Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (19)

Karya . Dikliping tanggal 19 Mei 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
MEREKA beterbangan kacau-balau dalam ketakutan dan hendak melarikan diri. Terbang sejadinya dan tanpa arah tertentu sehingga banyak di antara mereka yang menabrak pohon dan jatuh ke jurang. Burung-burung walet yang gagah dan gesit itu terbang pula mengejar dan mengusir kelelawar-kelelawar dari depan goa. Perang yang dahsyat dan aneh, yang berlangsung tidak begitu lama, namun cukup menggiriskan hati Zaitun. Sebentar saja burung-burung itu telah mengusir semua kelelawar sehingga tidak seekor pun tinggal. Mereka terus mengejar sampai tak terdengar lagi suara kelelawar yang kebingugan.

Tak lama keudian tempat itu kembali sunyi dan bersih. Bau apak kelelawar lenyap disapu angin gunung. Tiga orang kakek masih bersila memejamkan mata. Suasana hening.

Gaaaaaaoookkk….” Suara burung gagak memecah keheningan. Zaitun bergidik ngeri. Apalagi, sekarang suaranya jelas sekali, parau memekakkan telinga. Agaknya burung tersebut di atas kepala mereka. Zaitun mendongak. Tidak tampak apa pun.

Tiba-tiba terdengar ringkik kuda yang sangat nyaring, seakan-akan kuda itu berada di depan goa. Zaitun melihat ke pekarangan. Tidak kelihatan apa-apa. Zaitun merinding.

“Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha….” Suara ketawa ini pun jelas sekali tanpa ada orangnya. Zaitun menoleh, tiga tokoh pertapa itu diam, hanya tampak sedikit kerut di alis Panembahan Senapati. Rasa ngeri membuat Zaitun dengan muka pucat bergeser mendekati Kanjeng Sunan Kalijaga.

“Ha-ha-ha. Lucu, lucu sekali. Dunia terbalik. Mahapatih Gajahmada, yang sakti mandraguna, melarikan diri dari Majapahati, sekarang jadi pertapa jembel, ha-ha-ha….” Suara tanpa rupa itu bergema seperti suara iblis dari kuburan, bergulung-gulung dan terdengar dari jauh tapi jelas. Diiringi bau ratus yang magis, harum sekali sehingga memabukkan.

Seketika Zaitun kepalanya pening, matanya berpendar-pendar, hidungnya sakit penuh ganda wangi yang mendatangkan rasa manis. Alangkah kagetnya ketika ia berusaha menggerakkan kaki tangannya, ternyata seluruh tubuhnya kaku. Pikiran masih terang, panca indera masih sadar, namun seluruh tubuhnya tidak dapat digerakkan. Bau wangi kian menyengat memenuhi hidung dan tenggorokan, bahkan mulai masuk paru-paru. Zaitun megap-megap. Dadanya serasa akan pecah. Ia terbatuk-batuk.

“Tenanglah, Ngger, tidak apa-apa….”

Terdengar bisikan lembut dari sebelah kiri, suara Panembahan Senapati. Zaitun sejak kecil memang digembleng oleh keadaan: sejak kuliah hidup sendiri di Amerika, lalu ‘ditempa’ dengan peristiwa kerusuhan Mei di Jakarta, lalu ‘diuji mentalnya’ di beberapa lokalisasi. Namun semua ‘gemblengan’ itu hanya merupakan latihan mental. Kini berhadapan ilmu hitam, ia sama sekali belum berpengalaman. Tidak heran kalau Zaitun jadi sasaran empuk ilmu iblis itu.

Ucapan Panembahan Senapati seakan menjadi akar pohon di tepi sungai di mana ia terseret arus. Segera Zaitun meditasi, mengatur napas sambil memejamkan mata. Tampak ribuan bintang menari di pelupuk mata. Bau wangi masih menyengat. Tiba-tiba ia merasa percikan air dingin di atas kepala dan mukanya. Terasa seperti diguyur air es menembus kulit, dan mendinginkan pikiran. Sekarang ia dapat melihat jelas. Tampak Kanjeng Sunan Kalijaga memercikkan air sambil membaca mantra.

“Cium kembang Wijaya Kusuma, Ngger.” Sebuah kebetulan. Memang semenjak hanyut dari Pulau Majeti, sampai ke pantai Widarapayung Binangun, masuk goa Margapati, kembang Wijaya Kusuma yang ia dapatkan di goa tengah pulau Majeti tidak pernah terlepas dari tangannya. Zaitun segera mencium kembang tersebut, dan seketika berkuranglah ganda wangi yang memabukkan. Zaitun terang andang matanya, dan ia kembali tenang.

Zaitun memandang ke pekarangan. Jantungnya tergetar namun ia segera menenangkan diri karena teringat ia berada di antara para pertapa sakti. Sambil menekan kembang Wijaya Kusuma di hidung, Zaitun memandang terpana. Sangat menyeramkan dan sungguh tidak nalar, seperti dalam mimpi buruk.

Persis di pekarangan berdiri makhluk aneh, disebut manusia seperti bukan manusia, tapi kalau hewan bentuknya menyerupai manusia dengan tinggi di atas dua meter. Berwujud nenek renta yang sulit ditaksir usia saking sepuhnya. Rambutnya riap-riapan sebagian menutupi mukanya yang buruk penuh keriput dengan kulit mengelinting persis tengkorak. Matanya cekung dalam sekali seperti dua lobang tanpa biji mata, tapi dari dua lobang hitam itu memancar sinar mencorong bagai mata harimau. Hidungnya pesek. Mulutnya lebar dengan bibir bawah menggantung sehingga kelihatan ompong. Sepasang lengannya kurus dengan kuku panjang meruncing. Berbeda dengan lengannya, justru buah dadanya besar dan sangat panjang sampai ujungnya mendekati pusar. Perhiasan emas dan manik-manik berlian memenuhi leher, pergelangan tangan dan jari-jarinya. Bagian bawah tubuh ditutupi kain beraneka warna mencolok.

“Hi-hi-hi-hi-hi….”

Nenek mengerikan itu terkekeh-kekeh dan menari-nari di depan Patih Gajahmada yang tetap bersila tegak. Sejak terjadi pelbagai keanehan, sampai perang dahsyat ribuan walet melawan kelelawar, dan kini nenek renta persis kuntilanak bergerak di depannya, Sang Patih sama sekali tidak bergerak maupun membuka mata.

“Gajahmada, Gajahmada. Tidak ada gunanya bertapa. Kau pengecut melarikan diri dari Majapahit, tidak berani menghadapi musuhmu yang lebih sakti, hi-hi-hi.”

Zaitun bergidik. Ketika sinar mata yang memancar keluar dari sepasang lubang hitam itu bertemu dengan pandang matanya, hampir ia pingsan. Untung ia segera menggigit tangkai bunga dan mengerahkan seluruh tenaga mempertahankan diri sehingga ia sadar kembali dan menentang sinar mata itu penuh keberanian.

“Hi-hi-hi-hi, bocah wadon ini makanan lezat, dagingnya empuk gurih.”

Nenek itu memutar ke belakang Patih Gajahmada dan melangkah menghampiri Zaitun. Tadi Zaitun memang ketakutan melihat demonstrasi ilmu hitam yang tidak tinemu nalar. Tapi, begitu dirinya terancam bahaya, bangkit semangat perlawanan. Ia pernah diperkosa secara biadab. Ia berkali-kali hanyut ditelan gelombang ganas. Ia lama hidup di Pulau Majeti. Juga masuk Goa Margapati. [] (bersambung)




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu pagi” pada 17 Mei 2015