Terjal – Jadilah Dirimu Sediri – Penggalan dari Sebuah Rindu – Di Ujung November – Perempuan Kecil yang Kerap Terjaga di Pagi Hari

Karya . Dikliping tanggal 26 Februari 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Terjal

Jalanan ke tubuhmu begitu terjal. Puluhan malam
telah aku lipat, untuk terus tidur bersamamu.
Menyimpan silam senyum dari bibirmu, tapi aku
selalu tersengal untuk terus mendaki, hingga setiap
napas kita menyatu. Lalu malam terbenam. Pagi
membuka rongga jendela kamar, lalu aku terselip lagi
di sejumlah jadwal yang mendebarkan. Meskipun
banyak simpangan yang membuatku terjaga,
menengok bagian mana mesti dilintasi lebih dulu.
Meski aku yakin, terjalmu akan terpenggal. Dan aku
masuk di dalamnya.
2016

Jadilah Dirimu Sediri

Langkah tergesa. Melibas rencana. Orang-orang
bertarung sendiri, membawa isi kepala. Lalu bersibuk
mencari tempat akhir tahun. Cerah kalender,
menapak. Seperti disimpannya rindu apak. Mendung
acap rapat di langit. Percakapan bergemuruh,
menyimpan kota yang lusuh. Seorang perempuan,
di sebuah sudut merayakan hari kelahirannya tanpa
puisi.
2016

Penggalan dari Sebuah Rindu

apa yang kutulis
tak kunjung terkais
rinduku berpalung
terkurung
di genangan pesan dari aplikasi
selebihnya sunyi
dengan kisah yang mana
aku mesti menghampiri
jika engkau tak kunjung membaca
setiap jerih kata
mungkin masih bisa kubaca warna cerah
dari perona bibir atau parfum yang mengulumku
ke sebuah sudut kota lengkap
dengan lanskap lelampuan mengambang
selalu terpenggal
dan gagal
meskipun aku hanya ingin
mencium remah rambutmu
sebagai ruas rindu
walau terkuras
dalam setiap remas
di genggaman jemarimu
meranggas
2016

Di Ujung November

Langkah tergesa. Melibas rencana. Orang-orang
bertarung sendiri, membawa isi kepala. Lalu bersibuk
mencari tempat akhir tahun. Cerah kalender,
menapak. Seperti disimpannya rindu apak. Mendung
acap rapat di langit. Percakapan bergemuruh,
menyimpan kota yang lusuh. Seorang perempuan,
di sebuah sudut merayakan hari kelahirannya tanpa
puisi.
2016

Perempuan Kecil yang Kerap Terjaga di Pagi Hari

Ia bangunkan tubuhku. Menyemai pagi dengan doa
Disiapkannya waktu, buku,
juga seragam sekolah hari ini
Dirampasnya lelahku
Ia yang terjaga lebih dulu
Mengulum senyum pada pagi
tak sempat kutanyakan
hal-hal sukar di sekolah
sebab gegas waktu berangkat lebih cepat
terasa rapat dan memberat di pundakku
dengan mesin absen yang menyala di mata
Di pagi yang lain. Ia tetap terjaga
Menanam doa di lingkar retina

Baca juga:  Eros
2016
Alexander R Nainggolan, Lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi, antara lain Ini Sirkus Senyum (Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafi tti Imaji (YMS, 2002), Negeri Cincin Api (Lesbumi NU, 2011), Akulah Musi (PPN V, Palembang 2011), Sauk Seloko (PPN VI, Jambi 2012), Negeri Abal-Abal (Komunitas Radja Ketjil, 2013), Seratus Puisi Qur’an (Parmusi, 2016).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alexander R Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 26 Februari 2017