Tanda Baca

Karya . Dikliping tanggal 25 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

🙁

sebuah
tiang lampu berdiri
di
depan rumah kayu
kepalanya
tertunduk lesu
meningkahi
suami
yang
cemas menunggu
di
mulut pintu
lampu
akan menyala
tersenyum
lugu
seterang
gigi dalam iklan pastagigi
yang
putihnya palsu
nanti,
tentu ketika istrinya
pulang
dari balik petang
yang
membawakannya
oleh-oleh:
sekeranjang bimbang,
sebungkus
emosi yang gampang
meledak
sekehendak hati,
dan
sebuah buku baru
berisi
kiat memadamkan cahaya
dan
merubuhkan tiang lampu
Rumah
Mertua, 2016

🙂

sampaikan
kabar bahagia
kepada
perjaka
yang
punya debar rahasia
dia
tak butuh bertanya
apakah
sepasang mata
terpejam
pada tanda titikdua
:
ditahannya luap laut luka
ditampungnya
sungai tawa
lalu
berjumpa di muar
yang
berdiam di balik payudara
lama
tuna sebatang rusuk bengkoknya
sampaikan
sebuah nama
tak
perlu ditanya kelaminnya
dia
akan lengkungkan tutupkurung
ke
bibirnya yang lama cekung
ke
pasang matanya yang murung
:
nama itu berasal dari jiwanya sendiri
pemiliknya
kepadanya juga mencari
separuhnya
napas separuhnya lagi ruh
bila
kabar tersampaikan sungguh
maka
gulita lumpuh
lalu
terbit cahaya subuh.
Rumah
Mertua, 2016

:-S

lampu-lampu
menyala
seisi
kota lupa
langit
gulita
padahal
masih carut
negeri
kita
siang-malam
sama
pekatnya
mengapa
tawa
di
pesta-pesta
sedang
luka
nganga
tak
jua alpa

kau juga lupa
derita
bir
dan bibirmu
sama
berbusa
Rumah
Mertua, 2016

<3

kerinduanmu
menjelma angka-angka
yang
dikirimkan sinyal seolah melayang di udara
dan
kuterima di mesin-mesin tunai
rindu
macam apa yang kau semai
aku
tak mampu membalas angka dengan angka
melainkan
kusediakan kulah bagi rintik le-
mah
hujan senja
kutampung
hingga tak terasa mata merah saga
bunga-bunga
mengapung ikan-ikan bere-
nang
di dalamnya
dan
wajahmu tak ubahnya seekor katak
meloncat
ke dalam benak
kerinduanmu
yang berupa nominal
mengalahkan
hatiku yang lautan
tak
terhitung berat tak terukur kedalaman
dengan
angka-angka
tetapi
tak bisa membeli pulsa
sebagai
bekal menyapa
pagi,
siang, sore, malam
:
’sayang sedang apa?‘
hanya
pesan kukirimkan
lewat
udara yang sama
sinyal
yang sama,
ponsel
jadulku menyapa
ponsel
pintarmu dengan tanda <3
hatiku
memberi jarak
dan
hatimu yang mengukur
Rumah
Mertua, 2016

:-*

ciumanku,
bibir Khidir di kening Musa
sebelum
berpisah, kepadamu
ciumanku
takzim sebenarnya.
aku
berkata:
”berangkatlah,
kekasih
kau
kini mengerti
hati
punya sepasang mata
kita
bisa saling berpandangan
dari
jendela-jendela jiwa.
jarak
kita hanya angka
sedangkan
cinta
lebih
dekat daripada
urat
leher kita sendiri
ibarat
detakku dan jantungmu
berdiam
pada dada yang sama.“
lalu
kau berangkat
tatapanku
mata
Khidir menatap
langkahmu
sepasang
kaki Musa yang mulai berangkat
membawa
keyakinan kuat.
aku
berkata (dalam hati):
”ciumanku
sebenarnya tidaklah abadi
tetapi
jejak di keningmu
tak
pernah fana.“
Rumah Mertua, 2016-09-28

Catatan Admin Klipingsastra:
Judul “Tanda Baca” pada halaman ini sejatinya adalah hanya sebagai pengganti di halaman online, pasalnya judul asli dari pengarang, yaitu tanda 🙁 🙂 :-S <3 dan :-* tak bisa diinput sehubungan kendala teknis. Mohon maklum, dan terima kasih.

Raedu Basha, lahir di Bilapora, Sumenep, Madura, 3 Juni 1988. Pemred Penerbit Ganding Pustaka dan mahasiswa S2 Antropologi UGM Jogjakarta. Karyanya antara lain. Matapangara (sepilihan puisi, 2014)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raedu Basha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 25 September 2016