Terpanggil dari Tempat yang Jauh – Oh Raja, Hidup Sang Raja – Pada Hari Kau Meninggalkanku

Karya . Dikliping tanggal 5 Juni 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Terpanggil dari Tempat yang Jauh

Siapa memanggil?
Sesuatu berbunyi
tanpa tersebut namaku. Kau dengarkan,
ia membuntutimu, hinggap di alas ruang itu
-sayapnya lemah.
Dia akan mengepak di helaan napas pagi,
bergetar, membangunkanmu:
dengarkan sekarang,
sebuah nada pergi saat ia menghilang.
2014

Oh Raja, Hidup Sang Raja

Sebab kematian
kukatupkan kedua mata:
Oh Raja, hidup Sang Raja.
Telah terbangun pertahanan
kuda-kuda sepasang bidak,
trisula di hadapan sang raja,
tidak ada yang mengancam dari sayap,
dari diriku jika engkau menguak
sebuah luka.
Oh Raja, hidup Sang Raja.
Terjungkal di sudut,
aku kehilangan lengan untuk melindungimu.
Jiwa-jiwa kami untukmu,
tapi kenapa
mereka lewatkan hidup kami untuk membunuhmu?
Kesunyian adalah peperangan paling menakutkan
-katamu suatu ketika.
Dan diam-diam,
keheningan itu mengendap
menghembus kegelisahan yang jelita,
berjatuhan cinta-cinta,
dan khianat siapakah yang membuka jalan
bagi kematian Sang Raja?
Aku yang melangkah dengan jalan menyimpang
mengenangmu,
terkulai bagai belalai gajah yang tewas
tanpa sempat mengeluh.
Bersama yang tersisa
mengubur dendam dan kebodohan ini.
Enam puluh empat teritori persegi
tidak cukup mengeluarkan Sang Raja dari maut.
Ia niscaya,
meski kuingkari tatapanku padamu,
duhai kematian.
Oh Raja, hidup Sang Raja!
2014

Pada Hari Kau Meninggalkanku

Terpujilah hawa panas.
Pikiranku,
dan jiwa gelisah ini
serupa debu-debu halus
yang membadai di bawah pohon mangga.
Sedangkan,
tanpa terucapkan
raungan,
gemuruh mesin mengamuk di seberang.
Sampai masa ini,
kita masih mengenakan jubah
selimut tanggal musim hujan,
masih menebak isyarat,
gerak dan tatapan
-isyarat kata-kata yang meluncur
dari lidah lunak kebimbangan.
Perempuan tua itu
mengikat segulung kayu bakar di luar halaman,
terbayang dalam benak
retasan api
gigil di tubuhku.
Tidak akan cukup
suara musik,
tarian kaki-kaki Hindustan;
aku masih tetap meniupkan nafas
di antara dua telapak tangan yang kugosok
dan udara berbau
tubuhmu.
Aku akan cukup tenang bepergian,
ku bawa apa saja
yang aku tahu tidak berguna
di punggungku. Mesti kubagi
beberapa rindu ini
ke kota-kota.
2014
Rudiana Ade Ginanjar, lahir di Cilacap, 21 Maret 1985. Menyukai menulis sejak SMA, kini tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Beberapa karya terhimpun dalam antologi bersama dan media massa. Antologi Penyair Muda Banyumas Raya: Blues Mata Hati (Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas), Pendhapa 5 (Taman Budaya Jawa Tengah), Kepada Yang Tersembunyi (Tjilatjapan Poetry Forum), dan beberapa lainnya. Karyanya juga dimuat di Suara Merdeka, Seputar Indonesia dan Horison. (92)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rudiana Ade Ginanjar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 5 Juni 2016