yang brewajah keriput, tertinggal jauh, terputus dari iringan pengusung jenazah yang menaiki gundukan kuburan. Kerisik daun dan kelopak-kelopak bunga kamboja berserakan atas bunga ilalang, terhembus angin basah yang menderas.
Tertatih berjalan di antara pelayat yang terputus itu, terutama rekan-rekan Limbuk para anak wayang, dari kota. Mata mereka sembab, dan sesekali mereka berpandangan. Siapa lagi bakal menyusul mati?
“Siapa lagi mau mati menyusul Limbuk?” seloroh salah seorang anak wayang.
“Saya rela segera menyusul Limbuk,” balas Petruk.
Di antara para pelayat, ada yang berpaling menatap lurus ke wajah Petruk, bersungguh-sungguh. Tak rela rasanya medengar Petruk berucap separah itu.
“Akan banyak orang kehilangan, kalau kau menyusul Limbuk.”
“Siapa yang kehilangan?’ tukas Petruk, serius. “Kitalah, sesama rekan, yang merasa kehilangan, yang menangis.”
Tak seorang pun berani membantah Petruk. Bahkan, menatap mata lelaki tua yang kelabu itu pun tak berani. Mereka melihat, cuma sedikit orang yang melayat Limbuk. Orang-orang desa kelahiran Limbuk – tempat perempuan itu dimakamkan – sudah tak mengenalnya. Tidak seorang pun di antara anak-anak muda, kecuali kerabat, yang mengantarkan jenazah.
Di liang lahat itu, Limbuk terbaring, ditimbuni tanah liat, dan orang-orang menginjak-injak, memadatkannya.
Gerimis halus masih turun, membintik di pipi para pelayat, bercampur lelehan air mata yang mengering.
***
Melawak di atas panggung, bersama adegan wayang kulit, makin sering dilakukan Petruk. Dia bisa memunculkan lawakan yang segar, tak mengulang-ulang. Petruk merasa disusupi kekuatan gaib, yang mengusik sanubarinya, hingga dapat menggelar lelucon tanpa dibuat-buat. Penonton yang memadati tepian panggung, dilihatnya tertawa terbahak-bahak.
Penonton sama sekali tak memperhatikan, Petruk sesekali kabur pandangan, meski ia masih sadar dan bisa meluncurkan banyolan. Samar-samar, Petruk menangkap sosok Limbuk yang memancing lelucon-leluconya. Sesaat lagi sosok itu menghilang macam kabut terbawa angin.
Orang cuma bisa menikmati lawakan Petruk. Sama sekali tak melihat, lelaki jangkung berias tebal itu – yang berperan sebagai badut – berkali-kali hampir terjatuh. Hampir tak sadarkan diri. Dia bertahan. Terus bertahan. Ditekan nafasnya agar tak tersengal-sengal, meski keringat terus mengaliri tubuhnya.
Malam ini ki dalang sedang menokohkannya. Lakon yang digelar “Petruk Naik Tahta”. Cerita ini memperolok Petruk yang tak becus memperoleh kekuasaan. Petruk benar-benar menampakkan kekonyolannya.
Turun panggung, Petruk merasa telah terkuras kekuatan tubuhnya. Dia terjatuh  Tersungkur. Penonton bersorak, terawa, menggemuruh. Mengira ini lelucon.
Tapi, ketik Petruk tak bangkit lagi, orang-orang tercengang. Memburu Petruk dan mengangkatnya meninggalkan panggung. Tontonan wayang kulit malam itu diteruskan dalam layar, ki dalang memainkan wayang, dalam kegaduhan orang-orang.
Tak lama orang-orang gaduh. Dalang yang tampil cukup kondang, terampil memainkan wayang. Orang-orang terpukau. Tersihir. Melupakan kenestapaan Petruk.
Usai menggelar pertunjukan, bagai melompat dari panggung, ki dalang ingin segera memahami kabar Petruk. Dini hari dan masih gelap, ki dalang menengok Petruk. Datang pula bersamanya para sinden, penabuh gamelan, dan pelawak yang lain.
Ki dalang masuk ke kamar Petruk. Sesaat, Petruk membuka kelopak matanya, tersenyum, mengangguk. Tangan ki dalang terulur, menggenggam kedua tangan Petruk yang tertata di dada. Dia seperti telah mempersiapkan kematiannya dalam kelompok mata terpejam, untuk menemukan tahtanya sendiri. 
***
Hari hampir gelap dan langit alangkah angkuhnya. Daun-daun bergetar di bawah langit yang berkarat. Jenaza diberangkatkan dari pelataran rumah Petruk, menjauhi pohon sawo tua, dalam pemakaman yang buru-buru. Keberangkatan jenazah sempat tertunda, menunggu anak bungsu, yang berhasil dalam dunia bisnis, tinggal di ibukota.
Sebuah potret Petruk berukuran besar berbusana pergelaran, tampak pada iringan jenazah terdepan, diikuti kerabat dan sahabat dekat, kelima anak Petruk, dan cucu-cucu yang mulai dewasa. Tampak pula tokoh-tokoh masyarakat yang berdatangan, dan melayat sampai keberangkatan jenazah.
Iringan jenazah menjauh. Di pelataran rumah Petruk, dalam suasana berkabung, cucu-cucu kecil berkeliaran mencari kesenangan. Mereka membawa pedang-pedangan, pistol mainan, berlagak sebagai jagoan sakti. Antara takut dan hasrat bermain, bergejolak dalam dada mereka.
Dengan sembunyi-sembunyi, mengapung pula akhirnya teriakan-teriakan bocah-bocah itu.
“Ciiaat! Ciiaat! Kusabet pedang kau!”
“Tembak! Mampus! Ayo, berguling!”
“Curang! Kamu monster! Meledak kena tembakanku!” 
Cucu-cucu kecil itu bermain dengan rasa takut pada awalnya. Tapi, kemudian permainan berkembang seru, memenuhi pelataran, di bawah naungan pohon sawo. Tak seorang pun di antara mereka yang memerankan kakeknya, yang kini tengah diusung dalam keranda menuju pemakamannya. (36)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya S. Prasetyo Utomo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 6 Oktober 1996