Tamu dari Amerika

Karya . Dikliping tanggal 27 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

MALAM itu seorang lelaki asing datang ke rumahku. Lelaki kulit putih setengah baya dengan potongan rambut khas. Wajah tampan lelaki itu mengingatkan aku pada John F Kennedy, Presiden Amerika yang tewas di Texas, ditembak Lee Oswald pada bulan November 1963. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa maksud kedatangan lelaki asing itu ke rumahku? Sebelum aku terus berpikir, lelaki itu menghampiriku, mengajakku bersalaman. Aku menyambut uluran tangannya dengan sikap kaku dan ragu-ragu, lalu mempersilakannya duduk di kursi yang menghadapku. Sejenak hening. Aku melihat mata lelaki itu menjelajahi seluruh ruangan tamu rumahku.

ANDA kelihatan gelisah sekali, mungkin karena wajahku ini,” ia berkata sambil menatap wajahku.

“Benar, wajah Anda mirip sekali dengan wajah mendiang John F Kennedy,” kataku.

“Ya, kemiripan yang membuat aku beruntung bisa mengunjungi negeri Anda sebagai turis dan bisa bertemu dengan anda.”

“Maksud Anda?”

“Di negeriku aku menjadi pemenang kontes mirip tokoh negarawan John F Kennedy. Hadiahnya aku gunakan untuk datang ke Indonesia, sebuah negara dan bangsa dengan situasi dan kondisi yang benar-benar membuat aku merasa perihatin.”

“Terima kasih atas perhatian Anda terhadap negara dan bangsaku,” kataku, terharu.

“Ya, kita dua bangsa yang sudah lama menjalin persahabatan, lihat poster itu!” ia berkata sambil menyuruhku melihat poster John F Kennedy berdampingan dengan Bung Karno, Presiden pertama Rl. Poster itu memang dipajang di sudut ruangan tamu oleh anakku yang kedua, Yosal. Katanya ia membeli poster itu di kaki lima.

“Dari krisis moneter, krisis ekonomi, krisis politik dan krisis-krisis lain sampai dengan krisis kepemimipinan dan krisis kepercayaan. Luar biasa, bangsa Anda dilanda krisis multidimensi. Pada gilirannya negara dan bangsa Anda terancam disintegrasi, perpecahan. Inilah kehancuran yang harus segera dicegah oleh para pemimpin dan seluruh bangsa Anda.”

“Benar,” kataku sambil menatap wajahnya dalam-dalam.

“Bangsa Anda sedang belajar demokrasi. Demokrasi ibarat air yang mengalir deras dari kran yang tertutup selama Orde Baru. Karena bangsa Anda belum siap dan belum terbiasa, akibatnya seperti yang terjadi selama ini. Demo yang terus-menerus, kerusuhan dan tawuran, serta perang saudara. Bahkan ada wilayah-wilayah di Indonesia yang ingin merdeka. Para elite politik terus bertengkar. Gus Dur terus digugat dengan memorandum-memorandum, sehingga negeri Anda kian karut-marut.”

“Anda cenderung berpihak pada Gus Dur?”

“Bukan masalah berpihak atau tidak. Tetapi nasib negara dan bangsa di atas segalanya. Hal ini harus menjadi prioritas dalam kinerja mereka. Bukan saling mempertahankan argumentasi, berebut atau mempertahankan kursi, sementara rakyat dibiarkan terlantar dan makin menderita.”

Aku hanya mengangguk-angguk. Apa yang dikatakannya kukira memang benar.

“Karena kerusuhan, kejahatan, dan kebiadaban, pertikaian antara etnis dan sebagainya, karena chaos dan anarki, bangsa Anda yang semula terkenal ramah tamah, hidup rukun dan damai, kini telah menjadi bangsa yang barbar dan kanibal.”

Aku menunduk, aku merasakan wajahku yang memerah karena malu.

“Maaf, jangan marah, kata-kata itu adalah ucapan seorang pakar ilmu jiwa bangsa Anda yang aku kutip dari sebuah surat kabar.”

Aku masih terdiam, tiba-tiba aku ingat bahwa sedari tadi aku belum menawarinya minum.

“Anda mau minum apa? Aku tak punya minuman lain kecuali kopi, teh manis, atau air putih.”

“Ah, aku tidak mau merepotkan Anda. Kedatanganku kemari hanya ingin berbincang-bincang tentang situasi dan kondisi yang tengah dihadapi oleh negara dan bangsa Anda saat ini.”

“Apakah Anda bisa memberikan solusi untuk mengatasi masalah yang sedang kami hadapi?”

“Justru hal inilah yang akan aku bicarakan dengan Anda. Anda pasti tahu bahwa John F Kennedy pernah berkata: jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik itu bengkok, maka puisi akan meluruskannya.

“Ya, ya, aku ingat,” kataku antusias.

“Dan aku tahu negeri Anda adalah negeri penyair. Ada seorang penyair terkemuka di negeri Anda yang mengaku sebagai presiden penyair.”

“Benar,” kataku, dan aku ingat pada Sutardji Calzoum Bachri yang pernah memproklamasikan dirinya sebagai presiden penyair Indonesia.

“Nah, sekaranglah saatnya seluruh penyair bangsa Anda harus membuktikan ucapan John F Kennedy.”

“Maksud Anda, apakah situasi dan kondisi kritis negara dan bangsa kami diatasi dengan puisi?”

“Benar,” ia berkata dengan nada keyakinan.

“Apakah itu mungkin? Kalau itu mungkin, tolong jelaskan kemungkinan-kemungkinan itu.”

“Begini, kekerasan yang dilakukan oleh bangsa anda dapat mengakibatkan perpecahan. Untuk meredam kekerasan, dibutuhkan puisi, karena puisi dapat memperhalus bathin manusia. Puisi adalah inti kemanusiaan yang luhur dan hakiki. Para penyair di negeri Anda harus sering menggelar acara pembacaan puisi yang dapat meredam emosi masyarakat. Bacalah puisi-puisi yang dapat meredam kekerasan.”

Tamu dari AmerikaSejenak ia berhenti bicara. Menatapku, seolah-olah menanti tanggapanku. Dan aku katakan padanya bahwa belakangan ini Komunitas Sastra Indonesia Jakarta menggelar Lomba Cipta Puisi Anti Kekerasan dan selanjutnya menggelar pembacaan puisi anti kekerasan. Tentu ini merupakan suatu usaha para penyair untuk meredam kekerasan yang terjadi di tanah air, sebuah usaha untuk mencegah perpecahan bangsa.

Mendengar kata-kataku, lelaki itu tersenyum.

“Bagus! Bagus! Nah, sebaiknya komunitas-komunitas sastra di seluruh negeri anda menggelar acara yang sama agar emosi seluruh bangsa anda terkendali.”

“Mudah-mudahan,” kataku sambil mengangguk.

“Langkah selanjutnya,” lelaki itu meneruskan pembicaraannya, “Para penyair bangsa Anda harus membuat sebuah buku tebal antologi puisi yang dapat menyentuh hati para elite politik dan para pemimpin bangsa Anda. Puisi-puisi yang reformatif, antikekerasan dan terutama tentang penderitaan bangsa Anda sejak dilanda krisis moneter sampai sekarang. Buku antologi puisi tersebut untuk dibagikan kepada para elite politik dan pemimpin-pemimpin penting bangsa Anda. Suruh mereka membaca dan menghayati puisi-puisi dalam buku itu. Puisi-puisinya harus komunikatif, jangan yang gelap-gelap agar mudah dimengerti dan dihayati oleh mereka. Aku yakin, kalau hati nurani mereka tersentuh setelah membaca puisi-puisi dalam buku tersebut, sikap mereka dalam berpolitik akan positif. Artinya, mereka berpolitik untuk kepentingan negara dan bangsa. Jadi politik mereka lurus atau bersih. Jika politik sudah lurus atau bersih maka bidang-bidang lain akan mudah ditangani karena moral mereka memenuhi standar yang ideal sebagai pemimpin-pemimpin bangsa. Pokoknya negara dan bangsa anda akan bangkit dari keterpurukan. Dalam istilah lain: badai telah berlalu.”

Setelah berkata demikian lelaki itu menarik napas dalam-dalam. Menatapku, menanti aku bicara.

“Baiklah terima kasih atas sumbangan pikiran Anda,” kataku. “Anda benar-benar percaya akan ucapan mendiang John F Kennedy dan ingin membuktikannya secara konkret”

“Ya, karena beliau adalah tokoh idolaku dan dengan wajah yang sangat mirip ini aku merasa sebagai reinkarnasi mendiang John F Kennedy.”

Agak lama suasana hening karena kami saling berdiam diri. Akhirnya ia pamit setelah mengucapkan terima kasih. Aku mengantarnya sampai ke pintu pagar halaman dan terus melihat lelaki itu sampai menghilang di tikungan jalan.

Berhari-hari aku merasa penasaran, ingin tahu siapa sebenarnya lelaki asing itu. Akhirnya aku mendapat informasi dari seorang kawan yang bekerja di Kantor Dirjen Imigrasi, pihaknya memang sedang mencari seorang turis dari Amerika untuk dideportasi. Turis itu tidak pulang kembali ke negaranya karena kehabisan uang dan sudah beberapa bulan menjadi gelandangan. la mengalami gangguan kejiwaan dan kepada setiap orang ia mengaku se-bagai reinkarnasi mendiang John F Kennedy.

Diam-diam aku merasa kasihan pada lelaki asing itu, berharap suatu saat gangguan kejiwaannya bisa disembuhkan dan ia menemukan jati dirinya yang sejati.***


[1] Disalin dari karya Yoffie Cahya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 25 November 2018