Telunjuk – Pagi Keenam Belas – Penepuk

Karya . Dikliping tanggal 22 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Telunjuk

banyak telunjuk saling menunjuk
manakah yang lebih erat
membangun wewarna di keningnya
beberapa menarik garis
beberapa menanda serta mengaburkan
beberapa bergoyangan hingga hafalan muram
hingga mengerut
ada yang keras berbincang
ada pula yang bercakap-cakap dengan diamnya
wewarna menajam, sebagian menghilang
masih,
masih banyak telunjuk saling menorah
menunjuk nunjuk, membawa kabar
berseteru tanya
: masihkah ia terletak kedua setelah ibujari?
: masihkah orang orang
akan terus beradu cepat
menentukan kayuhan hati
dengan jari keduanya?
Banyak telapak wadahi jemari
Demkian erat
Bersela sela, berpagut
Berangin,
Kelopak bebunga beterbangan di selanya
masih, masih orang orang berbincang
jari manakah yang lebih anyir
lebih teduh berpegang di pepohon
Bandung 21/1/2015

Pagi Keenam Belas

jura pagi berbagi rentang
tempat beburung bertengger,
mencengkeram
ketukan di jendelaku tadi
tak seperti kemarin
lirih embun 
sebab mentari beranjak cepat
terang
awal bulan di panas yang lebih lama
awan berjejal memulai arakannya,
berebut hembus
seorang bibi setia
memutar keran untuk sirami rerumput
bersiborok ia menatap pas fotoku
mengapa dibawah jendela?
mengapa tergeletak?
siapa apa menaruhnya di sana?
matahari sepenanggalan edar
tertegun masih dengan ragam tanda,
tanda tanya serta seru
ada apa, mengapa? dan mengapa demikian
“sini, berikan bi, taruh di meja”
dari jendela masih kutatap
tumpukan tanda, jilidan helai
takkan usai menyurat sirat
pucuk rerumputan membulir,
lirik lirik menyimpul damai
tumbuh demi tumbuh pagi,
di depaan setia, di sulur sulurnya
Bandung 18/1/2015

Penepuk 

yang menepuk nepuk
latah kokok ayam
seuluk pagi,
rindu memanggil
erat pelupuk pejam
untuk beranjak
yang memijar 
ialah matahari
setenang fajar
setia beredar
berbincang lirih keras
untuk disimak
yang bertalu talu
ialah berbintang
sepagi senja
kasih membawa
sekecil kebaikan apapun
untuk terang
Bandung 14 Januari 2014
*) Nella S Wulan, penyuka puisi dan prosa. Lahir di Semarang, menetap di Bandung. Beberapa puisi dimuat di antologi puisi bersama: Langit Terbakar (2014), Negeri Poci 4 (2013), Puan Puan (2014).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nella S Wulan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 22 Februari 2015