Tenggat Waktu

Karya . Dikliping tanggal 21 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

SEANTERO mal dibelai
alunan lagu Natal nan syahdu. Di sana-sini menjuntai kertas hias dan
lampu-lampu. Beberapa sudut plaza pun disulap menjadi taman salju.
Lengkap dengan patung rusa yang tengah menarik kereta kayu. Pohon natal raksasa menjulang tinggi seolah sedang berdiri mengerami kotak-kotak kado berpita dan kartu-kartu.
”Ho..ho..ho…. Selamat Natal dan Tahun Baru!” teriak seseorang dari
balik baju Santa. Para orangtua dengan sigap mengeluarkan kamera atau
ponsel pintar dari dalam tas mereka. Anak-anak dipaksa. Mendekat dan
bergaya. Ada yang secara otomatis menempelkan kedua telunjuk ke pipinya.
Ada yang menaruh tangan di pinggangnya. Ada yang mengedipkan satu
matanya. Lantas hasil jepretan kamera itu dijamin langsung bisa
disaksikan di sosial media. Dengan segala judul yang mencerminkan
kebahagiaan keluarga mereka. Tak ketinggalan menyebutkan lokasi di mana
mereka mengambil gambar itu, yang tak lebih untuk menunjukkan jika
mereka adalah keluarga berada.
Di kafe yang tepat berada di
seberang taman salju itu, Nay duduk menghadap ke laptopnya. Ditenggaknya
dingin bir dari dalam kaleng yang keringatan lalu mengisap dalam-dalam
rokok putihnya sambil sesekali memerhatikan sosok Santa di seberang
kafenya. Sudah tiga kaleng bir habis selama satu jam berada di kafe itu.
Sudah berkali-kali pula pelayan kafe menukar asbak yang dipenuhi
bangkai puntung rokok dengan asbak yang baru. Tapi layar laptopnya tetap
kosong. Dan dari layar kosong laptopnya itu terpantul wajahnya yang
sedang bengong.
Sebenarnya Nayla tidak pernah suka pergi ke
mal. Selalu merasa jengah ia di tengah orang-orang yang dibungkus
pakaian mahal. Selalu merasa asing ia di tengah orang-orang yang
menutupi wajahnya dengan tata rias tebal. Sementara dirinya hanya
memakai kaos oblong dengan sandal.
Tapi memang tidak ada yang
lebih sialan ketimbang tenggat waktu. Artikel tentang perilaku
pengunjung mal masa kini harus diselesaikan seminggu sebelum tahun baru.
Ia sudah meminta kepada editornya untuk menulis artikel lain. Cuma
editornya bersikeras jika Nay lah orang yang paling tepat untuk
menuliskannya, tidak ada yang lain!
”Kamu kan ga suka pergi ke
mal, karena itulah justru kamu yang paling cocok bikin artikel ini. Kamu
pasti jauh lebih sensitif melihat apa yang ada di depan matamu
ketimbang orang yang biasa ke mal.”
Nayla mengalihkan
pandangannya dari layar laptop dan menyapu seluruh penjuru kafe. Kafe
itu dipenuhi orang-orang dengan penampilan perlente. Dan meja pun
berubah menjadi etalase. Berjejer ponsel pintar keluaran terbaru. Tak
ketinggalan tas maupun dompet merk ternama yang harganya bisa mencapai
puluhan hingga ratusan juta rupiah meski entah benar-benar asli atau
palsu. Setiap kali pelayan datang membawa pesanan makanan, pasti makanan
itu difoto lebih dulu. Lantas mereka sibuk dengan ponselnya
masing-masing. Mereka bersama namun bagai orang asing.
Cukup
bagi Nayla untuk merangkum semua yang terjadi di mal hanya dengan duduk
di satu kafe, sebenarnya, cukup bagi Nayla untuk menyelesaikan
artikelnya tak lebih dari dua jam tanpa perlu terlebih dulu minum
berkaleng-kaleng bir hingga terbengong-bengong di depan layar laptopnya.
Tapi pikirannya sedang tidak ada di sana. Pikirannya tertancap pada
sosok Santa yang sedang berfoto dengan anak-anak di seberang kafenya.
”Ho…ho…ho…. Selamat Natal dan Tahun Baru!”
Nayla segera terbangun dari tidurnya. Matanya memicing akibat silau
sinar lampu yang dinyalakan tiba-tiba. Di depannya sudah berdiri Santa.
Berperut buncit, berjanggut putih, dengan baju dan topi merah menyala.
Tangan Santa memegang sebuah kotak kado berpita merah menyala juga.
Dengan tak sabar Nayla segera menerima dan membukanya.
”Ho…ho…ho…. Selamat Natal dan Tahun Baru, Nayla!” teriak Santa
sebelum pergi. Nayla sudah tidak menggubrisnya lagi. Ia sudah
benar-benar penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak kado berpita
merah menyala di tangannya. Tapi alangkah kecewanya Nayla saat kotak
kado itu terbuka. Di dalamnya hanya ada sebuah ponsel baru. Tidak ada
apa yang ia mau.
Nayla menangis di atas tempat tidurnya. Tak
lama kemudian terdengar suara pintu pelan-pelan dibuka. Ayahnya muncul
dengan masih mengenakan piyama. Di matanya terpancar kekecewaan yang
sama besarnya dengan kekecewaan yang Nayla rasa. Mereka duduk
berdampingan tanpa mengatakan sepatah kata pun. Semalaman seperti itu
hingga tertidur dalam posisi duduk yang sama dengan sebelumnya.
Nayla menutup laptopnya. Sudah tidak kuasa lagi ia membendung sesak
yang seakan ingin meledak di dalam dadanya. Ia pun mencoba memanggil
pelayan yang sedang sibuk melayani permintaan pengunjung yang ingin
difoto bersama. Bukan cuma satu kali. Namun berkali-kali. Jika hasilnya
tidak memuaskan, mereka minta diulang lagi. Itu pun tidak dengan satu
kamera. Tapi setiap kamera yang orang-orang bawa. Alhasil Nayla harus
menunggu lebih lama.
Akhirnya Nayla menarik menu. Dicermatinya
harga yang tertera untuk membayar tiga kaleng bir yang dipesannya selama
di kafe itu. Seratus lima puluh ribu kurang sedikit dengan total yang
harus ia bayar di luar pajak dan service. Dikeluarkannya dua lembar
seratus ribuan dengan hati miris. Ditinggalkannya uang itu di atas meja
sebab para pelayan masih sibuk melayani permintaan foto bersama tak
ubahnya turis.
Nayla menyeret kakinya berjalan seantero mal
yang dibelai alunan lagu natal nan syahdu. Di sana-sini menjuntai kertas
hias dan lampu-lampu. Beberapa sudut Plaza pun disulap menjadi taman
salju. Lengkap dengan patung rusa yang tengah menarik kereta kayu. Pohon
natal raksasa menjulang tinggi seolah sedang berdiri mengerami
kotak-kotak kado berpita dan kartu-kartu.
”Ho…ho…ho….
Selamat Natal dan Tahun Baru!” teriak seseorang dari balik baju Santa
yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya. Mereka saling bertatapan
sebentar saja. Mata yang ditatapnya itu, bukan mata yang bahagia. Mata
yang letih meski bibirnya harus senantiasa mengeluarkan suara tawa. Mata
yang kecewa. Mata ayahnya. Mata yang membuatnya merasa harus keluar
dari mal segera.
”Kalau kamu berkelakuan baik, kamu bisa minta apa pun ke Santa, Nay. Pasti permintaanmu dikabulkan.”
”Bagaimana cara memintanya?”
”Tulis surat saja dan masukkan ke dalam kotak pos.”
”Alamatnya?”
”Tidak perlu alamat. Santa pasti menerimanya. Tapi kamu taruh dulu sehari di bawah bantalmu ya.”
Kalimat percakapan dengan ayahnya itu seolah diantar angin yang menerpa
wajahnya saat keluar dari pintu lobi. Mobil-mobil mewah dengan sopir
pribadi terlihat bagai antrian semut yang panjang sekali. Dari setiap
pintu mobil yang terbuka, muncul tubuh yang keluar berjalan
melenggak-lenggok bagai peragaan busana. Dengan rambut hasil salon yang
tak akan berubah bentuk meski angin mengguncangnya. Petugas keamanan
yang bertugas memeriksa isi tas mereka tak digubrisnya. Mereka merasa
cukup memperlihatkan tas mahalnya tanpa sudi terlebih dulu dibuka.
Nayla terus melangkah menuju antrian taksi. Ia ingin secepatnya pergi
meninggalkan Mal yang bising oleh suara sunyi. Kalau bisa, ia pun ingin
memutar waktu kembali. Tak lupa memasukkan surat ke dalam kotak pos agar
Santa menerimanya. Tak membiarkan surat itu lebih dari sehari di bawah
bantal sehingga terbaca ayahnya.
”Selamat Natal, Ayah.”
Nayla mengecup kedua pelupuk mata ayahnya yang terpejam. Dicabutnya
janggut putih yang masih menempel di dagu ayahnya yang berbentuk runcing
tajam. Dicopotnya topi warna merah menyala yang masih menempel di
kepala ayahnya yang tak lagi berambut hitam. Dimatikannya lampu lalu
memeluk tubuh ayahnya di dalam kelam.
Kenangan menjalar hangat
di dalam tubuh mereka. Memijar sejuta warna dan hiasan di seluruh sudut
rumah yang sederhana. Terekam abadi dalam pigura hati meski tak dijepret
kamera.
”Saya mau Ibu.” Demikian surat untuk Santa yang Nayla tulis dulu.
Saya mengetik kalimat terakhir artikel tentang Nayla yang sudah hampir di penghujung tenggat waktu.
Djenar Maesa Ayu, cerpennya pernah menjadi cerpen terbaik Kompas.
Sekarang selain menulis skenario, juga menyutradarai film. Film
terbarunya siap diproduksi bulan Januari 2015. Buku kumpulan cerpennya
Mereka Bilang, Saya Monyet.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Djenar Maesa Ayu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 21 Desember 2013