Tak Seutuhnya Tertampung Kata – Sepucuk Angpau Merah – Sindrom Manusia – Kalau – Hujan dan Sepoci Kopi – Elegi Tanah Lot di Sudut Kartograf

Karya . Dikliping tanggal 9 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Tak Seutuhnya Tertampung Kata

Para bunga di beranda tak cerita. Tapi senja
itu aku cium serbaknya
Dan aku bercerita tentang malam sentosa
Ketika pundi-pundi berkeliauan tercurah dari
angkasa
Bunyinya gemercing. Ada banyak tersangkut
di dedauanan dan ranting
Sepasang manusia yang tak pernah dilahirkan
saling hisap
Tak ada yang terkesiap

Di sebuah delta, yang tumbuh di pertemuan
tiga muara
Aku lihat kaca rapuh dalam retina matamu
Sebentar lagi akan pecah berhamburan

Desember. Hujan dan angin banter
Lesat bermiliar jemparing memahat gigir
tebing
Di kepala anak selingkar lalang dan perdu
rawa
Setelah tikungan kesekian jalan rahasia
Sederet kata ku lisankan,
“Cinta bagiku tidak sekedar ucap-rayu
semata”
Puisi di dalam diri. Tak seutuhnya tertampung
kata.

Padang (2018)

Sepucuk Angpau Merah

Sepucuk angpau merah. Dari mata kecil
mungil
Aku tidak tahu isinya
Mengakhiri pertemuan. Merapatkan
perpisahan
Jari dirapatkan. Kurasa di dalam kini
menyeka dada

Orang-orang melintas badan jalan.
Perpisahan
Aku pulang kembali kerumah
Aku mencoba membuka angpau merah
Tapi aku ragu membukanya. Biasanya angpau
berisi uang
Tapi, mengapa dia memberiku uang. Aku
tidak membutuhkan uang

Jalanan mulai keruh. Tutup pintu
Pada malam hari, aku buka angpau merah
Aku mengenang orang-orang hilang
Sudah tanggal berapa sekarang?

Padang (2018)

Sindrom Manusia

Malam adalah waktu paling tenang untuk kita
menulis
Di sana kita bisa menemukan
bahwa orang tak sepenuhnya kehilangan

Adalah sang waktu yang mengenalkan
Ketika kamu yang hilang tanpa jejak
Aku bisa mengenang melalui sajak

Sembari memangku harapan-harapan yang
baru dimulai
Hasrat bersanding dengan seorang wanita
Menjadi warna paling
kental dalam untaian doa

Begitulah, satu titik dalam
kehidupan kita,
manakala semesta
mendukung, dan kita pun
berubah tanpa kita
rencanakan
Kita bisa menyukai
sesuatu yang sebelumnya
kita benci

Padang (2018)

Kalau

Coba kalau dulu tak ada
kita
Barangkali aku tak paham
Bahwa di dalam celana
ternyata ada Tuhan.

Padang (2017)

Hujan dan Sepoci Kopi

Foto digital di layar datar
Melukiskan tubuh hingga parasmu
Diam terpaku aku menatapnya
Satu dua detikku palingkan mata

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Bak titik titik embun nan syahdu
Sajak terkuak bak sastra kata
Biar berleleran kata manis madu

Selembar kertas dan sepoci kopi
Perpaduan warna nan mencolok
Hasrat tak dapat terhenti
Pensil menjadi goresan pertama dalam benak
Dinding teras seakan menjadi lembaran

Langitmu berkelepak
Mengirim jerit selaksa gagak
Tarianmu menderu bagai guntur
Jatuh tercurahkan hujan nan sangkur

Katamu hujan itu senyuman
Katamu angin adalah belaian
Namun ketika pelangi mengganti rintiknya
Engkau lupakan tiap tetesnya

Hujan dan sepoci kopi bak penghantar
memori
Berikan aku sebuah kompas
Agar ku dapat mencari jalan pulang.

Riau (2018)

Elegi Tanah Lot di Sudut Kartograf

Sehampar pulau, susut, sepetak taman, susut,
sebongkah monumen, susut, kenangan, susut,
noktah yang berdenyut, susut, pondasi
budaya batu karang, susut,
tinggallah laut yang bertahun-tahun lamanya
surut

Garam yang mengeras – keringat – bagai jimat
penolak belukar akar,
bahkan lumut emoh nyelimut, memberi
ruang garang
bagi matahari dari laut juga bulan,
lengan kegersangan pengambil-alih langgam
perkotaan

Dinding-dinding pengap, pohon angin asap
merayap
susupi gegantungan jemuran; kerpus, kutang,
kancut, kau, kau, kau:
cacah jiwa di kediaman

Lampu perbanyak kota, tutupi sisi gelapnya,
pulau-pulau tidur,
memeluk jalan, hidupi mimpi – orang-orang
ngamuk,
jebol tembok dan jembatan – perkutut liar
memanggil sarang yang hilang

Sebagai pemakai sandal, pemanggul rindu
dan duka lara,
kau pancurkan hujan dari kendi-kendi tubuh:
kencing dan ludah nir air mata dan peluh
lamalah terseka dan kau nyanyikan lagu tolak
bala
meski akhirnya hanya liang kegelapan:
petarangan benih harapan.

Padang (2017)

Bayu Hartendi lahir di Kumu, Rokan Hulu, Riau. Laki-laki kelahiran 16 April 1997 itu merupakan
mahasiswa BP 2015 pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri
Padang. Buku puisi yang pernah diterbitkannya ialah Diftong (2015), Pasak Negeri (2016), Sudut
Kartograf (2017). Bayu tercatat sebagai salah satu peserta di ajang Penyair Asia Tenggara di Padang
Panjang, Sumbar, pada 2018.

[1] Disalin dari karya Bayu Hartendi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 8 Juli 2018

 

SURAT KLARIFIKASI

Redaktur Media Indonesia
di Tempat

Saya ingin meminta maaf dengan setulus hati kepada Redaktur Media Indonesia. Puisi saya yang diterbitkan pada 8 Juli 2018 di Media Indonesia yang berjudul Kalau saya pelajari dari penulis sebelumnya, yakni Hasta Indriyana yang berjudul Misalnya.

Oleh sebab itu, dengan penuh penyesalan saya ingin puisi yang diterbitkan di Media Indonesia bisa ditarik kembali. Ini akan menjadi pembelajaran bagi saya. Saya mohon dengan segala hormat agar Media Indonesia bisa memaafkan dan saya berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Bayu Hartendi
Padang, Sumatra Barat