Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (7)

Karya . Dikliping tanggal 23 Februari 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
LING LING galau, berkali-kali menengok jam tangan mungilnya merk Tag Heuer, berkali-kali melihat ke Rain Forest Cafe, kadang berjalan ke AMC 12 Theatres dan menuju toilet samping Down Town Disney Live, tapi cah bagus priyayi itu belum juga kelihatan batang hidungnya.
“Kapan sih Mas Tom bisa on time?” gerutu Ling Ling.
Mereka padahal sudah merencanakan matang, seminggu sebelunya bahkan, bahwa seharian penuh akan menghabiskan waktu di Disney California Adventure yang tiket masuknya sekitar sejuta rupiah itu. Dan mereka akan berpetualang sambil memacu adrenalin dengan naik jet coaster, gabung dalam Mickey’s Halloween Party, juga mengunjungi The Twilight Zone Tower of Terror, lalu nonton opera Disney’s Aladdin. Betapa serunya. Tapi, Mas Tom, di mana priyayi berdarah biru itu?! Kalau saja ada pelantang di sekitarnya, tentu dengan nekat Ling Ling akan berteriak sekerasnya: “Mas Tom, where are you, Say.”
Jam menunjuk pukul 11.46 waktu Los Angeles.
Ling Ling mengerut kesal. Ingatannya melayang ke awal perkenalannya dengan sang kekasih beberapa tahun silam di San Fransisco:
Ling Ling masih juga tidak mengerti mengapa ia begitu menyukai kota sejuk dengan wilayah seluas 467 mil persegi di ujung utara semenanjung San Fransisco. Padahal kebanyakan wanita menyenangi Paris yang romantis, Praha dengan bangunan klasiknya, London yang dibelah dua oleh sungai Thames, atau Venesia kota kanal di Italia, atau Milan barometernya mode dunia. Barangkali juga Dubai atau Turki.
Mengapa harus San Fransisco? Sudah dua bulan Ling Ling berada di kota yang memang menjadi obsesi sejak ia bahkan masih sekolah dasar di Jakarta Selatan. Dan pertama menginjakkan kaki, Ling Ling seperti mengerti jauh tentang kota relatif sunyi ini, dan di situlah pertama Ling Ling berkenalan dengan Hertomo Prodjosoemantri, cowok ganteng berdarah biru.
Ia kemudian memanggilnya dengan sebutan “Mas Tom,” dan segera akrab sebab mereka saling mampu mengimbangi setiap obrolan tentang apa pun. Mulai masalah ekonomi, politik sampai hobi. Tentang teknologi, selebriti hingga hati. Hertomo menganggap Ling Ling terlihat cerdas dan anggun daripada cewek-cewek yang suka memamerkan kecantikan atau apalagi kemolekan. Ling Ling pun menganggap Mas Tom-nya seorang lelaki jantan yang santun dan jembar wawasan. Juga berdarah nila.
Sambil menikmati California Milk, susu asli dari sapi pilihan, Ling Ling menyusuri koridor pertokoan, dan berhenti di depan sebuah butik. Ling Ling mengamati patung wanita cantik di etalase. Patung anggun mengenakan blus putih tanpa lengan, dipadankan rok mini hitam, tampak chick.
“Elegan.” Ling Ling berkata pelan
“Kamu suka?” Ling Ling mengangguk 
“Baiklah, kita ambil sebagai hadiah ulang tahunmu.”
Ling Ling memandang Hertomo dengan kaget.
“Jangan, Mas, itu pasti mahal.”
“Kok tahu?”
“Ini butik terkenal. Mana ada baju murah di sini?” Mata Ling Ling tidak pernah beralih dari manikin ayu di balik etalase itu.
“Untukmu tidak ada barang mahal.” Hertomo tersenyum.
Priyayi santun itu memang berangkat dari keluarga kaya di Surakarta. Rumah orangtuanya di timur keraton memiliki joglodengan halaman luas yang rindang.
San Fransisco. Apa sih menariknya kota terpadat keempat di negara bagian California dan kedua di Amerika Serikat itu, dibandingkan London, Vienna, Dubai atau Paris? Tapi memang bukan hanya ia yang menyukai kota-county gabungan di California ini, sebab Hertomo pun ikut merasa hommy. Sepanjang Perang Dunia II, San Fransisco adalah pelabuhan keberangkatan untuk anggota tentara yang akan berperang di Teater Pasifik.
Ketika perang usai, arus balik tentara, imigrasi massal, tingkah laku yang semakin bebas, dan faktor lain mendoring munculnya gerakan Summer of Love dan hakasasi homeseks sehingga mencap San Fransisco sebagai pusat aktivis liberal di Amerika Serikat.
Hari itu kota yang sempat luluh lantak oleh gempa dahsyat tahun 1906 tampak begitu sejuk meski memasuki musim panas. “Musim dingin yang paling dingin yang pernah saya alami adalah musim panas di San Fransisco.” Ling Ling teringat kutipan dari novelis Mark Twain. Kutipan yang membingungkan setidaknya bagi dirinya.
Dan San Fransisco, kota yang menautkan hatinya dengan Mas Tom. Ia ingat betul saat awal pertemuan dengan lelaki sedikit gondrong yang kemudian menjadi kekasihnya. Ketika itu Ling Ling berjalan santai, sebab hari itu kampusnya libur. Daripada suntuk di apartemen, ia lalu berjalan seorang diri. Teman-teman kuliah memang mengajaknya hang out, tapi ia lebih memilih sendirian. tentu bukan karena alergi gathering, namun saat itu Ling Ling sedang ingin sendiri. Ia lalu masuk ke sebuah kafe, mencari tempat duduk dekat jalanan, dan memesan kopi. Dikeluarkannya buku, lalu ia mulai membacanya pas jalanan tampak rampai.
Di seberang jalan, Ling Ling melihat seorang wanita berdiri di depan etalase besar sedang memandangi baju yang dikenakan manekin. Seorang wanita melihat baju, bukankah ini sesuatu yang wajar? Meskipun memandanginya berlama-lama?
Wanita itu rambutnya cukup panjang, memakai jaket cokelat dan celana jeans. Bahu kirinya menggantung tas yang juga berwarna cokelat tapi lebih tua, tangan kanan dimasukkan ke saku jaket, sementara tangan kiri memegangi tali tas cokelatnya. Ling Ling sudah hampir mengalihkan pandangannya ketika tiba-tiba wanita itu menoleh dan tersenyum kepadanya.
Ling Ling beranjak ke kasir membayar kopi, lalu bergegas menghampiri wanita di seberang jalan itu. Mereka berkenalan dan segera akrab. Ternyata Sherly, sahabat barunya ini berasal dari Jakarta, tepatnya Tangerang. Kuliah di Louisiana College mengambil jurusan psikologi.
“Sering ke San Francisco?”
“Tidak juga. Tapi aku menyukai kota ini.”
“Apa yang kamu suka?”
“Aku senang San Francisco apalagi jika musim panas seperti sekarang. Udaranya bersih. Hawanya sejuk namun tidak lembab. Setiap pagi aku bisa menyaksikan kabut yang menyelimuti bukit-bukit di San Francisco. Kabut yang hanya datang setahun sekali saat summer.” [] (bersambung)-c
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi pada 22 Februari 2015