Taman Kota Amed

Karya . Dikliping tanggal 18 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
SIANG mulai renta di awal musim gugur. Angin bertiup dari segala arah, menghantarkan aroma akar dan batang sayuran yang baru saja dipanen dari tepi Sungai Tigris. Ia, tokoh kita kali ini, tersedot di tengah-tengah denyut massa yang memadati sebuah taman kota Amed yang telah menjadi tempat kedua setelah rumahnya. Semasa kecil ia biasa datang ke taman itu untuk bermain ragam permainan rakyat seperti kurt kardes dan tarian-tarian tradisional seperti epik, delilo. Taman itu telah membuat hidupnya berwarna. Sementara itu suara riuh yel-yel dan lagu tradisional dengan gendang dan terompet terdengar meledak-ledak. Gendang ditabuh semakin kencang. Massa membikin lingkaran sambil menari dan sesekali meneriakkan protes di sela musik yang melengking.
”Ini waktu yang tepat!” Menjauh dari pusat keramaian yang berkonsentrasi tepat di bagian sayap kanan alunalun, ia melenggang ringan ke sebuah patung yang disanggul beton.
Ia menatap patung itu dengan muka geram. 
”Engkau telah mencabik-cabik tanah kami!” 
Semakin lama menatap patung, ia seperti melihat kobaran api menyembur dari kedua mata patung. Dua meter dari patung, sebuah bendera menjulang dan berkibar. Kibaran bendera berwarna merah dengan bulan sabit dan sebiji bintang berwarna putih di tengahnya. Bendera dan sosok pada patung itu dikenalnya sejak di bangku SD. Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, ia ditunjuk menjadi pemimpin di kelas untuk membaca grenci andi (sumpah ini wajib untuk Sekolah Dasar seantero negeri). Tama dari SMP, ia mulai menyadari sumpah itu telah membohongi dirinya. Ia mulai memberontak kepada teman-temannya.
”Seandainya sudah mengerti sejak SD, aku tak akan pernah memimpin pembacaan grenci andi di depan kelas. Tak pula membaca sumpah itu!” Ia ingat betul kalimat tersebut suatu kali pernah disampaikan kepada Beritan dan Murat, dua teman karibnya. 
”Kita masih bocah ingusan waktu itu,” tanggap Murat.
”Kita Kurdi, bukan Turk!” Murat bergeming. Sebuah peristiwa di tahun pertama SMP ketika neneknya harus dirujuk ke rumah sakit di kota Amed langsung menyergapnya.
Peristiwa itu lalu ditandainya sebagai tragedi: nenek dan keluarga yang mengantarnya dilarang berbahasa Kurdi oleh rumah sakit. Neneknya yang tidak bisa bahasa Turki menatap Murat dengan derai airmata. Saat itu, Murat melihat diri dan keluarganya bagai orang asing di tanah kelahirannya
sendiri! 
Ia mendekat ke beton yang menyanggah patung tembaga berwarna hitam legam itu. Tangan kanannya meragah tiang bendera yang berdiameter 15 cm. Sementara tangan kirinya menyentuh beton dingin berwarna putih pucat. Saat tangannya dibuka lebar mendepa, ia kembali mendongak menatap langit. Tepat di tengah-tengah antara patung dan bendera, langit begitu sempit. Lalu melepas kaos dan melemparkannya ke patung. Tapi sayang, kaos itu keburu disergap angin dan kembali jatuh ke tanah berumput. Ia biarkan kaosnya tergeletak begitu saja di atas tanah bekas jejak kaki yang mengubur kenangan masa kecilnya. Kini yang ada dalam pikirannya adalah kebebasan. Ia menoleh ke arah kanan, lalu mendekap tiang bendera. Saatnya ia menjemput kebebas-an. Suara gemuruh membuat tubuhnya begitu ringan.
Satu panjatan terasa begitu berat. Panjatan kedua, ketiga dan seterusnya terasa semakin ringan. Gegap-gempita para demonstran seolah menyulap dirinya bagai seekor tupai. Pada dakian keduabelas, ia mendengar gelegar makin hebat. Gelegar itu, suara-suara jeritan yang telah menyembulkan semangat, menyeruak arahnya. Telinganya ditempelkan pada ti-ang, mereguk spirit yang mengalir deras dari tanah kelahirannya. Pada tiang itu, getar dan pekik perjuangan menggumpal. Saat tangannya keerakan, ia bertumpu pada kedua kakinya dan bersengkelit pada
batang tiang. 
Di puncak tiang nanti ia ingin berteriak kepada Beritan dan Murat yang entah dimana: ”Lihatlah kemenangan kita hari ini. Aku ingin kalian mendengar dan melihatku dengan hati nurani. Entah dimana pun kalian berada kini. Setelah kita berpisah sejak lima tahun silam, aku tidak lagi melihat
batang hidung kalian. Saksikan apa yang kuperjuangkan sejak akhir SMP terus bergelora!”
Makin tinggi getar kibaran bendera berukuran 1,5 meter itu makin bergegar. Angin berhembus aneh. Jantungnya berdetak kencang ketika melihat tubuhnya sejajar dengan kepala patung. Satu gayutan lagi ia sudah melampaui ketinggian patung itu. Pekikan suara massa makin menukik. Ia tak tahan menggerakkan mukanya ke arah patung. Alangkah terkejutnya, ribuan massa berjubel mengelilinginya. 
”Her bijiiiiii…!!!” 
Mereka meneriakkan kata-kata yang makin membangkitkan jiwanya. Ia tak bisa menahan bulir-bulir gerimis yang tumpah dari sudut matanya. Dua dakian lagi ia akan sampai di ujung tiang. Dan ketika menyentuh bendera, tubuhnya seperti dialiri ribuan kromosom kemerdekaan yang tak terwariskan.
”Abdullaaaah…!” sebuah teriakan seperti memekakkan gendang telinganya. Ia seperti tersengat listrik ketika menoleh ke sumber suara. Di sana ada Murat yang tengah memanjat patung dengan sebilah kapak besar.
”Lihatlah ini, Abdullaaaaah!” teriaknya histeris sembari memenggal kepala patung hingga tersungkur. Sontak suara massa melengking saat kepala patung terkapar di tanah. Dengan gagah Murat meloncat dan membiarkan kapaknya menancap di leher patung.
Pada waktu bersamaan, Abdullah dengan beringas merobek kain bendera dengan gigi dan tangan kidalnya, serupa singa yang kalap memangsa. Bendera itu langsung dilemparkan sekenanya ke tengah kerumunan massa. Sebelum bendera mendarat ke tanah, lamat-lamat ia mendengar namanya disebut berulang-ulang oleh mereka. Pasti si Murat telah menggerakkan masa untuk menyanyikan namanya. Namun tiba-tiba suara mereka tak terdengar lagi di telinganya. Tubuhnya sendiri amruk. Matanya padam. Abdullah jatuh seperempat detik sebelum bendera itu mendarat di tangan massa.
Ia tersungkur di atas kaosnya sendiri berwarna merah-putih-hijau-kuning. 
Dua timah panas telah memecah jantungnya!
Di tengah jeritan dan gemuruh massa yang makin melesat, Murat meloncat dan memeluknya sembari menyebutkan namanya berkali-kali; membiarkan darah Abdullah berlumuran di dadanya. Massa berhamburan kalangkabut. Bom-bom molotov yang sedari tadi disimpan para demonstran akhirnya
dilemparkan ke mobil-mobil baja milik polisi.
Menyaksikan kabut hitam yang mulai membumbung dan teriakan histeris di tengah taman kota Amed, dari lantai lima Hotel Dicle, aku meringis melanjutkan cerita ini. Satu hal ingin kusampaikan
sebagai penutup: Demi Tuhan aku yakin, penembak jitu yang telah mengirimkan dua timah panas tepat di jantung tokoh kita kali ini ada di hotel yang sama, bahkan di lantai yang sama: di kamarku! ❑ – g
(Untuk mer Mutlu, pemuda yang kini menjalani hukuman 13 tahun penjara karena menurunkan bendera Turki di Diyarbakir, Juli 2014)
Keterangan:
Amed (Kurdi): Nama lain
Diyarbakir Kurt kardes (Turki): Permainan tradisioanl di Diyarbakir dan sekitarnya
epik, delilo (Turki): Tarian rakyat khas Turki Tenggara.
Her biji (Kurdi): Semoga Tuhan memberkati (doa semangat).
grenci andi (Turki): Sumpah siswa
(isi sumpah):
Aku Turk: jujur, pekerja keras; prinsipku adalah menjaga generasi muda, menghormati orang-orang tua, mencintai tanah kelahiran dan bangsaku melebihi diri sendiri; eksistensiku akan didedikasikan kepada eksistesi Turki.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bernando J Sujibto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 17 Mei 2015