Tentang Dia

Karya . Dikliping tanggal 17 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina

Barangkali bukan perpisahan yang paling merisaukan, melainkan perjumpaan setelahnya. Saat mesti berpura asing bagi masing-masing. Seperti sekarang. Terbukti dudukmu seolah tak tenang, kau teguk kopimu dengan rakus, mungkin untuk menutupi rasa gugup, padahal kopimu double espresso. Mestinya kau pilih café au lait saja, bukankah itu racikan favoritmu?
Kuamati sosokmu. Dulu kau sedikit serampangan, kini kau terlihat sangat apik. Kaus Polo, celana kanvas yang lipitannya rapi, juga cincin di jari manismu. Sepertinya kau menyadari arah pandangku, sebab kau segera menarik tangan kirimu dari meja, membuatku jengah. Aku lalu mengisi jeda dengan mengunyah croissant, mulai bosan. Sore yang teduh seperti ini seharusnya bisa kita nikmati dengan sederhana, apalagi kita lama tidak berjumpa. Bertukar cerita atau kalau memang sama-sama habis kata, saling membisu sambil menyusuri pantai pun bolehlah. Setidaknya ada yang bisa kulakukan selain barang sedikit menyesap teh atau memaksakan makan camilan, meski tak berselera. Aku agak menyesal karena memilih menghabiskan hari dengan beristirahat di hotel dan membiarkan putriku berbelanja dengan tantenya. Keputusan yang membawaku bertemu denganmu. Diam-diam aku melirik jam, iseng menghitung detik, berharap mereka segera datang dan membebaskanku dari kebersamaan yang menyiksa ini. 
***
Kita bertemu di sebuah pesta yang formal dan membosankan, membuatmu yang pandai melontarkan lelucon dengan cepat menarik perhatianku. Obrolan konyol itu kemudian beranjak menjadi diskusi serius, diikuti janji untuk bertemu yang segera saja menjadi rutin. Seharusnya aku banyak mencari tahu tentang dirimu, tapi hal-hal teknis tidak pernah menarik perhatianku. Aku lebih suka mengobrol tentang musik, film, buku, atau apa saja yang sama-sama kita minati. Percakapan ringan yang menyenangkan dan bisa menghilangkan penat. Terkadang kau bercerita tentang peristiwa lucu yang menimpamu hari itu atau kenangan masa kecilmu. Bila mengingat kembali masa-masa itu barangkali sikapku membuatmu mengira aku hanya bermain-main denganmu, padahal itulah caraku untuk lebih mengenalmu. Memasuki dirimu, bukan sekadar mengetahui tampilan luarmu. Bukankah kau sendiri mengakui bahwa ada beberapa kisah yang hanya bisa kau bagi padaku? Tapi, tentu saja tak pernah penting apakah kau mengerti atau tidak, sebab ada yang lebih penting bagimu, kebahagiaan kecil yang justru tak kau bagi padaku dan harus kuketahui dari orang lain. Cerita-cerita tentang dia. 
Kau tidak mengelak ketika aku menyebut namanya.
“Aku tidak pernah berniat untuk mempermainkanmu atau mengkhianati dia. Ini semua…,” kau berpikir sejenak, “… semata ketelanjuran. Aku tidak akan memintamu untuk memahami, apalagi memaafkan perbuatanku. Aku tahu seharusnya aku bisa menahan diri, tapi ini pertama kalinya aku bertemu seseorang yang bisa menggenapiku.”
“Kau… mencintaiku?” 
Kusadari suaraku sedikit bergetar, tidak siap dengan jawaban yang mungkin mengecewakan. Tapi, kau menyahut cepat, bahkan nada suaramu menyiratkan kekesalan, “Tentu saja.”
“Dia?”
Kali ini kau diam, aku mengganti pertanyaan, “Siapa yang paling kau…,” aku mengganti pertanyaan lagi, “Siapa yang akan kau lepaskan?”
Kau masih juga diam. Lama.
Akhirnya aku tak sabar.  “Aku ingin bertemu dia.”
Kau  makin gelisah. “Untuk apa?”
 “Aku hanya ingin melihat dia,” jawabku datar. 
Kau bimbang, tapi mungkin karena takut aku akan berbuat nekat, kau kemudian mengiyakan.
***
Kuamati bahasa tubuhmu. Denganku kau banyak tertawa, bercerita, terkadang sedikit jail. Dengannya, kau lebih pendiam, tapi juga lebih lembut, lebih perhatian. Melindungi. Ya, itu dia kata yang tepat. Aku memunculkan jiwa kanak-kanakmu, dia mampu mendewasakanmu.  
Rasanya aku tidak ingin membuang waktuku lagi. Kegelisahan yang akhir-akhir ini menghantuiku sedikit memudar. Aku memutuskan untuk menyimpan sumber kegelisahanku itu, toh, aku sudah tahu nama siapa yang tidak berani kau ucapkan kemarin malam. Aku mengerti benar, cinta tanpa tanggung jawab memang cuma omong kosong,  tapi aku juga tidak mau hidup dalam kebersamaan yang dipaksakan. 
***
Perpisahan yang dingin dan singkat. Seremonial. Kau menatapku seperti tak percaya, tapi segera menerima, barangkali juga merasa lega. 
“Kau tak apa-apa, ‘kan?”
Pertanyaan yang tidak kreatif menurutku. Akhir-akhir ini kau memang terasa tumpul dan membosankan. Sungguh jauh berbeda dengan dirimu yang biasanya. Aku tersenyum sinis, lebih tertuju pada diriku sendiri sebetulnya, tapi kau langsung menunduk.
“Maafkan aku. Aku memang berengsek. Aku….”
Padahal, aku bisa membuatmu meninggalkan dia. Kalimat itu berputar-putar di benakku, menyisakan kelengangan yang menakutkan. Lubang hitam di kepala. 
“Tentu, tentu kau kumaafkan. Sekarang lebih baik kau pulang,” potongku cepat, lelah menghadapi melankolisme yang tidak menawarkan apa-apa.
Lagi-lagi kau memandangku, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi lebih memilih untuk segera menurutiku. Tergesa meninggalkanku yang kini sekadar beban yang memberatimu. Begitu saja. Aku tersenyum kecil. Bahkan untuk meminta maaf dengan benar saja kau tak mampu. 
Aku menekankan telapak tanganku pada kaca jendela, menikmati dingin yang menjalar sambil menatap ke luar sana, mengamati punggungmu yang menjauh. Bahkan ketika kau sudah tak terbaca oleh mataku, aku terus mencari-cari, seperti yang sudah-sudah. Pada saat-saat seperti inilah aku tahu betapa aku membenci malam yang selalu merenggutmu dariku. 
***
“Ibu!” Aku seketika merasa lega, Lilya, anakku yang baru berumur empat tahun berlari riang ke arahku, aku cepat-cepat menyongsongnya. Di belakangnya tantenya menyusul. Dengan wajah lelah dia memberi isyarat kepadaku, ingin langsung beristirahat di kamar. Aku mengiyakan, lalu segera tenggelam dalam celotehan jenaka anak semata wayangku. 
Kau tertawa.  “Anakmu lucu sekali.”
Aku seketika teringat bahwa aku belum mengenalkanmu kepadanya.
“Lilya, ini Om Banu. Teman lama Ibu. Sana salaman dulu.”
Lilya mendekatimu, kau meraihnya, mendudukkannya di pangkuanmu kemudian mencubit pipinya dengan gemas. Lilya menatapku, tak nyaman duduk di pangkuan orang baru. Namun, kau dengan cepat menarik perhatiannya, menanyainya macam-macam, mengeluarkan cokelat dari saku celanamu dan menggodanya. Kau memang penggila cokelat paling parah yang pernah kutemui, mungkin hanya bisa ditandingi oleh Lilya. Mata putriku seketika membesar melihat cokelat yang kau lambai-lambaikan. Lilya mengulurkan tangannya, tapi tepat saat dia hampir menyentuh cokelat itu, kau menjauhkannya. Beberapa kali kau berbuat begitu sampai Lilya kesal dan menolak mengambil cokelat. Kau tertawa dan akhirnya menyerahkan cokelat itu.
Aku tersenyum, mengamati keakraban kalian. Sebetulnya aku tidak keberatan memberi kesempatan lebih lama untuk kalian, tapi petang menjelang dan gadis kecilku pasti kecapekan. 
“Lilya, udahan dulu main sama omnya, nanti keburu malam, kamu kan belum mandi.”
Lilya memberengut, tapi dia turun juga dari pangkuanmu. Kehadiran Lilya membuatmu lebih santai menghadapiku, malah kau tampak enggan melepaskannya. 
Kita sama-sama beranjak, lalu katamu, “Salam untuk suamimu, mungkin lain kali kami bisa bertemu.”
Aku terdiam sejenak, tapi cepat-cepat tersenyum dan menjawab, “Nanti kusampaikan, salam juga untuk istrimu.”
Kau balas tersenyum, lalu kita berpisah. Beberapa kali kau melambaikan tanganmu pada Lilya sebelum kau akhirnya menghilang dari pandangan. Gadis kecilku balas melambai dengan penuh semangat. Lalu perhatiannya kembali padaku, walau dia masih menyebut namamu.
“Bu, Om Banu orangnya baik, ya?” katanya, sambil menyorongkan cokelat pemberianmu, memintaku menyimpannya. 
Aku mengangguk. Lilya menggenggam tangan kiriku yang juga kusembunyikan sedari tadi. Tak ada cincin di sana. Aku melepaskan genggamannya, lalu mengelus rambutnya perlahan dengan segenap rasa sayang. (f)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dian Pranasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”