Tangga ke Bulan

Karya . Dikliping tanggal 27 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
DARI catatan usang yang akhirnya bisa kubaca, kuketahui kalau bulan ternyata pernah begitu dekat dengan bumi. Tak ada yang tahu kenapa bisa begitu. Para peneliti hanya menyimpulkan kalau gaya gravitasi bumi terhadap bulan begitu kuat saat itu sehingga dapat menariknya mendekat begitu saja. 
Aku sebenarnya ingin mencari tahu kenapa ini bisa terjadi, tetapi selain catatan ini, aku tak menemukan apa-apa lagi. Aku malah menemukan kisah lain di balik kejadian itu. Kisah tentang seorang laki-laki yang mencoba membuat tangga ke bulan.
Saat itu, orang-orang masih menulis harapan terdalam mereka dengan berbagai cara.Ada yang menulis pesan dalam botol dan melemparnya ke lautan atau melarungkannya ke sungai. Namun, semakin ke sini, mereka lebih suka menulisnya di kertas yang ditautkan pada sebuah lampion terbang, lalu dibiarkan terbawa angin.
Kebiasaan ini ternyata tak lepas dari perhatian laki-laki itu.Mungkin karena ia seorang peneliti.Aku menambahinya, peneliti yang kesepian. Ia hidup seorang diri di rumah kayu peninggalan orangtuanya. Hanya berteman seekor burung nuri yang diberi nama Leonardo, seekor anjing yang diberi nama Galileo, dan seekor tikus gemuk yang ia namai Archimedes.
Orang-orang di sekitarnya selalu mengira hidupnya menderita. Namun, ia tak pernah merasa seperti itu. Ia menikmati hidupnya. Dulu ia pernah menikah, tapi perempuan itu ternyata tak betah bersamanya karena ia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Setahun kemudian, ia meminta cerai.
Ia sebenarnya mencintai perempuan itu, tapi ia bisa mengerti keinginan itu.Sejak itulah ia memutuskan untuk hidup sendiri. Sampai suatu hari, saat langit sangat cerah hingga bulan terasa lebih dekat lagi daripada biasanya, ia melihat tumpukan-tumpukan kertas di sana.
Ia berpikir, sudah puluhan tahun orang terus mengirim pesan ke sana.Bahkan, sekarang sudah ada tradisi untuk menerbangkan pesan itu secara bersama-sama dalam sebuah festival atau dalam sebuah perayaan kota. Tak mengherankan bila kemudian tumpukan pesan itu begitu mudah terlihat di beberapa sudut bulan. Mungkin bila pesan-pesan itu ada di bumi, akan segera hancur oleh kelembapan. Namun, tidak di sana. Pesanpesan itu tetap seperti sediakala, atau ia saja yang tak bisa melihat bagian-bagian yang hancur?
Laki-laki itu tak bisa menjawab. Satu pikiran kemudian tepercik di otaknya. Mungkin ini merupakan bagian dari jiwanya sebagai peneliti.Tiba-tiba ia ingin tahu apa isi pesan-pesan itu?
Keingintahuan ini terus tumbuh. Ia selalu memikirkan isi pesan-pesan itu. Ini benar-benar mengganggunya. Seperti biasa, bila keadaan seperti ini sudah tak bisa lagi dielakkan, ia akan membuat proposal untuk melakukan penelitian tentang itu. Ia akan memetakan harapan-harapan masyarakat beberapa tahun terakhir ini hingga kelak para penguasa kota dan para pengusaha dapat menjadikannya dasar untuk menentukan kebijakan.
Untuk mengawali penelitian ini tentu ia harus membawa pesan-pesan itu kembali ke bumi. Maka, ia membutuhkan sebuah tangga yang tinggi karena saat itu tentu pesawat atau segala sesuatu yang mampu membawa manusia terbang, belum diciptakan.
Ia kemudian mengajukan proposal ke penguasa kota. Tentu saja proposal itu ditolak. Mereka menganggap itu ide gila yang tak mungkin dijalankan.
Di rumah, ia hanya bisa mengeluh berulang kali, “Aku sedih, rencana ini tak berhasil.“
“Tak berhasil. Tak berhasil…“ Leonardo dan si nuri segera menimpalinya.
Disambung gonggongan Galileo, si anjing, “Guk guk guuuk…“ juga cicitan Archimedes, si tikus, “Cit cit ciiit…“
Namun, laki-laki itu tak putus asa. Ia mencoba mengajukan proposalnya pada beberapa pengusaha kaya di kotanya. Itu pun gagal. Ia tetap bersemangat, kembali mencari pengusaha lainnya di kota-kota yang ada di sekitarnya. Namun, hasilnya sama. Tak ada yang tertarik, sampai kemudian seorang yang nampaknya kasihan melihat upayanya, bicara padanya, “Ayolah, kalau kau bisa berpikir cerdas untuk membuat tangga ke bulan, kau juga harusnya bisa tahu kalau orang-orang yang kau mintai dana itu, tak akan memberimu apa-apa.“
Laki-laki itu tertegun. Sebenarnya ia pernah memikirkan soal itu. Tangga ke bulan, tentu ide yang gila. Semula ia sendiri ragu.
Namun, ia tetap menjalani ide itu karena ia masih berharap ada orang yang akan mendukung. Harapan, walau kecil, layak diupayakan.
“Kenapa kau tak mengupayakan sendiri?“ kata orang itu lagi. “Kau pernah dengar bukan, kalau hutan di ujung utara sana banyak pohon-pohon tinggi?
Orang bilang pohon-pohon itu seperti menyentuh langit. Kau bisa membuat tangga dari pohon-pohon itu.“
Laki-laki itu terdiam. Namun, ia tak henti memikirkan ucapan orang itu. Ia merasa itu masuk akal. Maka, di hari yang dirasanya tepat, ia meninggalkan rumah tuanya. Ia hanya membawa beberapa barang-barangnya bersama Leonardo, Galileo, barang-barangnya bersama Leonardo, Galileo, dan Archimedes.
Ia kemudian berjalan ke arah utara. Ini perjalanan yang sangat berat. Hutan utara begitu jauh. Tak ada permukiman di dekat hutan itu.Rutenya berliku dengan tanjakan-tanjakan terjal yang mengerikan. Sungguh, ini perjalanan paling berat yang pernah dilakukan manusia.
Akhirnya ia tiba juga di hutan itu. Hutan gelap yang dipenuhi suara-suara hewan liar di kejauhan. Tanpa membuang waktu, ia segera memulai pekerjaannya. Sebelumnya, ia cukup bersyukur ternyata hutan yang didatanginya ada di dataran tinggi. Dari sini, bulan terlihat semakin dekat. Bahkan, sewaktu ia mencoba menaiki sebuah pohon tinggi, ia seperti bisa meraup gumpalan awan dengan tangannya. Ini membuatnya semakin bersemangat. Setelah membuat sebuah rumah kecil dari kayu sebagai tempat tinggalnya, ia memulai pekerjaannya.
Langkah pertama ialah mencari pohon tertinggi. Ia langsung menemukan pohon itu tepat di tengah hutan. Pohon itu berdiameter sangat besar, dan saat ia mencoba menengadah, ia tak bisa melihat puncaknya. Bahkan, saat ia kemudian naik, dengan pijakan-pijakan yang dibuat sebelumnya, ia sama sekali tak lagi bisa mendengar suara Galileo yang sebelumnya terus menggonggong. Langkah kedua ialah memotong-motong pohon lain untuk membuat tangga lanjutan.
Ini pekerjaan paling berat. Ia harus menggergaji ratusan pohon dan mengangkatnya ke atas satu demi satu dengan bantuan tali yang diikatkan seperti timba pada sebuah sumur.
Tak terasa, setelah menjalani langkah kedua, tahun-tahun pun berlalu. Kumis dan jenggot lakilaki itu telah tumbuh lebat. Ia merasa begitu lelah.
“Ternyata pekerjaan ini sangat melelahkan…“
“Sangat melelahkan…sangat melelahkan…“
“Guk guk guuuk…“
Namun, tak terdengar cicitan Archimedes. Baru disadarinya kalau tikus itu ternyata sudah mati.
Pekerjaan berlanjut. Langkah ketiga ialah menyambung tangga-tangga yang sudah dibuat sebelumnya ke pohon besar itu. Ini sebenarnya pekerjaan yang tak bisa dilakukan seorang diri, tapi laki-laki itu bisa melakukannya. Dengan otaknya yang cerdas, ia bisa mengakali semua kesulitan yang muncul.
Pada akhirnya, ia benar-benar bisa membuat tangga yang menjulang melewati awan.
Ia nampak begitu puas, “Sebentar lagi semuanya selesai.“
“Semuanya selesai. Semuanya selesai…“ timpal Leonardo.
Kali ini tak ada suara gonggongan Galileo yang menyambung. Anjing itu rupanya telah mati menyusul Archimedes.
Laki-laki itu terus bekerja keras, bertahuntahun ia tak berhenti barang sehari pun. Hingga akhirnya ia berhasil membuat tangga tertinggi menuju bulan. Dari situ tumpukan pesan-pesan itu sudah tampak di seluruh pelosok bulan.
Ia tersenyum penuh sukacita, “Akhirnya pekerjaan ini selesai juga,“ gumamnya.
Kali ini tak ada lagi sahutan dari Leonardo.Burung nurinya ternyata sudah mati.
Ini membuat ia terdiam cukup lama. Kini ia benar-benar merasa sendiri. Baru disadarinya kalau ia ternyata telah begitu menua. Kulitnya sudah keriput seluruhnya dan langkahlangkahnya telah gemetar.
Namun, pekerjaan ini tak bisa selesai sampai di sini. Bukankah ini hanya langkah awal untuk mengambil pesan-pesan itu? Dengan kaki gemetar, ia mulai melangkah ke arah pohon tinggi itu. Ia menaiki satu persatu pijakan yang dibuatnya sejak dulu. Ia melakukannya dengan sangat lambat.
Bahkan, ketika sampai pada sambungan tangga pertama, ia harus beristirahat berapa lama. Saat ia mulai mencoba mengangkat kakinya ke tangga itu, ia seperti tak bisa melakukannya. Kakinya begitu kaku. Sekali ia terus memaksakannya, yang terjadi ia malah jatuh terjerembap. Selalu seperti itu.
***
Dari catatan usang yang akhirnya bisa kubaca, kisah laki-laki yang membuat tangga ke bulan itu nyaris tak pernah tersebar hingga ratusan tahun kemudian. Namun, saat orang-orang mulai merambah hutan di ujung utara, mereka menemukan sebuah pohon besar yang memiliki pijakan-pijakan ke puncaknya. Di situlah mereka menemukan sebuah kerangka manusia yang telah membatu. Di situ pula mereka menemukan sebuah tangga yang begitu tinggi menuju angkasa.
Orang-orang tak pernah mengerti bagaimana tangga kayu itu bisa bertahan selama itu, sama seperti mereka tak mengerti untuk apa tangga itu dibuat. Karena saat itu, bulan tak lagi sedekat dulu. Ia telah menjauh seperti sekarang. Mungkin gravitasi bumi yang dulu mampu menariknya dengan kuat sudah tak ada lagi… 
Yudhi Herwibowo. Aktif di Buletin Sastra Pawon. Buku terbarunya, Halaman Terakhir, novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 26 Juli 2015