Tentang Kerudung Baru lmpian lbu

Karya . Dikliping tanggal 4 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

/H-3 Bulan/

Tinggal belasan putaran matahari lagi UNBK digelar. Ketika dada semua siswa digedor rasa cemas karena ini pertama kali Ujian Nasional tidak dalam bentuk lembaran kertas, kepalaku malah terus berpikir bagaimana caranya agar ibu bisa tersenyum di Hari Raya, bagaimana caranya agar aurat ibu bisa tertutup sempurna oleh aroma baru.

BAGAIMANA ujianmu, Nak?” dengan ter­bata ibu bertanya.

“Belum, Bu. Nanti tiga minggu lagi baru dimulai,” kubopong ibu keluar kamar, agar bisa menghirup udara segar. Kegiatan rutin yang kulakukan sebelum berangkat sekolah.

“Lekas selesaikan, Nak. Agar kau terbe­bas dari penderitaan ini.”

Kerudung Baru lmpian lbuKuanggukkan kepala pelan untuk me­nyembunyikan hatiku yang diliputi gusar. Apakah masa depanku akan terjamin kalau hanya berbekal ijazah SMA? Tentu saja aku ingin menjejakkan kaki di perguruan tinggi, walau mungkin orang sepertiku tak layak walau sekadar bermimpi ingin me­ makan bangku pendidikan yang menjulang. Ah, aku harus mengubur dalam-dalam ke­inginan tak tahu diri ini meskipun isi kepa­laku telah mengukir fakta kalau aku lebih layak bergelar mahasiswa ketimbang teman-temanku yang hanya menumpang na­ma di daftar absensi.

SANUBARIKU terasa pedih ketika kajian pagi atau setiap pelajaran agama yang mem­bahas tentang kewajiban seorang seorang muslim menutup aurat, terutama untuk muslimah.lngatanku langsung tertuju kepa­da ibu. Ibu yang hanya bisa menutup ram­butnya dengan selendang lusuh. Ya, tak ada kerudung. Ibu hanya memiliki dua selendang yang memang panjang, tapi tak lebar.

Rambut panjang ibu kerap digulung pen­dek agar ketika keluar rumah, selendang tak lebar itu bisa menyembunyikan ram­butnya. Namun, ketika bercermin, ibu tak bisa menyembunyikan kaca-kaca di bola matanya. Ya, ibu tersadar kalau selendang itu begitu tipis dan tembus pandang se­hingga rambut hitamnya yang sebagian su­ dah memutih samar-samar cukup terlihat walau ada di balik selendang.

Itulah yang menyebabkan ibu hanya sekejap menghirup udara pagi di teras, karena tak ingin auratnya terlihat lelaki yang bukan muhrimnya. Setelah itu, ibu seharian di kamar, mencuri oksigen dari celah-celah jendela, sambil menahan pedih karena sudah bertahun-tahun lamanya setengah tubuh ibu sukar digerakkan. Hal yang menyebabkan bapak mengundurkan diri dari kehidupan kami karena ibu tak bisa menunaikan kewajiban lahir dan batin sebagai seorang istri.

Ingin rasanya aku meminjam atau me­minta kerudung tetangga yang sudah tak terpakai biar ibu bisa leluasa menghirup udara luar kamar.Namun tetangga­ tetanggaku yang sama-sama tinggal di kon­trakan petak kumuh ini tak ada yang memakai kerudung. Entah, aku tak mau berprasangka buruk jika pengetahuan mereka tentang agama belum cukup walau memang bisa saja karena alasan itu, tapi aku bisa memastikan urusan hidup, perut, dan pendidikan anak-anak mereka yang kerap putus di tengah jalan, adalah hal-hal yang menguras kepala untuk dipikirkan.

Bolehkan kefakiran hidup kami ini di­jadikan alasan belum bisa menutup aurat dengan sempuma? Entahlah. Karena baru sekadar urusan perut dan tempat bemaung yang bisa dipenuhi para suami tetanggaku yang setiap hari bertarung dalam medan hidup sebagai kuli bangunan, tukang becak, atau yang senasib dengan yang bisa kula­koni sepulang sekolah: mengumpulkan dus dan botol minuman bekas.

/H-6 Bulan/

Libur semester ganjil telah usai. Ah, rasanya waktu terlalu cepat bergulir. Aku menginginkan libur yang lebih panjang agar pundi-pundi yang kukumpulkan bisa mencukupi kebutuhan hidup, sekolah, dan yang paling penting obat untuk ibu agar lekas sembuh dari strokenya. Selama ini, ketika hanya bisa mengumpulkan pundi­ pundi lepas sekolah, aku hanya bisa membeli obat pereda nyeri. Tapi aku ingin ibu lekas sembuh, walau ibu begitu mahir menyembunyikan pedih dengan tetap tersenyum. Aku tahu, kepura-puraan ibu hanya sebagai tanda kalau tak ingin peluh terlalu deras mengalir di dahiku.

Selepas UAS, aku langsung pamit dari ke­ hidupan sekolah, mengambil libur lebih awal. Tak ada yang namanya pengambilan rapor walau kata teman, aku masih mem­pertahankan peringkat dua. Percuma! Ra­porku tetap akan disandera. Sepanjang bergelar siswa SMA, aku belum pernah memegang rapor yang kata teman sebang­kuku, nilai raporku cukup fantastis.Ke­enceran kepalaku hanya mampu menjerat beasiswa senilai 70% potongan biaya SPP tiap bulannya. Dan, 30%-nya selama duduk di kelas XII ini belum sebulan pun kubayar.

Biaya buku, biaya sehari-hari, telah me­nguras habis hasil keringatku setelah ku­pastikan ibu sudah mendapat obat pereda nyeri. Pundi-pundi hasil mengucurkan keringat selama libur tiga pekan, ibu sarankan untuk melunasi SPP. Lagi-lagi ibu hanya meminta obat pereda nyeri. Pada­hal, ingin sekali kubawa ibu ke dokter biar penderitaannya lekas usai, agar ibu bisa kembali menjalani hari dengan terbebas dari kaku setengah badannya.

/Hari H/

Kumandang takbir masih menggema sedari malam. Subuh baru saja usai. Sepe­kan silam, kucukur rambut sependek mungkin agar peci hadiah dari lomba kul­tum di sekolah tahun lalu masih muat di kepalaku. Tak ada aroma baru yang mele­kat di tubuhku. Tak apa, aku hanya ingin melihat senyum ibu merekah di Hari Raya.

Kupandangi kerudung panjang impian ibu berwarna hijau muda. Kutatap lamat jil­bab panjang idaman ibu berwarna biru langit Dua warna kesukaan ibu. Dua kerudung baru yang kubeli kemarin pagi. Ibu pasti akan sangat gembira sekali kare­na bisa berlama-lama menghirup udara di luar rumah kontrakan petak kami tanpa merasa buru-buru kembali ke kamar takut ada yang bukan muhrimnya melihat ram­but ibu yang biasanya terselimuti selen­dang tembus pandang.

Kulangkahkan kaki dengan gontai setelah salat Id usai. Harusnya ini hari kebaha­gian ibu. Harusnya aku bisa melihat se­nyum sumringah ibu ketika kukenakan kerudung baru ini di kepala ibu. Namun, kebahagian itu tak menjelma di Hari Raya ini. Rekah senyum ibu itu tak hadir di de­ pan mataku, karena yang kukenakan kerudung baru ini bukan kepala ibu, tetapi sebatang nisan yang memuat nama ibu.

Ya, tiga hari sebelum lebaran hadir di tubuh kalender, ibu telah dijemput lzrail. Dalam keadaan tersenyum bahagia seakan-akan ia sedang tidak berjuang melawan penyakitnya. Dalam keadaan mempertahankan puasanya.

/H+l Bulan/

Kakiku terpaku di mulut terminal. Men­cari bus dengan jurusan yang kutuju.Se­leksi SNMPTN-ku lulus melalui jalur bidik misi.Tentu saja di PTN idamanku.Namun aku masih ragu apakah aku akan mengam­bil kesempatan emas ini atau tidak. Bagaimanapun, biaya hidup selama kuliah harus diperhitungkan. Apalagi kini aku hidup sebatang kara.

Hasil seleksi beberapa tahap untuk men­ jadi karyawan sebuah pabrik di kota indus­tri turut membuatku bimbang untuk mengambil langkah melanjutkan pendidik­ an.Apalagi aku murni menjalani seleksi kerja ini dengan jalur murni. Tak ada yang namanya melalui orang dalam atau memakai amplop pelicin agar lancar.

Sanubariku diliputi ragu: apakah bus ju­rusan kota kembang ataukah ibu kota un­tuk turun di kota industri tetangganya yang akan kupilih? Masih kupakukan kaki di mulut terminal.”*

[1] Disalin dari karya Sandza
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 1 Juli 2018