Tembok Puri

Karya . Dikliping tanggal 10 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Koran Kompas
BANYAK gadis iri ketika Kadek Sumerti dilamar keluarga Anak Agung Ngurah Parwata. Bagi mereka kebangsawanan selalu berarti puncak kehormatan, kekuatan, dan toleransi pengampunan kalau berbuat salah.
“Enak ya tinggal di puri, luas dan dibatasi tembok tinggi,” celoteh gadis-gadis itu.
“Namanya akan tambah panjang, menjadi Jero Kadek Sumerti.”
“Kalau ada acara adat ia duduk di tempat terhormat. Kita di lantai, ia di balai-balai.”
“Memang, derajatnya tak lagi sama dengan kita.”
“Sudah nasibnya, lahir sebagai rakyat kebanyakan, lalu perkawinan menyulapnya jadi bangsawan.”
Tentu gadis-gadis itu tak ada yang tahu betapa Kadek harus melalui pergulatan pertimbangan sebelum memutuskan menjadi orang puri. Hanya cintanya yang begitu besar dan tulus pada Anak Agung Ngurah Parwata yang sanggup mematahkan pertimbangan-pertimbangan itu. Apalagi Ngurah membujuknya terus, bahwa tidaklah sulit menjadi orang puri di zaman sekarang.
“Rumah kami memang puri, Ti, tapi orang-orangnya modern,” kata Ngurah. “Kau lihat sendiri, kami hidup dengan kulkas, laser disc, antena parabola, dan bermacam simbol hidup masa kini. Tak ada alasan bagimu untuk tak bisa larut dalam kehidupan kaum bangsawan.”
“Kesulitan yang lain masih banyak menghadangku jika berhadapan dengan keluarga puri.”
“Misalnya?”
“Misalnya, aku harus bicara dalam bahasa halus setiap hari di lingkungan keluargamu.”
Anak Agung Ngurah Parwata tersenyum. “Sudah kau buktikan sendiri, setiap kuajak ke puri, kau bisa bicara dalam bahasa Indonesa. Dan mereka menerima kau dengan senang, apa adanya. Mereka tahu kita orang modern, dan mereka pun warga modern.”
“Itu untuk keluargamu yang muda-muda, Par. Tapi para sesepuh puri!”
“Mereka pun kini telah jadi manusia modern. Berkomunikasi dengan mereka, tak usah lagi kita menyembah-nyembah. Mereka pun sudah terbiasa bicara lewat telepon untuk memberi kabar keluarga lain jika ada acara adat di puri. Yang mereka tonton di televisi adalah film-film seri Amerika. Beberapa di antara mereka menerima tamu-tamunya dengan bahasa Indonesia. Tak lagi bahasa Bali halus. Mereka sudah seperti kita, Ti. Kau kan tahu, betapa kuat modernisasi menyentak manusia, tak peduli orang tua sekalipun. Mereka ikut terseret, Ti!”
***

KADEK Sumerti termangu. Selalu saja ia ragu, apakah ia bisa menjadi orang puri, tinggal dalam satu tanah yang berpagar tinggi, di antara orang-orang yang senantiasa menganggap lunturnya nilai-nilai tradisi sama saja artinya dengan runtuhnya harga diri.

“Kau harus menjadi istriku, Ti. Itu sudah kita sepakati.”
“Tapi aku selalu sangsi apakah sanggup menjadi orang puri. Aku tak punya pengalaman hidup dalam sebuah keluarga besar, dengan aturan-aturan ketat.”
“Aturan puri sekarang selalu menyediakan tempat untuk manusia-manusia modern seperti kita. Semuanya akan berlangsung secara alami. Percayalah. Cepat atau lambat kau toh harus menerimanya. Kalau tidak, kita tak akan pernah bersama lagi.”
Mereka akhirnya menikah. Kadek Sumerti sangat kikuk ketika orang-orang puri meminangnya dengan kebesaran penuh. Ayah dan ibu Sumerti kaget, tak menyangka kehormatan semegah itu akan mampir di rumahnya.
“Sebenarnya yang begini tak perlu, Par. Keluargaku minta yang biasa-biasa saja.Kami justru serba salah.”
“Ini tidak seberapa Ti. Yang begini ini justru lebih sederhana dari yang biasa-biasa. Puri ingin menghargai keluargamu, karena telah merelakan salah seorang putri mereka masuk dalam lingkungan kami dengan cinta, tidak atas dasar paksaan yang biasanya dilakukan oleh keluarga kami di zaman dulu. Kumiliki kau bukan sebagai barang rampasan. Ini perkawinan modern Ti, meski baunya tetap puri.”
Puri dalam kehidupan sehari-hari kini benar-benar modern. Sebelumnya sudah ada sembilan belas keluarga hidup di dalamnya. Anak Agung Ngurah Parwata dan Kadek Sumerti adalah keluarga keduapuluh. Semua keluarga hidup sendiri-sendiri, tak saling merasa terganggu, kendati di situ hidup empat generasi.
Kadek bisa bebas mengunjungi keluarganya kapan saja. Menyapa orang-orang puri ia lakukan dengan tata krama sama seperti kalau ia menyapa kawan-kawan atau orang tuanya. Gerbang puri tak pernah dikunci, Kadek bebas keluar masuk kapan pun ia suka. “Apa kataku, puri kini sudah modern kan?” kata Ngurah suatu ketika.
“Tapi orang tetap menganggap dalam batas tembok puri selalu hadir tata krama dan adat yang angker.”
“Apanya yang angker? Kalau angker, bagaimana mungkin aku meminangmu? Yang angker itu dulu Ti, ketika orang mesti mempersembahkan anak perawannya ke puri. Kini kau buktikan sendiri, kami meminangmu, menjunjung kodrat keluarga yang membesarkan kau.”
Keluarga Kadek Sumerti memang semakin dihormati sejak salah seorang putri mereka menjadi bangsawan puri dan berhak menggunakan panggilan Jero. Orang-orang kalau membicarakan keluarga Sumerti akan berbisik. “O, itu, yang anaknya kawin ke puri?”
***
TAPI puri tetap puri. Ia tetap punya batas tembok yang kukuh, warisan berabad silam. Gerbangnya bisa saja terbuka terus-menerus, namun tembok itu tak boleh runtuh. Di dinding tembok-tembok itulah keangkeran puri bersemayam, dijaga turun-temurun keasliannya. Tembok itu yang menjadikan puri tetap sakral, sehingga bertahan sebagai kiblat masyarat. Kadek Sumerti merasakan itu ketika hampir setahun usia perkawinannya dengan Ngurah Parwata.
Keluarga Kadek akan melangsungkan upacara metatah. Acara adat potong gigi itu khusus untuk Kadek dan saudara-saudaranya. Penyelenggaraan metatah selalu menjadi tanggung jawab orangtua pada anak-anaknya dan semestinya dilakukan ketika seseorang menginjak dewasa. Namun karena biayanya mahal, seringkali sebuah keluarga melangsungkannya berbarengan untuk seluruh anak. Maka banyak yang sudah berkeluarga baru bisa metatah karena menunggu si bungsu dewasa.
Secara adat Kadek harus metatah di rumahnya, kendati ia sudah jadi warga puri. Orangtuanya yang akan menanggung seluruh biaya upacara. “Semestinya kan metatah sebelum kawin, tapu dulu Ayah tak cukup punya uang. Mintalah restu di puri karena kau harus pulang metatah,” pinta ayah Kadek.
“Silakan saja, metatah memang tanggung jawab orangtua pada anak-anaknya,” sambut Ngurah.
“Apa perlu saya minta izin pada sesepuh puri?”
“Bagus juga. Biar kita berdua yang menyampaikannya.”
Sesepuh pun merestui, tapi, mereka mengajukan syarat, Kadek dilarang metatah di atas balai-balai yang digunakan saudara-saudaranya. Karena ia sudah jadi warga puri, ia harus metatah terpisah, di atas balai-balai khusus.  
Tak pernah Kadek Sumerti menduga persyaratan yang begitu angker diajukan. Syarat yang sulit diterimanya karena itu berarti membedakan dirinya dengan saudaranya sekandung. Puri kini telah memberinya status, derajat yang lebih tinggi.
“Tak bisa kami terima syarat itu!” kata Ayah. “Memang kau metatah setelah menjadi orang puri, tapi statusmu tetap sama dengan saudara-saudaramu.”
Kadek Sumerti sudah menduga pasti itu yang terjadi. Ia kini di simpang jalan. Ke manapun ia melangkah pasti salah satu, puri atau keluarganya, akan menentangnya.
“Kamu metatah sebagai anak ayah dan ibumu, Ti, bukan sebagai orang puri. Maka kau harus tunduk pada adat kami, jangan pakai aturan puri di tengah keluarga kita. Memang, mereka memberi kita kehormatan, namun tak akan pernah kita menyerahkan seluruh harga diri kita untuk diremehkan.”
Kadek Sumerti mulai menangis. Tatkala saat upacara semakin dekat, ia tak punya keputusan ikut metatah atau tidak. Suaminya tetap mengharuskan dia metatah dengan balai-balai khusus, di tempat tersendiri.
“Sekarang kau orang puri, Ti. Karena itu aturan adat puri harus kau junjung.”
“Katamu mereka orang modern, mengapa sikap mereka kaku?”
“Kaku tak berarti kolot. Mereka mempertahankan apa yang semestinya mereka jaga. Mereka tak ingin salah seorang warganya tunduk dan terseret pada kebiasaan luar. Orang Amerika yang modern jelas tak mau warganya jadi seperti bangsa lain. Mereka tetap  ingin Amerika. Di sini, puri juga ingin tetap puri.”
***
KADEK Sumerti setiap malam termenung. Ia sukar tidur. Ikut metatah berarti ia harus meninggalkan puri dan tak boleh kembali. Anak Agung Ngurah Parwata bahkan dengan sengit mengatakan, “Jika kau ikuti kemauan keluargamu, dengan sedih dan terpaksa kita harus bercerai.” 
Metatah dengan balai khusus jelas keluarganya melarang. Ayahnya bahkan dengan galak berteriak, “Kalau itu kita lakukan, sama artinya dengan sadar kita menerima penghinaan terhadap keluarga.
Pilihan harus ia tetapkan. “Terserah kau saja Ti,” ujar suaminya. “Jika kau tak metatah di rumahmu kau bisa metatah di puri sutau ketika nanti bersama sanak saudaraku yang lain. Itu mungkin lebih baik.”
Tapi tiba-tiba Kadek tak ingin metatah. Ia teringat mereka yang mati muda dan belum sempat metatah, lalu acara potong gigi dilangsungkan ketika mereka terbujur jadi mayat. Upacaranya sederhana, saat jasad dimandikan. “Mungkin aku lebih baik seperti mereka, metatah ketika mati, kendati aku sudah nenek-nenek,” kata hatinya.
Ketika saat acara potong gigi tiba, dini hari Kadek Sumerti berangkat ke rumahnya. Ngurah mengantarnya sampai di gerbang puri dengan pandangan kosong. “Terserah kamu Ti. Kuharap ini bukan terakhir kali kau meninggalkan gerbang puri. Bagaimanapun kita harus mengalah pada aturan-aturan dalam batas tembok puri tempat kita hidup dan mendapat perlindungan. Aku tak punya kekuatan dan kekuasaan untuk mengubahnya.”
Ngurah memeluknya di gerbang puri. Pagi masih sangat dingin, burung-burung bernyanyi riang di pohon-pohon mangga di halaman. Lampu di teras belum dipadamkan. Hari belum terang tanah. Kadek, kendati ia sudah tahu apa yang akan dilakukannya, seperti merasakan tak akan kembali lagi ke puri.
Tiba di rumah ia lihat tiga saudaranya sibuk mengenakan kain adat khusus untuk metatah. Ia langsung memeluk ibu dan ayahnya yang duduk di kursi menyaksikan tiga anak mereka berpakaian.
“Kami menunggu Ti,” kata Ibu serak.
Kadek terisak di pangkuan ayahnnya. “Maafkan saya kalau tak sanggup, Ayah. Terlalu berat bagi saya menjadi wanita yang dikucilkan. Saya tak sanggup menjanda semuda ini.”
Ayah mengusap rambut Kadek. “Apa pun pilihanmu sangat kami hargai. Engkau tetap anak kami yang terhormat. Kau memang terlalu muda untuk mengerti kebebasan memilih, sikap hidup modern, dan rumitnya aturan dalam lingkungan puri. Terserah kau saja Ti.”
Persis ketika matahari muncul di timur, tiga saudara Kadek bergiliran metatah di bale dangin yang terbuka. Badan mereka terbaring di atas balai-balai yang dihias dengan kain songket dan warna-warna perada. Seorang sangging berpakaian dan berdestar putih menggosok-gosok gigi mereka dengan kikir satu per satu hingga rata. Alunan kidung memecah keheningan upacara potong gigi yang tiba-tiba di pagi itu dirasakan sangat sakral oleh Kadek Sumerti. Bulu-bulu halus di tangan, tengkuk dan tubuhnya merinding.
Ia berdiri termangu menyaksikan seluruh rangkaian upacara suci itu dari balik jendela kaca di ruang tengah. Ia lihat dengan jelas ayah dan ibundanya berdiri di samping balai-balai, menjaga anak-anak mereka sampai nanti upacara selesai.
Mata Kadek Sumerti terus-menerus basah, dadanya bagai dihimpit dua bilah besi sedingin es, dan pikirannya menerawang jauh ke balik tembok puri. Adakah mereka tahu hatinya yang perih seperti diiris-iris sembilu? ***
Denpasar, September 1993
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gde Aryantha Soethama
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 10 Oktober 1993