Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (22)

Karya . Dikliping tanggal 7 Juni 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
“SELAMAT datang di Majapahit. Salam kami untuk andika,” ujar Patih Gajahmada ramah.
“Terima kasih, kiranya Andika bersedia langsung menjelaskan maksud Baginda Tribhuwana Tunggadewi yang meminta saya datang ke Majapahit,” jawab Kebo Iwa yang tidak suka berbasa-basi. Ucapannya selalu singkat, lugu dan tegas tanpa tedeng aling-aling.
“Tentu, Ki Kebo Iwa. Baginda ratu mengharapkan kedatangan Andika menjalin tali persahabatan dengan Kerajaan Bedahulu di bali, dan juga menginginkan patih bersedia menemui wanita terhormat pilihan Ratu yang dirasa pantas untuk mendampingi seorang patih yang mumpuni seperti Andika.” Gajahmada menjawab hormat.
“Tapi maaf, jika Ki Kebo Iwa berkenan terlebih dahulu membuat sumur di sana yang kelak dipersembahkan untuk wanita cantik calon pendamping Andika. Juga nantinya sumur itu akan dimafaatkan rakyat Majapahit jika sedang krisis air. Berkenankah?” lanjutnya bertanya.
Patih Kebo Iwa memiliki jiwa besar dan lurus hatinya, tidak pernah neka-neka, maka permintaan itu seketika disanggupi. “Baiklah, biarlah sedikit kekuatanku ini digunakan untuk kemaslahatan banyak orang.”
Tanpa banyak bicara, lebih mementingkan kerja, kerja dan kerja, Patih Kebo Iwa segera membuat lobang sumur yang sangat dalam, dan hebatnya dilakukan sendirian tanpa bantuan siapaun. Sebelum mengawali kerja, Ki Kebo Iwa mohon restu Sang Hyang Widi. Dan dalam waktu singkat tergali lobang sepuluh meter. Namun air belum keluar. Peluh ber-dleweran di sekujur tubuh Kebo Iwa yang kokoh kekar itu. Persis di atas lobang, banyak prajurit Majapahit mengerumuni patih digdaya ini.
“Sekarang!” teriak Gajahmada sebagai aba-aba.
Ratusan prajurit Majapahit mendorong Kebo Iwa masuk sumur dan secepatnya menimbuni dengan batu-batu besar. Kebo Iwa dikubur hidup-hidup. Ini merupakan siasat kedua setelah siasat pertama menceburkan Kebo Iwa ke laut tidak berhasil.
“Ehh, apa yang kalian lakukan?” teriakan Kebo Iwa tidak digubris.
Para prajurit dengan muka beringas menimbun galian bahkan dengan batu sebesar anak kerbau. Patih sakti ini berusaha menahan  hujan batu, namun dalam waktu sepuluh menit lobang sumur tertutup rapat.
“Bagaimanapun, Kebo Iwa adalah seorang pahlawan besar,” kata Patih Gajahmada yang nun dilubuk hati paling dalam merasa malu melakukan perbuatan pengecut.
“Kita terpaksa. Yaa, kita dengan berat hati berbuat seperti ini semata demi persatuan dan kesatuan Nusantara,” sambungnya dengan nada getir.
Seolah menyambut ucapan Gajahmada, tiba-tiba timbunan di sumur meledak ke segala penjuuru, batu-batu berhamburan melukai ratusan prajurit. Terdengar teriakan bagai guntur di dalam lobang: “Bali masih jaya, Bali tetap merdeka sepanjang napasku masih berhembus.”
Dari dalam lobang muncul Patih Kebo Iwa dengan tubuh kotor namun tanpa luka sedikitpun. Betapa jerihnya Gajahmada. Mukanya pucat memandang rekannya sesama patih dan sama-sama mandraguna ini. Betapa, yaaa betapa dahsyatnya Ki Kebo Iwa, patih tanggon dari Bali ini.
“Andika ksatria tangguh perkasa. Mengapa bersikap demikian pengecut?” teriak marah Kebo Iwa sambil menyerang Gajahmada dengan penuh kesumat.
Pertarungan dua tokoh digdaya dan memiliki ilmu kanuragan  setara ini sangat dahsyat. Pohon-pohon besar tumbang oleh amukan mereka yang mengeluarkan seluruh kadigdayan. berhamburan aji Gelap Ngampar; Brajamusti; Lebur Saketi;Tameng Waja; Ampak-Ampak; Lembu Sekilan; membuat debu beterbangan dan suasana di seputar pertempuran menjadi panas mendidih.
“Majapahit ingin mempersatukan Nusantara. Segenap kerajaan harus bersatu di bawah pimpinan Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Dan Andika, sayang sekali, berdiri di garis yang salah sebagai penghalang persatuan. Satu-satunya jalan Andika harus dilenyapkan.” Gajahmada sempat berkilah di sela perang tanding itu.
Kebo Iwa tidak mengucap sepatah kata pun. Dahinya berkerut. Ksatria Bali ini dapat merasakan kebenaran ucapan sahabat sekaligus musuhnya, Mahapatih Gajahmada. Ia tahu benar, Bali akan hancur jika bermusuhan terus dengan Majapahit yang penuh para pendekar sakti.
“Persetan dengan persatuan Nusantara, itu urusan Majapahit. Pokoknya selagi ragaku masih hidup, jantungku masih berdetak, Bali tidak akan runtuh,” Kebo Iwa berteriak dlaam hati sekeras-kerasnya meski dengan nada sumbang. Ia tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Nusantara dipersatukan, semua kerajaan bergabung, tidak ada peperangan, rakyat merdeka gemah ripah loh jinawi, bukankah ini cita-cita mulia?! Salahkah Majapahit?! Salahkah?!
“Patih Gajahmasa, sepanjang darah belum tumpah dari tubuhku, aku memang menjadi penghalang bagi kebesaran Majapahit. Taklukkan aku, patih. Hilangkan seluruh kasekten-ku dengan menyiramkan bubuk kapur ke badanku,” bisik Kebo Iwa yang diam-diam menaruh segan dan hormat kepada mahapatih Majapahit yang juga berpostur raksasa ini. Pun ambisi besarnya menyatukan semua kerajaan semata demi kebesaran Nusantara.
“Patih Kebo Iwa, Andika, Andika?” Sama seperti Kebo Iwa, dalam hati Gajahmada juga menaruh kekaguman kepada jawara Bali ini. Kasekten-nya ngedab-edabi. Hatinya lurus. Batinnya kuat. Jujur, pemberani, dan pembela kebenaran. Seorang ksatria lengkap.
Kebo Iwa mengangguk smabil tersenyum pahit. Patih Gajahmada mengeluh lirih. Inilah jalan kematian yang diinginkan sang lelaki perkasa. Apa boleh buat. Dengan menahan perih, Gajahmada sejenak mundur selangkah, dipusatkan tenaga dalam pada tangannya yang membara, lalu dipukulkan ke bongkahan batu kapur sebesar kerbau bunting. Pyarrr. Batu kapur meledak, luluh lantak menjadi serpihan bubuk berkat ajian Brajamusti. Patih Gajahmada meraup bubuk dan menyiramkan ke tubuh lawannya membuat seketika Kebo Iwa tersedak pernapasannya.
Benar sebagaimana diisyaratkan Kebo Iwa yang lunglai dan sirna semua kadigdayaannya akibat taburan serbuk kapur. Raksasa tangguh itu terhuyung-huyung dan crappp… keris pusaka andalan Gajahmada yang bernama Surya Panuluh amblas ke lambung Kebo Iwa sampai ke gagangnya.
“Semoga kematianku tidak sia-sia. Biarlah nusantara yang kuat bersatu. Andika sebagai suh jejet sapu kawating Nuswantara. Ini hasil yang pantas atas nilai kematianku, Patih,” bisik Kebo Iwa dengan muka pucat tapi matanya berseri-seri. []

(bersambung)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 7 Juni 2015