Tamu Menjelang Magrib

Karya . Dikliping tanggal 11 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
MATAHARI telah rebah di ufuk barat. Cahayanya masih membias diantara pilar-pilar awan. Menyibakkan warna lembayung. Lukisan alam. Begitu indah, dan memukau. Angin sore menantang pergantian waktu.
Laki-laki setengah baya, tengah berjalan memasuki halaman rumah meawah, menuju pintu kayu, berukir indah, yang tertutup rapat. Tangan kanannya membawa sebuah stopmap berwarna hijau. Matanya mengamati pintu itu.
“Tok…. tok…tok. asalamu’alaikum!,” Laki-laki setengah baya itu mengetuk pintu, sambil memberi uluk salam. Menunggu.
“Wa’alaikumsalamm…..!,” suara perempuan, menjawab dari dalam rumah.
Pintu dibuka. Perempuan cantik, muncul dari belakang pintu. Lalu, memandang tajam Laki-laki setengah baya. Penuh tanda tanya, dan curiga. Matanya tertuju pada tangan kanan Laki-laki setengah baya. Stopmap yang dibawa. Pikirannya sudah dapat menebak. Laki-laki yang ada di hadapanya, pasti akan meminta sumbangan.
“Ada keperluan apa, Pak?,” Perempuan cantik itu mencoba untuk berbasa-basi. Meski dapat menebak pada inti kedatangannya sore itu. Tanpa mempersilakan masuk. Hanya berada di ambang pintu.
“Saya dari Panitia Pembangunan Masjid Al-Firdaus, ingin meminta sumbangan,” hanya itu yang keluar dari bibir laki-laki setengah baya, sambil membuka stopmap, memperlihatkan proposal sumbangan. Lalu menyodorkan pada Perempuan cantik. Perempuan cantik itu, membaca sekilas.
Ilustrasi oleh Joko Santoso
“Bapak minta sumbangan jauh-jauh dari Demak hingga kota ini?,” tanya Perempuan cantik itu penuh selidik. Tetap masih berdiri di ambang pintu. Tidak mempersilakan masuk, atau duduk di kursi teras.
Laki-laki setengah baya itu hanya tersenyum. Tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Senyum yang begitu tenang. Menyiratkan keteduhan.
“Ini surat, tanda tangan dan stempel, asli dari Kepala Desa, Bapak?,” perempuan cantik itu,kembali bertanya. Tetap dengan nada curiga.
Laki-laki setengah baya itu, tidak menjawab. Hanya mengangguk, sambil tersenyum.
“Bapak apa tidak membaca tulisan itu? Mau Magrib minta sumbangan,” gerutu perempuan cantik, sambil menunjuk sebuah tulisan ‘SEGALA PERMINTAAN SUMBANGAN, HARUS SE-IZIN KETUA RT/RW.KEPALA DESA SETEMPAT”.
Laki-laki setengah baya itu, memandang stiker yang tertempel di dinding dekat pintu kayu berukir indah. Lalu, kembali tersenyum. Senyum penuh keteduhan.
“Maaf ya, Pak!,” ucap perempuan cantik itu, sambil memberikan kembali, stopmap berwarna hijau pada laki-laki setengah baya, tanpa basa-basi lagi. Kemudian meninggalkan, lalu menutup pintu kayu, berukir indah. Meski laki-laki setengah baya itu, masih berdiri di depan pintu.
Laki-laki setengah baya itu, tetap tersenyum. Langkah kakinya kemudian diayunkan meninggalkan teras rumah mewah itu. Baru saja kakinya akan meninggalkan tempat itu, sebuah mobil mewah memasuki halaman. berhenti. Laki-laki tampan, gagah, turun dari mobil. Berjalan, berpapasan dengan laki-laki setengah baya.
Laki-laki setengah baya itu terus berjalan. Laki-laki tampan, gagah itu memandang dengan seksama. Penuh tanda tanya. Karena matanya menangkap sebuah keteduhan dalam wajah laki-laki setengah baya, yang melemparkan senyum ketika berpapasan. Senyumnya begitu menggetarkan hati laki-laki tampan dan gagah itu.
Laki-laki tampan, gagah itu, hanya mampu melepas kepergian laki-laki setengah baya, wajahnya tenang, mengenakan celana hitam congklang, baju koko berwarna hitam mengkilap. Di tangan kanannya, memegang stopmap berwarna hijau. Ada sesuatu yang tertinggal di hati laki-laki tampan, gagah, ketika laki-laki setengah baya sudah tak terlihat lagi. Berdiri mematung, matanya menatap jauh, seperti mencari kemana perginya laki-laki setengah baya itu.
Suara adzan Magrib, terdengar dari masjid Al-Jannah, kompleks perumahan mewah itu. Laki-laki itu tampan, gagah, tersadar. Kemudian melangkah, menuju pintu kayu, berukir indah. Masuk rumah.
“Siapa laki-laki tadi, Jeng?,” tanya laki-laki tampan, gagah pada perempuan cantik yang menyambutnya dengan senyum renyah.
“Biasa, penipu berkedok untuk pembangunan masjid. Masak, jauh-jauh dari Demak, cari sumbangan kok sampai kota ini. Apa itu tidak….”
“Kamu kasih?”
“Tidak!”
“Seribu pun?”
“Iya! Kenapa? Aku salah, karena tidak memberi sumbangan yang tidak jelas kemana disalurkan?”
“Jeng, baru sebulan aku pulang dari tanah suci Mekkah. Menunaikan rukun Islam yang ke-lima….”
“Terus, apa hubungannya? Barangkali surat, tandatangan dan stempel itu palsu, uang sumbangannya akan digunakan oleh orang itu…”
“Jeng, meski aku yang ber-Haji, paling tidak, kamu juga akan dipanggil bu Haji…,” Laki-laki tampan, gagah itu menatap perempuan cantik dengan tajam.
“Mas, aku hanya ingin berbuat benar. Dan, memberi pelajaran saja, bahwa memberi sumbangan itu, lebih baik yang jelas, dan lebih dekat dengan kita”.
“Sudah! Ini sudah tidak benar. Bagaimana pun juga, kita harus memberi, meski sedikit. Karena, laki-laki itu datang kerumah kita, sudah jalan Allah. Kenapa rasa curiga yang mendiami hatimu, daripada berpikiran bersih. Laki-laki itu, mungkin sebagai bagian perjalanan setelah dari Baitullah. Ujian yang hanya sekecil ini, kita tidak bisa lulus. Aku salah dul dan akan mencari laki-laki itu!,” ucap laki-laki tampan, gagah, lalu meninggalkan perempuan cantik, yang menyisakan kebingungan.
Laki-laki tampan, gagah, setelah salat Magrib, tanpa mandi terlebih dahulu, terus keluar rumah. Kemudian meninggalkan halaman rumah mewah itu, dengan mengendarai mobil mewahnya, diiringi tatapan perempuan cantik, yang tetap belum mengerti apa yang ada dalam pikiran suaminya itu. Hanya terpaku, di depan pintu kayu, berukir indah.
Laki-laki tampan, gagah, terus mencari laki-laki setengah baya, wajahnya tenang, memakai celana hitam congklang, baju koko berwarna hitam mengkilat, kopiah hitam mengkilat, tangan kanannya membawa stopmap berwarna hijau. Dengan senyum membawa keteduhan, bagi yang menatapnya. Ke seluruh jalan-jalan besar, gang-gang besar dan sempit. Tetap tidak menemukan.
Malam terus merambat. Hampir seluruh pelosok kota telah ditelusuri oleh laki-laki tampan, gagah dengan penuh rasa sesal. Ingin membawa pulang Laki-laki setengah baya, dan memberi seluruh kekurangan dana yang dibutuhkan kepada masjidnya. Pikirannya terusik oleh perkataan laki-laki tua, pensiunan pegawai rendah, menyisihkan gajinya selama 25 tahun untuk menunaikan ibadah Haji, kenalannya ketika berada di tanah suci. Ketika sedang mengobrol, setelah pulang dari salat di Masjid Nabbawi.
“Jika kita kedatangan tamu menjelang Magrib. Tamu itu berwajah tnang, beraroma wangi, berpakaian sederhana, senyumnya menyiratkan keteduhan, kita akan mendapatkan kebahagiaan. Tetapi, kalau tamu yang datang menjelang Magrib itu, beraroma bacin dan pesing, pertanda bencana yang akan kita dapatkan. Mungkin itu seorang malaikat, yang tengah menguji jiwa kita.”
Laki-laki tampan, gagah itu, begitu tertekan dengan apa yang tengah dipikirkan. Kemudian telepon istrinya, menanyakan alamat dan nama masjid. Jawaban dari istrinya, hanya ingat nama masjid Al-Firdaus. Tidak tahu alamatnya, hanya kota Demak saja yang diingatnya.
Malam itu, laki-laki tampan, gagah, memutuskan untuk menuju Demak. Mencari masjid yang belum jadi bernama Al-Firdaus. Seluruh kota Demak telah dicarinya. Tetap tidak menemukan laki-laki setengah baya, dan nama masjid yang baru dibangun bernama Al-Firdaus.
Laki-laki tampan, gagah, tetap akan mencari. Terus mencari. Hingga bertemu, entah sampai kapan. Seperti mencari bayang-bayangnya yang telah tersimpan disenyum tamu menjelang Magrib, laki-laki setengah baya, penuh keteduhan itu… [] –g
Cilacap-Magelang 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triman Laksana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 11 Januari 2015