Takdir Kematian

Karya . Dikliping tanggal 7 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
AKU merasa hidupku tidak lama lagi. Entah esok, lusa, atau mungkin beberapa bulan ke depan aku akan masuk keranda, dan tertanam tenang dalam liang lahat. Aku tidak perlu menghitung tahun, karena terlalu lama. Rasaku berkata, sebentar lagi aku akan menjadi penghuni tetap sebuah pekuburan. 
Merinding kudukku membayangkan itu. gelap pekat menjadi temanku dalam sepi, sendiri, mencekam, dan pasti akan sangat mengerikan. 
Aku bergidik ngeri, dan cepat aku tepis bayangan di dalam kuburan itu. Siapa juga yang akan mati? Aku sehat, tidak sakit, dan tidak juga sedang frustasi. Bisa dibilang aku selalu optimis, dinamis. Jika aku merasa tidak lagi bisa bertahan menghirup udara dunia, karena rasaku mengatakan itu. Cuma rasa, dan itu tidak akan menjadi nyata. Aku tidak boleh memercayai rasaku. 
“Tea, sudah dekat waktumu. Takdirmu sudah dekat. Takdir kematianmu, dan kamu tidak bisa menghindar.”
Lucu kan? Aku sering bertanya, siapa yang mengingatkanku itu? Ia seolah sangat dekat, menyatu ragaku. Aku pernah mencarinya, dan bertanya siapa dia sesungguhnya? Awalnya dia tidak mengaku, saat aku terus desak, akhirnya jujur juga tentang jati dirinya.
“Aku adalah kamu, Tea.”
Aku terperanjat. Seperti mendengar letusan senapan tepat di sebelhaku, nyaris mengenai dadaku, dan aku jatuh terduduk, menghenyakkan punggung ke sandarac kursi, lalu termangu, menerawang, membiarkan angan menari-nari di awang-awang. Aku yakin benar tidak punya kembaran. Saat lahir sendiri, tanpa kawan. Dan ini aneh menurutku Seenaknya saja mengaku-aku diriku. Tidak masuk akal! Konyol sekali pengakuannya. Siapa yang mau percaya dengannya?
Aku sering mendengar orang berpendapat, manusia di dunia punya tiga kembaran yang terlahir bukan dari rahim sama, tapi mirip secara fisik. Apa dia kembaran itu? Kurasa tidak. Lebih gila lagi karena aku tidak melihat ada siapa-siapa di rumahku, di kamarku, hanya ada aku, sendiri.
Aku juga tidak merasa getaran itu. getaran magent yang mengguncang nadiku saat dia menyapaku denga khasnya.
“Tea, hei! Ini aku, kamu.”
Dan aku merasa ia sejiwa denganku, ada dalam diriku, bersemayam di jiwaku. Entah ada di tingkatan yang keberapa? Kurasa tinggal di paling dasar, tingkatan terakhir dari jiwaku. Begitulah aku mengira-ngira. 
Menguatkan keraguan, aku kembali bertanya, “Jujur saja, siapa kamu? Dan jangan mengaku-ngaku kamu adalah aku.”
“Benar, Tea. Aku adalah kamu. Aku bersemayam dalam jiwamu. Bercerminlah, dan tatap aku. aku ada di sana bersamamu.”
Saat bercermin aku tidak melihatnya. Aku hanya melihat bayangku. 
“Kamu sengaja menipuku supaya aku menjadi resah dan kebingungan dengan diriku sendiri. pintarnya kamu mengacaukan hidupku! Belajar sihir dari mana? Kamu menebarkan fitnah tentang kematian padaku, padahal aku tahu itu kebohongan besar. Kamu sengaja menciptakannya untuk sebuah keabadan, karena kamu sebenarny mencari teman buatmu di neraka jahanam. Kamu tu setan terkutuk yang menyamar menjadi aku, supaya aku ketakutan lalu mengikutimu. Sungguh pintar kamu menipu daya.”
Aku mendengar suara tawa, dan itu sangat jelas terdengar. Dalam pantulan cermin, aku melihat tawa itu berasal dari bayangku. Padahal, aku merasa tidak menggerakkan bibir sama sekali.
“Kau lihat! Siapa yang tertawa, Tea? Itu aku yang bersemayam dalam jiwamu. Aku itu adalah kamu yang cermin it, bayanganmu. Kalau kau bilag aku setan terkutuk, maka kamu itu juga setan terkutuk, karena aku adalah dirimu sendiri.”
“Aku menutup kuping rapat-rapat dan berteriak, pergiiii!” Tanpa kesadaran aku hantamkan kepalan tangan lembutku ke cermin hingga retak.
Ada tawa, juga ada tetes darah. Dan itu tawa dan tetesan darahku yang keluar dari tangan yang terluka. Setelah itu sepi, tidak ada suara sama sekali. Aku jatuh terduduk di lantai, membisu, kelu.
Rencanaku selalu tepat. Selama ini tidak ada satu pun yang terlupa. Aku selalu memrogramnya dengan tepat, jitu. Segala sesuatunya selalu aku pikirkan masak-masak, tidak mungkin akan meleset.
Namaku Atea, Aku biasa di panggil Tea. Mimpiku jelas menjadi orang kaya dan terkenal. Siapa sih yang mau hidup susah? Dengan bermodal wajah dan suara merduku, aku mencoba mengadu nasib menjadi seorang biduan. Tidak mudah memang bisa menaklukkan ibukota. Apa lagi tanpa modaluang, koneksi dan relasi. Aku benar-benar harus bekerja keras dari panggung ke panggung, dilempar ke sana ke mari seperti bola, sampai akhirnya aku bisa menembus dapur rekaman. Dan itu pun aku harus membayang mahal dengan menggadaikan keelokan tubuhku. Menari-narilah aku menembus dunia mimpi. Untuk memertahankan agar tetap bisa menjadi biduan yang elok, aku memang mendatangi dukun yang bisa mengeluarkan auraku dan memberiku kepercayaan diri.
Sekarang, saat aku berada di puncak kejayaan, tiba-tiba bisikan itu meresahkanku, mengacaukan semua kehidupanku yang sudah aku susun baik-baik sesuai angan dan mimpiku. Coba pikir, dari tidak punya apa-apa hingga aku bisa menjadi ‘bintang’ dengan segala keelokan, gelar, juga ketenaran. Aku melakukannya sendiri, perubahan itu.
Wajahku elok. Tubuhkuu aduhai, bak gitar Spanyol. Kulitku putih bersih seperti porselin. Suaraku merdu membuai siapa saja yang mendengarnya. Gerak tarianku gemulai memikat para penonton di setiapkali pertunukan. Semua itu bukan tanpa perjuangan. Aku mengawalinya dengan bertetes-tetes keringat dan air mata, hingga akhirnya aku bisa menjadi yang sekarang, dielu-elukan, dipuja, dan kehadiranku selalu dinanti-nantikan. Sampai tiba-tiba suaramu yang congek itu mengacaukan alam pikirku, akal sehatku, sungguh menyebalkan.
Apa kamu iri kehebatan gerak tubuhku yang lincah, lentur dan indah menawan? Juga dengan suaraku? Dan iri juga dengan keelokan parasku yang memesonakan siapa saja yang memandang. Bukan hanya kaum Adam. Yang sejenis pun terkagum-kagum saat bertatap denganku. Dan aku patut berbangga. Aku telah menjadi ‘bintang’. 
“Kamu, yang mengakudiriku hanyalah perasaan iri, kecemburuan yang lahir karena nilai lebihku. Tapi kamu mengelakkan semua itu, dan makin gencar mengingatkanku akan kematian ituyang katanya sudah mendekati titik akhir penantian.”
“Waktumu sudah hampir dekat, Tea. Sadarlah segera sebelum seuanya terlambat.”
Dan aku tertegun. S adar yang bagaimana? Sejak aku mulai bercermin karena kicauanmu yang ngawur itu, aku dalam keadaan sadar penuh. Tidak sedang bermimpi. Aku menegaskannya dengan rasa sakit akibat menghantam cermin, perih luka yang masih mengeluarkan darah itu bukti, aku masih dalam keadaan sadar. Tidak nglindur ataupun di alam lain.
“Tea, langkahmu itu salah besar. Apa kamu tidak ingat bahwa keberhasilanmu bukan hal yang sebenarnya. Kenapa kamu lebih memercayainya ketimbang Dia yang telah memberimu kenikmatan bernapas? Keindahan yang kamu rasa itu karena campur tangan-Nya, bukan datang sendiri. Dan kamu sudah terlalu sering menduakan-Nya untuk sesuatu yang sesaat. Dan sesaat itu kini sudah hampir masanya.Sadar, tobat sebelum terlambat.”
Dan aku makin muak mendengar kata-katanya. Menduakan siapa? Siapa yang aku duakan?
Seingatku aku memang tidak mempunyai kekasih. Tidak mau punya, lebih tepatnya. Karena aku tidak mau terikat peraturan yang akan ia ciptakan untuk mengikatku, supapa tunduk. Lalu yang mengaku-aku diriku bilang, aku menduakan-Nya. Bukankah itu ngacau, konyol? Menduakan siapa dan siapa yang aku duakan? Sungguh, lama-lama aku makin muak padanya.
“Enyah kamu dari hatiku, pergi jauh-jauh, dan jangan ganggu kegembiraanku lagi dengan berita ketidakjelasanmu tentang kematianku. Ya, ya, aku tahu kematian itu pasti, tapi tidak ingin lebih lama lagi menikmati kehidupanku. Ku rasa aku sangat sehat, tidak akan mungkin mati secepat itu.”
“Tea, menyedihkan sekali hidupmu! Kau benar-benar tidak tahu siapa dirimu sendiri. Kau lebih suka datang padanya dengan kembang setaman dan dupa untuk mendatangkan kekayaan juga ketenaran. Kau reparasai wajah dan tubuhmu untuk komoditi yang kamu tidak tahu, itu sifatnya cuma sesaat. Lebih menyedihkan sekali, kau bangga dengan puja dan puji yang sesugguhnya hanya membuatmu lalai, lalu terbuai akan nyanyian nina bobok yang justru membuatmu lalai, lalu terbuai akan nyanyian nina bobok yang justru membuatmu makin menjauhi-Nya, yang telah memberimu kehidupanyang sesungguhnya. Kau bahkan melupakan-Nya, tidak mau meluangkan waktu sedikit saja buat menghadap-Nya. Kau benar-benar dalam keadaan tidak sadar, Tea! Kau mabuk, teler! sekarang cepatlah sadar! Basuh hatimu dengan air suci kehidupan,lumuri dengan doa. Sebelum waktmu benar-benar habis.”
Aku makin neg. Amat membingungkan ocahannya. Maka karena jengkel, aku ambil gunting yang ada di meja rias, dekat cermin yang retak karena pukulan tanganku tadi. Dengan gagang gunting aku hantam cermin itu hingga hancur berkeping-keping. Dari sela-sela jariku mengalir darah segar akibat goresan ujung gunting, yang mengenai telapak tanganku karena aku memegangnya dalam posisi terbalik. Emosi diriku ternyata melukai diriku sendiri. minimal sudah tidak akan ada lagi yang akan menganggu lagi lewat kicauannya yang menurutku teramat ngawur.
Setelah itu aku mengendarai mobil merahku. Tapi naas. Karena emosi yang tidak terkontrol, aku tidak bisa mengendalikan laju mobil saat melewati tikungan di jalan tol. Mobilku deangan kerasnya menghantam pagar pembatas hingga hancur berkeping-keping. Dan aku sendiri terjepit bodi mobil, sampai akhinya kembaranku itu kembali mendatangiku lalu berkata dengan sangat pelan.
“Tea, harimu berakhir di sini. kematianmu telah tiba!”
Aku cuma bisa menatapnya sayu, sebelum semuanya menjadi gelap, pekat dan aku terkulai. Mati mengenaskan… (k) ❑ 
Yogya, 2015
*Fauzen: lahir di Sampang, 14 November 1992, mahasiswa Universitas Atmajaya Yogya jurusan Manajemen Ekonomi, tinggal di Jalan Glatik Mancasan Lor Condongcatur Depok Sleman Yogya. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fauzen Advantage
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 4 September 2015