Tanamat

Karya . Dikliping tanggal 2 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
HARI sudah petang. Kami duduk-duduk sekeluarga di beranda menunggu beduk berbuka ditabuh. Ibu sesekali bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur menyiapkan makanan, sementara kami anak-anak mendengarkan cerita ayah dengan penuh minat. Ayah memang pandai sekali bercerita. Tiap kali mendengar ceritanya kami selalu merasa hanyut dan rasanya tidak menginginkan apa-apa lagi. Rasa lapar dan haus yang sudah kami tanggungkan sejak tadi pagipun seolah lenyap entah ke mana. Maka agaknya, kini, muka kami yang pucat serta cara duduk kami yang bersandar sajalah yang menandakan kami tengah menjalankan ibadah puasa. 
Cerita ayah kali ini tidak berbeda dengan ceritanya pada hari kemarin dan kemarinnya lagi, yaitu  tentang pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa dalam membela bangsa, negara, tanah air atau agama. Cerita-cerita seperti itu memang sangat kami sukai, dan aku sendiri senantiasa pula merasa kagum serta bangga mendengar keperkasaan-keperkasaan para pahlawan dalam cerita-cerita ayah itu. Rasanya seakan-akan akulah yag menjadi pahlawan pembela rakyat kecil itu, yang menjadi orang gagah berani itu, tiap kali mendengar kisah-kisah mereka disampaikan ayah. Dan barangkali dari rasa kagumku terhadap mereka pulalah cita-citaku yang ingin menjadi tentara kalau sudah besar itu timbul. Namun dari situ juga kukira terbitnya rasa kurang sukaku kepada “tentara luar” (sebutan kami untuk mereka yang tergabung dalam PRRI – Pemerintah Revolusiner Republik Indonesia, di masa pergolakan dulu). Sebab, kurasa mereka amat berbeda dengan para pahlawan dalam cerita-cerita ayah itu. Mereka sering datang malam-malam dan minta makan pada orang kampung dan akan marah-marah kalau tidak diberi. Malah, tidak jarang pula mereka memukul atau membunuh sekalipun, seperti yang mereka perbuat terhadap Pak Kadir seminggu yang lalu, tanpa mau memahami bahwa di rumah kusir bendi itu benar-benar tidak ada nasi malam itu.
Ayah mengakhiri ceritanya tentang perang Badr di zaman Nabi Muhammad dengan meninggalkan kesan yang amat dalam di hatiku atas keperkasaan Hhamzah, paman Nabi yang gagah berani menghadapi kaum Quraisy yang kafir. Maka seperti pahlawan-pahlawan perang yang lain, Hamzah segera pula menyuburkan cita-citaku yang ingin menjadi tentara. 
“Besok akan Ayah ceritakan pula tentang perang Uhud jika kalian tetap berpuasa,” janji ayah.
Seorang kakakku menanyakan apakah perang Uhud itu lebih seru dari perang Badr.
“O, tentu,” jawab ayah.
Kakakku embali bertanya-tanya, namun saat itu aku tak dapat lagi memperhatikan jawaban ayah dengan baik. Perhatianku tiba-tiba sudah tertumpah ke jalan di depan rumah kami. Di sana kulihat berjalan beberapa “tentara pusat” (sebutan orang kampung kami untuk APRI – Angkatan Perang Republik Indonesia). Langkah mereka tegap. Dan mereka tampak gagah sekali dengan seragam hijaunya, dengan senapan mereka yang berbayonet, dan juga dengan topi baja mereka yang dibungkus tali-temali menyerupai jala. Seorang tentara mereka juga menggantungkan pistol di pinggangnya yang dibelit kopel. 
Sebelum ayah sempat mencegah, aku sudah lari ke halaman dan jalan dan terus mengikuti orang-orang yang kukagumi itu. Ternyata bukan hanya aku yang mengikuti mereka. Ada beberapa anak kampung yang lain, kawan-kawanku juga,yang mengikuti tentara-tentara itu dan aku segera bergabung dengan mereka. Sambil berjalan kudengar anak-anak itu berbisik, memperbincangkan mata-mata “tentara luar” yang tertangkap. Dan ketika aku menoleh ke tengah-engah “tentara pusat” yang gagah-gagah itu, kulihatlah orang yang dimaksud. Aku kenal orangnya. Gelarnya Sutan Ahmad, tetapi orang kampung bisa memanggilnya Tanamat.
“Dia mata-mata itu?” aku bertanya pada kawan-kawanku.
“Husy! Iya!” seorang kawanku berbisik.
Rasanya sulit kupercaya Tanamat itu menjadi mata-mata. Keluargaku tahu sekali siapa dia. Dia hanyalah orang kampung biasa dan agak bloon pula. Sering dia disuruh ayah mencari kau bakar dan ibu memberinya makan di dapur. Dia memang tak pernah mau makan di ruang makan, karena tempat itu dia bilang tidak pantas untuk orang seperti dia.
Pekerjaan tetap Tanamat itu sebetulnya menggembalakan kerbau Haji Yunus. Kerbau-kerbau itu biasanya ia lepaskan ke pingir hutan pagi-pagi, dan sore hari dijemputnya untuk dimandikan dan dikandangkan. Di kampung kami cara menggembalakan kerbau memang seperti itu. Atau sering pula para penggembala menunggu kerbau-kerbau itu merumput atau berkubang sepanjang hari, dan untuk perintang-rintang waktu merekapun meniup suling.
Jadi bagaimana pula Tanamat itu, dapat dikatakan mata-mata “tentara luar”? Atau, apakah ia pernah bertemu dengan orang-orang PRRI di hutan penggembalaan dan mereka kemudian menjadikan Tanamat mata-mata? Ah, mungkinkah mereka menjadikan orang yang kebodoh-bodohan itu mata-mata?
Teka-teki itu belum juga dapat kupecahkan, sementara barisan tentara yang menawan Tanamat kulihat sudah berhenti di Jembatan Lambah, tidak begitu jauh dari rumah kami. Sebagian tentara itu duduk di tembok jembatan, dan di tembok seberang duduk pula Tanamat. Pecinya yang kumal dan tak karuan lagi warnanya seolah terpuruk begitu saja di kepalanya. Di hadapan penggembala kerbau itu berdiri tentara berpistol tadi dan agak di sebelah kiri Tanamat sejajar dengan tentara berpistol, tegak pula seorang tentara dengan senapan teracung. Mereka bercakap-cakap dan aku mendengar Tanamat berkali-kali mengatakan “fitnah” dan “tidak”, namun tentara berpistol itu terus saja bicara. Suaranya lunak, tapi kemudian berubah menjadi bentakan-bentakan, membuat Tanamat menunduk.
Rasanya ada yang memilukan hatiku melihat Tanamat dalam keadaan demikian. Lebih-lebih ketika dia suatu saat mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahku. Kami bertatap sejenak dan aku melihat mata Tanamat begitu pasrah, persis mata kerbau-kerbau Haji Yunus yang digembalakannya.
“Apa mungkin dia mata-mata?” aku berbisik pada diri sendiri.
“Betul,” seorang kawanku menjawab dengan bisikan pula.
“Dari siapakau tahu?”
“Orang-orang mengatakan begitu. Dan Sulan yang melaporkan pada tentara-tentara itu.”
“Sulan yang dulu bertengkar dengan Tanamat karena ladangnya diinjak-injak kerbau Haji Yunus?”
“Ya.”
Aku memandang lagi ke depan. Senja mulai menua, sehinga pemandangan di jembatan itu tidak lagi seterang tadi. Saat itu pula aku sadar bahwa di sekitar kami tidak tampak orang-orang dewasa, kecuali Tanamat dan tentara-tentara itu. Perasaanku membisikkan bahwa tentulah bukan karena waktu berbuka yang hampir tiba yang membuat orang-orang dewasa tidak ada di sana. Ada memang terasa sesuatu yang mencekam, yang tidak dapat kujelaskan namun amat bisa dirasakan. 
Tanamat kembali menunduk dan tentara berpistol itu semakin gencar membentak-bentak. Ia juga memukul-mukulkan tongkat kecil pendek yang sedari tadi dipegangnya ke peci Tanamat, sehingga peci penggembala kerbau itu kian gembos di sana-sini. Aku tak tahan rasanya melihat semua itu, aku berbalik dan berlari kenceng-kencang ke rumah.
Agaknya belum sampai dua puluh langkah aku berlari ketika letusan itu terdengar. Keras sekali bunyinya. Dan langkahku macet seketika. Waktu kulihat ke belakang, kusaksikan kawan-kawan lari berserabutan bagai kerumunan semut disiram air.
“Mereka menembak Tanamat!” seorang kawanku berkata terengah-engah dan terus juga berlari.
“Kepala Tanamat pecah!” Kata yang lain. Napasnya juga terengah-engah, namun dia tetap pula berlari. Sementara aku masih tertegak di tempatku berdiri. Di kejauhan, dalam keremangan senja kulihat sesosok tubuh tergeletak dekat tembok jembatan di jalan raya kampung kami yang berumput dan berbatu-batu. Tentara-tentara yang tadi duduk di tembok jembatan tampak mondar-mandir. Mereka seperti panik. Dua orang di antara mereka memegang kawanannya di kanan-kiri. lalu seorang yang lain, agaknya yang berpistol tadi, berteriak-teriak menyuruh orang kampung keluar dari rumah.
Suaranya yang menggema dalam keremangan senja itulah yang menyadarkanku. Kawan-kawanku tak ada lagi, Maka aku berlari pula kencang-kencang. Ayah, ibu dan saudara-saudaraku kudapati di halaman rumah. Mereka tampak cemas, terutama ibu.
“Mereka menembak Tanamat!” laporku terengah-engah,sebelum ayah dan ibu bertanya-tanya.
“Tanamat?”
“Ya, tentara-tentara itu! Mereka menembak kepala Tanamat hingga pecah!”
“Astagfirullah.” Ayah dan ibu mengucap bersamaan. “Mengapa sampai begitu?”
“Entah. Tapi kawan-kawanku bilang Sulan melaporkan Tanamat sebagai mata-mata.”
“Sulan!” ayah mendesis dan menggeleng-geleng. Sejenak kemudian diajaknya kami masuk ke rumah. Waktu berbuka memang sudah tiba, walau tak terdengar bunyi beduk ditabuh orang dari Masjid Bansa. Tetapi kami telah kehilangan nafsu makan. Ayah hanya meneguk minumannya sedikit, lalu buru-buru salat Magrib dan dengan tergesa-gesa ke luar rumah. “Aku lihat dulu mayat Tanamat itu,” katanya pada ibu. Ibu berpesan supaya ayah berhati-hati sementara kami anak-anak terdiam saja dipukau sesuatu yang terasa asing serta mencekam.
Hampir tengah malam baru ayah kembali membawa berita bahwa Tanamat sebetulnya ditembak “tentara luar” saat diinterogasi “tentara pusat”. Seorang “tentara pusat” juga diserempet peluru, tambah ayah. “Komandan tentara itu tadi yang menceritakannya kepada kami,” ujar ayah pula. 
Anehnya, berita yang disampaikan ayah itu tidak lagi menarik perhatianku. Saat itu justru mata Tanamat yang pasrah seperti mata kerbau-kerbau Haji Yunus yang digembalakannyalah yang terbayang olehku. Mata yang tidak kuasa melawan, mata yang rela diapa pun juga. Dan itu melahirkan sesuatu yang amat lain serta asing di hatiku. 
Jakarta, 2 Agustus 1987. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adek Alwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 6 September 1987