Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (21)

Karya . Dikliping tanggal 1 Juni 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Koran Merapi
“HAHAHA, pertapa jembel, lagakmu seperti memberi wejangan para dewa di suralaya. Tak ada pilihan bagimu selain menyerah atau mati.”
“Kekuatan yang digunakan tanpa landasan dharma sesungguhnya kelemahan. Andika mengandalkan kekuatan untuk sewenang-wenang hanya menimbun racun, dan akhirnya justru meracuni diri sendiri. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti, lupakan Andika?”
“Tak usah cerewet, patih pecundang. Serahkan nyawamu!”
Sang patih menghela napas dalam-dalam. Pikirannya melayang nun jauh  beberapa abad silam. Kisah perseteruannya dengan kerajaan Bali diawali tahun 1337, di mana raja Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten/Sri Gajah Waktera/Sri Topolung mulai berkuasa di Pulau Bali, dan mengendalikan pemerintahan sangat bijaksana, adil serta taat melaksanakan upacara keagamaan. Di samping pemberani dan sakti mandraguna, sang raja terkenal wicaksana.
Raja Astasura mengangkat seorang mangkubumi yang mahasakti bernama Krian Pasung Grigis, seorang raksasa hitam mengerikan, yang tinggal di Desa Tengkulak dekat istana Bedahulu. Sebagai pembantunya Ki Kebo Iwa alias Kebo Taruna dari Desa Belahbatuh. Sang raja membaiat sejumlah menteri yang sebagian besar adalah keturunan Ratu Ugrasena, ksatria Kalingga yang rata-rata pemberani sehingga menjadi panglima perang sampai pemerintahan Gelgel bergelar Jlantik.
Satu di antaranya adalah Arya Ularan, panglima Dulang Mangap, merupakan pasukan inti kerajaan yang sukses menaklukkan Blambangan. Juga Jlantik Bogol yang begitu mashyur di kancah perang Pasuruan. Selaku penganut Budha yang patuh, Raja Astasura banyak mendirikan tempat peribadatan dan emlakukan upacara agama di Pura Basakih didampingi para menterinya yang setia.
Keadaan yang aman gemah ripah loh jinawi mendadak berubah seiring sikap sang raja yang tidak mau tunduk di bawah Ratu Tribhuwana Tunggadewi, padahal ia sendiri keturunan Majapahit.
“Bali sejak dulu dalam lindungan kerajaan Daha dibawah pimpinan Raja Putri Ganapriya Dharmapatni. ” Sang raja memberi alasan.
Begitu setianya Bali terhadap Daha, maka di akhir pemerintahan raja kembar Mahasora-Mahasori, yang menjadi pengganti adalah Sri Hyang Ning Hyang Adidewa Lencana, melakukan penyerbuan ke Singasari. Tapi kalah dan ditakhlukkan oleh Prabu Kertanegara. Sampai suatu ketika Singasari ditakhlukkan oleh Prabu Jayakatwang, dan Bali kembali dibawah kendali Daha. Pada tahun 1293 Daha ambruk diserang Majapahit sehingga Bali dikuasai kerajaan besar dengan patih legendaris Gajahmada.
Sikap mbalela Raja Astasura ini didengar Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi yang kemudian merencanakan mengirim pasukan segelar sepapan di bawah Patih Gajahmada dan Panglima Arya Damar (Adityawarman). Tentu tidak mudah menundukkan Bali yang dikawal banyak tokoh sakti Grigis. Maka diutuslah Patih Gajahmada ke bali membawa surat yang isinya permohonan persahabatan Putri Tunggadewi dengan Raja Artasura.
Berangkatlah gajahmada ke Bali melewati lapangan Bubat, kemudian menyusuri Pantai Pejarakan, Telagorung, Palu Ayam, Kapurancak dan mendarat di pesisir Jembrana. Dilanjutkan perjalanan darat melalui Pantai Umabangkah, Seseh, Kadung Ayam, Kalahan, Tuban, Gumicik, dan sampai Sukawati sang patih dijemput Ki PAsung Grigis yang memang sudah mengetahui kedatangan patih terkenal ini.
“Kedatangan Andika mengagetkan kami. Ada gerangan apakah Mahapatih mengunjungi Bali?” Ki Pasung Grigis bertanya hormat.
Hatinya risau sebab jika tidak ada sesuatu yang sangat penting tentu tidak mungkin patih ‘sekaliber Gajahmada’ berkenan datang.
“Saya diutus Ratu Tribhuwana Tunggadewi untuk emnyampaikan seurat ke hadpaan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Junjungan kami ingin bersahabat dnegan Raja Bali.” Patih Gajahmada tersenyum ramah.
“Oh, begitu.” Ki Pasung Grigis mengangguk. “Mari, mari silakan Ki Patih menunggu sebentar di Karang Kepatihan. Saya akan menghadap beliau,” kata Krian Pasung Grigis yang kemudian buru-buru menghadap rajanya.
Di hadapan Raja Sri Astasura Ratna Banten di istana Bedahulu, patih Gajamada menyampaikan maksud kedatangannya dan menyerahkan surat dari Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi.
Raja Astasura sangat gembira membaca surat yang isinya selain mohon persahabatan tulus, juga menginginkan  Ki Kebo Iwa yang masih perjaka berkenan datang ke Majapahit bersama Patih gajahmada untuk dinikahkan dengan Putri Lemah Tulis yang cantik jelita.
“Kebo Iwa, segeralah berkemas, dan bersama Patih Gajahmada menghadap Ratu Tribhuwana Tunggadewi,” perintah Raja Artasura yang langsung disanggupi oleh punggawa setia ini, meski ia sendiri heran tiada badai tiada hujan mau dikawinkan dengan putri Majapahit.
Sebelum berangkat, Kebo Iwa yang taat beribadah ini memerlukan upacara keagamaan di Pura Uluwatu, untuk meminta kekuatan dari Sang Hyang Rudra. Dan Sang Hyang Rudra memenuhghi permintaan Kebo Iwa, dan dengan demikian kesaktiannya menjadi sangat luar biasa.
Tanpa prasangka apa pun Kebo Iwa beriringan dengan Patih Gajahmada berangkat ke Majapahit. Sampai di tengah laut, tiba-tiba perahu yang ditumpangi oleng, dan Kebo Iwa tercebur. Namun berkat kasekten-nya, Kebi Iwa berhasil menyusul ke darat dengan selamat.
“Edan Kebo Iwa ini, aku harus lebih berhati-hati,” umpat Patih Gajahmada dalam hati.
Ia lalu menjalankan siasatnya yang lain. Kebo Iwa diajak mampir ke rumah raden Arya Damar di Banyuwangi, dan disuruh menunggu sebentar sebab sang patih akan melapor ke Ratu Tunggadewi. Lagi-lagi Kebo Iwa yang tidak pernah bersangka buruk ini menanti dengan sabar.
Ki Kebo Iwa adalah seorang yang sangat disegani karena kesaktian yang ngedab-edabi, pemberani, jujur, dan berhati bersih sehingga Majapahit yang selalu jaya di segala pertempuran  pun jerih menyerbu Bali selama tokoh sakti ini masih ada. Tak hanya sakti, Ki Kebo Iwa bukanlah manusia gila kedudukan, maka kekuasaan selalu dipanggulnya dengan enggan dan kikuk. Sang ratu kemudian mengutus seorang krian mengantar Kebo Iwa ke Istana Majapahit.
Di sinilah, di tlatah Majapahit gudangnya orang sakti, wibawa Kebo Iwa yang memancar dari pembawaannya yang tenang membuat seluruh prajurit, baik yang belum pernah berhadapan maupun yang pernah takhluk, menjadi kagum, cemas dan ngeri. Inilah tokoh paling digdaya di Bali. Kesaktiannya hanya selapis tipis di bawah Krian Pasung Grigis.
(bersambung)

Rujukan:
[1] Disallin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 31 Mei 2015