Tamu Menjelang Lebaran

Karya . Dikliping tanggal 13 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
DI bulan puasa ini, kompleks perumahan tempat kami tinggal mendadak sering didatangi orang asing yang meminta sumbangan. Aku tidak tahu secara pasti alasan apa yang mendorong mereka untuk berbondong-bondong ke kompleks perumahan ini. 
Sebetulnya, bukan baru kali ini para pengemis datang ke kompleks perumahan kami, bulan puasa tahun kemarin pun sudah ada, tetapi tidak banyak. Dulu, aku sengaja menyiapkan uang sebelum pengemis datang.  Aku hafal, pengemis itu biasa datang ke rumah pada hari apa. 
Belum genap sepuluh menit, terdengar suara seseorang mengucap salam dari luar pagar. Aku pun keluar. Ternyata di sana sudah berdiri seorang lelaki dengan wajah yang cukup memelas. Aku langsung tanggap, tanpa berkata apa-apa, kuserahkan selembar uang ribuan. Sekali lagi aku mendapat pujian dan doa dari lelaki pengemis itu.
Tak berselang waktu lama, pengemis yang lain datang dan datang lagi. Entah sudah berapa pengemis yang datang dari pagi hingga siang, yang jelas uang receh di dalam dompet sudah tak ada lagi. Seharian ini aku bak seorang dermawan yang berkali-kali panen pujian. Entah sudah berapa orang yang mendoakanku, agar rezekiku berlipat ganda berkat kebaikanku pada orang-orang itu. 
***

Yang membuatku tak habis pikir, kenapa mereka datang setiap hari dan orangnya pun yang itu-itu juga. Bisa jadi, mereka memang berasal dari kampung yang sama. Sebab beberapa hari lalu, sehabis mengantar anakku ke sekolah, tanpa sengaja aku berpapasan dengan mereka turun dari sebuah mobil

bak terbuka. Orang-orang itu kemudian memasuki kawasan perumahan dan berpencar menyambangi setiap rumah. Minta sedekah.
Pagi itu jarum jam baru menunjuk angka 9 lewat sedikit. Suamiku, tidak berangkat kerja karena sakit. Mungkin karena terlalu banyak melek dan kurang tidur . Maklum, selain biasa tidur terlalu larut, sehabis saur lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop sampai pagi, hingga jam berangkat kantor. 
Dan seperti biasa, pada jam-jam segini orang-orang asing itu mulai berdatangan. Maka demi keamanan, aku pun bergegas mengunci pintu pagar. Bukannya tak mau bersedekah, aku hanya berjaga-jaga agar mereka tidak masuk rumah. Khawatir suami marah-marah lantaran terganggu oleh kehadiran mereka.
”Siang-siang begini kok pagar dikunci?” tegur suamiku, nampak keheranan.
”Sampeyan tidak tahu, sebentar lagi mereka pasti berdatangan,” jawabku.
”Mereka siapa?”
”Pengemis!” 
Kepada suami, aku menceritakan secara detail apa yang sebenarnya terjadi. Setidaknya biar dia tidak penasaran dan salah paham dengan apa yang aku lakukan.  Suamiku tercenung. Sorot matanya menerawang. Entah apa yang sedang berkecamuk dalam benaknya. Tak lama kemudian, ia bangkit berjalan keluar , membuka kunci pagar dan menyelarak pintu lebar-lebar. 
”Kita tidak boleh menutup pintu bagi mereka. Mereka orang-orang susah.” Aku pun memilih diam daripada menimbulkan kesalahpahaman. 
Dugaanku ternyata benar. Hanya selang beberapa menit, sudah terdengar suara salam dari luar.  Aku sengaja tak bereaksi. Pura-pura asyik membersihkan kamar. Kulihat suamiku beranjak meninggalkan tv, melongok ke arah jendela, lalu merogoh dompetnya sambil berjalan ke halaman.
Baru saja suamiku kembali duduk, sudah terdengar lagi suara salam seseorang. Lagi-lagi aku pura-pura sibuk. Tak pelak suamikulah yang keluar untuk berhadapan dengan pengemis berikutnya. Dan itu akan terus berulang hingga siang. Hingga pengemis terakhir yang besoknya pasti akan kembali datang.  Entah sampai kapan?
***
Kira-kira lebaran kurang seminggu, para pengemis itu tak lagi kelihatan batang hidungnya. Lenyap begitu saja eperti aliran air yang terhisap tanah kering.  Aku merasa lega. Pintu pagar rumah pun kembali kubiarkan terbuka. Begitu juga pintu pagar rumah para tetangga.  Di rumah aku juga tak lagi sendirian. Kedua anakku sudah libur.
Untuk mengisi waktu luang, kuajak anak-anak membantu mengemas barang-barang yang akan kubawa mudik. Rencananya H-3 kami berangkat. Lebaran kali ini, kami sengaja ingin pulang ke rumah ibu lebih awal, mengingat jalanan pasti banyak macet.   Apalagi ibu juga sudah jauh-jauh hari berpesan, agar kami tidak hanya satu dua hari di rumah. Bagi orangtua seperti ibu, kepulangan anak-anak pada saat lebaran memang sangat diharapkan. 
Ada semacam kebanggaan tersendiri. Katanya, ibu merasa malu kalau lebaran nanti kami tidak pulang. 
”Selain tetangga, tamu-tamu yang datang pasti menanyakanmu.”
”Iya, Bu.”
”Dan bilang ke suamimu, kalau pulang jangan naik bus atau kereta.” 
”Maksudnya?” telepon genggamku kusetel bunyi keras.
”Bawa mobil. Terserah pakai mobil kantor atau sewa!”
Aku belum sempat menjawab, telepon sudah diputus. Aku termenung lama. Tak tahu harus bagaimana. Namun daripada jadi beban, akhirnya pesan itu kusampaikan juga pada suami. Untungnya, suamiku paham dan mengiyakan keinginan ibu.  Aku sangat lega. Bahkan suamiku berjanji, akan mengambil cuti lebih lama, agar tidak kemrungsung di perjalanan.
***
Siang itu suamiku pulang kantor lebih awal dari biasanya. Sehabis salat asar, ia pamit untuk mengambil mobil sewaan yang mau dipakai mudik besok pagi-pagi. Kedua anakku nampak girang.
Sambil menunggu ayahnya pulang, mereka bermain di teras, sementara aku sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk berbuka.
”Ma, ada tamu!” teriak anakku dari luar.
”Ya, sebentar,” jawabku. Aku cepat-cepat mencuci tangan, dan bergegas ke luar . Di halaman sudah
berdiri seorang lelaki berpeci, berbaju koko putih, sambil menenteng tas berwarna hitam. Melihat kehadiranku laki-laki itu mengangguk, berjalan mendekatiku lalu mengulurkan tangannya mengajak salaman.
”Maaf, Bu, mengganggu sebentar .”
”Bapak dari mana dan mau bertemu siapa?” aku penasaran.
”Mau ketemu suami Ibu, ada?” 
”O, baru keluar.
Ada perlu apa, biar nanti saya sampaikan.” 
Laki-laki itu terdiam sejenak. ”Kalau begitu dengan Ibu juga nggak apa-apa.”
Aku agak cemas. Dalam hati aku bertanya-tanya. Namun meski agak ragu, akhirnya ia kupersilakan duduk di kursi teras. 
”Ada perlu apa, Pak?” tanyaku memecah keheningan. Laki-laki itu tak segera menjawab. Ia malah membuka tas dan mengeluarkan map kuning berisi setumpuk kertas.
”Begini Bu, saya petugas dari yayasan anak-anak yatim, maksud kedatangan saya, mau minta bantuan Ibu untuk memberikan sumbangan seikhlasnya.”
Aku sedikit terperanjat. Baru saja lepas dari serbuan pengemis, sudah kedatangan tamu yang meminta sumbangan. Sebenarnya, aku tak berminat menyumbang. Tapi biar laki-laki itu segera pergi dan tidak lama-lama menemui, maka kuserahkan selembar uang dua puluh ribu.
Laki-laki itu tampak puas. Ia memintaku tanda tangan di kertas yang sudah ia siapkan, berikut nama dan nominal jumlah sumbanganku. Ternyata di sana sudah berisi banyak tanda tangan. Sekali lagi, agar tamu segera pergi, aku turuti saja kemauannya itu.
Baru saja aku selesai tanda tangan, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Tamu yang meminta sumbangan itu pun segera pamit. Tapi langkahnya mendadak berhenti ketika berpapasan dengan suamiku, yang baru keluar dari mobil. 
”Lho, Han, kau di sini?” tanya suamiku dengan tatapan yang menyiratkan keheranan. ”Tak kusangka kita bisa ketemu lagi, sudah lama sekali kita hilang kontak.”
Lelaki itu menundukkan kepala. Lalu berusaha melangkahkan kaki, tapi ditahan oleh suamiku.
”Ayo mampir dulu, jangan buru-buru pergi.” 
Lelaki itu tak bisa menolak. Tangannya digandeng suamiku, diajak duduk di ruang tamu. Wajah lelaki itu tampak pucat, lebih-lebih ketika suamiku memperkenalkanku. Kami pun kemudian berbuka bersama. Di sela-sela berbuka puasa, lelaki yang bernama Han, teman suamiku semasa kuliah dulu itu, berulang-ulang meminta maaf. 
”Sungguh, aku benar-benar tidak tahu kalau ini rumahmu, Yos. Maafkan aku yang sudah menipu istrimu untuk memberi sumbangan pada anak-anak yatim itu. Aku sudah kehabisan akal, oleh orangtuaku aku diharuskan pulang Lebaran ini. 
Aku tak ada ongkos. Bahkan Ayahku memintaku pulang menyewa mobil, biar aku tidak kelihatan gagal di perantauan. Aku sudah beberapa tahun tidak pulang, sejak dikeluarkan dari perusahaan tempatku bekerja, sejak rumah tanggaku berantakan.”  q- k
Magelang, Juni 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedet Setiadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 12 Juli 2015