Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak

Karya . Dikliping tanggal 12 Januari 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
–Adaptasi Puisi Rendra: ‘Nyanyian Angsa’
(1)
LAS Vegas tahun 1997, kota yang tidak pernah angop. Ya, mana mungkin menguap, kalau kota judi terbesar di Amerika, bahkan dunia itu, tidak sekali pun sempat memicingkan mata. Selama 24 jam nonstop, atau 1.440 menit setiap hari para gambler bersitegang dengan mesin penjaja mimpi: roulette; jackpot; atau kasino. Mereka –pemabuk judi– itu menggantungkan kemujuran pada angka-angka virtual. Vegas akhirnya menjadi “ibukota” judi. Segala varian perjudian berkumpul di sini.
Makau di sebalik Hongkong, atau Genting Highland di Malaysia, memang tempat ideal orang berupaya mendulang kekayaan dengan instan. Toh tetap tidak “segila Las Vegas yang –anehnya– justru turut menggalakkan green lifestyle. Matahari memang bisa begitu terang di Las Vegas, namun begitu jauh dan tak peduli kesengsaraan para pejudi apes.
Di pelupuk lentik Tan May Ling –gadis langsat semampai berpayudara kenyal yang kenes disapa Ling Ling– Las Vegas laksana pedang. Bukan pisau dapur. Dan pedang –di mana pun– berjenis kelamin lelaki. Pisau dapur boleh kemayu. Tapi pedang harus selalu jantan. Dan Vegas, di mata Ling Ling, kota yang macho banget.
Jika Paris berkelamin perempuan dan kaya fesyen yang wangi gemerlap, maka Amerika laki-laki. Dan Las Vegas merupakan kota paling jantan. Sejantan-jantannya kota.
Dihisapnya dalam-dalam udara sejuk di suite room Vdara Hotel & Spa di kawasan Aria –lima menit jika berjalan kaki dari Las Vegas Boulevard– di kamarnya yang berhadapan langsung dengan Planet Hollywood. Ling Ling mencuil sedikit pizza (sesungguhnya ia lebih menyukai kue cucur dari sorgum ketimbang makanan Italia ini), lalu tangannya sibuk mengudap kopi dari Coffee Marker Machine yang ia taruh di para-para pantry. Sejurus kemudian, dengan paha sedikit tersingkap, ia menonton Titanic di layar teve 80 inch sembari ngemil Almonds. Film yang dibintangi Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet ini sudah repeat hingga tiga kali tanpa ia jemu menontonnya.
Titanic digandrungi Ling Ling, sebab menurutnya itu film epik, roman sekaligus bencana Amerika Serikat. James Cameron penulis skenario sekaligus sutradara. Film berdurasi 194 menit ini bertutur balada cinta Jack dan Rose yang berasal dari kasta sosial berbeda di atas kapal RMS Titanic yang karam dalam pelayaran perdananya pada 15 April 1912.
Insiprasi James dalam membuat film ini bertolak pada daya teriknya terhadap bangkai kapal RMS Titanic, ia ingin menyampaikan pesan emosional dari tragedi itudan berpikir bahwa kisah cinta yang diselipi dnegan tragedi kematian penting untuk menciptakan pesan tersebut. Produksi Titanic dimulai tahun 1995. Sebuah rekonstruksi kapal Titanic dibangun di Playas de Rosarito Baja Kalifornia. Model skala dan tehnik Computer-Generated Imagery (CGI) juga digunakan untuk menggambarkan detik-detikdramatik tenggelamnya kapal tersebut. Film ini didanai Paramount Picture dan 20th Century Fox dan pada tahun 1997 itu merupakan film termahal yang pernah dibuat, dengan anggaran diperkirakan skeitar $200 juta atau 2,4 triliun jika dikonversi rupiah. Tak pelak, Ling Ling menggandrunginya. Menontonnya berkali-kali.
Kata mutiara terkenal yang disebarkan film ini menjadi virus cinta adalah “nothing on earth could come between them.”   Terjemahan bebasnya “tiada sesuatu pun di bumi yang sanggup memisahkan mereka.” Kalimat romantik ini yang selalu diingat Ling Ling.
Menurut snag sutradara, dirinya membutuhkan pemain yang akan membuat penonton merasa seolah-olah mereka benar-benar berada di Titanic dan untuk mewujudkan itu, James menciptakan Jack, yang digambarkan sebagai orang miskin dari Chippewa Falls Wisconsin yang telah melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia, terutama Paris. Jack memenangkan dua tiket RMS Titanic dalam permainan poker dan menaiki Titanic sebagai penumpang kelas tiga bersama temannya, Fabrizio. Jack telah tertarik Rose pada pandangan pertama dan berinteraksi pertama kali saat menyelamatkan Rose yang mencoba bunuh diri dengan cara melompat drai buritan kapal. Atas hal ini, Jack diizinkan berbaur dengan penumpang kelas satu selama satu malam sebagai balasan atas jasanya.
Rose gadis berusia 17 tahun, berasal dari Philadelphia, yang dipaksakan ibunya bertunangan dengan seorang pria berusia 30 tahun bernama Caledon Nathan Hockley, untuk mempertahankan status sosial mereka dan utang keluarga yang diwariskan almarhum ayahnya. Rose menaiki Titanic bersama Cal dan Ruth sebagai penumpang kelas satu dan kemudian berjumpa dengan Jack.
***
PAGI masih menujuk angka sembilan –termasuk waktu gasik bagi kota judi itu– saat Ling Ling  mengayun santai menuju rumah makan kecil di dekat air mancur warna-warni yang menari sepanjang hari. Pagi itu. seperti pagi lainnya, ia suka berbusana simpel, tapi edgy, dan terkesan ekspresif. Ling Ling menyukai Vegas memang dengan dua alasan: air mancur dan rumah makan dengan sandwich tuna sebagai menu andalannya.
“Morning,”  sapanya ramah kepada pelayan sambil tersenyum, memamerkan deretan gigi yang putih cemerlang seperti mutiara, berjajar rapi dan samar-samar nampak rongga mulut yang merah dengan ujung lidah jambon yang sehat. Tas berlabel Cate Spade dengan warna fuschia cerah ia letakkan di bangku, lalu dengan setengah berbisik ia minta pelayan menyiapkan sarapan favoritnya. Dibuka dengan Quesadilla sebagai appetizers. Main course berupa bayam, brokoli, tomat, putih telor dengan Greek yogurtdan granola plus beberapa irisan buah impor Prancis. Ditutup dengan bloody mary berupa grey goose vodka, fresh garnish caramel creme brulee. Lalu Winnie, pelayan cantik semanak itu masih memberinya pencuci mulut berupa sepotong mousse au chocolate dnegan segelas glace, dan terasa maknyus saat lumer di lidah.
Rampung bersantap, lagi-lagi Ling Ling menghirup napas dalam-dalam, seolah kepepetam hatinya diluncaskaan  (tertulis sebagaimana aslinya,–admin)  dengan mereguk udara sepuasnya. Dipandanginya sepatu pesta Louboutin kesukaan Hertomo, wong Jawa asli Laweyan Sala, yang sudah dua tahun dipacarinya. Segasik ini Mas Tom bisa datang tepat waktu? Sepertinya musykil. Mas Tom tentu lagi suntuk dengan ‘ritual’ setiap pagi: treadmill 40 menit, makan wortel dan apel, minum air putih dua gelas, dan mix-juice terdiri buah empat warna. Hertomo cowok jangkung atletis itu memang pegiat kesehatan. Hari-harinya dilalui dengan olahraga dan menyantap makanan higienis yang jauh dari asupan lemak jenuh dan kolesterol jahat LDL.
Jalanan terhitung lengang, hanya satu dua orang berlalu-lalang. Di balik kacamata Timberland, Ling Ling terus mengawasi kemungkinan Mas Tom-nya tergopoh lari dari boulevard yang –sayangnya– hal itu tidak pernah terjadi, sampai Ling Ling beranjak pergi sambil bersungut-sungut.
Las Vegas masih menyetel teriknya 100 Fahrenheit atau 37,8 derajat Celcius. Kayak kota Cilacap saja panasnya. Ling Ling tak berniat lagi memandangi air mancur. Sebab kali ini air mancur di bundaran HI justru lebi ngangeni. Komplit dengan kibaran merah putihnya, [] 


(bersambung)-e
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 11 Januari 2015