Talnovo

Karya . Dikliping tanggal 17 April 2017 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
TALNOVO kembali menyeret
karung yang mengempis.
Ikatannya mengendur. Pada
sisa tenaga, ia berharap ada orang
melintas yang bisa memberi tumpangan.
Namun rupanya mustahil. Dini
hari pada musim dingin seperti ini,
orang-orang lebih suka menumpuk
jerami untuk menghangatkan tubuh
ketimbang keluar rumah dan melekat
dengan percikan salju yang sanggup
mendatangkan ribuan gigil. Atau
memenuhi perapian dengan batu bara.
Atau menenggak vodka yang memberi
kehangatan. 
Sebenarnya jemari Talnovo sudah
kaku, hampir tak bisa digerakkan.
Namun ia pantang berhenti di tengah
perjalanan. Masih beberapa mil untuk
mencapai rumah. Rumah dengan jendela-jendela
tak pernah dibuka.
Hanya ada sekat untuk menandai
mana kamar, ruang tamu, dan dapur. 
Hampir setiap minggu ia membongkar
papan yang dulu jadi pembatas.
Ia keranjingan vodka dan judi
semenjak sang istri kabur bersama
mantan kekasihnya. 
Sebagian salju mencair. Makin
menyulitkan langkah. Lelehan salju
merembes ke dalam sepatu.
Mantelnya basah. Pandangannya
mengabur. Pucuk hidungnya terasa
berat untuk menghirup udara. 
Ia teringat, ketika berumur 25
tahun, ia menjadi kesayangan nyonyanyonya
di desa. Ia sanggup membawa
berkarung-karung gandum dan selalu
memperoleh rumput segar untuk
domba milik juragan. Bahkan pada
pertengahan musim dingin sekalipun. 
Talnovo muda, meski bau domba,
jadi incaran nyonya-nyonya yang
setiap hari didekap suami tua dan
kurik. Mereka mengundang Talnovo
ketika para suami di ladang. Setelah
membasuh muka dan badan dengan
air hangat sehabis menumpuk gandum,
Talnovo menghampiri nyonya
rumah. Titik-titik air di ujung alisnya
makin mendebarkan. Bau keringat
Talnovo membuat mereka tambah
bergairah. 
Bertahun-tahun ia jadi gundik
Miroles. Namun sesekali ia
memuaskan nyonya-nyonya lain dan
meraup ratusan rubel . Makin rajin
bertandang, kian banyak rubel ia peroleh.
Shara, sang istri, makin rajin
bersolek. Shara makin cemerlang.
Wajahnya serupa salju yang mencair.
Tenang, tetapi begitu bening. Seolah
titisan dewi kecantikan. 
*** 
SEMALAM Talnovo datang ke
rumahku. Begitu lama ia bercerita.
Miroles memintanya meninggalkan
Shara. Janda kaya itu hampir menemui
ajal. Ia ingin Talnovo merawat
dan menemaninya. 
Bagaimana mungkin ia abai pada
bibir Shara yang selalu basah? Yang
kerap meninggalkan jejak lunyu di
pipi? Ia tak sanggup meninggalkan
bidadari bermata makin berbinar itu.
Ia tak mampu menyaksikan air mata
yang akan tiris di pipi Shara yang
menirus. 
Lantas, aku harus memberi nasihat
apa? 
Kawanku itu makin timpus. Setiap
ke rumah Miroles, ia didesak meninggalkan
Shara. Ia terlalu takut membungkam
mulut Miroles dengan ciuman.
Ia tak mau Shara tahu pergundikannya
dengan Miroles atau
nyonya-nyonya lain. Barangkali jika
tahu, Shara akan meninggalkannya.
Barangkali…. 
Bagi dia, Shara terlalu cantik
untuk sekadar berbagi air mata. 
Aku kembali ke rumahnya.
Perlakuan Shara tetap sama. Hanya
Talnovo yang tampak kikuk. Berkali-kali
ia salah ucap dan tersedak.
Sembari berbisik, Shara menanyakan
kenapa sang suami beberapa hari ini
bertingkah tak biasa dan sering melamun.
Apakah ada yang kurang dari
dia? Jika bercakap, suaminya lebih
sering menunduk, bahkan membuang
muka. Ia tak lagi berlaku romantis.
Bahkan Talnovo lupa mengecup keningnya
ketika hendak menjemput
lelap. Dan, masih banyak hal aneh
Shara rasakan. 
Aku hanya menggeleng seraya
menahan debar jantung yang
meledak-ledak ketika mataku berbenturan
dengan mata Shara. 
*** 
“Kapan kau tinggal di sini, Nak?”
tanya Miroles pada pagutan terakhir.
Ia memulai percakapan yang Talnovo
benci, bahkan sebelum berpakaian
usai percintaan panjang mereka.
Lebih-lebih memulai untuk postcoital
intimacy . Talnovo jengah. 
“Untuk apalagi? Seperti ini sajalah.
Aku sanggup memberimu kenikmatan
luar biasa bukan?” tepis Talnovo. Ia
teringat kembali senyum Shara. 
“Aku ingin kau setiap saat di
sampingku.”
Miroles mengusap dada Talnovo
yang ramping. Jemarinya seketika
basah. Tubuh Talnovo penuh
keringat. Makin menambah daya
pikat. Talnovo berpikir, sebaiknya
gegas meninggalkan Miroles.
Bukankah uang bukan lagi permasalahan
utama baginya? Pundi-pundi
uangnya cukup untuk hidup bersama
Shara. Ia akan keluar dari desa dan
membangun rumah yang layak. 
Miroles makin menakutkan. Dahi dan
mata penuh keriput. Lemak bergelayut
di leher, perut, pipi… Ah,
Talnovo bahkan tidak sanggup mengungkapkan. 
Terkadang tertawanya yang
mengikik itu seperti nenek sihir yang
kegirangan dan berhasil menyulap
saingannya menjadi buruk rupa.
Bukan tertawa mengikik menggairahkan
seperti beberapa tahun
silam. Tawa yang sanggup mencairkan
kelelakian Talnovo. 
“Apa maksudmu akan pergi?” 
“Aku ingin hidup normal.
Bukankah kau pernah bilang, aku
lebih pantas bersama Shara dan tidak
pantas bersamamu? Aku kerap
teringat ibuku saat bercinta denganmu.
Umur kalian hampir sama,
Miroles,” desah Talnovo. Ia menghitung
ruas jemarinya, sekadar menutupi
hati yang makin gelisah. Ia tidak
sanggup menatap air mata Miroles
yang hampir tumpah. 
“Aku tidak rela kau meninggalkanku
begitu saja. Apalagi untuk
bersenang-senang bersama Shara dan
aku akan membusuk sendirian!” 
“Ini telah jadi keputusanku. Siapa
pun tak bisa menghalangi. Selamat
tinggal.” 
Talnovo kembali berpakaian.
Meski tergesa-gesa ia masih sanggup
mengenali mana celana dalam
Miroles dan celana dalamnya. Ia
tidak memedulikan Miroles yang
bersimpuh di depannya. Miroles meraung
memanggil Talnovo. Gegas ia
membawa Shara dan seluruh hartanya
ke kota. 
Ketika Talnovo mencapai halaman
rumah Miroles, hendak membuka
pintu gerbang, terdengar suara benda
jatuh. Ia terkesiap. Miroles dan darah
yang mengalir, dari kepala, hidung,
telinga, dan seluruh tubuhnya. 
Talnovo memejam sesaat. Ia
menyeret kaki yang lemas menuju ke
rumahku. 
*** 
AKU membuat sup kentang untuk
Talnovo. Ia telah menghabiskan
berbotol-botol vodka. Giginya
gemeletukan. Kakinya bergetar serupa
rel kereta yang rapuh.
Aku yakin tidak lama lagi cerita
kematian Miroles akan menyebar. 
Aku membayangkan wanita yang
merabun itu bersusah-payah naik ke
lantai atas rumahnya. Merangkak
menuju jendela yang menghadap
jalanan. Barangkali ia tidak menyangka
akan mati dan ditinggalkan begitu
saja oleh Talnovo. Ia berpikir akan
jatuh persis di depan Talnovo yang
akan menolong, merawat, dan hidup
berdua selamanya. Namun ia salah.
Hmmm, kisah nenek yang pilu. 
Talnovo tertidur dengan mulut
menganga dan memegang botol
vodka yang telah tandas. Suara
ngoroknya begitu memilukan. Aku
bergegas menuju ke rumahnya. 
Aku berharap orang-orang belum
memberi kabar kepada Shara mengenai
kematian Miroles atau perihal
Talnovo yang kerap datang ke rumahnya.
Jangan sampai para pembantu
Miroles menyiarkan kedatangan
Talnovo beberapa jam lalu atau betapa
sering terdengar lenguhan panjang dari
kamar Miroles bersama Talnovo kepada
tetangga-tetangga sekitar. Begitu
pun tentang tempat tidur yang masih
berantakan dan Miroles yang belum
sempat memakai celana dalam… 
Shara tak ada di rumah. Pintu terbuka
lebar dan barang-barang berserakan.
Tetangganya menceritakan,
Shara telah tahu suaminya menjadi
gundik Miroles. Ia marah dan membanting
seluruh perabotan. Ia pergi
bersama mantan kekasihnya ke kota. 
Aku terperangah. Entah kabar
apalagi ini. Apa yang harus kuceritakan
pada sahabatku? 
*** 
TALNOVO memungut puing-puing
yang ditinggalkan istrinya. Shara
membawa seluruh kekayaannya. Ia
tidak meninggalkan serubel pun.
Talnovo melarat. Keuangannya
sekarat. 
Ia memandang salju yang turun
perlahan. Tanaman karet di depan
rumahnya makin tertimbun. Dulu,
ketika salju hanya berupa gerimis
seperti ini, ia dan Shara sering
menari-nari di bawahnya. Seperti
anak kecil menyaksikan salju kali
pertama. Kemudian makan bubur
gandum yang hangat dengan campuran
madu di beranda rumah. Dan,
mereka kedinginan. Kemudian
berpelukan dengan selimut dari jerami,
saling memberikan kehangatan. 
Talnovo memeluk lutut di depan
perapian. Bahunya berguncang hebat.
Ia tak mau hidup tanpa menatap mata
Shara. Ia memendam lara. 
*** 
TALNOVO terjerembap. Mencium
salju yang mencair. Meruapkan
aroma tidak biasa. Semua terasa
beku. Ia tidak sanggup menggapai
karung yang mengempis itu. 
Malam memudar. Lipas bergemeretakan
di dinding, menebarkan
bau bacin begitu menyengat. Gegas
aku bangun, membuatkan makanan
untuk domba ketika terdengar suara
mengembik dari kandang. Lantas
kubuka sedikit jendela untuk penerangan.
Udara beku seketika menyergap
hidung. Dingin merontokkan
persendian. Kulongok kandang
domba yang muram. Pohon-pohon
karet di pot seakan merindukan matahari. 
Mataku memicing. Ada lengan terbujur
di halaman. Wajah pemilik
lengan itu tak tampak. Aku gegas
menuju halaman. Aku tahu siapa
yang terbaring kaku dari mantel yang
dipakai. Itu mantel Talnovo yang dulu
dihadiahkan Miroles. Kuusap jemari
kawanku yang membiru kepucatan. 
Kulongok sebuah karung tak jauh
dari jemarinya. Kepala Shara
menyembul dengan bercak darah
masih menempel-membeku. Aku terdiam.
Merasakan gerimis salju bertebaran
di wajahku. (44) 
Semarang, 2013-2016 

* Cerpen ini wujud terima kasih
pada novel Rumah Matryona
Alexander Solzhenitsyn. Talnovo
nama desa dalam novel itu, tetapi
dalam cerpen ini, itu tak berhubungan. 
1. Mata uang Federasi Rusia dan
Belarus. 
2. Post-coital intimacy. 


Santi Almufaroh, alumnus
UPGRIS, kelahiran Jepara, 11 Mei
1991. Tulisannya dimuat di Keris,
Potret, Sekar Kampoeng, Cempaka,
Suara Kampus, Gradasi, Bilik
Literasi, Papirus, Pawon, Republika,
Suara Merdeka, Jateng Pos.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Santi Almufaroh
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 16 April 2017