Tapa di Takari – Sabana – Tepi Tahun, Tepi Daun – Kain Kenangan Ibu – Setelah Kembang Api

Karya . Dikliping tanggal 3 Januari 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Tapa di Takari

Seperti timbunan pasir di bibir sungai,
kau menunggu apakah panas 40 hari
akan membautmu legam–atau justru
berkilat laksana kristal. Tapi kadang kau
luput menafsir kalau angin tak selamanya 
ramah. Angin yang teramat marah tetntu
sanggup merenggutmu pergi ke tempat jauh,
bahkan sebelum matahari tergelincir
diambang senja. Takdir, barangkali,
semacam permainan melempar
koin logam–saat waktu berputar,
siapa yang tahu mana yang lebih berguna:
sabar menunggu atau sadar memburu
kemungkinan?
(Takari, 2015)

Sabana

Di sabana,
kami gembalakan
hati yang patah
mata yang terbakar matahari
bibir yang terpapar angin pesisir
Lalu lontar mengisap peluh kami
hingga tetes tuak terakhir
Tapi entah kenapa,
kami tak kunjung mabuk–

kami tak kunjung tumbang!
Sampai karang kabarkan ulang

apa yang kami lupa:
“Sabana itu ibumu,
darah dari darahmu,
nafas dari nafasmu.”
El Tari, 2015)

Tepi Tahun, Tepi Daun

Semilit angin citrus
Dedaun tunggal serupa angka
yang bersalin rupa di lembar kalender
Hitam hiatus, merah meyela;
warna menjadi siklus
Di tepi tahun kau lepas suka-duka
Begitu saja, tanpa ratap tanpa harap–
serupa embun yang menetes’di tepi daun–begitu sahaja–
tanpa rencana tanpa upaya
(Bello, 2015)

Kain Kenangan Ibu 

/1/
Pada mulanya sabda. Sebutir buah merah
belum habis dikunyah. Tiba-tiba ibu telanjang
Tak ada terik, hanya sorot mata cemas
saat terlihat betapa cepat dosa beranak-pinak
/2/
Di beranda, ibu menyulam kenangan
Renda dan gulungan sutera
Jadi cerita tenntang belantara belukar
dan pohon dengan sulur-sulur cahaya
Kudengar ia berujar, “Dosa itu, Nak, bisa ular.
Mematikan, tapi bukan tanpa penawar.”
(Fataluli, 2014)

Setelah Kembang Api

Jembatan dan serabut api
Labirin cermin
Reranting kering tumbuh
di atas pecahan kaca
Angin dingin. Bulan tembaga
Sebuah lakon dengan alur adegan
yang tak pernah bisa kau duga
(Bello, 2015)


A Nabil Wibisana, bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, menulis esai dan puisi, karyanya telah tersisa di sejumlah media massa lokal dan nasional. Kini tinggal dan bekerja di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Nabil Wibisana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 3 Januari 2016