Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (10)

Karya . Dikliping tanggal 17 Maret 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
KARENA wine lezat ini diyakini tidak akan membuatnya mabuk, Ling Ling tanpa ragu emnenggak sampai habis. Mukanya semakin merah, dan jantungnya berdebar aneh. Sekarang ini Hertomo kelihatan terlalu tampan, terlalu macho. terlalu gentle, pokoknya terlalu….
Ling Ling merasa seperti melayang, terapung-apung tanpa bobot, dibuai dan ditimang, tubuhnya seperti tidak merasakan apa-apa lagi kecuali kenikmatan yang aneh. Ia membuka mata dan mendapatkan dirinya masih duduk di depan meja, dan diseberangnya, wajah tampan itu makin ganteng saja. Ia merasa aneh namun tidak heran, tidak merasa mabuk, masih agak sadar bahwa terjadi suatu keanehan yang selamanya tak pernah dirasakannya. Ia menguap.
Ling Ling merasa ngantuk sekali.
“Kita istirahat, Say.” Tanpa menanti jawaban, Hertomo menggandeng setengah memeluk Ling Ling ke The Hollywood Tower, hanya beberapa puluh langkah dari meja mereka tadi, masih kawasan Down Town.
Menuntunnya ke kamar dan Ling Ling mandah dengan mata setengah terpejam. Ia seperti melihat pelangi yang luar biasa indahnya, warna warni yang begitu jelas, ia seperti mendengar suara beraneka macam, membawakan irama yang dmeikian halus sehingga tak terasa Ling Ling menggerak-gerallan kepala mengikuti irama. Tripping.

Suara ketawa halus dari Hertomo memasuki telinganya, seperti suara bisikan dari jauh sekali, namun begitu jelas. “Mengantuk, Say?”
Ling Ling menggeleng dan menahan ketawanya. ANeh, kenapa ia ingin tretawa, tertawa sepuasnya dan sebebasnya? Tidak ada lagi ikatan malu, yang ada hanya keinginan bersenang-senang. “Aku tidak lelah, tidak mengantuk, ya, aku tidak mengantuk Mas.”
“Kamu penat, Say, kamu harus istirahat.” 
Hertomo membaringkan Ling Ling di spring bed yang kenthul-kenthul lunak. Sejenak Ling Ling seperti kaget, lalu tersenyum.
“Ya-ya-ya, istirahat, aku seperti melayang-layang.” Ling Ling bangkit dan akan berjalan ke kemar mandi, tapi limbung dan pundaknya segera dirangkul Hertomo. Tubuhnya ringan seperti balon penuh angin, kedua kakinya seperti agar-agar, dan pikirannnya kosong. Yang ada hanya perasaan senang, bebas dari segala masalah. Peace, Man.

Ling Ling sama sekali tidak memiliki niat apa-apa, apalagi membantah ketika pemuda itu memondong dan merebahkannya kembali. Bahkan ia pun tidka membantah ketika Hertomo melepaskan sepatu boots Koumi Koumi. Ia telentang smebari memandangi langit-langit kamar, lalu menarik napas panjang.
“Ahh, enak sekali.” Ling Ling tidak menyadari rambutnya yang hitam panjang terurai di atas bantal. Juga tidak peduli Hertomo menutup pintu. Sama tidka pedulinya ketika pemuda ganteng itu membuka baju luar dan rebah di sampingnya.
Que sera sera.

Tanpa paksaan semua itu terjadi, walau Ling Ling melakukannya dalam keadaan seperenam sadar saja. Berkali-kali ia menyerahkan diri, penuh kerelaan dan sepasang anak manusia itu berada di dalam kamar sampai keesokan harinya. Lupa makan lupa minum.
“Ahh, Mas Tom, apa yang kita lakukan semalam?” Ling Ling menjerit ketika pagi itu ia sudah sungguh-sungguh sadar dari mabuk wine. Rambutnya awut-awutan. Seluruh tubuhnya sakit. Tulangnya seperti remuk.
“Tenag, Say, tenang. Kita melakukan, dan memang layak melakukan karena semua itu atas dasar cinta.”
“Tapi, Pas….”
“Percayalah, Say, yakinilah Masmu bertanggung jawab penuh,” ucapan tegas Hertomo melegakan Ling Ling. Kata-kata memang memiliki sebuah daya, dalam bunyi dan makna, dalam akal dan perasaan. Maka ia pasrah ketika Hertomo membisikkan kata mesra….
***
WUKU Wedangkungan, Anggara Kasih, 2008. Menurut primbon, Selasa Kliwon inilah saatnya rahayu, ngunggahna pari maring lumbung brekat, Sri Gati mendhuwur. Inilah hari baik, naga dina mantab, maka, dengan tubuhnya yang gembur, ia pun mantab menjadi pelacur. Diyakininya petangan dina akan memudahkannya memetik barokah, meski ia tidak muda lagi ibarat gadis ranum yang siap dipanen taruna tampan. Tidak! Umurnya 33 tahun. Dan ini bukan usia belia, terlebih untuk sebuah ‘institusi’ bernama prostitusi. Di Kramat Tunggak, karirnya sebagai ‘diva’ sudah tamat. Maka ia pun mutasi ke lokalisasi di pinggir Kota Cilacap.
Agendanya setiap tahun adalah bermain kartu ceki dengan rokok yang terus menyala, membuat kruistik dan menyulam, selain melayani tamu tentunya. Menjajakan diir bagi aitun tentulah bukan pilihan utama, toh demikian ia memilih memasang tarif Rp 50ribu sepersetubuhan. Dan untuk itulah pagi sore Zaitun berhias habis-habisan: memasang lipstik tebal, berbedak tebal, beryanci tebal, berparfum tebal, bermaskara tebal, dan berkutang tebal. Juga dengan wastra yang manis kesukaannya yakni baju kaftan berbahan sifon warna merah kesumba bernada fuschia, ditimpal hair do yang modis membuatbya chic. Apalagi ketika memeringati Hari Kartini, ia mengenakan kebaya bersulam benang gim, berbahan beludru, tanpa payet. Zaitun seolah tampil bagai Ibu Kartini, dengan guncangan nasib yang berbeda, tentunya.
Setiap Ramadhan, meski tidak ada laranga formal dari SKPD, Zaitun atas inisiatif sendiri ‘cuti’ sebulan. Ia resign, dan akan kembali aktif dua minggu sesudah lebaran. Begitu pula setiap Mei, di bulan suci Bunda Maria, ia selalu menyepatkan diri sowan ke Sendangsono, taklim di depan Goa Maria. Mengaku dosa.
“Mengapa libur sebulan, lama banget, Mbak Tun?” tanya slaah satu penggemarnya.
“Saya harus kembali ke fitrah di bulan baik,” jawabnya lirih.
Tapi suara itu tidaka pahit. Zaitun, juga Santi dan Ika, bukanlah keluh yang masam. Mereka wanita mandiri, mengais rezeki dari profesi yang tidak dinistakan sendiri. Mereka berdikari, tegak di atas kakinya sendiri. Mereka pemilik alat produksi, sekaligus alat produksi itu sendiri. Mereka menjadi penjaja sekaligus barang yang dijajakan: dalam satu raga. Mereka buruh sekaligus majikan. Tak ada yang perlu digetirkan.
“Bagaimana Mbak Tun mengelola rezeki ketika sebulan absen?”
“Ahh. Saya mah pasrah dengan yang di Atas.” Tangannya menunjuk ke langit. Mungkin ini untuk menunjuk sesuatu yang jauh, tidak terukur namun justru tak membuatnya risau, karena manusia yang di bawah, tetap bernilai dalam ketulusan di hadapan-Nya [] 
(bersambung)-c


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 15 Maret 2015