Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (9)

Karya . Dikliping tanggal 10 Maret 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
MEREKA tertawa. Berpelukan. Adu bibir. Bercanda. Berciuman lagi. Tentu saja Ling Ling tidak tahu bahwa hari itu Hertomo memiliki rencana tersendiri. Priyayi nJawani ini hari-harinya diisi kegundahakn setiap ingat bibit-bobot-bebet yang ditekankan romonya. Ia nyaris stres. Maka disusunlah sebuah rencana, dan hari itulah eksekusinya.
Ya, sore indah di Down Town inilah pelaksanaan sebuah rencana yang sudah disusun penuh perhitungan. Tekadnya hanya satu: berhasil atau gagal seterusnya. Semua sudah diatur rapi.
Hertomo mengeluarkan Fortified Wine dari ransel. Dipandangi Ling Ling dengan alis berkerut. Sebagai orang yang cukup lama mukim di Amerika, bahkan sudah memegang green card, Ling Ling cukup familiar dengan segala minuman keras. Tatkala Amerika disergap musim dingin, maka Champagne merupakan minuman penutup saat dinner atau bahkan breakfast sekalipun.
“Mas bawain fortified wine. Masmu ini barusan dapat job lumayan besar. Kamu tidak keberatan kita merayakan dengan sedikit bersenang-senang kan, Say?” Ling Ling mengangguk. Kalau Mas Tom-nya selain sukses studi juga sukses berbisnis, bukankah imbasnya ke dirinya juga. Maka apa salahnya minum anggur meski saat itu bukan musim dingin.
Priyayi ganteng bersuara bariton ini memang luwes. Sambil tangannya sibuk membuka tutup botol, ia bercerita sejarah anggur yang sangat ia pahami. Kita ikut mendengarkan ceritanya….
Anggir (atau wine) adalah minuman beralkohol yang dibuat dari sari anggur jenis Vitis Vinifera yang biasanya hanya tumbuh di area 30 hingga 50 derajat lintang utara dan selatan. Minuman beralkohol yang dibuat dari sari buah lain yang kadar alkoholnya berkisar di antara 8 persen hingga 15 persen biasanya disebut sebagai wine buah (fruit wine).

Anggur dibuat lewat fermentasi gula yang ada di dalam buah anggur yang memiliki beberapa varian seperti red wine, white wine, rose wine, sparkling wine, sweet winefortified wine.

Red wine adalah anggur merah (red grapes). Beberapa jenis anggur merah yang terkenal di kalangan penggila wine di Indonesia adalah merlot, cabernet sauvignon, syrah / shiraz, dan pinot noir.
Sedangkan white wine, sesuai namanya, terbuat dari anggur putih (white grape). Beberapa jenis anggur putih yang terkenal di kalangan pecandu wine di Indonesia adalah chardonnay, sauvignon blanc, semillon, riesling, dan chenin bloanc.

Rose wine adalah wine berwarna merah muda atau merah jambu yang dibuat dari anggur merah, namun dengan proses ekstraksi warna yang lebih singkat dibandingkan dengan proses pembuatan red wine. Di daerah Champagne, kata rose wine mengacu pada oplosan antara white wine dan red wine.

Sparkling wine adalah wine bermuatan cukup banyak gelembung karbon dioksida di dalamnya. Sparkling wine yang paling terkenal adalah Champagne dari Prancis. Hanya sparkling wine yang dibuat dari anggur yang tumbuh di Desa Champagne dan di prosuksi di Desa Champagne yang boleh disebut dan diberi label Champagne.
Sweet wine adalah wine yang masih banyak mengandung gula sisa hasil fermentasi (residual sugar) sehingga membuat rasanya menjadi manis.
Fortified wine –yang sedang dibuka tutup botolnya oleh Hertomo– adalah wine yang mengandung alkohol lebih tinggi dibanding wine biasa (antara 15 persen hingga 20,5 persen). Kadar alkohol yang tinggi ini adalah hasil dari penambahan spirit pada proses pembuatannya.
“Negara-negara yang penduduknya meminum anggur paling banyak itu Prancis, Italia, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Argentina, Britania Raya, Republik Rakyat Tiongkok, Rusia, dan Rumania.” Hertomo sudah berhasil membuka tutup, dan menuangkan ke sloki.
Jika tolok ukur yang digunakan adalah angka per orang atau per kapita, daftar tersebut menjadi: Luxemburg, Perancis, Italia, Portugal, Kroasia, Swiss, Spanyol, Argentina, Uruguay, dan Slovenia (Chezka).
“Satu-satunya wine buatan Indonesia yang dibuat dari anggur lokal adalah hatten wines dengan merk dagang TWO Islands. Tapi fortified wine ini yang rasanya paling enak.” Hertomo menyodorkan segelas penuh ke Ling Ling. Mereka bersulang. Muka Ling Ling meronba jambu.
Biarpun Ling Ling tidak asing dengan anggur karena ayahnya juga seorang peminum yang kuat, namun ia malu jika mabuk dan ucapannyatidak terkontrol. Maka ia menggeleng kepala sambil tersenyum ketika Hertomo mengangsurkan satu gelas lagi.
“Sudah cukup, Mas. Perutku kenyang.”
“Ahh, Say, aku yakin kamu tidak mau mengecewakan Masmu yang sedang gembira. Kita toast sekali lagi,” bujuk Hertomo. 
Betapa Ling Ling dapat menolak? Sambil tersenyum ia pun mengangkat sloki. Senyumnya agak lebar kini, lebih terlepas dan dengan sinar mata kagum Hertomo melihat deretan gigi yang putih cemerlang seperti mutiara, rapi berjajar dan samar-samar nampak rongga mulut yang merah dengan ujung lidah jambon yang sehat. Keduanya saling mengacungkan gelas, dan glegg. Fortified wine masuk ke perut Ling Ling untuk kedua kali. {Sekadar catatan. Tradisi toast dimulai abad keenam Sebelum Masehi di Yunani kuno, dengan menuangkan wine di kendi. Tradisi ini seabad kemudian diikuti bangsa Roma, namun dengan alasan berbeda. Mereka menempelkan gelas ketika toast supaya ada yang tumpah saat benturan}.
Begitu anggur masuk perut, Ling Ling terkejut, heran dan juga kagum! Belum pernah selama hidupnya ia minum selezat itu! Bagaikan sari buah angugr tulen. Mungkin anggur dengan mutu terbaik diperas dan entah dicampur apa maka dapat sedemikian manis dan harum. Tentu tidak memabukkan, pikirnya. Memang ada rasa hangat, akan tetapi tidak panas menyentak seperti kalau minum whisky.
“Bukan main!” Ling Ling memuji.
“Engkau sungguh pintar memilih wine berkualitas. Sepanjang hidup baru sekarang aku merasakan minuman yang begini lezatnya.”
“Thanks, Say, wine ini enak dan tidka memabukkan. Kalau Masmu sekarang ini mabuk tentu bukan karena wine.”

“Karena apa, Mas?” Ling Ling tertawa karena sudah tahu jawabannya.
Kecantikanmu yang selalu membuat Masmu ini mabuk kepayang.”
“Sekarang kita toast untuk yang terakhir, Say.” Hertomo cepat menuangkan anggur. 
[] (bersambung)-c


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 8 Maret 2015
Beri Nilai-Bintang!