Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (18)

Karya . Dikliping tanggal 10 Mei 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
SETELAH tiba di mulut goa, Kanjeng Sunan menoleh ke kanan, wajahnya begitu gemilang seperti dilapis kencana. Sinar matanya sarat kedamaian, mulutnya senantiasa tersenyum penuh kemakluman, ia melangkah terus ke depan, lalu duduk di atas batu bundar halus yang berada tepat di tengah pekarangan depan Goa Nagaraja. Memang batu itu tempat sang pertapa duduk setiap pagi, bermeditasi menghadap timur di waktu matahari muncul.
Begitu duduk bersila, seluruh tubuh dan wajahnya tepat tertimpa sinar keemasan Sang Bhatara Surya, ia sudah tekun bersamadi, tangan kiri di atas pangkuan, tangan kanan di atas lutut kanan. Sudah menjadi kebiasaan sang pertapa dan dua rekannya, setiap pagi duduk bersamadi di depan goa menghadap matahari. 
Bukan berarti tiga pertapa mandraguna itu pemuja Sang Bhatara Surya. Tidak. Sungguhpun mereka menghormati Sang Bhatara Surya yang bertugas menyinarkan kehidupan di permukaan bumi, namun sesungguhnya Mahapatih Gajahmada pemuja Sri Bathara Wisnu, sedangkan Kanjeng Sunan Kalijaga adalah tokoh ulama muslim dan junjungannya hanyalah Nabi Muhammad SAW tiada lain.

Bagaikan tiga buah arca kencana, tiga pertapa itu suntuk dalam meditasi dan sebentar saja mereka wening, menikmati kebahagiaan dari kekosongan yang hanya dapat dirasakan oleh para pertapa dalam puncak samadinya. Mereka sama sekali tidak tahu, atau mengabaikan keadaan sekeliling dalam kekhusyukannya, sehingga tidak merespons datangnya seorang wanita berindap-indap. Wanita itu Maria Zaitun yang terus menerus mengembara dari goa ke goa tanpa mengenal sayah. 


Melihat tiga pertapa sakti itu, Zaitun seketika jatuh hormat. Ia ikut timpuh di muka goa. Duduk terpekur. Tiba-tiba Zaitun merasa tubuhnya terangkat dan melayang ke belakang. Ia kaget, tahu-tahu sudah pindah tempat persis di belakang Panembahan Senapati. 
“Diamlah di situ.” Zaitun mendengar bisikan halus. Suaranya lirih namun penuh wibawa. Zaitun merasakan getaran tegang dalam suara itu, seakan mereka yang tampak ngelangut bermeditasi itu sedang menghadap sesuatu yang menegangkan. Sebagai wanita cerdas dan tahan banting, Zaitun segera memahami gentingnya suasana, maka ia pun duduk tenang dengan mata lurus ke depan menanti apa yang akan terjadi. Akan tetapi Zaitun tidak melihat bahaya apa pun yang mengancam ketentraman tempat sakral ini. Matahari mulai memancarkan sinarnya yang bening, mengusir halimun tebal yang terbirit-birit ketakutan. Burung-burung bernyanyi gembira. Keadaan demikian indah, tapi mengapa para pertapa seperti menanti datangnya sesuatu yang mencemaskan? Zaitun melirik ke depan dan kanan kiri. Mereka tetap tenang bermeditasi dengan kedua tangan menyilang di atas pangkuan, dan muka menunduk terpejam.
Tiba-tiba Zaitun berdebar keras, belakang kepalanya terasa dingin, dan seluruh bulu tengkuk meremang. Rasa seram memenuhi hatinya. Telinganya menangkap sesuatu yang aneh, suatu perubahan yang luar biasa. Burung-burung yang bernyanyi riang, berloncatan dari cabang ke cabang, pasangan yang sedang bercumbu, pasangan yang tengah terbang sambil memekik girang, semua mendadak sirep. Bahkan kelepak sayap burung pun tidak kedengaran.
Zaitun bingung menoleh ke kanan kiri dan depan. Mengapa segala satwa bahkan pohon-pohon raksasa ikut bungkam? Memang tidak tampak apa pun. Tapi sunyi seperti kuburan kian mencekam. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi parau yang menusuk telinga. Suara burung gagak.
Gaaok… gaok….

Zaitun tentu saja kerap mendengar suara burung pemakan bangkai ini, bahkan melihat bentuknya yang besar hitam mulus, jelek warna dan rupanya. Namun seumur-umur belum pernah Zaitun merasakan begitu seram seperti sekarang. Apakah munculnya gagak membuat burung-burung lain terbang ketakutan? Tidak mungkin. Jadi, ada apa?!?
Burung gagak bukanlah alap-alap rajawali yang suka menerkam burung lain. Burung gagak adalah burung yang sepengecut-pengecutnya burung, hanya menyerang lawan yang sudah menjadi bangkai. Akan tetapi mengapa keadaan menjadi begitu lengang bersamaan dengan munculnya suara burung gagak itu? Sekadar kebetulan atau apa?!
Zaitun melihat depan. Tiga pertapa itu masih bersila dan memejamkan mata, namun tubuh mereka lebih tegak dari posisi awal, juga tampak getaran-getaran penuh ketegangan membuat kening mmereka berkerut. Hanya Kanjeng Sunan Kalijaga yang masih diam tanpa perubahan.
Tiba-tiba terdengar bunyi bercicit dari dalam goa dan tak lama kemudian muncullah burung-burung hitam kecil beterbangan. Anehnya burung-burung walet itu tidak keluar hanya berputar-putar di mulut goa seakan silau melihat sinar terang. Mahapatih Gajahmada mengangkat tangan kirinya, dan seketika burung-burung masuk ke dalam seolah mendapat perintah kembali ke sarang mereka di bagian paling ujung goa yang lembab.
Sebentar kemudian terdengar suara riuh di depan goa. Cahaya matahari yang menerangi pekarangan mendadaksuram seakan tertutup mendung tebal. Di dalam keremangan terdengar kelepak sayap disertai suara mencicit menusuk telinga. Zaitun terbelalak memandang ke atas. Bulu tengkuknya berdiri semua. Tengkuknya dingin. Kepalanya seakan membesar. Mulutnya ternganga. Zaitun ngeri melihat ribuan kelelawar hitam menyerbu goa. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak wajar. Kini depan goa penuh kelelawar menjijikkan berbau apak menyesakkan pernapasan. Dada Zaitun terasa pepat.
Anehnya, ribuan kelelawar hitam itu tidak menyambar turun seperti ada sesuatu yang mendatangkan rasa jerih pada para binatang itu. Setiap menyambar, satu meter di atas kepala para pertapa, kelelawar ini terbang ke atas sambil memekik ketakutan. Makin penuh sesaklah atas pekarangan goa dengan kelelawar beterbangan. Banyak di antaranya hingga di pohon, bergantungan dan menjerit-jerit. Semua pohon penuh kelelawar. Bau apak tidak tertahankan lagi oleh Maria. Ia membuka mulut nyaris muntah. Perutnya mual sekali. Kepalanya pening. Dadanya berdenyut nyeri. Muka Zaitun pias seperti mayat. Tubuhnya mandi keringat dingin. 
“Pasung Grigis sungguh menyebalkan dan tidak tahu diri berani menganggu Sang Patih.” Panembahan Senapati berkata lirih. Kakek ini mengangkat kedua tangannya ke atas, melambai ke goa. Terdengar suara melengking nyaring dari dalam dan makin lama makin bergemuruh, mengatasi suara kelelawar. Ribuan ekor burung wallet menerobos keluar dari dalam goa sambil bercicit marah. Bagaikan segulung asap hitam, rombongan burung walet ini berserabutan menyerbu kelelawar, terjadilah perang yang dahsyat. Perang antarburung.
Zaitun ternganga kagum. Bukan main. Hebat perang tanding di udara itu. Patuk-mematuk, sambar-menyambar, cakar-mencakar dan saling memukul dengan sayap. Ribuan kelelawar juga melakukan perlawanan gigih. Namun mereka kalah gesit, juga kalah awas. Pandai sekali burung-burung walet itu. Mengelak, kemudian dengan kecepatan kilat menyambar dan mematuk lawan dari samping. Payah kelelawar-kelelawar itu mempertahankan diri. Banyak sudah jatuh korban. Tidak mati dipatuk walet yang mungilitu, akan tetapi burung-burung itu mematuk ke arah mata sehingga kelelawar-kelelawar itu kini benar-benar menjadi buta, bukan hanya silau oleh sinar matahari. []


– bersambung-c


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu pagi” pada 11 Mei 2015