Tanah

Karya . Dikliping tanggal 5 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

TANAH adalah daratan tempat berpijak, adalah butiran debu di musim kemarau, adalah tempat segala benih tumbuh, adalah tempat longsor karena pohon0pohon ditebang, adalah tempat yang hidup kembali mati, adalah tempat oleh Yang Maha Kuasa diberi pesan jangan main-main dengannya, sebab jika kalian nekad melakukannya, nyawa kalian akan digantung. Seperti gema gumam para jelata mengekalkan akal yang mulai menipis.

Di atas sepetak tanah warisan. Tabah, salah satu dari warga setempat, telah bertahun-tahun menjalankan kedai kopi untuk menghidupi istri dan kedua anaknya. Mereka hidup sederhana, tapi mereka bahagia, sampai satu saat segerombolan pejabat datang memberi kabar bahwa bangunan kedai kopinya harus pindah. Di sana akan dibangun gedung mewah yang akan dipakai para pejabat rapat. Istri Tabah bernama Siti, yang punya paras cantik dan bertubuh sintal menjadi gundah. Siti menangkap isyarat, tak lama lagi akan ada yang menimpa keluarganya. Dia berpesan kepada Tabah agar hati-hati bersikap. Jangan grusa-grusu, sebab menurut Siti, mereka adalah orang-orang tamak.

“Siti itu milik siapa?”

“Dia milik Tabah, Tuan.”

“Ambil paksa dan bawa ke sini!”

“Untuk apa Tuan? Bukankah urusan kita tanah, bukan Siti?”

Orang-orang berteriak. Bagaimana jika ada penjarahan? Bagaimana jika ada penggusuran paksa? Mereka semakin keras berteriak. Azab akan datang tanpa kompromi. Bagaimana jika orang berpangkat yang melakukan? Azab akan berlaku sepuluh kali lipat. Jika ada pejabat yang tahu kesepakatan ini dan tidak bertobat, nyawanya akan melayang-layang menjadi setan yang kerjanya minta belas kasihan sebagai balasan karena semasa hidupnya kerap menghina dan tak segan menginjak-injak harapan orang jelata yang meminta pengayoman, meminta relokasi sepantasnya, meminta ganti rugi sepadan.

TanahTanah adalah mantra yang jika salah menggunakannya, darah menjadi tumbal, menetes tiada henti. Tanah adalah azimat yang jika kau tak hati-hati memperlakukannya kepalamu akan terpenggal, menjadi gundul pringis yang menghantui turunanmu hingga 100 tahun generasi. Hai warga Sidoarjo, hai warga Tambak, hai warga Kendeng, hai warga Jebres, bersatulah. Sebab kekuatanmulah yang akan meremukkan jiwa para penjarah. Dengan gumam mereka menyebar. Tidak keras tapi tikamannya menelusup jantung serupa teluh.

Perampasan terhadap Siti terjadi di depan mata Tabah, tapi Siti tak mau harga dirinya terkoyak. Dia memilih mati daripada menjadi jarahan para bajingan. Jerit membelah angkasa. Siti gugur. Hening menyergap. Awan muram lalu gemuruh guntur menggetarkan jiwa. Mereka seperti merapal kata-kata Tanah adalah nyawa, adalah jiwa, adalah raga, adalah sikap, adalah napas leluhur sebagai perawat identitas. Tanah adalah harga diri yang tak tergantikan. Tabah berdiri. Matanya memerah. Tangan kirinya mengangkat gambar para keparat. Tangan kanannya menunjuk gambar itu. Lantang suara terdengar dari mulutnya. “Tannah adalah kepalamu! Tanah adalah ndhasmu! ❑-g

Yuditeha, tinggal di Karanganyar. Menulis puisi dan cerita. Kumcer terbarunya Cara Jitu Menjadi Munafik (Stiletto, 2018). Novel terbarunya Tjap (Basabasi, 2018). Aktif di Sastra Alit Surakarta dan Pendiri Kamar Kata Karanganyar.


[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 2 Desember 2018