Tanah Pancuran

Karya . Dikliping tanggal 28 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Kamis malam menjadi malam penuh duka. Malam yang dirundung kepiluan bagi beberapa orang. Malam itu sering disebut malam yang menakutkan karena banyak makhluk mistis keluar. Ya, malam Jumat kali ini menjadi kenangan pahit bagi Kampung Banyuurip.

”Katanya Kang Amir meninggal, Pak?” tanya Chamid pada kawan meronda.

”Lo? Bukan Zainal yang meninggal?” Solikin yang kebingungan balik bertanya.

”Tadi di kampung sebelah itu kabarnya banyak yang meninggal. Tujuh orang, Pak,” tukas Imam.

”Tujuh orang gimana, Pak? Sekarang sudah sepuluh orang,” tegas Ucup yang baru datang dan langsung mengambil bagian untuk bicara.

”Kok malah seram, Pak? Ini malam Jumat,” sergah Solikin yang sejak tadi terlihat ketakutan.

***

Beberapa waktu lalu, kampung itu masih disebut kampung penuh kedamaian. Banyak orang menyebut itulah kampung yang selalu hidup. Oleh karena itulah, orang sering menyebutnya urip yang berarti hidup.

Tidak ada kebencian di kampung itu. Hanya ada senyum dan keramahtamahan yang begitu indah.

Orang desa seberang sering mengatakan, ”Jika kamu ingin mendapatkan kedamaian, datanglah ke Banyuurip.”

Meskipun tidak tahu artinya, beberapa orang seberang telah membuktikan. Mereka pun mendapatkan sesuai dengan keinginan. Kedamaian itulah yang mungkin tidak bisa mereka rasakan di kampung sendiri.

Hari ini, Kampung Banyurip tidak lagi disebut kampung damai. Duka tak hanya menimpa hanya keluarga, tetapi sepuluh keluarga. Dan, mereka tak tahu penyebabnya.

Tangisan kini membanjiri desa itu. Beberapa anak menangis histeris; menandakan mereka belum bisa menerima musibah yang menimpa keluarga.

Warga sibuk menghadapi bencana kematian yang menimpa kampung mereka. Bapak-bapak sudah mempersiapkan diri berkumpul di balai desa bersama Pak Lurah. Mereka mengatur siapa mengaji di tempat ini dan siapa lain. Bukankah tidak mungkin semua mengaji di tempat yang sama?

Malam ini, tidak ada kesepian seperti biasa. Warga yang biasanya bersibuk dalam tidur, malam ini mengaji bersama. Mereka melantunkan ayat-ayat suci Alquran yang sudah menjadi tradisi saat ada yang meninggal.

Sudah larut malam. Beberapa orang sudah mempersiapkan diri untuk pulang dengan beberapa alasan yang hampir sama. Misalnya, takut istri kelamaan menunggu atau takut istri tidak bisa tidur.

Akhirnya tinggal beberapa orang yang berjaga di rumah duka.

Mereka saling bercerita, tak terkecuali soal kematian itu.

”Kok aneh ya, Pak? Masa mati bareng-bareng?” tanya Pak Taufik yang terlihat kebingungan.

”Saya juga nggak tahu, Pak. Padahal, tadi Pak Zainal masih di kebun bareng saya,” jawab Solekan yang terlihat kebingungan juga.

”Baru kali ini terjadi kematian paling aneh di kampung kita, Pak,” lanjut Taufik yang makin mencairkan suasana.

”Ya, sudah, kita ambil hikmahnya saja. Toh kita belum tahu penyebabnya,” jawab kiai kampung, yang seketika mengheningkan suasana.

Waktu menuju ke sepertiga malam. Beberapa orang yang berjaga di rumah duka sudah tertidur.

Mereka menutup seluruh tubuh dengan sarung. Itu tanda malam benar-benar dingin. Tinggal Pak Ustadz dan Pak Taufik yang belum tidur. Padahal, sebenarnya Pak Taufik juga ingin sekali memejamkan mata.

”Taufik, sini!” panggil Pak Ustadz yang duduk di pojokan sambil menikmati kopi.

”Iya, Pak,” jawab Pak Taufik.

”Ada apa, Pak?”

”Sini, duduk. Kubagi cerita,” sahut Pak Ustadz yang berusaha meyakinkan Pak Taufik

***

Dulu, sebelum desa ini dikenal dengan kedamaiannya, penduduk sangat kekurangan air. Untuk sekadar minum pun, warga harus berbagi. Akibat krisis air itu, beberapa orang memilih meninggalkan desa.

Suatu hari, ada pemuda berpesan pada orang desa untuk tidak meninggalkan Banyuurip. ”Sebentar lagi kita pasti tidak kekurangan air,” kata pemuda itu meyakinkan warga.

Tepat pada malam Jumat, pemuda itu berjalan menuju ke tanah pancuran. Itulah tanah yang diyakini warga tidak boleh disentuh karena angker.

Pemuda itu sampai di tanah di ujung timur desa. Banyak pohon besar dan menjulang tinggi, tanda betapa subur tanah itu.

Tak berselang lama, meski takut-takut, pemuda itu menggali tanah. Dia mengabaikan rasa takut itu, karena yakin hanya di tanah itulah ada sumber air. Belum dalam menggali, dugaan pemuda itu terbukti. Tanah itu subur dan memiliki sumber air yang sangat berguna bagi warga.

Dengan bangga ia pulang untuk mengabarkan pada warga. Senyum bahagia terpancar di wajah pemuda itu. Akan tetapi, sesampai di rumah ia tak menemukan kebahagiaan sedikit pun dari warga. Ia mendapati beberapa warga menangis. Benar, ada sepuluh warga meninggal ketika ia berhasil menemukan sumber air itu.

Dengan rasa takut dan penasaran, Taufik memberanikan bertanya. ”Siapa pemuda itu, Pak?”

”Dia bapakmu, Fik,” jawab Pak Ustadz dengan nada agak keras.

***

Hari sudah menjelang siang. Beberapa ibu bergegas menuju ke beberapa rumah duka dengan pakaian hitam-hitam. Tak berselang lama, sepuluh mayat pun diberangkatkan beriringan dan dikuburkan di tanah yang sama: tanah pancuran. (44)

Suroso dari Banyuurip, Kecamatan Pancur, Rembang. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini seniman di Garawiksa Institute

[1] Disalin dari karya Suroso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 26 Agustus 2018

Beri Nilai-Bintang!