Tak Selalu – Pendapat dan Pendapatan – Ibu Semua Ibu – Pinta Anak dalam Duka – Bersatulah – Siapakah Kita

Karya . Dikliping tanggal 16 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Tak Selalu 

Hidup tak selalu perhitungan tepat
temukan benih yang
cocok
tanam pada tanah subur
jaga dan siram sepenuh jiwa
tunggu
bertunas
biar mekar jadi bunga

Lalu,
siapkah diri saat musim
berganti
bunga-bunga gugur ke bumi
dalam dinginnya tanah nan sepi
semua terasa mati
ada kekosongan mengisi
alam tak bisa dimungkiri

Saat kembali musim semi
bunga mekar lagi
alam silih berganti
bunga
menguning kering dan mati
atau bertunas mekar dan wangi

Mampukah
menghadapi dan menyikapi
dalam hidup yang binari oposisi?

Pendapat
dan Pendapatan 

Kekuasaan menggerus kebebasan
kebebasan berpendapat
berbeda
dengan kebebasan berpendapatan

Pendapatan membangun
kekuasaan
kekuasaan membukitkan pendapatan
pendapat kehilangan makna
bila bersuara tanpa memiliki pendapatan
kebenaran pun jadi salah
tanpa pendapatan

Kebenaran diciptakan
demi menarik pendapat
dan
menghimpun pendapatan
yang semakin membukit

Tetapi melilit dalam
rasa sakit,
ya memahit bagi yang tidak
empunya pendapatan.

Ibu Semua
Ibu 

Bunga warna-warni
Mekar menebar wangi
Sekuntum melati
Kau petik sendiri
Tersunting di sanggul
Kesuciannya
diserap tubuhmu
Lalu berharap pelangi
Ikut mengiringi
lingkari hati

Baca juga:  Harapan - Yang Tertinggal - Malu - Sembuh

Dan kau berikan
Pada ibu…

Ibu semua ibu
Ibu semua anak
Anak semua
ibu

Bersikap sebagai ibu
Meretas semua batas
Menyatukan hati
Yang
masih dimiliki
Semua makhluk

Desember 2014 

Pinta Anak dalam Duka 

Bolehkah aku memanggilmu Ibu, Tuhan?
karena Ibu satu-satunya yang
pernah aku punya
mengasihiku sepenuh jiwa
memberi perhatian dan cinta
mengajarkan tentang ada-Mu juga
memberi kasih padaku pula

Aku datang
dari perut Ibu
tetapi…
kata Ibu, Engkaulah yang mencipta
dan
kepada-Mu aku pun bisa meminta
padahal, aku tak mampu membayangkan
bahwa Engkau ada

Kini, Ibuku telah tiada
kata orang, Engkau
memanggilnya
Ibulah yang sering memberi tanpa meminta
menyayangi dan
mengasihi seluas samudra

Tuhan,
bagaimana bisa aku menyayangi-Mu
bila
tak pernah jumpa dengan-Mu
tetapi kata Ibu, aku wajib mematuhi-Mu
merapal ajaran-Mu, seperti yang juga
biasa aku lakukan padanya
kata
Ibu, agar Kau mengasihiku
melebihi kasih Ibu

Baca juga:  Aku, Rumi, dan Kahlil Gibran - Aku Ingin Pulang, Mak - Aku Ingin Berhenti - Ada yang Hilang Di Tali Jemuranmu

Tuhan,
kalau Kau memang mengasihi
bolehkah Engkau kupanggil saja Ibu,
Tuhanku?

Desember 2014

Bersatulah 

Penduduk bumi
tanpa peduli;
Anda dari negara adikuasa
atau dari negara terjajah
atau seorang
Presiden
yang membuat orang berhenti
saat Anda lewat
atau seorang
pengemis jalanan
yang oleh banyak orang
hanya dilewati.
 
Bersatulah!
para penduduk bumi
tak peduli Anda pelacur
yang tiap malam ditiduri
atau para pejabat tinggi
yang sering mendatangi
atau nyonya besar
yang menari atas duit suami
atau suami yang silat kata
dan jadi
koruptor terpuji
para ibu yang sibuk sendiri
 anak yang nikmati hidup
dari uang yang
dicuri
bukan dicari

Ya bersatulah!
ilmuwan yang dikebiri
mahasiswa
hasil fotokopi
guru-guru yang belajar korupsi
atas waktu yang musti
diisi;
murid-murid pun suka ngibul

Bersatulah!
hancurkan bumi
bila
hati tak lagi berpenghuni

Siapakah Kita 

Ibuku seorang pelacur laris
bapakku perampok mahir
keduanya menghabiskan waktu
bersama di meja
judi
Aku pun terlahir
di sana di sela tangis dan gelak tawa.

Baca juga:  Kuda-Kuda Shindu - Vairagya - Rohingya - Ashin Wiratshu

Ibumu
sosialita tingkat atas
bapakmu perdana menteri
keduanya menghabiskan
waktu
bersuka di berbagai kota
kau pun terlahir di gedung mewah
di
sela keriuhan, senyap

Kita berdiri di sini jadi manusia sama
saling
berbunuh dan berebut wanita
tahta ataupun harta
caraku merampok
caramu mempertahankan

Hah!
kita sesungguhnya sama tak punya
bukan
kita pemiliknya
apa yang kubangga sebagai maling
apa yang kau bangga
dari warisan maling
hasil rampokan uang rakyat dan negara
siapakah
kita?

Free Hearty, pengarang perempuan, dosen sastra dan
budaya di berbagai perguruan tinggi di Jakarta.Bersama penyair Malaysia
Djazlam Zainal, dia menulis buku
kajian sastra, Potret Perempuan: Dunia Nyata & Dunia Kita (2014).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Free Hearty
[2] Pernah tersiar dalam surat kabar “Media Indonesia” 15 Maret 2015