Telepon Keluarga

Karya . Dikliping tanggal 26 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
TELEPON di rumah itu sudah lama tak berdering. Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun. Namun, benda itu tetap berada di atas meja bulat dengan alas kain putih yang selalu bersih. Persis di samping telepon, sebuah buku catatan pesan dengan sampul hitam dibiarkan terbuka, seolah-olah telepon itu akan segera berbunyi dan ada berita penting yang harus dicatat dengan tergesa. Dan orang yang paling suka melakukannya –mencatat setiap pesan yang disampaikan lewat telepon itu– adalah aku.
Di rumah ini aku hanya seorang anak angkat. Tentang itu memang sama sekali tidak disembunyikan oleh siapa pun. Itulah yang kusukai dari keluarga ini. Keterbukaan (meski tak banyak orang siap dengan itu). Mereka tak menyembunyikan apapun dariku. Saat aku berusia sembilan tahun, Nenek Ce –begitu kami semua memanggilnya– mengajakku bicara di bawah pohon yang bibitnya, paman beli di luar negeri saat ia bertugas sebagai diplomat dan pohon itu tentu mahal sekali dan di sanalah nenek Ce memberi tahu dari mana asal-usulku (di bawah pohon yang mahal itu!) –dan hari ini setelah kupikir-pikir, jangankan manusia, setiap benda saja perlu asal-usul dan Nenek Ce sama sekali tidak bersalah telah melakukannya.
Ilustrasi oleh Bagus
Hal pertama yang dikatakan Nenek Ce: kamu bukan anak…—ia menyebut salah seorang anaknya, lalu salah seorang yang lain dan lain lagi yang dulu kukira mereka semua adalah orang tuaku sebab aku memang memanggil semua paman dan bibi-bibiku itu dengan sebutan Papa, Ayah, Daddy, Papi, Mama, Ibu, Mami—tapi kamu orang yang sama penting dengan…—ia menyebut semua nama cucunya. Selanjutnya Nenek Ce bertanya: Apa kau ingin tahu di mana ibu kandungmu? Sebenarnya aku lebih ingin tahu siapa ayahku ketimbang soal ibu—dan aku tidak tahu kenapa—tapi aku mengangguk saja ketika itu.

“Kami semua tidak tahu keberadaan ibumu,” ujar Nenek Ce menyesal. Ia merangkul pundakku. Mencium rambutku. Mengelus pipiku dengan jemarinya yang lembut. Dalam hati aku sudah menduga jawaban itu dan barangkali itu yang membuatku tak terlalu ingin tahu. Aku pernah mendengar tentang anak-anak yang dibuang di halaman rumah seseorang dan mungkin begitu juga yang terjadi padaku. Anak-anak seperti kami barangkali memang menyimpan kemarahan pada seorang ibu yang telah meninggalkan kami dengan selembar kain dan botol susu. Jadi kami lebih baik membayangkan saja seorang ayah yang mungkin tidak tahu apa-apa. Kalau saja ia tahu kami dibuang—walau ia seorang bajingan sekalipun—tetap ada kemungkinan ia bersedih dan menyesali atas ketidaktahuannya, atas sikap pengecutnya tidak bersama ibu ketika kami dilahirkan. Namun seorang ibu yang membuang bayinya? Ah, sama sekali tak ada celah kami bisa berpikir lain kecuali ia seorang PENJAHAT.

Baca juga:  Hutan yang Menyala

Aku memang harus menulisnya dengan huruf besar meski kata Nenek Ce, “Semua Ibu pasti mencintai anaknya. Kalau ia melakukan kesalahan itu karena ia sangat tak berdaya. Mungkin ia terpojok, bingung, marah, dan saat itu tak ada orang bersamanya. Kau bisa bayangkan betapa sulitnya?”

Nenek Ce menatap mataku dan kulihat matanya sangat sendu seakan-akan ia diutus oleh ruh ibuku—kalau misalnya ibu sudah mati—untuk menyampaikan sebuah kebenaran yang aku tidak tahu.

Dalam hati aku justru menganggap itu semua alasan yang banyak digunakan perempuan-perempuan dewasa yang salah jalan dalam hidupnya untuk bisa melakukan apapun sesuka hatinya, termasuk membuang bayi.

Pada saat makan malam bersama seluruh keluarga besar, Nenek Ce mengumumkan pada semua orang tentang pembicaraan kami. Aku diam saja. begitu pula saat semua mata menatap ke arahku untuk memastikan kalau aku baik-baik saja, kalau aku tak terluka, kalau aku masih seorang anak ceria yang selama ini mereka kenal.

Aku tahu mereka melakukan itu karena rasa cinta yang besar dan karenanya aku tak perlu menyikapinya dengan emosi berlebihan selain tetap diam dan sesekali tersenyum dengan sedikit mengembungkan pipi dan kemudian itu membuat mereka semua tertawa sembari mencubiti pipiku.

Kami makan seperti biasa; makan sambil  terus bercerita. Di rumah kami, meja makan memang bukan sekadar tempat makan seperti kebanyakan keluarga yang melarang siapa pun bicara dan hanya membolehkan setiap orang untuk fokus pada piringnya masing-masingnya. Kami justru sebaliknya, acara makan malam di keluarga kami amat meriah.

Kemudian, jika ada yang berubah adalah benda-benda di sekitar kami yang menjadi tua dan segera dimasukkan ke gudang. Atau pohon-pohon baru yang dibawa paman. Atau rambut Nenek Ce yang bertambah putih dan berkilau dan para paman dan bibiku yang mulai terlihat lamban dalam melakukan beberapa pekerjaaan karena tubuh mereka yang mengembang juga kelahiran beberapa orang sepupu baru yang begitu lucu dan memberikan kegembiraan bagi kami semua dan pada akhirnya mulai bertambah pula rumah-rumah baru untuk paman dan bibi di kota-kota lain dan itu artinya rumah kami makin berkurang penghuninya hingga yang tersisa kami  berdua saja: aku dan Nenek Ce. Pada saat itulah dering telepon menjadi penting buat kami. Menjadi penghubung kami dengan para paman dan bibi dan sepupu-sepupu selain masa liburan kantor dan sekolah atau hari raya agama kami.

“Apa pagi ini telepon sudah berdering?” tanya Nenek Ce.

“Apa ada diantara paman-pamanmu yang meninggalkan pesan?” tanyanya lagi.

“Bibimu sudah menelepon dan memastikan kapan akan pulang? tanya Nenek Ce lagi dan lagi.

Dan aku segera membacakan apa-apa yang kutulis di buku catatan pesan. Itu memang tugasku. Setiap aku menerima telepon dari para paman dan bibi dan semua sepupu, aku harus mencatatnya karena itu merupakan kabar untuk keluarga dan nantinya semua orang harus tahu.

Baca juga:  Rindu

Suatu pagi, saat itu tengah bulan Juli, aku terbangun dengan hati yang mekar. Ketika itu aku sudah berusia dua puluh tahun, sudah dua kali patah hati, dan sedang kuliah di sastra—dan aku nyaris tak percaya jika aku sudah sebesar itu dalam waktu yang terasa singkat—kulihat Nenek Ce duduk murung menghadap meja dekat batang pohon—aku juga tak tahu nama pohon itu dan sungguh ada banyak pohon di sekitar rumah kami yang tidak kutahu namanya—dua cangkir teh melati masih mengeluarkan uap. Salah satu cangkir itu tentu saja untukku sebab di rumah kami hanya aku dan Nenek Ce yang suka teh. Sebagian paman dan bibiku suka minum air putih di pagi hari, sebagian yang lain suka kopi. Semua sepupuku suka susu, baik yang rasa cokelat maupun vanilla.

Di musim libur ini, rumah kami memang sangat ramai. Namun besok semua akan kembali ke rumah masing-masing, di kota-kota yang tersebar di dalam maupun luar negeri. Nenek Ce memiliki tujuh anak lelaki dan tiga anak perempuan. Dua dari pamanku memilih tidak menikah. Dari semua anak-anaknya Nenek Ce memiliki sembilan orang cucu, ditambah aku jadi sepuluh.

“Semua orang belum bangun,” ujar Nenek Ce menoleh ke arahku.

Aku tertawa kecil. Semalam, semua paman dan bibi dan para sepupu berkumpul di halaman belakang dan kami tidur sangat larut. Kami melakukan berbagai hal. Dan tentu saja lebih banyak makan-makan. Kami memang keluarga yang seru kalau soal makanan. Selebihnya kami diskusi tentang kuliner hingga sepakbola. Juga  memperdebatkan tentang politik yang akhir-akhir ini menghangat.

Aku menghirup aroma tanah bercampur embun dan daun-daun muda. Segar sekali. Aku ingin menahannya lama-lama dalam paru-paruku.

“Semalaman ini kau tidak tidur, bukan?” tanya Nenek Ce.

Ragu-ragu aku mengangguk.

“Aku tahu kau tidak bisa tidur lagi jika sudah lewat pukul satu,” katanya terkekeh.

Begitu juga Nenek, pikirku dan ikut terkekeh.

“Ada satu kebenaran yang belum kusampaikan padamu,” kata Nenek Ce, “dan kebenaran ini hanya aku yang tahu.”

Aku menatap Nenek Ce. Merasa takut.

“Kau tidak ingin tahu siapa ayahmu?”

Rasa cemas membuat tubuhku segera mengeluarkan keringat, membuat kulit leherku lembap.

Nenek Ce menyebut sebuah nama dengan cepat seakan-akan ia takut berubah pikiran. Namun aku merasa tak benar-benar mendengar nama itu atau aku mendengarnya tapi segera mengeluarkannya lagi. Nama itu mengambang demikian lama seperti sebuah kata tak bertuan. Dan butuh beberapa tahun bagiku untuk meyakini kalau nama yang disebut Nenek Ce itu adalah nama pamanku yang suka sekali membawa pulang bibit pohon ke mana pun ia pergi dan menanamnya di pekarangan rumah. Ia salah seorang paman yang memilih tidak menikah dan paling pendiam dibanding yang lain. Rambutnya selalu sangat pendek dan mengenakan kaca mata dengan tangkai warna alami batang kayu. Lumayan tampan tapi terlihat mengerikan.

Baca juga:  Sepasang Kekasih yang Menyukai Senja

Waktu itu Nenek Ce memang tidak mengumumkan tentang pembicaraan kami dalam acara makan malam keluarga padahal aku menunggu-nunggunya. Aku bukan menginginkan seorang ayah, tapi aku ingin tahu reaksinya. Aku penasaran sekali apa ia menyesal tidak mengetahui tentangku selama ini dan mungkin ia akan menebusnya dengan cara tertentu. Namun kini aku berpikir barangkali saja Nenek Ce tidak melakukannya karena ia tahu pengumuman  itu tak akan mengubah apa-apa. Tidak akan membuat paman menoleh ke arahku dengan cara menatap yang berbeda. Tidak akan membuat ia tersentuh dan serta merta mengungkapkan betapa ia berdosa karena telah menolak seorang perempuan yang tengah mengandungku puluhan tahun lalu dan membuat perempuan itu membuangku saat lahir—meski sebenarnya tidak sungguh-sungguh membuang sebab aku diantar ke sebuah pintu yang tepat; pintu rumah kami ini dan Nenek Ce yang pertama kali menyambutku.

Maka, seperti biasa, semua pamanku kembali ke rumah masing-masing setelah masa liburan habis. Aku dan Nenek Ce terus menunggu telepon dari mereka untuk mendengar kabar kelulusan para sepupu atau kabar kenaikan pangkat paman dan bibi atau kabar lainnya.

Setelah Nenek Ce meninggal dunia, aku masih terus menunggu telepon. Hanya saja, sejak itu pula telepon itu sudah jarang berdering, hingga tidak sama sekali. Aku terus menunggu. Paman dan bibi yang lain boleh melupakanku, tapi pamanku yang suka pohon dan telah menolak ibu dan memilih tidak menikah itu seharusnya suatu ketika menelepon ke rumah untuk mengatakan sesuatu yang akan kucatat di buku pesan dan kelak kubacakan pada Nenek Ce.

Aku memijit pangkal hidungku. Kini usiaku sudah tiga puluh tujuh, lajang, tidak pernah meninggalkan rumah, dan kadang-kadang  berpikir kalau Nenek Ce masih bersamaku, dan pada hari libur keluarga besar kami berkumpul di sini, walau kenyataannya sudah lama sekali aku sudah hidup sendirian, dan tepat saat aku berpikir begitu telepon di depanku benar-benar berdering. Hanya satu kali. Setelah itu mati. (*)

GP, 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yetti A. KA
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” pada 24 Mei 2015