Teropong Kan

Karya . Dikliping tanggal 11 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
Oleh seluruh isi Alam hatimu tak terpuaskan…*

KAN melongo. Tak percaya. Diucek-ucek matanya. Tetap melongo. Apa ini mimpi atau bukan? Sekali lagi Kan tak percaya. Sebab, telur (yang sebesar telur puyuh) yang barusan keluar dari anusnya itu lain. Sesuatu yang bukan basah, bau dan emnjijikkan. Tapi, kering, agak bundar, dan indah seperti emas. Emas? Ya, telur itu memang emas. Emas murni. Yang jika ditimbang, mungkin seberat sekian puluh gram. Berat yang aduhai. Berat, yang dijual cepat-cepatan, akan mendapatkan uang kurang lebih sekian ratus juta. Sekian ratus juta? Wah, Kan kembali tak percaya. Untuk apa uang sebanyak itu.

Kembali Kan tak percaya. telur emas yang telah dimasukkan ke dalam tas kresek kecil itu ditatapnya. “Ini emas. Benar-benar emas. Dan ini telurku,” bisik Kan kepada dirinya sendiri. Bisikan yang takut  untuk didengar orang lain. Bisikan yang mungkin paling mendebarkan yang pernah Kan lakukan.  Dan malamnya, di hadapan Kan telah terpampang tumpukan uang. Uang dari hasil menjual telur emasnya. “Aneh, benar-benar aneh..” Dan ketika tidur, Kan pun bermimpi  berada di sebuah pantai. Pantai yang indah. Pantai yang dengan segala kenikmatannya. Dan Kan bahagia, sebab dialah tuan di pantai itu.
Pantai yang putih
Pantai yang bersih.
Pantai yang ketika angin mendesir, seribu keliningan seperti sama-sama bergoyang. Sama-sama menghamburkan suara-suara yang merdu.
Pantai, yang mungkin seumur hidup, hanya dapat dilihat oleh Kan di majalah-majalah atau selebaran-selebaran untuk pariwisata. Selebaran-selebaran yang begitu menyala.
***
Entah dari mana datangnya ide, Kan merasa mesti mengubah nasib. Nasib yang tak jelas. Nasib yang dpaat dikatakan memprihatinkan. Nasib yang oleh pameo (yang pernah didengar Kan): “Seperti si miskin yang mesti segera ditolong. Sebab, jika tidak, maka akan memasuki dunia keputusasaan. Dunia galau yang tak terjabarkan. Dunia yang gampang melakukan perbuatan yang bersifat potong-kompas. Mencuri, menelikung, menggarong, terus bunuh diri.” Ya, mendengar kata bunuh diri, Kan merinding. Sebab, orang bunuh diri adalah orang yang celaka. Di samping nyawanya gentayangan. Kelak di hari perhitungan juga susah untuk digolongkan ke jenis apa.
Jenis pelawan, tidak. Jenis penerima, tidak. Jenis pelawan sekaligus penerima, juga tidak. Karenanya menurut cerita kakek-nenek Kan, orang bunuh diri adalah orang yang susah untuk masuk ke mana-mana. Surga menolak, neraka menampik. Cuma bis amelayang, melayang dan melayang. Melayang bersama yang lain. Yang juga bunuh diri. Yang nyawanya gentayangan. Gentayangan di ruang dan wkatu yang tak terbatas. Ruang dan wkatu yang gelap. Yang penuh dengan teriakan:
“Beri kami batas akhir. Beri kami batas akhir!”
“Cukuplah sampai di sini saja!”
“Kami tak mampu!”
“Sungguh! Kami tak mampu!”
“Tolong, kembalikan saja kami ke dunia!”
“Kami akan mengubah apa yang telah kami putuskan!”
“Kami benar-benar tak mampu menanggungnya!”
Kan kembali merinding. Dan meski cerita kakek-neneknya tentang nasib nyawa orang bunuh-diri itu belum dilihatnya, tapi Kan merasa kecut. Jadinya, agar tak masuk ke situasi seperti itu, Kan pun mendatangi orang-orang pinter. Bertanya tentang cara, bagaimana bisa lepas dari nasibnya yang memprihatinkan itu. Dan rata-rata, orang-orang pinter yang ditemuinya, meminta syarat yang aneh-aneh. Puasa, bertapa, minum ramuan, atau pantang untuk melewati bayangan pohon tertentu. Yang semuanya, bagi Kan begitu tak masuk akal. Sebab, ujung-ujungnya, Kan pun mesti menyerahkan duit sebagai pengganti maharnya.
“Berapa?”
“Wah, ini bukan masalah berapanya?”
“Lalu?”
“Ya, apa untuk mengganti maharnya, ikhlas atau enggak?”
Ha, ha, ha, tentu saja Kan tertawa. Orang-orang pinter itu memang sungguh lucu. Bayangkan, ada orang yang minta tolong dari keprihatinan kok malah disuruh membayar? Memangnya, orang yang minta tolong itu punta duit. Lagian, jika memang punya, ngapain juga minta tolong. Kan pun menelan ludah. Meninggalkan semuanya. Sampai suatu sore, di tepi sebuah telaga, datanglah seorang berpakaian aneh pada Kan. Bajunya hijau, celananya hijau, kaos kakinya hijau, sepatunya hijau, dan tas kopernya pun hijau. O ya, di setiap si orang hijau (kita sebut seperti itu) bergerak, selalu diikuti bunyi bip-bip-bip.
Bip-bip-bip, “selamat sore,” sapa si orang hijau.
“Sore juga,” sahut Kan.
Bip-bip-bip, “tampaknya ada yang perlu dibantu?”
Kan terdiam.
Bip-bip-bip,”ayolah jangan ragu, aku bantu,” tambah si orang-hijau.
Kan emmandnagi orang-hijau lebih seksama. Kan merasa ini orang kok aneh banget. Dan bunyi bip-bip-bip (bunyi yang aneh itu), pun selalu mengiringi geraknya.
Dan si orang-hijau tersenyum.
Kan mengernyit.
Entah kenapa, tiba-tiba saja si orang-hijau membuka tas kopernya. Mengambil sebutir pil. Bip-bip-bip,” telanlah, nanti persoalanmu terjawab.” Kan menerima pil itu. Dan si orang-hijau lenyap. Bip-bip-bip, “Ingatlah, setelah menelan pil itu, setiap enam bulan sekali, kau akan bertelur emas!” Suara si orang-hijau menggema. Dan sebuah piring terbang mungil pun melayang menjauhi telaga.
***
Di kamarnya yang sumpek, Kan masih memegang pil pemberian si orang hijau. Antara percaya dan tidak, Kan menelitinya. Lalu pikirannya berputar: “Siapa si orang-hijau itu? Jangan-jangan dia itu jin? Atau makhluk-angkasa-luar yang mengadakan penelitian? Tapi entahlah, yang jelas siapa pun dia, pasti ingin menolongku. Apalagi dia tak minta imbalan.” Glek! Pil itu ditelannya. Sesaat kemudian, Kan meras tubuhnya dirubungi semut. Semut-merah yang ganas. Semut-merah yang menggigit-gigit. Semut-merah yang tak kelihatan. “Ampun!” teriak Kan. Terus segalanya gelap. Antara sadar dan tidak, Kan mendengar suara bip-bip-bip yang bersusulan. Lalu sebuah cahaya menyorot. Cahaya yang pelan-pelan membesar. Mmebesar. Membesar.
Dan ketika sampai pada puncaknya, cahaya yang membesar itu pun berpusar. Berpusar ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah. Terus bergulung. Dan bergulung Membentuk aneka rupa. Rupa mata, telinga, hidung, pohon, gunung, sayap, lalu, hup! Rupa lubang cahaya pun menganga di hadapan Kan. Lubang cahaya yang panjang, Lubang cahaya yang pangkalnya etrbuka. Terus menyergap diri Kan, seperti sergapan seekor ular lapar. Akh, Kan pun tiba-tiba merasa sudah terlentang di ranjang besi yang mengkilat. Beberapa makhluk aneh bermasker membedah pencernaannya, “Di mana aku?” itu pertanyaan Kan sebelum segalanya kembali ke dalam gelap. Gelap yang tak berdinding. Gelap yang tak tertebak. Gelap yang tak bergerak. Dan gelap yang membuat setiap pertanyaan jadi terbungkus rapat.
***
Kehidupan Kan berubah. Yang dulu memprihatinkan kini tidak lagi. Seperti sebuah sulap. Bimsalabim, Kan pun menjelma ke diri Kan yang lain . Kan yang jika ingin ini itu tinggal menunjuk. Tak perlu susah-susah. Apalagi Kan yang ini sudah punya rumah sebesar alun-alun. Dengan kamar sebanyak seratus. Kamar dengan perabotan yang semuanya berwarna hijau. Tapi, apa cerita selesai di sini? Ternyata tidak. Sebab, dengan keseriusan, Kan membangun laboratorium khusus di salah sau kamar di rumahnya. Laboratorium itu diisi dengan teropong yang mendongak ke atas. Teropong yang bisa mengamati setiap gerak bulan, bintang, komet, atau benda-benda laingit lainnya.
Benda-benda langit yang tak jelas kapan disebaranakannya.
Dan dimana pula titik pusatnya. Dan kenapa begitu terjaga dan patuh pada peredaran yang tak tertulis tapi begitu kukuh. Peredaran yang membuat setiap mata yang melihatnya berkhayal seperti ini:
“pasti ada yang tak terlihat yang mengikat semuanya.”
“Pasti talinya besar dan kuat.”
“Dan tali itu digenggam oleh raksasa super besar.”
“Raksasanya punya sayap.”
“Tapi, aku kok tak melihatnya?”
“Ya, pasti tak melihatnya. Raksasanya kan gaib.”
“Gaib? Kau kok tahu?”
“Ufh.”
“Kau pasti ngelindur?”
“Sudah, sudah…”
“Iya, sudah. Jangan diteruskan.”
“Kenapa?”
“Karena itu bukan tali.”
“Lalu apa?”
“Pokooknya bukan tali.”
“Loh,”
“Pokoknya bukan.”
“Aneh?”
“Tepat, keanehanlah yang mengikatnya.”
“…”
Lalu, apa yang dicari oleh Kan di atas sana? Ya, itu tak lain adalah piring terbang mungil yang dulu pernah dilihatnya menjauhi telaga. Piring terbang mungil, yang melesat bersamaan dengan lenyapnya si orang hijau-hijau. Piring terbang mungil (yang dalam pikiran Kan) adalah pasti kendaraan si orang-hijau. Si orang-hijau yang telah memberinya pil. Pil yang telah menjadikan anusnya setiap enam bulan sekali mengeluarkan telur emas.
***
Tahun-tahun pun ebrlalu. Ternyata, Kan berumur panjang. Panjang sekali. Dan saat ini, adalah saat kesekian ratus tahun. Saat ketika Kan sudah tua. Dan saking tuanya, tak jelas berapa sudah umurnya. Istrinya telah lama meninggal. Dan anak-anaknya pun sudah entah ke mana. Tak terkenang. Sehingga, Kan tak tahu, siapa saja cucu-cucunya, juga cicit-cicitnya, juga anak-anak dari cicit-cicitnya. Yang jelas, siapa saja yang datang, dan emngaku keturunannya, disambut.  Dan semuanya pun diberi telur emasnya. Terus pergi. Tanpa berani untuk mengganggu kesuntukan Kan. Kesuntukan untuk mengamati langit dengan teropongnya yang kini makin canggih dan tajam. Teropong (yang ternyata selama ini), tak pernah menangkap gerak piring terbang mungil dari kendaraan si orang-hijau dulu. Teropong, yang hanya menjangkau kegelapan langit yang jauh, jauh sekali. Dan teropong (yang membuat orang-orang yang ada), pun menyebut diri Kan, sebagai peneropong-sepuh yang pandangannya gentayangan tanpa batas akhir. (*)
*petikan puisi Ghazal, Mohammad Iqbal (Sastra Sufi Sebuah Antologi, ed-Abdul Hadi WM)
Tentang mardi Luhung: Nama asli Mardi Luhung adalah Hendry. Lahir di Gresik, 5 Maret 1965. DIa lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jember. Puisinya tersebar di berbagai media.  Buku puisi tunggalnya: Terbelah Sudah Jantungku (1996) Wanita yang Kencing di Semak (2002), Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007) dan Buwun (2010).
Mengikuti Program Penulisan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) dalam bisang puisi (2002), Cakrawa;a Sastra Indonesia (2004), International Literary Biennale di Salihara (2005 dan 2013) serta diundang dalam Festival Kesenian Yogyakarta XVIII/2006. Tahun 2010 mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award. Sedangkan, kumpulan cerpen pertamanya adalah: Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mardi Luhung
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 9 Agustus 2015