Tentang Sebuah Perkara – Tentang Pagi yang Pergi – Kemarau – Bapak

Karya . Dikliping tanggal 25 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Tentang Sebuah Perkara

Suara telah sepi, kembali mendiami ruang kosong
yang ditinggalinya; hanya dentuman hasrat yang meluapkan
amarah sebagai protes terhadap ketiadaan
jalan mengalirkan makna.
Sementara angin meneruskan bisik, mengisi perkara
Yang demikian sesak. Menggelantungkan
tubuhnya lantas tertawa terkekeh-kekeh
pada akal yang tinggal seutas: “sebentar lagi kau mati!”
Neraka mendekat seperti tukang ojek
Yang kumal menjijikkan: “Mari, kuantarkan kau
ke tempat yang paling indah”
aku tidak suka kedatangannya, tapi tertarik
pada taringnya yang berlepotan darah:
itu seperti sisa kopi kental yang bewarna beda
Suara mendesah di bawah lipatan dendam
Menyeruak lepas sadarku tercabut malam
Cerita itu kerap ada pada saat yang tepat
Menelantarkan makna ke lubang mara
Lantas aku dibiarkan sabar menunggu
Perkara mengulitiku tanpa suara:
Aku mati?
2015

Tentang Pagi yang Pergi

Kabar tenggelamnya matahari
baru tersampaikan padaku menjelang rekah fajar
Duh, embun berganti gerimis
dan kokokan petir mengoyak kabut menjadi
debur ombak yang ganas:
karena aku tahu lautku selalu damai
di segala musim
cadik waktu terus berlayar
mengabaikan gundukan tanah di lembah
bukit yang kokoh menabiri senja
yang kini mungkin sudah dihuni rerumputan
Bila hujan mereda
aku masih melihatmu datang bersama malam:
dengan senyum yang sama menawa asa:
“ayo ke seberang.”
Lautku selamanya terus tenang
melihat camar hanya termenung
dan buih kehilangan makna
Matahari telah pamit
sedang aku tak mampu mengurai fajar
tanpa dekapan embun di tubuh ilalang:
karena kau tahu mendung menolak untuk pergi
dari kedalaman resah di tepi jiwa
2014

Kemarau

Tidaklah kulihat sabar
Melainkan ternak tak bergembala
Menjamah rerumputan kering di atas bumi gersang
Angin menghembus terik lembah 
Mengibaskan ekor sapi yang redam
Oleh ruang lepas
Lantas menjelma sebagai jawa
Mengeriputkan hijau menjadi lenyap
Tidaklah kutatap langit
Terlindung paying awan
Hujan segan menggelar sejuk
Di tanah yang takdirnya
Melarang air meneteskan titiknya.
Ternak hidup dengan tulang
Beriskan sedikit daging
Menatap angin yang hembusannya
kerap menguap gerah
Dan rerumputan yang mengupas
Gairah hingga tak tersisa
Kemarau adalah tuan di bumi
Tanah retak akar terkelupas
Makhluk tinggal bersemangatkan napas
Esokkan hujan akan turun?
2014

Bapak

Aku mesti sering menelepon rumah
Karena waktu kian jauh
Sedang di sana uban hampir sempurna
Menjadi gelombang
Dan keriput mengerak di tirai masa
Pada hidup yang ada
Semua telah kubohongi
Hanya rindu yang enggan berkilah
Di ruang yang paling dalam
Gejolak rasa meluap membentuk bilikku
Mataku dan matanya kerap bersua
Mengurai makna kata “jauh” yang kerap
Beku
Meski dinding pembatas terlampau tinggi
Tapi tetap tak mengungkung batin ‘tuk berkata kata
Aku bernyawa di dalam rahasiamu
Tentang angkuhmu pada terik
Dan kering legam kulit yang keriput
sebagai akibat atas alasan
Hidupmu adalah cara agar aku hidup
2014

* Muksin Kota, Aktif di Komunitas Literasi Bangsal J Kediri, Jawa Timur
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muksin Kota
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 25 Januari 2015