Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (23)

Karya . Dikliping tanggal 14 Juni 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
“PATIH Kebo Iwa, Andika tokokh besar yang akan ditulis dnegan tinta emas oleh sejarah. Sejarah Nusnatara yang perkasa sesua Sumpah Palapa. Selamat jalan.” Mahapatih Majapahit ini tidak kuasa membendung tangis. Matanya smebab berurai wasoa.
Ya, patih perkasa, tokoh digdaya, pendekar andalan Majapahit ini menangis. Menangisi kepergian Kebo Iwa. Bumi pertiwi pun tertunduk lesu melepas kepergian slaah satu putera terbaiknya. Hujan rinai membasuh tanah bekas pertempuran menggiriskan itu (kelak, ratusan tahun kemudian, di tanah tempat bertanding Kebo Iwa dengan Gajahmada inilah muncul smeburan llumpur Sidoarjo, dikenal sebagai lumpur Lapindo Brantas).
Dengan lesu Mahapatih Gajahmada berjalan menundukkan muka. Ia sangat menghormati bekas musuhnya, Ki Kebo Iwa yang selain mandraguna juga sidik paningal. Ya, jawara Bali itu tidak sekadar linuwih, ia juga weruh sakdurunge winarah. Tahu apa yang akan terjadi. Itulah sebabnya disaat jelang ajal, Kebo Iwa menyerahkan surat pribadi untuk patih Gajahmada, yang ditulis bahkan sebelum berangkat ke Majapahit.
“Mahapatih Gajahmada yang perkasa. Kupersembahkan Bali kepadamu dengan utuh demi cita-citamu mempersatukan Nusantara. Tapi, ingat pesanku patih, jika kelak Bali tidak Andika rumat dengan baik, dan Andika semena-mena terhadap kawula Bali, maka aku akan menenggelamkan Majapahit dengan lumpur yang merupakan bubuk kapur yang Andika siramkan ke tubuhku. Sekarang aku mengalah semata dmei ambisimu yang mulia….”
Surat pribadi Kebo Iwa itu oleh Gajahmada dibuatkan prasasti di Pulau Menjangan (utara Gilimanuk) di dalam Pura Gajahmada dan Kebo Iwa. Dan pada 2006 menyemburlah lumpur Lapindo.
“Betapa perkasanya Patih Kebo Iwa, pendekar berhati bersih,” puji Gajahmada semabri mengenang betapa sejak bayi pun Kebo Taruna memang sudah menunjukkan keanehan.
Di desa Bedahulu Tabanan, hiduplah suami istri yang dianggap sepasang manusia celaka karena belum memiliki keturunan padahal cukup lama berkeluarga. Cibiran tetangga membuat mereka prihatin, dan tak henti-hentinya ke pura memohon Sang Hyang Widi agar secepatnya diberi keturunan. Tiga tahun berlalu dalma sia, sampai pada tahun ke empat pernikahan, sang istri mengandung.  Kemudian lahirkah bayi laki-laki yang menolak ketika akan disusui. Tangan mungil si bayi menunjuk nasi bungkusan.
“Masak sih anak sekecil ini sudah ingin nasi?” Meski penasaran, nasi bungkus coba disuapkan ke mulut yang makan dengan lahap.
“Astaga. Kau telah memberikan kurnia luar biasa kepadaku, Sang Hyang Widi,” kata snag ibu yang makin terbengong dikarenakan  setiap hari anaknya makan banyak sekali. Dari hari ke hari anak itu tumbuh dewasa seperti raksasa dan diberi nama Kebo Iwa yang berarti paman kerbau.
“Wah, celaka, habis sudah harta bend akami untuk memenuhi selera makan Kebo Iwa.”
Dengan berat hati mereka mohon bantuan desa guna mencukupi semua kebutuhan makan sang anak. Dibuatlah rumah berukuran besar dan masyarakat desa ramai-ramai memasak makanan porsi raksasa. Tapi lama-kelamaan warga tidak sanggup lagi menyediakan ransum.
“Kebo Iwa, kami menyediakan bahan mentah. Silakan Andika masak sendiri.”
Raksasa jujur itu mengangguk. Sejak itu Kebo Iwa mengolah bahan dan memasaknya sesuai seleranya di Pantai Payan bersebelahan Pantai Soka. Sedangkan tempat favorit Kebo Iwa untuk mandi berkubang adalah Danau Beratan.
Meski lahir dan tumbuh kembang dengan postur serba besar, tapi hatinya lurus berjiwa perwira. Suatu saat sehabis mandi ia melihat segerombolan pemuda berandal mengganggu seorang gadis. Tanpa bicara, Kebo Iwa mencengkram salah satu lelaki ceriwis dan melemparkan sejauh dua puluh meter. Dan sejak itu desa Bedahulu aman tenteram.
Kendati tanpa asuha orang tua, Kebo Iwa sebagaimana layaknya orang Bali pintar mengukir. Di dinsing Gunung kawi, tak jauh dari Tampaksiring, ia membuat pahatan di dinding hanya menggunakan kuku. Dan hadirlah sbeuah karya nan megah hanya memerlukan wkatu satu malam saja.
“Kupersembahkan karyaku ini untuk Raja Udayana, Raja Anak Wungsu, Permaisuri dan perdana menteri yang kuhormati,” katanya merendah.
Salah stau keistimewaan yang dimiliki Kebo Iwa adalah membuat sumur hanya dengan memasukkan jari telunjuknya ke tanah. Hal ini didengar raja keturunan terakhir dinasti Warma Dewa bernama Sri Astasura Bumi Banten, dan kemudian mengangkatnya sebagai patih di wilayah Blahbatu.
“Aku berjanji, sepanjang napasku masih ada, Bali tetap jaya,” ujarnya gagah.
Barangkali terpengaruh ucapan Kebo Iwa, maka Raja Astasura mbalela terhadap Majapahit. Dan ucapannya bukan gertakan belaka. Ia mampu menahan serbuan pasukan Majapahit, dan semua armada perang dibawah kendali Patih Gajahmada ditenggelamkan di Selat Bali.
Wafatnya jawara Kebo Iwa memuluskan Majapahit ekspedisi ke Bali lewat tiga arah. Pasukan segelar sepapan dibawah komando Patih Gajamada bersama Krian pamacekan, Ki Gajah Para, dan Krian Getas menyerang dari timur lewat Toya Anyar. Penyerbuan dari utara dipimpin Arya Damar, Arya Sentong dan Arya Kutawaringinnmelewati Ularan dan berhadapan dengan prajurit Bali dibawah Panglima Ki Pasung Grigis, Si Buwan dan Krian Girikmana. Sedangkan dari selatan, prajurit dipimpin Panglima Arya Kendeng, Arya Kanuruhan dan Arya Belog, mendarat di Pantai Kuta bertempur habis-habisan dengan punggawa Bali di bawah kendali Sri Madatama, Ki Tambyak, Ki Walungsingkat dan Ki Gudug Basur.
Tidak memerlukan wkatu sehari , Patih gajahmada berhasil menguasai daerah Tejakula, Bondalem, Julah, Bangkah, Bukti, Sembiran, Tajun, Bontihing, Bila, depa, Dausa, Lateng, Tunnjuk, Kepakisan, Selulung, Batur dan desa bagian timur seperti Tongtongan, Margatiga, Ngis dan Gianyar.
Pasukan Majapahit pimpinan Krian Tumenggung juga berhasil menguasai daerah Celukan Bawang, Banjar-Aseman, Uma Anyar, Yeh Anakan, Kalopaksa, Patemon Ularan, Unggahan, Gelagah, Kutul, Sepang, sekitar sungai Ubo, Ringdikit, Rangdu, Mayong, Pusuh, Lapuan, Kekeran, Belah Manukan, Kedis, Gesing, Banyuatis, Gobleg, Cempaga, Kayu Putih, Munduk dan Baha.
Begitu pula panglima Arya Damar beserta ribuan punggawa Majapahit menguasai daerah Jembrana, Pamegatan, Kebon Jangung, Pangesan, Cangku, Pupuhan, Balimbing, Serampangan, Penatahan, Jelijih, Punggang, Gadungan, Kayu Kunyit, Uma Gati, Uma Bangkah dan Selajong.
Sisa laskar Bedahulu cerai-berai menyelamatkan diri ke daerah Songan, Kedisan, Abang, Pinggan, Munti, Bonyoh, Tarobayan, Serahi, Sukawana, Panarajon, Kintamani, Pludu, Manikliu, dan sebagian ada pula yang mengungsi ke daerah timur seperti Culik, Tista, Margatiga, Munting, Got, Garbawana, Lokasarana, Garinten, Sekul Kuning, Puhan, Hulakan, Sibetan, Asti, Watuwayang, Kadampai, Bantas, Turamben, Crutcut, Datah, Watidawa, Kutabayem. []
(bersambung) -c
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu pagi” pada 14 Juni 2015