Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (4)

Karya . Dikliping tanggal 1 Februari 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
LING Ling tidak seapes Ita memang, meski ia tetap saja jauh dari nasib baik. Ia termasuk satu dari deretan gadis Tionghoa korban keruushan 1998. “Di tengah pusaran konsentrasi massa yang beringas, saya diperkosa beramai-ramai,” tulisnya dalam catatan harian.
Dan wajah cantiknya lebam mendapat beberapa kali tamparan para durjana yang semena-mena memerkosanya disulut amuk birahi, memantik duka menggenapkan luka. Hal ini membuat Ling Ling beberapa kali tantrum, menjambak rambut, menangis histeris berkelosotan di lantai setiap teringat peristiwa biadab itu.
“Setiap saya tantrum, ada dorongan aneh di mana saya merasa asing dan tidak mengenali diri sendiri. Kalau sudah begitu, saya ambil kertas dan pastel. Saya emlukis laut yang bergelora. Lalu datang pasang, dan aku menyelam untuk memasrahkan cintaku. Cinta yang mengolok-olok nasibku. Nasib yang semena-mena mempecundangi harapan. Harapan beranak ombak tersangkut ranting cahaya. Cahaya magendta yang menghapus peluh berahiku.”
Lalu Ling Ling pun mengandung.
“Siapa tahu matahari seorang yang buta?” kata Victor Hugo dalam novel laris Les MisErables. “Matahari bisa begitu terang, tapi begitu jauh dan tak peduli kesengsaraan manusia.”
Siapa yang tak menangis, tak melihat. Dengan kalimat masyhur itu seolah sang novelis mengajak kita berurai airmata, dan melihat, dengan sensitif, ke sekitar. Betapa buasnya manusia dalam setiap amuk massa, juga akibat yang ditimbulkan sesudahnya.
“Aku selalu tantrum setiap teringat betapa lusuhnya nasibku pada kerusuhan Mei 98 itu. Aku ambil kertas dan pastel. Aku melukis laut yang tenang. Ketenangan yang jinak. Dan aku terkejut, tiba-tiba menyembul ratusan piranha mengelilingi diriku. Piranha buas tanpa kompromi menggerogoti lengan pahaku. Darah berceceran mengubah laut menjadi nila. Nila mendidih menggosongkan karang. Karang tersangkut ranting cahaya keemasan. Cahaya yang menyilaukan airmataku, membuat pepat mripatku, membuatku terseret derasnya ombak sembari menjambak-jambaki rambut.”
Lalu Ling Ling pun mengandung.
“Perutku makin menggelembung,” kata Ling Ling
Dan impian, seperti biasanya, selalu bersitatap dengan kenyataan. Dulu Ling Ling sering bermimpi, setidaknya dalam lamunan manisnya, betapa ia akan bermanja-manja menggelondot di bahu kekar Mas Tom-nya sembari mengelis-elus perut buncitnya. Lalu ia akan minta apa saja, bila perlu yang agak musykil dan sulit, lalu Mas Tom hukumnya ‘wajib’ memenuhi segala permintaan, bukankah smeua tadi ‘atas nama’ jabang bayi dalam kandungannya?
“Aduuuuh, betapa segarnya mangga ranum.” Ling Ling menelan ludah.
Ia benar nyidam. Tapi, Mas Tom, sang kekasih berdarah nila itu, entah menghilang ke mana? Kini, tak hanya nyidam mangga, laparnya pun tak tertahankan. Ling Ling tersaruk-saruk di tengah sorot matahari  yang tepat di atas ubun-ubunnya. Lapar perut, lapar batin.
Toh Ling Ling menanti kelahiran anak pertamanya(yang sunggih tidak ia harapkan keberadaannya itu) dengan bahagia. Sang calon bayi ini dalam pewayangan ibarat Karna, tokoh sakti dari kubu Kurawa yang tidak jelas siapa bapak biologisnya. Maka jawara gagah itu juga disebut Karna Lembu Peteng, yang dijadikan bahan olok-olok para seterunya, tapi diterima sang pendekar sidik permana ini dengan berbesar hati.
Ling Ling juga berbesar hati meski ia paham, bahwa kelak ia akan kebingungan saat sang begejil bertanya siapa bapaknya. Tapi sudahlah. Itu perkara besok. Yang sekarang dibutuhkan ketabahan menghadapi persalinan. Ketabahan melewati masa kehamilan yang (puji Tuhan) berjalan normal, tak ada sesuatu yang mencemaskan di hari H. Bukankah ia sudah berkali-kali memastikan kesehatan janinnya lewat USG 4dimensi atas biaya adik mamahnya di Jakarta yang ekonominya juga pas-pasan. Dokter pun mantap mengatakan: “everything’s okey.” Proses melahirkan layaknya ibu-ibu yang lain –diawali buka satu– semuanya lancar. Dengan sedikit menahan nyeri, Ling Ling berdoa khusuk. Semoga kelahiran sang jabang bayi ini akan menggenapkan kebahagiaannya kendati dalam kondisi single parent. Amin.
Ke mana Mas Tom selama ini?
“Saya lepaskan dia. Bukan berarti menyerah. Terkadang kita memang harus berhenti peduli pada seseorang, bukan membencinya, tapi karena dia tidak menyadari kepedulian kita.” Ling Ling ngungun menatap di kejauhan. Ada embun di lentik pelupuknya.
“Terkadang kita memilih meninggalkan seseorang bukan karena berhenti mencintai, namun karena kita tidak lagi dihargai. Perkosaan anarkis itu bukan keinginan saya, terlebih saya tak kuasa menampiknya.” Tak ada hentakan emosi dalam suaranya.
Sudah jarang bertemu Mas Tom?
“Terkadang lebih baik menjauh dari seseorang yang kita cintai, bukan karena berhenti mencintai, tapi kita harus melindungi diri dari luka. Menyakitkan sekali ketika kita selalu mengingat seseorang di setiap  harimu, tetapi dia menyadari kehadiran kita hanya di saat dia perlu sesuatu.” Ling Ling menunduk kelu. Tapi hanya sebentar.
“Sudahlah. Dia menghampiri dirimu sekadar mengingatkan bahwa yang terbaik telah menanti di depan. Dan bagiku, sekarang ini, tidak ada yang lebih baik lagi kecuali menanti datangnya bayi di perutku,” sambunya tegar.
Tahap pertama persalinan sudah dimulai. Ling Ling merasa sangat mulas.
Kelahiran bayi senantiasa dibagi (dengan sendirinya oleh alam dan secara resmi oleh ilmu pengetahuan) dalam beberapa tahap. Sesi pertama, proses persiapan persalinan dengan fase awal, aktif dan transisi. Dalam tahap ini terjadi dilatasi mulut rahim sampai penuh. Selanjutnya, sesi kedua adalah kelahiran sampai bayi keluar dengan selamat. Muka Ling mandi peluh. Lama ia harus mengejan berkali-kali. Tahap ketiga, pengeluaran plasenta. Sesi pungkasan, pasca lahir, yakni observasi terhadap ibu selama satu jam usai plasenta keluar.
Namun, pasca melahirkan Ling Ling tak kunjung dapat melihat sang begejil. Pada hari kedua, naluri Ling Ling sebagai ibu merasakan ada sesuati yang tidak beres. Ia mendesak petugas medis mengantarkan anaknya ke kamar. Tidak seberapa lama, seornag dokter berkacamata tebal seperti toples, datang bersama bidan berseragam putih menenteng lembar catatan.
“Maaf, ibu, ini sesuatu yang sulit saya ucapkan, tapi harus saya katakan kepada ibu.” Dokter yang ramah itu menelan ludah beberapa kali, kemudian melanjutkan dengan lirih. “Anak ibu kemungkinan suspect down syndrome.”

Blarrr. Dunia seperti berputar keras. Perasaannya remuk. Dadanya dipenuhi kebisingan oleh sunyi yang beku. Ling Ling ingat tatkala kuliah di Dominican University pernah mendnegar down syndrome. “Tapi sungguh tidak saya sangka akan menimpa anakku,” ujarnya sendat setelah hening beberapa saat. [] 

(bersambung)-e

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 31 Januari 2015