Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (24)

Karya . Dikliping tanggal 21 Juni 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
KERAJAAN Bali luluh-lantak. Tinggallah Kran Pasung Grigis masih bertahan di Desa Tengkulak wilayah Bali bagian tengah. Patih Gajahmada bingung, sebab perintah Ratu Tribhuwana Tunggadewi menangkap hidup Krian Pasung Grigis. Padahal, jangankan menangkap, bahkan membunuhpun bukan tugas yang gampang. Kasekten PAsung Grigis benar-benar nggegirisi.
“Para Arya semua, kita tahu betapa Krian Pasung Grigis sangat sakti, boleh dikatakan sejajar atau malah lebih dibanding Ki Kebo Iwa. Aku sadar kasekten Pasung Grigis akan sirna bila hatinya dikuasai kesombongan, ketamakan sehingga lupa diri.  Tugas kita menggiring agar dia membanggakan diri, muncul semua keangkuhannya, lalu kita bersiasat supaya dia seolah-olah ingkar janji. Bagi seorang ksatria linuwih, macam Pasung Grigis, saat cidra janji itulah segenap kesaktiannya badar, dan kita dapat menangkapnya hidup-hidup,” ujar Patih Gajahmada yang memang cerdas berpolitik,  pintar taktik peperangan, di samping sakti mandraguna. Profil Mahapatih ini ibarat ketua dewan pembina atau ketua umum partai.
Keeseokan harinya, prajurit Majapoahit mengibarkan bendera putih di daerah Tengkulak. Akan halnya Krian pasung Grigis betapa sukacitanya melihat bendera putih tanda menyerah. Ia tertawa tergelak-gelak, bangga kasekten-nya menciutkan nyali lawan.
“Ha-ha-ha-ha…. Prajurit Majapahit yang perkasa, Mahapatih Gajahmada yang linuwih, kalian ternyata pengecut besar. Darah belum tumpah, luka belum menganga, nyawa belum sirna, kalian sudah menyerah, ha-ha-ha-ha….” Pasung Grigis berteriak dengan sombong sambil berdiri bertolak pinggang dengan dada membusung dan muka menengadah.
“Kita harus waspada. Majapahit licik. Siapa tahu mereka bersiasat?” Seorang patih sepuh mengingatkan, namun ditanggapi Pasung Grigis dengan ejekan.
“Bersiasat? Para pengecut rendah itu bersiasat? Makan itu siasat!” Pasung Grigis tertawa berderai. Matanya berbinar-binar. Patih Sepuh menggelengkan kepala dengan sedih. Prihatin melihat sikap jumawa junjungannnya.
“Ayo, suruh mereka menghadap. Segera!” Pasung Grigis membentak seorang punggawa.
Patih Gajahmada, smeua arya, para prajurit Majapahit, dibawa menghadap ke istana. Kawula Tengkulak menyambut gembira dan riuh rendah berpestapora atas kemenangan Krian Pasung Grigis. Hanya seorang, ya, hanya patih sepuh seorang yang mengernyitkan dahi dengan muka muram. Sambil menangkup tangan, Mahapatih Gajahmada mengumumkan kekalahannya.
“Krian Pasung Grigis yang kami hormati, Andika begitu sakti, ditambah para prajurit Bali sangat gagah berani. Andika lelananging jagad. Pendekar tanpa tandingan di dunia,” kata Patih Gajahmada tanpa berani memandang langsung wajah musuhnya.
“Ha-ha-ha-ha…. Andika bijaksana Patih Gajahmada. Andika bersama seluruh panglima dan punggawa Majapahit menyadari kelemahan dan menyerah, itu bagus sekali, ha-ha-ha-ha….”
“Benar sekali Gusti. Andika tidak terkalahkan siapa pun. Bahkan saya mendengar kabar, Andika memiliki seekor anjing hitam yang paham bahasa manusia. Jika Gusti berkenan, kami ingin menyaksikan sendiri kehebatan anjing itu.” Gajahmada mulai menjalankan siasatnya.
“Ha-ha-ha-ha. Kalian sudah menyerah. Hal ini menggembirakan sebab prajurit Bali tidak perlu lelah bertempur. Apa jeleknya kalau keinginan kalian aku penuhi. Ha-ha-ha-ha…,”
Pasung Grigis memanggil, dan anjing berbulu hitam mulus muncul membawa tempurung kelapa di mulutnya. Anjing cerdik ini menunggu sang majikan memberi makan, sebab memang sudah ada perjanjian jika Pasung Grigis memanggil tentu akan mengasih makanan. Ternyata meleset. Si anjing dipanggil hanya untuk dipamerkan tanpa diberi makanan. Sambil bersungut-sungut anjing hitam itu menghampiri tuannya. Inilah saat yang ditunggu Gajahmada.
“Krian Pasung Grigis, Andika ingkar janji terhadap anjingmu, ingkar pada uacapanmu, dan disaksikan Sang Hyang Triyodana Sakti, detik ini lenyaplah semua kesaktianmu. Ayo, angkat senjata, inilah lawanmu, Mahapatih Gajahmada dari Majapahit.” Bentakan patih cerdik ini tidak ditanggapi Pasung Grigis. Tenaganya hilang. Kekuatannya punah. Kasekten-nya hilang.
“Patih Gajahmada, aku menyerah. Sekarang baru kusadari bahwa keseombongan tidak akan direstui para jawata. Kami takluk, seluruh Bali dibawah kekuasaan Majapahit yang agung,” ujarnya penuh penyesalan.
Dengan tertawannya Pasung Grigis, seluruh rakyat dan prajurit Bali menyatakan tunduk di bawah Majapahit pada tahun Saka 1265 atau 1343 Masehi. Di tengah-tengah pesta merayakan kemenangan muncul Kuda Pengasih putera Patih Matuwa, utusan pribadi Tri Bhuwana Tunggadewi yang memantau langsung ekspedisi Patih Gajahmada ke Bali.
“Rakanda Patih dimnta segera kembali ke Majapahit. Sedangkan Arya Kenceng, Arya Sentong, Arya Beletng, Arya Kutawaringin, Arya Belog dan Arya Binculuk tetap di sini menjaga keamanan Bali,” kata Kuda Pengasih disambut anggukan kepala Patih Gajahmada yang terhitung kakak iparnya, dikarenakan Kuda Pengasih adik kandung Ken Bebed isteri Sang patih. Dan tamatlah pemerintah Bali di bawah raja Sri Astasura Ratna Bumi banten.
“Gajahmada, pengecut besar, mengapa diuam saja?” Bentakan Kalagemet ini menyadarkan sang patih drai kenangan lama. Kenangan ketika ia memimpin ekspedisi Bali. Kenangan ketika ia mengucap Sumpah Palapa ingin mempersatukan Nusantara. Kenangan dengan siasat liciknya mampu menaklukkan Krian Pasung Grigis.
“Kalau engkau sudah begitu pengecutnya, baiklah kami ampuni jiwa anjingmu, asal berlutut dan mencium kaki kami, ha-ha-ha-ha….” ujar Kalambang yang disambut senyum teduh oleh pertapa yang sudah menep nafsunya ini.
Patih Gajahmada memang sudah mengenal nama kedua orang ini yang merupakan jagoan-jagoan dari kerajaan Bali yang sudah hancur. Tadi ketika mendengar suara burung gagak yang diikuti semua burung lain, dia menduga suara itu bukan keluar dari mulut burung gagak sewajarnya. Kiranya sepasang murid Pasung Grigis yang membuat ulah. Dia sudah mendnegar Kalambang dan Kalagemet memiliki kesaktian tinggi, yang merupakan ahli ilmu hitam seperti biasa dimiliki para jagoan Bali. Maka ia bersikap waspada.
“Di mana Pasung Grigis? Mengapa tidak datang sendiri?” Gajahmada bertanya ramah. []
(bersambung) -c
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu pagi” pada 21 Juni 2015