Tetangga

Karya . Dikliping tanggal 3 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
KEBUN seluas seribu meter persegi itu awalnya diratakan. Pepohonannya ditebang. Sukun, cengkeh, sengon, rasanya sayang menjadi tumpukan kayu bakar. Kebun itu diurus oleh Mang Warja. Entah siapa yang punya. Belum pernah saya bertemu. Mang Warja hanya menyebutnya Orang Kota. Saya tidak pernah terus bertanya. 
Bagi saya pembukaan kebun itu membuat pemandangan lebih leluasa. Kebun itu memang ada di sebelah rumah saya. Kalaupun disebut pemisah hanyalah halaman yang ditanami bunga sedap malam dan mawar. Biasanya matahari baru sampai ke jendela kamar saya pukul sepuluh. Sekarang pukul tujuh pagi saja sudah membuat hangat kasur dan bantal.
Seminggu setelah diratakan, anak-anak bermain sepak bola di bekas kebun itu. Setiap sore. Hari Minggu bahkan dari pagi sudah ramai anak-anak bermain. Ada yang bulu tangkis, main kelereng, lari-larian, dan entah permainan apa lagi yang saya sebagai orang tua tidak mengenalnya. Mereka senang mempunyai tempat main yang luas. Para orang tua menyaksikan anak-anak mereka bermain dari pinggir lapangan (begitu akhirnya kami menyebut kebun yang sudah rata itu). Tentunya sambil berbincang tentang apa saja.
Sayangnya hanya satu bulan lapangan itu menjadi tempat bermain anak-anak dan berkumpulnya orang tua. Selanjutnya mulai dibangun sebuah rumah. Tanah digali, dicor dengan semen dan besi. Truk yang mengangkut bahan bangunan pulang pergi. Para pegawainya puluhan orang. Mandornya beberapa orang. Arsiteknya yang membuat gambar dan merancang bangunan itu sesekali
terlihat mengontrol.
Tentu saja cara membangun rumah seperti itu tidak biasa atau tidak wajar bagi orang kampung seperti kami. Tidak heran, setiap sore banyak yang menonton, menonton yang sedang mendirikan rumah. Begitu tahu kayu yang digunakannya jati semua, hiasan atau ornamennya didatangkan dari kota-kota yang jauh, para penonton itu berdecak kagum.
Sebulan kemudian di sebelah rumah saya sudah berdiri sebuah rumah yang megah. Bila malam lampu-lampu terang seperti di tempat konser. Halaman seputar rumah penuh oleh bunga-bunga, tertata rapi dan indah karena taman itu dibuat oleh ahlinya. Setiap pagi dan sore pepohonan di taman itu disiram oleh pembantunya.
Tahu siapa yang punya rumah itu ketika syukuran. Tengah rumah yang luas, loteng, teras, penuh oleh tamu. Sepertinya semua orang kampung datang. Pastinya semua ingin tahu bagaimana syukuran orang kaya. Selain itu, rugi kalau ada yang tidak datang. Selain makanan jamuannya kue-kue kota, lalu makan prasmanan, pulangnya dikasih nasi boks. Isi nasi boks juga bisa membuat menyesal berbulan-bulan yang tidak datang. Gepuk, ayam bakar, telur balado, sambal ati, guramai asam manis, dan amplop berisi uang seratus ribu rupiah.
Pak Kalang namanya, entah orang mana. Postur tubuhnya pantas jadi orang kaya dan terpelajar. Wajah bersih berseri, kata-katanya enak didengar dan bersahabat, pakaiannya rapi dan berkelas (pasti harganya akan membuat kami terkejut), parfumnya menebarkan harum yang enak. Setelah bersalaman seperti tamu-tamu lainnya saya duduk. Tidak ada kesempatan memperkenalkan diri sebagai tetangga terdekat.
***
SELESAI berjamaah Magrib di masjid biasanya saya tidak pulang. Belajar tafsir Alquran kepada Ustaz Wahyu. Tapi suatu hari Ustaz Wahyu dapat halangan, menengok kakeknya yang sakit. Saya pulang, duduk-duduk di bangku bambu di halaman rumah.
Baru kali ini saya berkesempatan membandingkan rumah saya dengan rumah tetangga yang megah itu. Seperti tanah dengan langit bedanya. Rumah saya dibangun di tanah yang luasnya hanya seratus meter persegi. Satu kamar tidur, satu kamar mandi, tengah rumah, dapur yang hanya diteduhi oleh seng dan ditutup oleh tripleks. Lampu hanya 15 watt di tengah rumah, 5 watt di teras. Benar-benar beda.
Saya sedang asyik melamun ketika ada yang mengucapkan salam. Saya menjawab sambil menoleh ke arah yang datang. Terkejut. Pak Kalang. Alhamdulillah. Sejak lama ingin berkenalan lebih akrab. Setelah merasa susah mendapatkan kesempatan, sekarang datang sendiri. 
Tapi tidak disangka sedikit pun. Setelah berbincang ke sana ke mari, saling bertanya pertanyaan yang biasanya ditanyakan orang baru kenalan, Pak Kalang seterusnya mengeluh.
”Tadinya Akang pindah ke sini untuk istirahat. Istirahat dari segala lelah. Tapi ternyata tidak bisa….”
”Mungkin harus mengurangi pekerjaan, Kang,” kata saya sok tahu. Akang, saya memanggilnya, seperti keinginannya.
”Dari dulu juga Akang mah sudah tidak memikirkan pekerjaan. Akang pergi ke sana kemari itu menghindar, ketakutan pada yang menagih utang.”
”Utang? Ah, Akang mah tidak mungkin susah oleh utang, pasti ada untuk membayarnya.”
”Tidak begitu juga, Yi. Utang juga tidak sekedar dalam bentuk rupiah. Akang ini banyak utang. Utang kelakuan, utang pikiran, utang perasaan. Bagaimana cara membayarnya, Yi?” katanya, tetap mengeluh. 
Suaranya terdengar seperti yang merintih. Di keremangan lampu 5 watt wajahnya menyimpan kesedihan yang mahadalam. Saya tidak mengomentari apa pun. Bingung. Tidak mengerti. Besoknya pulang berjamaah Subuh di masjid saya melihat mobil SUV keluar dari rumah megah itu. Biasa Kang Kalang pergi subuh seperti ini. Siapa yang tahu perginya bukan urusan pekerjaan atau bisnis, tapi menghindari yang menagih utang. Hampir sebulan tidak bertemu lagi, karena setiap hari Kang Kalang pergi subuh pulang setelah larut malam.
Suatu hari waktu saya sedang mencari angin di halaman, sepulang berjamaah Magrib di masjid, ada yang mengucapkan salam. Dulu saya terkejut karena tidak menyangka yang datang Kang Kalang. Sekarang terkejut karena melihat penampilan Kang Kalang yang sangat berubah. Badan kurus kering, baju tampak kebesaran. Wajah pias seperti kurang darah, seperti yang bertahun-tahun disiksa penyakit.  Rambut memutih tidak terurus, seperti yang bertahun-tahun tidak mengenal sisir.
”Kang, kenapa Akang teh?”
”Akang sudah tidak kuat lagi, Yi.
Tidak kuat oleh utang,” katanya, lalu menangis di pelukan saya. Tubuhnya berguncang-guncang. Setelah tangisnya mereda, katanya, ”Akang pergi ke sana ke mari ingin membayar utang. Akang merasa kekayaan banyak, cukup sepertinya membayar piutang Akang. Tapi begitu bertemu dengan orang yang pernah dipinjami, waktu Akang bilang mau membayar utang, dia malah bilang: ‘Jangan dipikirin lagi, Pak, sama saya sudah diikhlaskan. Anggap lunas aja utang Bapak’. Akang bukannya senang. Akang malah merasa semakin banyak utang. Waktu Akang mendatangi orang yang pernah Akang sakiti, Akang ikhlas kalau dia ingin membalas, dia malah bilang: ‘Tidak apa, Pak, sama saya sudah dianggap takdir yang jelek kejadian dulu itu. Saya bersyukur waktu saya disakiti saya kuat untuk tidak mendendamnya.’ Dijawab seperti itu hati Akang malah semakin perih. Akang semakin merasa disakiti. Disakiti oleh kelakuan sendiri. Akang merasa ditagih oleh diri sendiri. Ke mana larinya, Yi, kalau yang menagih diri sendiri?”
Saya tidak mengomentari apa pun. Bingung. Tidak mengerti.
***
TADINYA rahasia tetagga itu saya sembunyikan. Rapat-rapat. Tapi tidak kuat juga. Suatu sore saya bilang pada istri. 
”Kasihan ya, Ma, sampai sebegitunya Kang Kalang. Badan kurus kering, kulit keriput, wajah pias. Percuma kaya juga kalau begitu mah,” kata saya. 
”Maksud Bapak siapa?” istri saya berkerut kening.
”Ya, tetangga kita, yang rumahnya megah, yang pembantunya beberapa orang, yang mobilnya SUV yang harganya satu miliar lebih.”
”Bapak… tetangga kita itu kebun pisang. Makanya jangan becermin sore-sore, takut kerasukan setan.
Mending sekarang ngambil wudu, tuh azan Magrib sudah mau selesai.”
Tentu saja saya terkejut. Beberapa kali mengucapkan istigfar. Kaca yang tadi dipakai becermin sambil mencabuti uban saya simpan. Setelah berwudu saya shalat Magrib. Tidak berjamaah ke masjid seperti biasanya. Entah kenapa kali ini ingin di rumah. Tapi shalat di rumah juga tidak tenang, terburu-buru, karena di luar ada yang mengetuk pintu. Tidak berdoa dan berzikir seperti biasanya, saya langsung membuka pintu. Kang Kalang. Semakin kurus badannya, semakin pias wajahnya, semakin mengkhawatirkan. Kang Kalang memeluk saya erat sekali. 
”Maafkan Akang, Yi. Akang sudah mengganggu. Akang mau pamitan. Ayi mah jangan seperti Akang. Jangan terlalu banyak berutang. Utang yang sekarang juga harus mulai dicicil. Karena itu ternyata yang paling penting, Yi. Banyak harta juga tidak menjamin sanggup membayar utang. Akang doakan ya, Yi,” katanya. Tidak sanggup menjawab, hanya mengangguk perlahan. Kang Kalang memeluk saya.
Saya mengantarnya sampai halaman. Kang Kalang berjalan, perlahan, dengan wajah menunduk. Benar kata istri saya, rumah megah itu tidak ada. Di tanah itu hanya ada pohon kemboja. Di bawahnya ada sebuah batu nisan. Nah, ke sanalah Kang Kalang itu melangkah. (62)
Keterangan:
— Mah, teh (Sunda): kata untuk menegaskan
— Kang (akang): panggilan hormat kepada lelaki yang lebih tua.
— Yi (dari Ayi): panggilan kepada lelaki yang lebih muda
— Tokoh Kang Kalang diambil dari kata Kalangkang (artinya bayangan)
 Yus R Ismail menulis cerpen, puisi dan novel. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Disebabkan oleh Cinta, Pohon Tumbuh Tidak Tergesa-gesa, Sepanjang Jalan Cinta, Pencuri Hati, dan belasan antologi bersama. Tinggal di Bandung.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yus R Ismail 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 2 Agustus 2015