Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (27)

Karya . Dikliping tanggal 13 Juli 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
PASUNG Grigis mengamankan sepasang tombaknya. Ia paham benar pertapa renta yang tenang bersila itu Sunan Kalijaga yang amat digdaya. Maka ia mengarahkan semua tenaga beserta segala kasekten-nya. Mulutnya membaca mantra, lalu munculla calon arang.
Nenek mengerikan itu tampak di belakang Pasung Grigis yang kedua tangannya sudah membara, bahkan mulutnya seolah mengeluarkan api berkobar, matanya pun seakan memancar sinar panas. Raksasa hitam itu menerjang dengan tusukan sepasang tombak. Tapi sang sunan tidak bergerak dan tetap anteng bersila dengan senyum sareh.
Dessss! Percikan api berhamburan ketika batu hitam sebagai alas duduk Kanjeng Sunan Kalijaga pecah dihantam tombak. Namun Kanjeng Sunan masih bersila meski tumbak itu tepat menghujam dadanya sampai tembus.
Sejenak Pasung Grigis terbelalak. Napasnya memburu oleh hawa marah dan penasaran. Ia tidak merasa betapa bayangan Nenek Calon Arang di belakangnya mundur ketakutan. Raksasa hitam ini memang terlalu percaya diri dengan kedigdayaannya. Ia menggeram. Mulutnya kembali membaca mantra. Lalu terdengar suara angin mendesir. Angin makin besar dan tiba-tiba langit tertutup mendung disusul geledek menyambar-nyambar diiringi kilat, lalu turunlah hujan seperti dituang dari langit. Air hujan membasahi tubuh Zaitun yang gemetaran. Dunia seperti hendak kiamat. Pohon-pohon roboh.
“Tahan amarahmu saudaraku,” terdengar suara Kanjeng Sunan Kalijaga yang halus namun mengatasi suara ribut disertai ledakan petir itu. Anehnya, air hujan tidak membasahi tubuhnya yang seakan terlindung sebuah kurungan sehingga air menyeleweng di kanan kirinya. Kanjeng Sunan mengangkat tangannya, dan semua keadaan yang menyeramkan lenyap. Suasana kembali terang, tidak ada badai, tidak ada hujan petir, namun pakaian Zaitun basah dan tampak beberapa pohon preh tumbang.

Pasung Grigis tidak mau melihat kenyataan. Ia satu-satunya orang paling sakti. Mana mungkin ia takluk begitu saja? Selagi ia mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang, tiba-tiba bertiup angin kencang laksana badai. Tahu-tahu tubuhnya mencelat sepuluh meter ibarat daun terhempas angin, dan jatuh keras seperti pohon beringin raksasa tumbang. Brukkk!


Pasung Grigis benar-benar ngeri . Ia sama sekali tidak tahu kekuatan apa yang menyambarnya. Dan ia tak bisa membayangkan betapa kuatnya tenaga sakti yang mampu melemparkan dirinya sampai jauh tanpa melihat bayangan apa pun. Lebih kaget lagi ketika Pasung Grigis akan  menggerakkan kaki, ia merasa seluruh tubuhnya seperti terikat berlapis-lapis tali jengat. Kanjeng Sunan Kalijaga masih bersila tenang. Mukanya menunduk memejamkan mata. Lalu tangan kirinya diangkat, dan Pasung Grigis merasa ikatan tali mengendur. Ia kembali menggerakkan badan. Keringat dingin berdleweran di muka Pasung Grigis.

“Heh-heh-heh. Ini kali aku mengaku kalah oleh kekuatan iblis bekasakan. Tapi awas, aku akan datang kembali untuk menunaikan dendam. Heh-heh-heh kalian tunggu saja.” Suara ketawa raksasa mengerikan itu masih terdengar meski Pasung Grigis sudah lenyap melarikan diri. Bagi Zaitun, ia seperti mimpi melihat berbagai peristiwa menakjubkan sekaligus menyeramkan ini.

“Kekerasan tidak akan selesai dengan kekerasan, sebab kekerasan menjadi bertumpuk-tumpuk. Insya Allah, nafsu murka Pasung Grigis akan dipadamkan dan apuk oleh masa. Tentu atas perkenan Allah,” bisik Kanjeng Sunan Kalijaga sambil memandang tajam ke Zaitun.

“Andika, Maria Zaitun?”

“Sendika dhawuh Kanjeng Sunan.” Zaitun mengangguk hormat.

“Andika meski wanita namun pemberani. Dan gigih memperjuangkan cita-cita. Semoga langkah Andika dalam berkah Allah. Bukankah Andika sudah bertemu Ibu ratu di Pulau Majeti? Itulah jodoh. Juga jodohlah yang akan mempertemukan Andika dengan sang kekasih. Salamku untuknya.” Kanjeng Sunan Kalijaga tersenyum ramah.

“Maaf, tapi bukankah Kanjeng Sunan itu waliyullah?”

Kanjeng Sunan Kalijaga mengangguk pelan. Senyumnya terasa eyup.


“Iya, apa bedanya? Saya, Patih Gajahmada, Krian Pasung Grigis, dan Andika, kita ini satu iman meski berbeda agama. Kebetulan saya bersama para wali menyebarkan Islam. Sedangkan Pasung Grigis dan patih Gajahmada Hindu Budha. Andika Katholik. Tapi kita seiman.”

Maria Zaitun menunduk. Alisnya berkerut. Benar ia tahan banting dalam hidup yang keras ini, dan mengalami banyak hal yang menyenangkan maupun menyedihkan di dunia. Tapi, satu iman kendati agama berbeda, ia merasa belum mampu memahaminya.

Kanjeng Sunan Kalijaga tampaknya tahu perasaan Zaitun yang bingung.

“Pada akhirnya yang hakiki bukanlah apa agama yang saya dan Andika pilih melainkan bagaimana seseorang tetap berada dalam inti iman itu, bagaimana ia hidup dan bertindak. Dalam inti iman. Tuhan tidak dipermasalahkan,” katanya adem.

Tuhan tidak memiliki agama. Kalimat ini bukan muncul dari mulut Zaitun. Perkataan ini muncul dari negeri kegelapan, India, di mana saat itu agama hadir sebagai sesuatu yang mencekam. Lalu terbitlah ide menyelamatkan pemahaman “Tuhan” dari dangkalnya pikiran yang butek. Dan seolah sebagai ‘pembenaran’ atas usapannya, Gandhi memang tewas ditembak oleh seorang Hindu aliran keras, seorang militan yang mengorbankan agama atas nama fanatisme.

Zaitun masih menunduk. Ingatannya melompat ke masa silam, ketika ia bersama beberapa teman kampusnya di California berdiskusi tentang Tuhan.  Ada yang mengatakan bahwa Tuhan bukanlah sebagai kepastian, tapi Tuhan adalah harapan. Jika kita menghadapi Tuhan dan sesama tidak sebagai konsep, maka kita akan lebih tawadlu. Kalau Tuhan kita rumuskan sebagai konsep, lalu kita berhalakan konsep itu, kita sembah sedalam-dalamnya konsep tersebut, maka pada titik inilah sebetulnya Tuhan secara diam-diam sedang kita reduksi ke dalam sesuatu yang bisa didefinisikan.

Sikap menghadapi Tuhan itu akan berbeda bila kita lebih rendah hati bahwa kita tidka bisa menguasai pengertian tentang Tuhan. Dalam pemahaman Zaitun, Tuhan senantiasa hadir ketika ada perbuatan baik yang sangat besar atas sesama, kerelaan yang sangat tulus yang bisa memperbaiki keadaan meski sementara, standar kebaikan tanpa pamrih yang tak berat sebelah. Ketika ada penderitaan begitu hebat, dan ada perbuatan baik, juga tatkala keindahan begitu mendebarkan, juga manakala amal dijalankan tanpa pamrih, di situ Tuhan seakan hadir, Tuhan yang hidup, bukan Tuhan yang didefinisikan, bukan pula Tuhan yang dikonsepkan dan diberhalakan. []

bersambung



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 12 Juli 2015