Tanah Wakaf

Karya . Dikliping tanggal 27 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
“KAU jangan sembarangan! Tanah masjid ini semula memang tanah Ji Dulla, kaeh(1)-mu, tapi sudah diwakafkan untuk didirikan masjid!” Sarkap menuding ke wajah Sapiih. Ia berang.

SAPIIH tersenyum tenang, bahkan terkesan sinis. Ibarat petarung yang sudah memiliki keyakinan bakal menggenggam sebuah kemenangan.

“Pikir-pikirlah dulu, Piih! Masjid ini bukan hanya tempat salat, tetapi juga tempat belajar mengaji. Kita sama-sama pernah belajar mengaji di sini. Hampir tiap malam menginap, menimba air sebelum subuh untuk mengisi bak mandi, melakukan bersih-bersih setiap Jumat pagi. Apa kau lupa?” Munajid –yang dalam tiga tahun terakhir sering membantu Keh Burahwi mengajari anak-anak mengaji—ikut nimbrung.

“Sudah bertahun-tahun masjid ini dibangun. Kau tidak bisa merampas tanahnya seenak hatimu!” Muksar tak kalah gusar. Muksar mendapat amanah memegang uang masjid hasil dari kotak amal yang diletakkan di sudut ruang utama masjid.

Suasana semakin tegang, Kalebun, tetua kampung, tokoh masyarakat dan pengurus masjid yang berkumpul di serambi masjid itu tidak menyangka, Sapiih mengundang mereka di tempat itu hanya untuk menyatakan dirinya akan mengambil tanah masjid, tanah yang sudah diwakafkan. Sayang sekali, Keh Burahwi sedang sakit hingga tidak bisa hadir dalam pertemuan itu.

“Aku punya kuasa untuk mengambil tanah ini karena sertifikatnya masih atas nama koeh. Tidak ada ahli waris, kecuali aku, setelah eppak(2) meninggal.” Seraya menunjukkan map biru pudar, kalimat Sapiih ibarat ketukan palu hakim.

Semua terbungkam bisu. Mereka bertukar pandang sebentar. Kalebun(3) hanya diam tanpa menyela. Sapiih benar. Dengan memegang surat sertifikasi tanah—meski sudah didirikan masjid bertahun-tahun silam—Sapiih bisa merampasnya kapan pun ia mau.

Muksar menggeretakkan gigi. Sementara Sarkap menatap Sapiih dengan mata garang.

“Dulu, aku masih anak-anak dan belum tahu riwayat tanah ini,” sambung sapiih, “Bahkan, eppak tidak bercerita apa-apa. Baru sepulang dari Jogja aku tahu, masjid yang berdiri di atas tanah koeh. Tanah yang seharusnya diwariskan ke eppak dan….”

“Tapi koeh-mu dulu sudah mewakafkannya!” pangkas Sarkap keras.

“Siapa yang jadi saksi waktu tanah ini diwakafkan?” Sapiih menatap orang-orang yang ada di serambi itu bergantian, “Kalau memang ada yang bisa memberikan kesaksian, barangkali aku masih akan mempertimbangkan lagi untuk membongkar masjid ini.”

Saksi? Semua saling pandang. Lagi.

***

“Nafsu Yang Berbicara” karya Rizki Zakaria

DULU, Ji Dulla, koeh Sapiih, dikenal paling kaya di kampungnya. Ji Dulla sukses jadi penguasaha grusuk(4) setelah ia menjadi tangan kepercayaan orang Tionghoa sebagai tukang sortir di gudang tembakaunya.

Sejak jadi pengusaha grusuk, Ji Dulla mempekerjakan banyak orang di kampungnya, terutama para perempuan. Kekayaan Ji Dulla semakin melimpah. Sebelum ada orang kampung yang mampu menunaikan ibadah haji, Ji Dulla dan istrinya sudah mampu pergi ke tanah suci. Saat itu, perjalanan ke Tanah Haram masih menggunakan kapal laut dan menghabiskan waktu hingga 4 bulan pergi-pulang.
Tidak ada perempuan bergelang kaki perak di kampung itu, kecuali istri Ji Dulla. Tidak ada perempuan yang mengenakan kebaya dari kain beludru, kecuali istri Ji Dulla. Tidak ada yang mampu membelikan tusuk konde emas buat istrinya, kecuali Ji Dulla. Tanah Ji Dulla tersebar di mana-mana. Sebagian diwakafkan jadi tempat penguburan, tempat mendirikan masjid, dan tempat dibangunnya waduk (tempat penimbunan air demi mengantisipasi kekeringan diri kala musim kemarau). Hanya orang-orang tertentu yang sempat menyaksikan saat Ji Dulla menyatakan sebagian tanahnya diwakafkan.

“Tidak ada yang bisa jadi saksi atas wakafnya tanah masjid ini,” desah Sarkap. Ia mendongak, menatap langit-langit serambi masjid yang terbuat dariseng dan sudah mulai berkarat.

“Iya. Hampir tidak ada orang sepuh yang bisa ditanyai. Semua sudah meninggal. Kalaupun ada, seperti Ki Samulla, sudah pikun, tidak bisa ditanyai apa pun!” sahut Muksar, gundah.

Di serambi masjid bagian samping, suara anak-anak mengaji tertindih riuh anak-anak lain yang sedang belajar salat. Setiap malam Jumat, seperti malam ini, anak-anak yang sudah cukup besar mengaji Yasin serempak, dipimpin Keh Burahwi. Sementara yang masih kecil belajar salat pada Munajid. Sesekali, suara Munajid mengungguli suara anak-anak saat pembacaan Qunut dan Tahiyatul akhir. Rupanya, anak-anak belum menghafal bacaan-bacaan itu.

“Sapiih benar-benar gila!” umpat Sarkap.

“Kelakuan sarjana pengangguran memang sering tidak masuk akal!” timpal Muksar.

“Ya, iya! Coba pikir! Mau pegang cangkul tentu malu karena sudah sekolah tinggi-tinggi hingga ke luar Madura, pulangnya masak masih menggarap tegal! Tidak ada bedanya dengan yang putus sekolah kalau begitu. Akhirnya, ya mengorek-ngorek harta warisan yang sebenarnya sudah diwakafkan!”

“Kalau masjid ini jadi dibongkar, tentu harus membangun masjid baru di tempat lain.”

“Dari mana kita akan mendapatkan dana untuk membangun masjid baru?” tanya Sarkap.

“Minta sumbangan pada orang-orang yang bekerja di Malaysia. Bukankah banyak orang-orang sini yang bekerja di sana? Saudaramu juga kan?”

“Iya. Dua saudaraku ada di Malaysia. Satu di Kalimantan!”

“Nah! Nanti kau bisa minta saudara-saudaramu untuk menghubungi yang lain!”
Sarkap terdiam sejenak lalu mengangguk-angguk.

***

ORANG-ORANG kampung hanya mampu menatap geram ketika sejumlah kuli bangunan dari kampung tetangga suruhan Sapiih ramai-ramai membongkar bangunan masjid. Kubah, genting, kayu-kayu besar dan kecil sudah diturunkan. Teriakan demi teriakan saling memberi instruksi satu sama lain. Debu mengepul ketika dinding masjid pun mulai dirobohkan.

“Sapiih memang sinting! Gila!” umpat seorang ibu menyunggi ember dan menenteng cerek seraya meludah jijik menatap para pembongkar masjid. Tidak ada Sapiih di antara para kuli itu.

Di belakang ibu yang baru saja mengumpat, mendadak segerombolan anak menghambur memungut puing-puing kaca yang berserakan tak karuan di antara puing-puing genting dan patahan batu bata. Mereka sempat ribut saling rebut.

“Pulang! Pulang kalian! Jangan main di sini! Cepat pergi!” Ibu yang tadi meludah menghardik anak-anak sambil mengarahkan ranting kering yang dipungutnya di pinggir jalan.

Segera anak-anak berlari pergi menjauh. Si ibu melempar ranting sembarangan, lalu mengambil ember dan cerek yang tadi diletakkan di tepi jalan. Ia melanjutkan perjalanan sambil menggerutu tak jelas.
Sebagian warga yang memiliki keluarga bekerja di luar Madura hanya mampu menahan berang dalam hati tanpa berani menunjukkan sikap geram. Mereka merasa sungkan pada Sapiih. Soalnya, setiap kali ada telefon atau kiriman uang dari seberang, jatuh pada keluarga Sapiih. Di kampung itu, belum banyak orang yang memiliki pesawat telefon ataupun rekening bank.

**

DI serambi masjid, Munajid duduk menyepuh sepi. Tidak terdengar riuh anak-anak mengaji atau belajar salat. Masjid lengang dan terkesan angker karena lampu di dalam dimatikan demi menghemat listrik. Pemuda itu menatap jauh ke depan. Samar-samar, telinga Munajid menangkap nyanyian “Goyang Dumang” yang sedang booming. Tentu bersumber dari bangunan berlampu terang-benderang di depan sana, dari konter Sapiih yang hampir tiap malam ditongkrongi orang; muda-tua.

Konter Sapiih yang dibangun di atas tanah wakaf dan reruntuhan masjid itu nyaris tak pernah sepi. Meskipun masjid baru telah dibangun lebih megah dari sebelumnya, tidak semakmur dulu. Orang-orang lebih suka duduk-duduk di depan konter Sapiih daripada pergi ke masjid. Anak-anak lebih gemar main Playstation di konter Sapiih daripada pergi mengaji. Dengan menyisihkan uang jajan, mereka bisa main game berjam-jam.

Bagi Munajid, rasanya baru kemarin Sarkap mengumpat keras waktu Sapiih merampas tanah wakaf. Tadi siang, lelaki itu justru memamerkan fonsel dan lagu “Goyang Dumang” pada Munajid. Katanya, ia baru saja dikirimi empat fonsel oleh saudaranya di Malaysia. Masing-masing untuk istrinya, anaknya, ayahnya, dan dirinya sendiri.

“Aku banyak ngisi lagu-lagu baru di konter Sapiih!” ujar Sarkap, bangga.

Munajid hanya menanggapi dengan senyum kecil.

Rata-rata, orang yang memiliki sanak keluarga bekerja di luar Madura sudah memegang telefon genggam. Konter Sapiih kian ramai oleh orang-orang yang datang hendak mengisi pulsa dan lagu dangdut. ***
Madura, November 2014
Catatan:
1) Kaeh: kakek (Madura)
2) Eppak: ayah (Madura)
3) Kalebun: kepala desa
4) Grusuk: tembakau kering
Muna Masyari, tinggal di Pamekasa, Madura, Jawa Timur
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muna Masyari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 25 Januari 2015