Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (26)

Karya . Dikliping tanggal 5 Juli 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
KALAU tadi gajahmada terus mengelak, sekarang keadaan berubah. tabuh Pasung Grigis memang kebal dan tidak merasakan dahsyatnya Ajian Brajamusti maupun Gelap Ngampar. Ia mengamuk, mulutnya berbusa-busa, kedua tangannya yang membara terus memukul lawan, tapi gerakan gajahmada dan Panembahan Senapati terlampau gesit. Semua serangan Pasung Grigis gagal. Sementara itu Kanjeng Sunan Kalijaga memandang adu kasekten para orang sakti itu dengan wajah tenang tanpa ekspresi apa pun. Mukanya ettap teduh.
Plakkk. Desss!

Tamparan panembahan Senapati mengenai pundaknya dan selagi terhuyung, ia dihantam tangan kiri Gajahmada yang mengenai lambungnya. Benar memang dua pukulan ampuh ini tidak merobohkannya, namun cukup membuat tulang pundak ngilu dan perut mulas. Bangkitlah kemarahan Pasung Grigis. Untuk mempergunakan ilmu hitam seperti tadi, ia maklum tidak akan ada gunanya karena para lawannya adalah ahli dalam hal ilmu sihir, sehingga ilmu hitam seperti yang telah ia keluarkan tadi, yaitu Calon Arang, juga dapat dipukul buyar.
Pasung Grigis berputar-putar dan bak puting beliung ia menerjang. Hebat bukan main serangan ini. Tubuhnya seperti gasing sehingga kaki tangannya seakan-akan berubah menjadi banyak sekali yang menyerang kedua musuhnya dari delapan penjuru. Bertubi-tubi datangnya pukulan, tamparan, cengkraman, dan tendangan yang dilakukan banyak tangan dan kaki itu. Setiap pukulan pasti mengandung tenanga dahsyat. Daun-daun kering yang berserakan di atas tanah terbawa pusingan angin yang diakibatkan tubuh kakek raksasa ini sehingga tubuh mereka terselimut oleh ribuan daun dan debu yang membumbung ke atas berpusingan.
Di tengah pusaran angin, jawara Bali ini menggereng keras sekali membuat bumi seakan tergoncang, pohon-pohon bergoyang dan daun-daun berguguran. Pasung Grigis mengamuk, lima ular berbisa ikut menyambar dan menggigit. Bahkan ular yang tadinya melingkar di leher turut menyemburkan uap hitam berbisa dengan bau amis yang menguar dari mulutnya. Semua ini masih ditambah dengan sambaran sepasang tombak pendek yang entah kapan sudah dicabut dari belakang pinggangnya.
Memang hebat sekali raksasa ini sehingga Patih Gajahmada dan Panembahan Senapati melompat mundur. Sang patih segera mengeluarkan pusakanya, keris Surya Panuluh. Dan sang panembahan juga menggenggam tombak Kiai Plered. Mereka siap bertanding habis-habisan menghadapi seteru tangguh itu.
“Biarlah Pasung Grigis bertemu denganku.” Suara otu halus tapi begitu berwibawa. Sang patih dan sang panembahan meloncat mundur, dan kembali bersila di tempat smeula dengan napas sedikit terengah. Diam-diam Zaitun cemas. Kedua pertapa sakti ini tidak mudah membuat lawannya kalah, sekarang Kanjeng Sunan Kalijaga menghadapi seorang diri?
Sementara itu Pasung Grigis tertawa menyeramkan memandangi Kanjeng Sunan Kalijaga yang tidak bersamadi lagi, sepasang matanya yang jernih tajam namun lembut mengamatinya dengan senyum ramah. Tidaka da sedikit pun pancaran permusuhan.
“Andika Pasung Grigis dari kerajaan Bali?” Pertanyaan itu halus lembut.
“Heh-heh-heh. Benar. Inilah jagoan tanpa tanding!”
“Andika jauh dari Bali ke Sukma Menep tentu ada keperluan penting. Jangan ragu. Katakan permintaanmu. Jika aku mampu memberi tentu kuberikan.”
“Heh-heh-heh. Kalian ketakutan? Takut menghadapi Pasung Grigis. Heh-heh-heh.”
Maria terkejut juga marah emnyaksikan keseombongan tokoh sakti ini. Begitu pula Patih Gajahmada dan Panembahan Senapati. Namun tampaknya Sunan Kalijaga biasa saja, ia tetap tersenyum penuh kedamaian.
“Krian Pasung Grigis. Yang aku takuti di dunia hanya kalau aku khilaf menyeleweng dari kebenaran. Menggunakan kekerasan memaksakan kehendak bertindak sewenang-wenang adalah penyelewengan manusia paling parah, terlebih dilakukan pertapa yang sudah menjauhi pelbagai nafsu angkara. Dari kekerasan inilah timbulnya kerusakan jagat. Nah, Ki Sanak, katakan apa yang kau inginkan, sedapat mungkin aku berikan kepadamu. ” Suara Kanjeng Sunan Kalijaga yang begitu halus meneduhkan amarah. PAsung Grigis memandnag kakek tua berpakaian putih panjang, namun wajah kakek ini sama sekali tidak jelas karena mukanya seolah-olah tertutup sinar atau uap seperti embun bermandi cahaya matahari pagi. Dada Pasung Grigis berdesir. Ia tahu sedang berhadapan dengan seorang mahasakti.
Suasana senyap. Sejenak nafsu amarah seperti sirna di pertapan Sukma Menep. Sunyi nan indah di mana tidak ada sesuatu yang megusik perasaan. Namun tak berapa lama getaran damai dari sabda kanjeng sunan dipecahkan suara menggelegar Pasung Grigis.
“Heh-heh-heh. Kau tanya apa keperluanku? Aku menghendaki naywa kalian!”
Kanjeng Sunan Kalijaga menangkupkan kedua tangan. Suaranya tetap lembut.
“Andaikan ini siapa yang dapat menentukan mati hidup manusia? Yang tidak berawal pasti tidak berakhir. Yang tidak terlahir, tidak akan mati, dan aku tidak terlahir.”
“Jangan ngelantur. Ayo hadapi aku secara jantan!” bentak PAsung Grigis.
“Yang berawal dan terlahir adalah ragaku. Maka yang kelak berakhir dan mati juga jasad membeku. Jangan Andika kira bisa membunuhku, engkau tersesat terlalu jauh. Raga ini tidak akan luputdari kematian, namun penentunya adalah Allah. Kematian seseorang tidak berada dalam kekuasaan siapapun  selain kuasa-Nya. Nah, di samping Andika tidak berhak menentukan hidup mati seseorang, juga aku diwajibkan menjaga wadag ini. Sadarlah wahai saudaraku yang baik. Saya, Andika, seluruh manusia di atas bumi ini seyogianya melatih diri dengan jitendrya, menahan nafsu. Marilah saudaraku sebelum terlambat.”
Sunyi nan tintrim berindap-indap menghampiri goa pertapan Sukma Menep. Tiada suara apa pun. Wening. Bahkan angin ikut berhenti untuk menghormati sabda kanjeng sunan. Sabda ini bagai ajaran Sri Kreshna (titisan Wisnu) saat memberi wejangan kepada Arjuna. Dan ajaran baik kiranya hanya mampu merasuk sanubari orang yang hatinya terbuka untuk kebajikan. Sementara hati Pasung Grigis sudah lama tertutup nafsu angkara yang menggelora, yang membuat kesadarannya terselimuti awan gelap, yang mata kesadarannya buta akan dharma.
“Heh-heh-heh. Khotbahmu salah sasaran. Aku terlanjur ke mari, dan satu-satunya hal yang memuaskan hatiku adalah membunuh kalian bertiga, ehh, berempat dengan bocah denok ayu bermata sipit itu, heh-heh-heh.” Pasung Grigis terbahak-bahak dengan penuh busa.
“Sesukamulah. Aku sudah mengingatkanmu. Tugas sudah kujalankan” 
(bersambung)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu pagi” pada 5 Juli  2015