Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (5)

Karya . Dikliping tanggal 9 Februari 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
“DOWN syndrome adalah kelainan kromosom yang berdampak pada keterlambatan pertumbuhan fisik dan mental anak. Pada anak pengidap DS terjadi surplus kromosom nomor 21, lazim disebut kromosom ganda, yang mengakibatkan guncangan pada sistem metabolisme, yang kemudian memunculkan  down syndrome.”
Ling Ling terngiang kembali ucapan Jean, teman sekampus, tentang down syndrome yang kini bahkan mendera anaknya. Anak lembu peteng.
Beruntung dokter anak yang menangani kelahiran memberikan dukungan moral kepada Ling Ling untuk senantiasa tabah.
“Ini anak spesial. Allah ikhlas menitipkan kepada ibu karena tahu Ibu spesial.”
Ya, Ling Ling adalah ibu spesial. Kalimat ini membuatnya kuat dan mampu menerima kenyataan segetir apapun dengan cara positif.
“Saya menerima kehadiran Rizky, anak semata wayangku ini dengan positive thinking. Saya akan merawatnya dengan baik, Dok.”
Setiap bayi lahir dengan pesan, kata seorang penyair, bahwa Tuhan belum jera dengan manusia. Maka Ling Ling dengan tulus dan berpikir positif akan menjadi ibu spesial bagi sang anak, dan membuat Tuhan kian tidak kapok dengan manusia. 
Tapi mengarungi kehidupan tentu tidak cukup dengan berpikiran positif. Ada hal-hal lain di luar itu. Rizky, yang diterima ikhlas seklaigus bahagia oleh Ling Ling, ternytata tidak berumur panjang. Rupanya Tuhan punya skenario lain. Ia menganulir keputusan menitipkan rahmat-Nya.
“Tuhan, dosaku tentu sangat banyak. Aku sadari itu. Tapi kenapa Engkau memberikan cobaan sebrat ini?” Ling Ling sambat, tapi tidka runtuh waspa. Air matanya sudah kering. Ia berupaya tabah dalam berbagai cobaan-Nya, meski batinnya gaduh.
Dan ketabahan itu pula –barangkali– yang mengantarnya ke lokalisasi Kramat Tunggak. Ling Ling sudah tidak memiliki apapun. Toko tekstil milik ayahnya dijarah massa. Ia diperkosa. Aayah ibunya lari  ke Singapura dalam kerusuhan Meu 1998 itu, hanya membawa pakaian yang melekat di badan, dan uang seadanya di saku. Mereka trauma balik ke Indonesia, setidaknya menenangkan diri di luar negeri, entah sampai kapan. Hartomo Prodjosoemantri, kekasihnya, pujaan hatinya, mas Tom-nya, menghindar setiap diajak bertemu.  Padahal ia perlu hidup, perlu makan, perlu tempat berteduh, perlu curhat. Mau kerja mengandalkan ijazah dari Amerika dengan posisi pantas? Jakarta itu segarang-garangnya kota, dan bukankah ada jargon bahwa ibukota Indonesia ini jauh lebih kejam dari ibu tiri dan ibu suri?
“Ketabahanlah yang mempertemukan saya dengan lokalisasi,” Ling Ling tertawa masam.
“Mbak Mar tabah. Tegar. Tapi menyakitkan ya, cobaan yang bertalu-talu mendera Mbak Mar?”
“Sakitnya tuh di sini.” Ling Ling bercanda getir menunjuk dada semlohainya.
***
HUJAN deras baru saja rampung menghajar malam di lokalisasi Kramat Tunggak. Bau tanah basah dari rinai air yang tumpah dari langit tercium dalam pelukan dingin jalanan. Waktu menunjukkan pukul dua pagi, tapi dentuman musik dangdut seolah bersahutan kencang dari tiap wisma dengan penerangan minimalis. Di dalamnya, para pria pengunjung dan wanita penghibur larut dalam suasana. Mereka berjoget, cekikikan, terkadang diselingi peluk dan ciuman, sementara di luar malam masih ditingkah rima hujan. Puluhan botol bir menghiasi hampir seisi ruangan.
Ling Ling –ia mengenalkan diri sebagai Maria Zaitun– duduk bertopang dagu di depan salah satu wisma terbesar. Beda dengan para ‘karyawati’ lain, ia tidak memasang make up tebal di wajah manisnya. Mengenakan baju hitam model you can see, Maria duduk terjaga sembari tangannya sibuk bermain gawai, ber-SMS-an entah dengan siapa, mungkin dengan malaikat penjaga sorga. Dan menyapa setiap pengunjung yang melintas di depannya dengan ramah.
“Masuk Mas, dingin di luar.” Cahaya redup lampu teras wisma yang ditutup kertas merah, seakan menjadikan penampilan wanita itu begitu anggun. Enam tahun sudah Maria resmi menjadi penghuni lokalisasi. Di situ termasuk salah satu ‘diva’ yang kebanjiran order. Setiap hari, terutama sesudah pukul delapan malam, puluhan pengunjung antre dengan sabar di depan kamar praktiknya. Tidak pakai nomor urut karcis, tentu saja. Mereka sudah saling maklum, siapa duluan datang, dia yang beroleh prioritas utama. Mereka berlomba, tiba lebih dini.
Di lingkungan Kramat Tunggak, sebagaimana lokalisasi lain, usia memengaruhi kunjungan para tamu. Mereka yang berumur 30 tahun ke atas tentu sadar diir bersaing dengan rekannya yang lebih muda. Maria mematok harga Rp 200 ribu kepada pelanggannya. Jika sedang sepi pengunjung, Maria mereduksi harga menjadi Rp150 ribu. Harga memang bisa turun sewaktu-waktu seperti bensin premium.
“Tak cuma mal yang bisa kasih diskon. Nggak apalah yang penting ada tamu,” ujarnya.
Uang itu tidak sepenuhnya masuk dompet. Ia harus membagi untuk jasa keamanan dan sang induk semang. Sisanya untuk makan dan keperluan sehari-hari, termasuk membeli bedak dan parfum.
“Mbak Mar diva paling laris, ya?”
“Ahh, ndak juga. Percaya tidak percaya, kadang saya kalah saing dengan ik Murni.” Ia menunjuk temannya, perempuan cantik berkulit sawo matang asal Tuban yang sedang hamil tujuh bulan. Perut buncitnya tertutup dasterdenim yang elegan. Murni mengangguk semanak.
Mengandung bayi dari hasil hubungan yang tak jelas di luar pernikahan membuat Murni gigih bekerja siang malam ketika usia kandungan masih dua bulan. Jujur, ia tak mengetahui siapa ayah biologis dari calon bayi ini. Dan ia harus memilah lagi sedikit rupiah ntuk ditabung guna kontrol kandungannya. Hal itu rutin dilakukan tiga hari sekali di sebuah puskesmas.
Dalam kondisi perut semakin kembung, Murni toh masih melayani tamu, meski dengan kondisi berbeda saat sebelum hamil.
“Dulu mampu melayani lima atau enam nasabah. Sekarang, dua sudah capek. Kalau lelah ya saya langsung rehat,” katanya.
Rehat atau reses Mbak Murni? Kok seperti anggota DPR saja. Beberapa pria pelanggan diakui Murni justru menyukai berhubungan dengan perempuan hamil. Malah kebanyakan masih usia muda.
“Nggak tahu kenapa. Sensasinya beda kaleee,” ujarnya cekikikan.
Murni sangat menjaga kandungannya. Yang ada di perut, bagaimanapun adalah darah dagingnya. Agar tidak terjadi hal yang membahayakan janin, biasanya setiap kontrol Murni minta suntikan vitamin. Beberapa di antara pelanggannya menawari mengasuh anak yang dikandungnya jika sudah lahir. Namun ia tegas menolak. Anak adalah titipan Allah. Ia harus merawat sendiri sampai dewasa, dengan berbekal doa sederhana. “Semoga kelak dia menjadi penolong saya. Menemani saya di masa tua.” [] 
bersambung…

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar ‘Minggu Pagi’ pada 8 Februari 2015