Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (25)

Karya . Dikliping tanggal 29 Juni 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
DUA raksasa hitam itu makin marah. “Keparat jahanam, kami muridnya sudah cukup untuk mencabut nyawamu.”
“Hmmh, Pasung Grigis hanya patih jumawa, namun masih mewakilkan orang kasar macam kalian. Pulanglah, dan biarkan gurumu bertemu aku.”
“Iblis laknat. Berani engkau pertapa jembel melawan pusakaku?” Kalagemet mengangkat rayungnya yang menggiriskan.
“Majulah kalian.”
“Keparat sombong, ayo keluarkan senjatamu!”
“Senjataku adalah Kebenaran, dan pasrah kepada Sang Hyang Wisesa.”
“Jahanam bosan hidup!” Kalambang mendahului saudaranya, menerjang dengan ruyung yang mengerikan. Terdengar suara berdesing nyaring. Namun dengan ringan dan tenang Gajahmada menggeser kaki miringkan tubuh. Ruyung itu lewat di samping tubuhnya bagaikan waringin tumbang, menghantam tanah membuat batu-batu kerikil pecah dan terbang berhamburan disusul debu mengepul tebal.
Serangan gagal ini dalam detik selanjutnya sudah disusul ruyung Kalagemet meluncur bagaikan kilat menyambar, menghantam dada Gajahmada. Demikian cepat serangan maut ini sehingga Zaitun ngeri sekaligu cemas. Bagi mata awamnya gerakan Gajahmada tampak lamban, tapi yang diserang seakan menanti datangnya ruyung yang begitu tinggal sejengkal dari dada barulah Gajamada sedikit miringkan tubuh. Hanya beberapa detik, tahu-tahu ruyung sudah ditangkap dengan tangan kiri, disusul tangan kanan Gajahmada menampar yang lagi-lagi menurut Zaitun kelihatan pelan sekali.
“Dessss.” Tubuh Kalagemet seperti disambar petir, matanya terbelalak, dan tubuh kekar itu terlempar lima meter, lalu terbanting roboh dengan suara seperti pohon tumbang. Ia tidak bisa bangun sebab tulang pundaknya patah hanya oleh tamparan ringan itu.
“Keparat sekarat Gajahmada!” Kalambang seperti kesetanan dengan muka membara menggerakkan ruyungnya ke kepala lawannya. Mengagumkan sekali melihat pertapa sepuh yang seluruh rambutnya putih ini mampu bergerak bagai bayangan. Ia sengaja menanti, dan saat ruyung sudah dekat sekali dengan kepalanya, terdengar teriakan beringas Kalambang.
“Remuk kepalamu!” Murid Pasung Grigis ini membayangkan darah akan muncrat dari kepala pecah.
Wuuttt…. Ruyung meleset dan tanpa dapat ditahan lagi meluncur ke bawah menghantam tanah. Debu mengepul tinggi. Dalam kesempatan sedetik ini Gajahmada menampar pangkal lengan Kalambang. Krakkk. Pundak Kalambang patah dan ruyungnya terlempar.
“Mati aku,” sambat Kalambang sembari berguling-guling menjauhkan diri. Namun Patih Gajahmada hanya berdiri tenang sambil tersenyum pahit.
“Pergi dan ajaklah lima orang anakbuahmu,” Gajahmada berkata lembut.
Tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis ketika Kalambang dan Kalagemet pergi diikuti lima lelaki kekar yang memandang Gajahmada dengan ketakutan. Suara mendesis kian tajam, juga bertebaran bau amis wengur, lalu terdengar bentakan kasar parau.
“Jangan sombong Gajahmada. Jangan merasa jagoan dapat mengalahkan muridku. Kau ingin aku datang? Inilah lawanmu.” Bentakan seperti beringin ambruk ini disusul berkelebatnya sesosok tubuh tinggi besar berdiri tegak di depan sang patih. Ki Pasung Grigis!
Maria ternganga ngeri melihat raksasa yang tiba-tiba muncul ini. Posturnya sama besar dengan Kalambang dan Kalagemet, namun wajahnya merah soga. Mulutnya lebar dengan gigi besar-besar dan di kedua ujungnya bertaring. Matanya melotot merah tanpa berkedip. Dadanya berbulu lebat tidak berbaju sehingga otot sebesar dadung melingkar-lingkar. Tapi paling seram adalah lima ekor ular hijau belang menghias tubuh kekarnya. Seekor paling panjang membelit leher seperti kalung. Dua ekor di kedua pergelangan tangan. Dua ekor lagi di pergelangan kaki. Lima ekor ular berbisa inilah yang mendesis menyemburkan bau amis menyengat.
“Krian Pasung Grigis, selamat datang,” sapa Gajahmada. “Apa kabar Andika?”
“Hmmh, Gajahmada, tidak perlu berbasa-basi. Aku ke sini untuk melunasi kekalahanku dahulu karena kelicikanmu.” Pasung Grigis menggosok kedua telapak tangannya, dan bergulung-gulung asap hitam.
Tercium bau sangit seperti kulit terbakar. Kedua telapak tangan itu merah seperti besi dibakar. Pasung Grigis bertepuk tangan. Terdengar ledakan disusul bunga api berpijar terang. Tiba-tiba ia maju menubruk dengan dua tangan pula karena sudah tidak ada kesempatan mengelak.
Dessss. Dua tenaga dahsyat bertemu. Dari tangan Pasung Grigis keluar percikan api disusul tubuhnya mundur sejangkah. Patih Gajahmada juga mundur tiga langkah terdorong tenaga lawan yang bukan main kuatnya.
“Hehehe… Sebegitu sajakah kekuatanmu?”
Pasung Grigis kembali menerjang dengan mengembangkan kedua tangannya yang seolah berubah baja membara. Memang hebat Pasung Grigis mengingat ilmunya dulu selapis di atas Kebo Iwa. Ia tokoh paling digdaya di Bali dan kekalahannya hanya karena kesombongan dan ingkar janji. Tanpa siasat Patih Gajahmada waktu itu tidak mampu menaklukkannya.
Semenjak kalah siasat yang mengakibatkan Raja Sri Astasura tertawan bersama ambruknya kerajaan Bali, dan sesudah Pasung Grigis dibebaskan oleh Ratu Tribhuwana, ia lari bertapa sambil menggembleng diri dengan laku puasa ngebleng, patigeni, 40 hari tapa mutih juga memperdalam pelbagai mantra sehingga kasektennya meningkat pesat.
Seperti juga Patih Gajahmada yang sesungguhnya moksa meski kawula Majapahit memakamkan jenazahnya di Trowulan Mojokerto, Krian Pasung Grigis juga moksa. Sukmanya nglambrang antara ada dan tiada. Para arwah moksa itulah yang kini bertempur di pertapan Sukma Menep. Beruntunglah Zaitun bisa menyaksikan keajaiban itu yang tidak sembarang orang mengalaminya.
“Hehehehe… Gajahmada, di mana kemajuanmu sekian ratus tahun bertapa? Hehehehe…” Pasung Grigis yang tak terukur kasekten-nya semasa raganya masih ada di zaman kerajaan Bali berjaya itu (abad XVI) terkekeh-kekeh mengejek.
Pasung Grigis yang cerdik langsung paham bahwa dua kali bergebrak sudah merasa ia menguasai pertandingan, sehingga Gajahmada sama sekali tidak beroleh kesempatan membalas, hanya berterbangan meloncat ke sana ke mari dan setiap tangkisan membuatnya terhuyung-huyung.
“Pasung Grigis masih belum bertobatkah, Andika?”
Suara halus ini dari Panembahan Senapati, yang tubuhnya bagai terbang menyambar dan menghantam Pasung Grigis menggunakan Aji Brajamusti. Pukulannya cepat sekali, tidak sempat dielakkan maupun ditangkis lawannya.
Plaaakkkk! Pukulan Brajamusti tepat mengenai dada Pasung Grigis.
“Hehehe…. tanganmu seperti perempuan. Empuk. Mana kedigdayaanmu?” ejek Pasung Grigis.
Ia hanya bergeser selangkah kena hantaman nggegirisi itu. Lalu balas memukul dengan tangan yang membara. Namun dengan Aji Bayu Bajra, Panembahan Senapati mengelak. Juga hantaman berantai tujuh kali yang dilontarkan Pasung Grigis mengenai tempat kosong. Terjadilah pertempuran seimbang dengan masuknya Panembahan Senapati.
(bersambung)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu pagi” pada 28 Juni 2015